Present Love

Present Love
Part//21



Untuk pertama kali, malam itu Ferina memasuki kamar’y. Kamar yang sangat luas itu kini sepi. Ia menghidupkan MP3 player’y cukup keras untuk mengisi kesunyian. Dengan begini, mungkin ia lebih kuat.


Ferina memandang ke arah tempat tidur Faren. Tempat tidur yang ia rapikan sebulan yang lalu. Sisi kamar itu takkan terisi lagi. Kamar itu terlalu luas bagi’y. Sempat terlintas di benak Ferina untuk pindah ke kamar tamu yang luas’y hanya separuh kamar. Tapi tidak, kamar tamu itu juga sering di tempati Faren, saat ia ingin belajar serius dan menghindar dari Ferina yang selalu merecoki’y dengan guaruan nggak mutu. Kamar itu bahkan penuh pernak-pernik Faren, seakan-akan itu kamar milik’y. Akhir’y Ferina memutuskan untuk tetap menggunakan kamar’y saja dan merapikan buku2 Faren yang masih tergeletak di meja.


Satu per satu ia menyusun buku2, majalah, koran sekolah, dan surat kabar.


Semua bacaan berat yang tak bisa di cerna Ferina karena dia memang nggak minat sama sekali dengan bacaan2 itu. Ferina menyimpan semua’y di lemari buku Faren yang penuh sesak.


Terakhir, sebuah diary Emo Bear berwarna biru suram. Satu lagi kebiasaan Faren yang tidak di minati Ferina. Diary ini adalah bagian dari hari2 Faren.


Ferina tak pernah tahu isi’y, tapi sekarang buku kecil itu ada di tangan’y. Lancangkah dia jika mengintip isi’y? Tidak. Tentu saja tidak. Selama ini mereka selalu berbagi dan bercerita. Ferina membuka halaman terakhir yang ditulis Faren. Halaman terakhir yang menutup kisah hidup’y yang singkat.


Jumat, 13 Mei 2011


Tugas paper harus selesai!


Siang ini aku akan diskusi bareng Yuki dan Lira untuk menyelesaikan tugas dari Mr. Brian yang banyak dan susah’y minta ampun! Dan yang paling gawat, udah hampir deadline! Hehehe, untung Yuki sama Lira nggak marah karena kemarin aku kabur.


Sampai sekarang aku nggak tahu harus gimana sama Ferina. Aku takut ketahuan. Tapi seperti’y sih semua berjalan lancar. Ferina nggak bakal pernah tahu tentang hal ini, sampai kapan pun ini akan tetap menjadi rahasia. Aku benar2 nggak kepingin dia tahu.


Rahasia? Selama ini Faren selalu terbuka kepada’y. Semua tentang apa yang dialami dan dirasakan’y. Dan sekarang ada rahasia? Jantung Ferina berdebar seru, ia beranjak menuju tempat tidur dan meneruskan membaca diary itu.


Kamis, 12 Mei 2011


Hari ini seharus’y aku ngerjain tugas paper sama Yuki dan Lira. Mereka kesal karena aku nggak bisa. Aku juga bikin Ferina kesal karena nggak jadi nemenin dia ke toko buku. Aku sebenar’y bimbang, tapi aku sudah memaksa Andra untuk meluangkan waktu pergi nonton hari ini. Jadi terpaksalah aku berbohong kepada Ferina.


***


Andra? Darah Ferina berdesir kencang membaca nama itu ditulis dengan tulisan tangan Faren yang rapi.


Tapi hari ini aku benar2 senang. Kami nonton film horor yang seru banget. Semua yang kualami hari ini dan hari2 sebelum’y sungguh istimewa. Sejujur’y aku benar2 menyukai Andra… first love’y Ferina, dan… first loveku juga… Maaf, Fer, jangan salahkan aku. Salahkan hati yang tak dapat kukendalikan ini… Tapi satu hal yang pasti, aku takkan merebut Andra darimu untuk selama’y.


Emosi Ferina berkecamuk. Perasaan’y tak menentu. Apa maksud Faren di balik semua ini? Sekarang dia akan mengetahui semua’y dengan jelas.


Ferina membuka lembaran diary itu dengan tangan gemetar. Ferina harus mengakui satu hal yang sangat menyakitkan: Faren membohongi’y.


Ferina membuka halaman saat pertama kali ia memperkenalkan Andra kepada Faren.


