
From :Renaldiandra
To : Ferina Chelya L.
Subject : I’m so sorry
Fer, kenapa lo tiba2 menghindari gue? Gue minta maaf kalau gue salah…
Ferina tersenyum sinis. E-mail itu sudah cukup lama. Ferina membuka yang lain’y.
From :Renaldiandra
To : Ferina Chelya L.
Subject : Fer?
Fer, lo pindah ke mana? Kenapa lo nggak bilang ke gue? Gue bingung harus nyari lo ke mana… jangan siksa gue kayak gini…
Gue sayang lo, Fer.
Ingin rasa’y Ferina mendamprat kalau saja dia bisa. Munafik. Ferina nggak sudi membalas’y, bahkan dengan e-mail kosong sekalipun.
Ferina berbaring sejenak di tempat tidur. Ferina kembali terbangun dan membuka lemari, mengambil kardus kecil berisi pernik2 kecil yang selama ini dikumpulkan’y, serba beberapa album foto yang masih bagus.
Ferina membuka album foto itu satu per satu. Menyibak kenangan manis’y bersama Faren, saudara kembar’y.
Mereka lahir pada hari, tanggal, dan tahun yang sama. Hanya berselang tiga menit. Mereka tumbuh bersama. Secara fisik wajah mereka identik, warna bola mata mereka berbeda. Bola mata Ferina biru indah dan diwarisi’y dari ayah’y yang keturunan Belanda. Sedangkan Faren memiliki bola mata cokelat gelap seperti mama’y. Ferina juga lebih mirip ayah’y, terutama sifat keras kepala’y.
Faren tumbuh sebagai cewek yang sangat feminim. Cara bicara Faren lebih lembut dan penuh pengertian, bacaan kesukaan’y adalah majalah kesehatan dan pengetahuan umum serta buku2 resep makanan. Faren senang bekerja di dapur dengan Mama.
Faren sangat senang main musik, terutama piano.
Ferina tidak terlalu feminim. Kalau sudah ngomong Ferina suka ceplas-ceplos dan senang berteriak. Hobi Ferina nongkrong di depan TV dan channel’y juga channel anak nongkrong. Ferina suka berenang dan setelah itu sibuk dengan kertas gambar.
Mereka tidak pernah bertengkar. Keributan sering datang dari Ferina yang paling sering uring2an. Dan ujung2’y Faren pasti akan mundur duluan. Itulah sebab’y Ferina sangat menyayangi Faren.
Di rumah, Faren adalah tempat curhat Ferina. Di sekolah, Ferina mempunyai Yanda untuk berbagi cerita. Faren dan Ferina bersekolah di SMA berbeda. Faren lebih suka di sekolah berbaris internasional, sedangkan Ferina memilih sekolah unggulan yang kegiatan ekskul’y menonjol.
Pada malam hari yang cerah, Ferina dan Faren duduk di ayunan. Malam itu Ferina menceritakan first love’y dengan malu2.
“Fer, kamu dari tadi senyam-senyum kayak gitu kenapa sih?” Tanya Faren.
“Ren… tahu nggak?” Ferina mendorong ayunan dengan kaki. “Kayak’y gue baru jatuh cinta nih…”
“Jatuh cinta?” Faren langsung tertarik.
“Kata Yanda sih begitu… kata’y gue udah kena sindrom cinta2an. Suka salah tingkah kalau di dekat orang’y, deg2an nggak keruan, suka gemes sendiri, pengin tampil lebih cantik, lebih perfect. Nggak kayak biasa deh!”
“Waah… pantesan… aku juga sering perhatiin kamu akhir2 ini suka bengong sendiri, senyam-senyum sendiri, dan kayak lebih bahagia aja. Jadi kamu lagi suka sama seseorang, ya?”
Ferina mengangguk. “Nama’y Renaldiandra.” Kata Ferina.
“Nama’y bagus tuh. Pasti orang’y cakep, yak an?” ujar Faren.
“Cakep, pintar, dan gue yakin, romantis.” Timpal Ferina. “Renaldiandra… alias Andra. Dia teman sebangku gue, dan kami deket banget. Gue, Andra dan Yanda adalah tiga sahabat. Tapi gue memendam perasaan khusus buat Andra. Nggak tahu kenapa, perasaan itu muncul begitu saja.”
“Wah… selamat ya, Ferina udah punya pacar!”
“Ssst… jangan keras2! Gue belum pacaran, tau!”
“Trus, ngapain jatuh cinta dong?”
