
“Apa pun masalah yang lagi lo hadapi sekarang ini, gue harap masalah itu cepat selesai. Walaupun gue nggak ngerti kenapa lo nggak mau share. Yang jelas gue akan selalu ada di sisi lo dan mastiin lo baik2 aja.”
Ferina tertunduk diam. Setidak’y di tempat ini dia merasa sedikit bebas. Di sini dia bisa menatap bentang lautan biru yang menyegarkan, merasakan embusan angin yang meniup helaian rambut’y yang indah.
“Fer…“ tegur Tama sambil menggenggam tangan Ferina.
“Hmmm?” kata Ferina.
“Lo nyaman kayak gini?”
Ferina mengangguk dan kembali menatap laut. Tak ada yang bisa membuat’y nyaman selain keheningan ini. Ferina merasa tenang dan tidak terusik. Cukup ada seseorang di samping’y yang bersedia menemani, meskipun dia sedang nggak ingin bicara banyak. Ferina menghirup udara segar dan menghembuskan’y perlahan-lahan. Sangat tenang. Dia merebahkan kepala dan bersandar di bahu Tama. Dia memejamkan mata dan hanya melihat bayangan hitam. Tak ada bayangan lain yang sempat melintas. Ini jauh lebih baik, pikir Ferina.
“Fer, lo yakin baik2 aja? Sejujur’y gue khawatir.”
“Belum pernah sebaik ini.” Gumam Ferina sambil mengangkat wajah dan tersenyum. Tama hanya membalas dengan senyum samar.
Tama belum yakin. Hari itu Ferina lebih pendiam dan sangat tertutup. Dia meminta Tama mengajak’y ke pantai. Swkadar untuk menenangkan pikiran, kata’y. Alasan itu sangat ringan, namun Ferina tidak member Tama kesempatan untuk bertanya. Cukup dengan sorot mata’y yang tajam, Tama mengerti cewek itu meminta’y membiarkan’y seperti yang dia mau. Yah, seperti yang dia mau.
“Apakah semua ini ada hubungan’y dengan… masa lalu?” Tanya Tama ragu. Akhir’y dia nggak tahan dan memutuskan untuk bertanya. Mungkin nggak ada salah’y mencoba.
“Masa lalu? Ya, masa lalu kadang memang suka mengikuti walaupun kita ingin lepas dari’y.” jawab Ferina. “Nggak perlu khawatir, gue baik2 aja kok.”
Keheningan kembali mengisi kebersamaan mereka. “Oh ya, kabar Tiffany gimana?” Ferina mngalihkan pembicaraan.
“Masih kayak dulu. Cuma sedikit lebih tenang dan tidak lagi mengjengkelkan.”
“Baguslah. Sikap’y ke elo gimana?”
Tama diam sejenak, seakan menjawab pertanyaan Ferina adalah pilihan yang sulit.
“Seperti biasa?” ujar Ferina.
“Nggak.” Sahut Tama singkat.
Ferina jadi penasaran. Dia memutar arah duduk’y sehingga menghadap cowok itu. “Trus kayak apa?”
“Kayak teman biasa.”
“Teman biasa kayak apa?”
Tama sama sekali nggak menyangka Ferina tiba2 akan membahas hal semacam ini. Dan dia nggak bisa menjelaskan’y. Tiffany masih bersikap seperti biasa, sama seperti Ferina belum hadir di antara mereka. Tama sudah menunjukkan penolakan agar mereka sedikit menjaga jarak. Kini dia nggak bisa memberikan seluruh waktu’y kepada Tiffany, sebab sekarang dia dan segala yang ada pada diri’y adalah untuk Ferina, satu2’y cewek yang di sayangi’y. Tapi Tiffany terlihat tidak setuju, dan nggak peduli.
“Berteman seperti layak’y berteman.”
“Nggak sesederhana itu.” Bisik Ferina datar. “Sedikit banyak gue kenal Tiffany.
“Sekalipun ada seribu Tiffany menggangu gue setiap hari, tetap nggak akan mengubah perasaan gue ke elo, nggak akan mengurangi perhatian gue untuk elo. Yang gue butuhin hanya kepercayaan dari lo.” Tama menjawab tenang.
Baiklah, Ferina juga nggak berniat menambah daftar masalah’y dengan kecemburuan tak menentu. Dia menarik napas dalam2 dan berusaha menjernihkan pikiran agar tidak bertanya macam2 lagi.
“Ya, gue percaya.”
Keheningan kembali mengisi kekosongan di antara mereka. Tiba2 Tama teringat sesuatu yang telah lama mengganjal pikiran’y.
