
Faren hanya bertahan sebentar. Dia pergi begitu saja tanpa sempat membuka mata, tanpa memberi syarat apa pun.
Sekarang Ferina berdiri dengan tubuh goyah, separuh jiwa’y bagaikan ditelan bumi. Dan kini, Ferina hanyalah belahan retak yang mencoba bertahan.
“Ren…” Ferina mengguncang nisan yang belum kokoh itu. “Faren, kembali…” tangis Ferina kini menjadi-jadi. “KEMBALIIIII…!!! GUE BILANG KEMBALIIIII…!!!”
Wulan tidak mengatakan apa2. Dirangkul’y Ferina dan ditahan’y tubuh putri’y yang gemetar hebat. Ayah Ferina, Peter, memeluk mereka dalam isakan tertahan. Tak ada kata yang dapat mengobati kehilangan yang baru saja mereka alami.
***
Selama sebulan Ferina tidak mau tidur di kamar’y. Kamar yang dulu dia tempati bersama Faren. Ferina belum kepingin mengakui bahwa apa yang dialami’y itu nyata. Dia ingin menganggap diri’y sedang bermimpi. Dan Ferina ingin segera terbangun dari mimpi itu.
Selama di sekolah, seperti biasa Andra dan Yanda selalu bersama’y.
“Fer… ke kantin yuk.” Bujuk Yanda. “Laper nih…”
“Duluan gih.” Sahut Ferina tanpa menoleh, tangan’y sibuk dengan kertas dan pensil.
“Di rumah lo kayak gini juga ya? Kasihan banget mama lo, dia pasti makin sedih liat lo kayak begini.” Ujar Andra seraya merangkul bahu Ferina.
“Kalian nggak ngerti apa yang gue rasakan!” kata2 itu selalu menjadi senjata pamungkas Ferina untuk membuat kedua sahabat’y terdiam.
“Ya udah. Gue ke kantin kalau gitu. Tunggu di sini, ya.” Kata Yanda seraya beranjak meninggalkan mereka.
Kini tinggal Ferina yang sibuk mencorat-coret dan Andra yang memperhatikan’y dalam diam.
“Gue juga merasa kehilangan, Fer.” Bisik Andra kemudian. “Tapi nggak ada yang bisa kita lakukan selain menerima’y.”
Ferina mendengarkan, tapi sama sekali tidak menggubris’y. Bagaimana pun, yang dirasakan’y jauh lebih dalam daripada orang lain. Dia sudah bersamasama Faren sejak mereka di kandungan, lahir bersama, tumbuh bersama. Tak seorang pun memiliki ikatan batin yang di miliki’y dengan Faren. Karena Faren adalah sebagian diri’y, bagian yang kini telah hilang.
“Fer, gue mau jadi seseorang yang bisa mengisi hari2 lo. Di saat lo sedih ataupun senang, gue pengin jadi bagian hari2 lo. Dan gue akan bikin lo kembali tersenyum. Bikin lo ceria lagi.” Kata Andra tulus.
“Gue sayang lo, Fer.”
Kalau saja Faren masih ada, mereka pasti akan bersorak kegirangan karena apa yang di nanti2kan Ferina jadi kenyataan. Tapi sekarang, pantaskah Ferina bergembira?
“Makasih ya.” Ujar Ferina sambil tersenyum samar, lalu melanjutkan menggambar. Menorehkan garis2 yang tak bisa diartikan siapa pun.
kini Ferina sangat sedih,dan tak mau berbicara,setiap hari dia hanya menggambar atau pun berdiam diri di kelas,hatinya sangat terpukul bagaikan tersambar petir dan membuatnya terasa sakit hingga dia tak mau berbicara sepatah katapun
"lo baik" aja kan Ferina"?
Ferina hanya menjawab dengan anggukan
"gue tau,lo lgi sedih gimana klo kita jalan"?
"gk usah."
"yaudah,gue pergi dulu"
"hmm."
Ferina pun,balik ke ruang kelas untuk menenangkan diri'y
"kenapa!, kenapa Lo pindah Faren."!
air mata Ferina pun terjatuh,dan membasahi pipi mulus milik Ferina
"hisk...hisk..hisk..."