
“Gue sebel banget, Ren!”
“Sebel kenapa?” Tanya Faren menahan ayunan dengan kaki’y.
“Masa sampai sekarang hubungan gue sama Andra nggak jelas gitu. Dari dulu nggak ada kemajuan sama sekali.”
“Maksud kamu gimana sih?”
“Nggak ngerti. Gue sebel aja. Gue yakin banget dia punya perasaan yang sama terhadap gue. Tapi sampai sekarang dia beum juga nembak gue. Paling nggak bilang sayang kek! Masa gue harus nunggu samapi tua sih?” omel Ferina.
Faren tersenyum kecil. “Saba raja… kalau kamu yakin dia punya perasaan yang sama, kamu nggak perlu sebel begitu, kan? Yang penting kamu kan tahu, dia sayang sama kamu…”
“Tau ah… kalau dia emang sayang, seharus’y dia kan nunjukin perasaan’y.
Sekarang gue malah jadi mikir, jangan2 selama ini gue aja yang kegeeran.”
“Jangan pesimis gitu dong… Belum pasti kayak gitu, lagi…” Faren menyemangati. “Aku yakin banget Andra punya perasaan yang sama ke kamu. Kamu tunggu aja.”
“Sebodo ah!” Ferina makin sewot aja.
“Dia first love gue, Ren. Dan first love biasa’y nggak gampang dilupain. Gue sendiri percaya gue juga kayak gitu. Sampai sekarang perasaan gue ke dia semakin kuat. Kadang cinta emang aneh. Kita nggak peduli dia membalas perasaan kita atau nggak, yang jelas kita menyayangi’y dengan tulus. Dan mungkin… ini hanya soal waktu.”
Faren merangkul Ferina. “Kalau ngomongin cinta, kamu ngerti banget ya…”
“Hehehe… nggak juga sih… itu gue kutip dari Yanda.” Ferina mengaku malu2.
“Oh ya, memang’y pas kamu curhat ke Yanda, dia bilang apa? Bukan’y kalian bertiga deket, ya? Mana tahu Andra cerita ke Yanda, kan?”
“Hmmm… kata Yanda, Andra itu tertutup soal cewek. Tapi dari sikap Andra ke gue, Yanda juga yakin Andra punya feeling. Kata’y sih mungkin dia lagi nunggu waktu yang tepat aja untuk nembak gue…”
“Waktu yang tepat? Bisa jadi.”
***
“Fer… maaf ya, aku nggak bisa nemenin kamu ke toko buku. Aku lupa udah janji sama Yuki. Nggak pa2, kan?”
“Lho, kok lo begitu sih! Bodo ah, pokok’y lo udah janji sama gue!” sergah Ferina.
“Nggak ah! Kemarin2 juga lo begitu. Dari dulu lo bilang sekaliiiii mulu!”
“Kali ini bener kok, Fer… penting banget…”
“Kenapa nggak bilang aja ke Yuki kalau lo udah janji duluan sama gue?! Masa lo lebih mentingin teman daripada sodara sendiri sih?”
Faren hanya terdiam sambil menunduk dan memainkan jari. Ferina langsung iba.
“Ya udah deh, kalau lo memang mau pergi sama Yuki, pergi aja. Tapi hati2, ya.”
“Makasih banget ya, Fer…” kata’y sambil memeluk Ferina.
Ferina mengangguk, walaupun sebenar’y dia masih jengkel
"lo gk apa" gue tinggalin Ferina."?
"hmm,yaudah Sono lu pergi,gue gk papa."
"yaudah,lo pulang sendiri aja yah."
Ferina hanya terdiam,dan bergegas untuk kembali kerumah.
tetapi dalam perjalanan dia melihat taman yang begitu indah dan cocok untung menenangkan diri..
"gue kesana aja deh."batin Ferina
Ferina pun membuka tas'y dan mulai membaca buku
''ihhh kok gue haus yah,malah gk bawah minum lgi."
"gue pulang aja deh."
sesampai'y dirumah Ferina kemudian menuju dapur dengan tergesa''
''huhhh,akhir'y legah juga😪