“Duh… maka’y, sekali2 jadi anak gaul, anak nongkrong dong! Jangan mikirin sains mulu!” ujar Ferina. “Jatuh cinta itu nggak harus memiliki. Kata orang2 sih…” Ferina buru2 meralat. “Tapi kalau bagi gue, jatuh cinta bikin kita merasa memiliki. Posesif. Walaupun dia belum jadi pacar kita. Pacaran itu awal’y jatuh cinta, tapi nggak semua jatuh cinta bisa jadi pacaran. Yang jelas cinta itu rumit, lebih rumit daripada teori jagat raya kesukaan lo itu. Ngerti?”
Faren manggut2 sambil berpikir.
“Ngerti nggak?” ulang Ferina.
“Aku ngerti kalau aku nggak bakal jatuh cinta.” Sahut Faren polos.
“Gimana sih?” tukas Ferina sebal.
“Kata’y lebih rumit daripada teori jagat raya. Teori itu aja aku belum tuntas, apalagi teori cinta.”
GUBRAAAAKKKK!!!!
***
“REEEN…! REEEN…!!!”
“Andra datang! Sumpah! Gue grogi nih! Grogi!! Temenin gue dong…” desak
Ferina seraya mendorong Faren keluar kamar. “Dia udah di ruang tamu! Gue grogi banget…”
“Iya. Iya. Jangan dorong2 kalau gitu.” Ujar Faren.
Ferina menggandeng tangan Faren dengan tangan gemetaran saking gugup’y. “Segitu banget sih!” bisik Faren. “Memang’y kalau jatuh cinta jadi aneh begini ya?”
“Udaaah… diam aja!” bisik Ferina.
Sesampai’y di ruang tamu, mereka memperhatikan Andra yang sedang asyik memencet-mencet ponsel’y.
“Ndra, ini kembaran gue. Yang pernah gue certain itu lho!” kata Ferina.
“Kok pake ceritan aku segala sih!” protes Faren sambil berbisik.
“Soal’y gue nggak punya bahan lain buat diceritain!” bisik Ferina.
“Kenapa?!”
“Karena gue lagi jatuh cinta.”
“Eh, ada apa?” Andra jadi salah tingkah.
“Nggak ada apa2 kok!” tukas Ferina. Faren menarik kesimpulan baru. “Kalau ada sikap yang alasan’y nggak bisa dijelaskan dengan logika, jawaban’y hanya satu jatuh cinta.”
“Eh, gue bikin minuman dulu, ya!” cetus Ferina.
“Biar aku aja!” timpal Faren. “Kamu nemenin aja…”
“Nggak! Aku aja yang bikin!” Ferina segera bergegas ke dapur. Nggak sampai semenit, dia sudah kembali dengan nampan berisi tiga gelas minuman dingin.
“Kita jadi belajar sejarah, kan ya?” Tanya Ferina kepada Andra.
“Gue ambil buku dulu, ya!” ujar Ferina bersemangat.
Ferina pergi ke kamar dan mengambil buku sejarah’y. Sekembali’y ke ruang tamu, Ferina terpaku menyaksikan wajah Andra dan Faren terlihat pucat pasi.
“Kalian kenapa?” Ferina langsung shock.
Faren nggak sanggup mengatakan apa2 selain menunjuk gelas minuman Ferina.
“Memang’y kenapa sih?” tukas Ferina seraya menenggak minuman itu.
BRRRRRRZZZZZ…!!!
Ferina langsung menyemburkan minuman itu.
“Minuman apa sih yang sebenar’y kamu bikin?” Tanya Faren.
“Lemon tea…” jawab Ferina.
“Biasa kok, Fer. Gagal itu biasa.” Kata Faren lembut sambil menenangkan Ferina yang terlihat sangat malu.
“Tapi gue yakin udah bener bikin’y…”
“Nggak masalah kok, Fer. Cuma lain kali jangan salah bedain garam sama gula. Trus jeruk lemon’y jangan kebanyakan, itu aja kok.” Ujar Andra.
“Udah, sekarang kamu belajar aja. Yang lain biar aku yang beresin.” Tukas Faren seraya mengelap meja dan membawa gelas2 ke belakang.
Tak lama kemudian Faren kembali dengan dua gelas lemon tea asli dan dua potong black forrest cherry hitam yang sangat menggoda.
“Kok cuma dua?” Tanya Ferina.
“Hari ini aku kan ada les musik, Fer…” sahut Faren. “Kok kamu jadi pelupa gitu sih?” goda’y.
“Hush!” tukas Ferina. Faren hanya terkikik dan berlalu dari ruang tamu.
“Kenapa kita nggak belajar matematika aja, Fer?” saran Andra. “Lusa kan ulangan matematika. Kalau sejarah kita tinggal ngafalin sendiri aja ntar malam.”
“Oh, iya. Ya!” kata Ferina. Dia bangkit berdiri hendak mengambil buku matematika’y.
“Fer, aku berangkat dulu, ya!” seru Faren.
“Oke! Be carefull my honey bunny sweety twiny…” kata Ferina.
Faren tertawa kecil.