Minggu, 10 April 2011


Aku bahkan sampai nggak habis piker bagaimana perjuangan Ferina membuat lemon tea yang rasa’y amat sangat aneh itu di dapur. Bayangkan coba, lemon tea’y dikasih garam dan sari lemon yang kelewat banyak. Dan aku nekat mencicipi’y pula! Sinting! Tapi aku salut pada’y. lagian memang nggak sia2 kok, Reanldianra cakep banget. Lebih cakep daripada Tora, cowok most wanted di sekolahku. Ferina benar2 serasi dengan’y. Aku sendiri terkesima pada cowok itu, tapi entah kenapa aku merasakan ganjil yang sedikit aneh, tapi kenapa aku sangat menyenangkan. Lucu ya?


Tapi aku juga senang banget liat Ferina makin hepi begitu.


Nggak ada hal “aneh” yang tertulis sampai halaman itu berakhir. Sampai akhir’y Ferina berhenti pada halaman baru yang memuat nama Andra.


Rabu, 27 April 2011


Aku dikejutkan kedatangan siswa baru di kelas musikku. Renaldiandra, dia memperkenalkan nama’y. Renaldiandra adalah Andra. Dia mengajakku main music bersama. Dia menunjukkan permainan piano’y yang sangat lincah sehingga aku bertanya-tanya untuk apa dia ikut les music.


Ia menawarkan diri mengantarku pulang. Terang saja aku menolak. Dan dia tidak memaksaku lagi. Sebelum berpisah, sebenar’y aku ingin bertanya kenapa dia ikut les music tingkat menengah seperti aku. Kemampuan’y bahkan bisa dibilang mendekati maestro. Tapi aku mengurungkan niat untuk bertanya lalu berbalik pulang.


Cukup sampai di situ. Ferina mencerna semua yang telah dibaca’y. Dada’y sesak, pandangan’y berkaca-kaca. Di dekat’y juga ada album foto yang tadi’y terkunci. Ferina membuka dengan paksa menggunakan obeng, sehingga sebagian album agak koyak. Dan betapa terkejut’y diri’y ketika melihat foto2 yang tersusun di sana. Foto2 Faren dan Andra bermain piano berdua, makan es krim di alun2 kota, tertawa di taman bermain, dan… Oh, apa itu? Ferina tak dapat melihat’y dengan jelas. Air mata telah mengaburkan pandangan’y.


Apa2an ini?!


Inikah yang ditinggalkan Faren untuk’y? Sepenggal cerita yang menambah luka hati? Dan mengapa semua ini tersingkap saat Faren sudah tidak ada? Apa arti semua ini? Apa yang bisa dilakukan’y?


Ferina meringkuk di tempat tidur, menahan isakan yang tak diinginkan’y, mengulangi setiap bait kata dengan perasaan tak percaya. Diary itu basah oleh air mata’y yang tak terbendung.


Kini dia harus menerima kenyataan yang mencabik dan merusak semua itu. Bahwa dia telah didustai, dikhianati.


Dengan nanar Ferina menatap diary itu. Kalau saja dia tidak menemukan’y, kalau saja diary itu ikut terkubur bersama Faren, mungkinkah semua’y jadi lebih baik?


Dengan amarah berkecamuk, Ferina melempar diary itu dan mendengar bunyi debam pelan di samping lemari. Seharus’y diary itu telah dicampakkan sejak dulu, dan lebih baik lagi kalau nggak pernah ada!


Ferina membenamkan wajah dan melepaskan tangis’y yang pilu. Untuk pertama kali seumur hidup’y, Ferina benar2 membenci Faren. Siapa yang harus disalahkan? Faren? Andra? Atau diri’y yang telah lancang membuka privasi saudara’y?


Sampai sekarang aku nggak tahu harus gimana sama Ferina. Aku takut ketahuan. Tapi seperti’y sih semua berjalan lancar. Ferina nggak bakal pernah tahu tentang hal ini, sampai kapan pun ini akan tetap menjadi rahasia. Aku benar2 nggak kepingin dia tahu…


Lo udah merahasiakan’y dengan baik, Ren. Merahasiakan sampai akhir hayat lo. Semua kenangan indah Ferina bersama Faren rusak sudah. Tak ada yang bisa dia rindukan dari sosok saudara kembar’y itu.


Ferina hampir tak ingat ucapan Andra tadi siang. Kalau dia nggak salah dengar, cowok itu bilang sayang dan ingin menjadi bagian hidup’y. Persetan dengan semua itu. Andra benar2 brengsek. Kenapa bukan dia saja yang pergi? Dunia sudah muak dengan orang2 munafik seperti Andra!


Kesedihan Ferina kini tertutup amarah dan kebencian. Ferina akhir’y tidur dengan mimpi buruk. Mimpi buruk yang akan mengikuti’y sampai kapan pun.