“Fer.” Kata’y. “Ferinandra?”
Ferina langsung menoleh dan menatap Tama heran. Ketika tersadar cowok itu juga sedang menatap’y penuh selidik, Ferina cepat2 mengenyahkan keterkejutan itu dari wajah’y. ”Ada apa?” tanya’y.
Tama tersenyum sekilas. Akhir’y ia mengerti; Ferina selalu menunjukkan ekspresi yang sama setiap kali dia menyebutkan nama itu. “Bukan nama lo, kan?” tebak’y.
Ferina tertunduk. Dari mana Tama tahu? Dia sendiri tidak mengerti, setiap kali nama itu terdengar, jantung’y selalu berdebar cepat. “Maksud lo? Memang’y ada yang salah? Nama gue memang Ferina kok!”
“Tapi bukan Ferinandra, ya kan?”
Ferina tidak menyahut. Dia tertunduk diam, kembali teringat pada Andra. Lagi2 dia tidak mengerti, mengapa beberapa hari terakhir ini dia tak henti2 memikirkan Andra, Andra, dan Andra.
“Nggak usah dijawab.” Kata Tama akhir’y.
***
Sore itu Ferina menghabiskan waktu di sebuah kafe nggak jauh dari Cake
Resort. Sebenar’y Cake Resort jauh lebih nyaman daripada tempat ini, tapi Ferina nggak mau Mama mengawasi’y terus. Ferina sedang nggak kepingin terlihat, dia kepingin menghilang untuk sesaat. Itu sebab’y dia memilih duduk di kursi paling pojok supaya nggak kelihatan.
Bagi Ferina, tempat itu adalah lokasi VIP’y, tempat dia mendapatkan sedikit privasi dan kebebasan. Ferina bisa melihat ke seluruh bagian kafe meskipun posisi’y sendiri sangat tidak menarik perhatian. Dengan begini dia bagaikan memiliki dunia pribadi untuk diri’y sendiri, walaupun hanya untuk sesaat. Tempat yang sempurna, bukan?
Ferina merenungkan semua masalah’y. Dia harus bersikap lebih bijaksana. Mungkinkah di alam sana Faren ikut sedih dan tidak tenang karena Ferina terus membenci’y dan memutuskan untuk tidak memaafkan’y? Tapi bukankah itu adil, impas? Ferina merasa jauh lebih sakit hati dan sedih karena dia masih hidup. Apa yang dirasakan’y jauh lebih nyata. Sedangka kesedihan orang yang telah pergi bisa saja cuma khayalan orang2 yang ditinggalkan.
Sudahlah, lupakan saja. Dia memesan secangkir kopi krim panas dan nachos. Dia menghibur diri’y sendiri dengan kertas dan pensil, sahabat’y yang sangat menyenangkan. Ferina menggambar pemandangan jalanan sepi di tengah malam, di kiri kanan’y terdapat deretan pertokoan yang tertidur. Dia sudah memulai gambar ini dua hari yang lalu dan ingin menyelesaikan’y sekarang.
Ferina asyik dengan gambar yang sedang di garap’y. Itu gambaran diri’y, diri’y yang kini gelap, sunyi, sepi. Dengan lihai dia mengisi gambar’y dengam tone gelap terang remang sehingga gambar itu hidup, mendekati nyata. Setiap lima menit dia mengangkat kertas gambar’y, menjauhkan’y selengan, dan mematut’y beberapa saat. Rasa’y, bila ditambahkan sesuatu gambar ini akan semakin menyentuh, pikir’y. Apa yang kurang…
“Ah, ya!” Ferina berdecak pelan. Dia menambahkan siluet seorang gadis yang berjalan seorang diri di trotoar toko. Gadis yang lelah dengan kehidupan’y namun tak ingin berhenti di tempat. Dia terus melangkah. Walaupun sendiri, walaupun sunyi, walaupun sedih. Yah, gadis ini adalah diri’y.
Sempurna. Ferina kembali mengangkat gambar’y dan mengamati’y dengan perasaan puas. Garis2 itu seakan berbicara, dan sangat menyentuh. Bahkan orang yang tidak mengerti pun dapat merasakan gambaran ini, lalu larut di dalam’y, masuk ke jalanan sepu itu. Ferina mengamati’y cukup lama sampai dia melihat sosok tak asing muncul dari balik kertas gambar’y. Diturunkan’y kertas gambar’y.
Tama dan Tiffany berjalan memasuki kafe yang tenang. Mereka duduk di dekat jendela besar, tak jauh dari pintu.