
Ferina nggak banyak bicara. Dia penasaran dengan mobil yang dikendarai Tama ini. Seperti’y kok familier ya. Honda Jazz hijau metalik. Ferina yakin banget pernah melihat mobil ini. Tapi entah di mana…
“AC’y nggak hidup kan, Fer? Kayak’y kok dingin banget, ya.” Tama memecah kebisuan.
“Apaan sih!” cetus Ferina sebal.
“Eh, nggak jauh dari sini ada bakso super enak lho…” Tama tidak meladeni kejengkelan Ferina. “Kata’y bisa bikin hangat suasana yang dingin gitu deh!” lanjut’y sok polos.
“Bawel banget.” Gumam Ferina sok jaim.
“Tapi beneran enak lho, Fer.” Kata Tama.
Ferina tetap diam.
“Ini dia tempat bakso’y.” kata Tama sambil menepikan mobil. “Kalau pengin coba, kita bisa makan di sini dulu.” Dia menawarkan.
“Lo bisa berhenti pura2 nggak sih?” Ferina berusaha menahan emosi. “Tujuan awal’y nggak ke sini, kan?”
“Emang nggak, habis suasana’y dingin sih. Kan perlu diangetin dulu.” Ujar Tama.
“Fer.” Ujar Tama sambil menyentuh bahu Ferina.
Refleks Ferina menepis tangan cowok itu kuat2. “LO APA2AN SIH?!” sergah Ferina gusar.
“Fer… lo kenapa sih?” Tama tetap berusaha tenang.
“Fer…” Tama mendesah. “Lo kenapa? Gue salah, ya? Gue bikin lo marah? Gue bikin lo…”
“IYA! GUE EMANG MARAH, GUE SEDIH,GUE KECEWA, PUAS?!” Ferina berteriak. Tangis’y pecah.
Tama terdiam. Dia tahu cewek itu memendam perasaan terhadap’y.
“Maaf, Fer. Gue nggak bermaksud bikin lo marah.” Tama membelai rambut Ferina lembut. “Lo jangan nangis lagi, ya, kita lanjutin perjalanan. Bentar lagi nyampe kok.”
Ferina mengusap air mata’y, kemudian mengangguk. “Gue juga minta maaf.” Kata’y kemudian.
Tama melihat Ferina sudah tenang. Dia pun mengemudi dengan santai. Dia takut cewek di samping’y akan meninggalkan’y.
Ferina menatap langit senja yang mulai memerah dan lampu2 jalan yang berpijar.
Ferina tidak melontarkan satu patah kata pun sampai Tama memarkir mobil’y di tanah lapang. Ternyata Ferina tertidur lelap. Ditatap’y cewek itu lamaaa… sekali. Hanya dalam hitungan hari cewek itu telah membuat’y rindu setengah mati.
“Fer… Ferina.” Tama menepuk-nepuk bahu Ferina.
“Ferina…” Tama memanggil lembut. “Ferinandraaaa.”
Ferina tersentak. “Hmmmmh…” dia menggeliat dan kembali tertidur.
“Kita udah nyampe, Fer.” Tama membelai rambut Ferina.
“Ngg…? Nyampe? Nyampe mana?” Ferina berusaha duduk tegak.
“Kita udah nyampe Parangtritis lagi nih!” kata Tama sambil mengambil jaket di jok belakang, jaket yang dulu di berikan Ferina untuk’y. Kemudian dia menyodorkan tas kertas ke pangkuan Ferina.
Mereka sudah tiba di pantai yang pernah didatangi’y sebelum’y bersama Tama.
“Ini apa?” Tanya Ferina sambil membuka kantong kertas itu.
“Buat lo, Fer. Soal’y di sini dingin banget. Inget, kan?” jelas’y. “Dan gue nggak mau lo masuk angin trus sakit.”
Ferina menarik sweter hijau lembut yang sangat manis dari dalam kantong kertas. “Wow… Bagus banget…”
“Makasih, ya.” Kata’y sambil mengenakan sweter.
Ferina kembali memandangi pantai. Dari sini lautan terlihat jauh lebih indah dan menenangkan.
Tama mengenakan jaket pemberian Ferina, lalu mengajak’y keluar mobil.
Sekelebat Ferina teringat sesuatu, sesuatu yang di lihat’y bersama Haikal. “Mobil itu.” Ferina berkata agak ragu. “Tiffany, kan?”
Tama heran Ferina tahu. “Benar.” Jawab’y singkat.
Mereka pasti jauh lebih dekat daripada yang disangka’y.
Tama menggenggam tangan Ferina, mengajak Ferina mendekat pantai. Hanya ada mereka dan ombak.
Mereka melangkah dalam diam. Tama duduk di pasir dan Ferina mengikuti dalam diam.
“Jangan pernah tinggalin gue kayak begitu lagi.” Ferina memecah keheningan.
Ferina teringat sekilas bayangan Faren yang mengatakan hal senada kepada’y.
“Gue memang mau minta maaf soal itu.” Kata Tama sungguh2. “Maaf, gue udah bikin lo marah. Bikin lo kecewa.”
Dan untuk itulah kita di sini, Ferina berkata dalam hati.
“Maaf.” Ulang Tama. “Waktu itu gue kalut. Ngeliat Tiffany seperti itu, bikin gue nggak bisa ninggalin dia. Gue serbasalah, dan gue terdesak oleh pilihan. Gue sadar Tiffany tanggung jawab gue, jadi…”
Lo memilih Tiffany, di dalam hati Ferina melanjutkan kata2 yang tak sanggup diutarakn cowok itu. Persaan’y kembali sesak.
“Tanggung jawab?” Ferina bertanya pelan.
“Benar, Tiffany memang bukan pacar gue, tapi apa pun yang terjadi pada’y, gue nggak bisa mengabaikan’y, karena…
“Udah! Lo jangan terbelit-belit! Nggak usah pake ucapan2 klise segala! Nggak usah merangkai kata indah kayak pujangga buat sekadar ngomongin ini!” akhir’y Ferina meledak juga.
“KALAU LO PENGIN CERITAIN KISAH INDAH LO SAMA TIFFANY, APA PUN TUJUAN LO, LANGSUNG AJA! GUE DENGERIN! BIAR LO PUAS! BIAR LO Senang!” bentak Ferina seraya bangkit berdiri.
“Fer…?” kata Tama seraya meraih tangan’y.
“UDAH!!” Ferina merenggut tangan’y dan berlari menuju ombak.
Tama bangkit berdiri dan berlari menyusul’y. “TAPI INI BUKAN TENTANG GUE DAN TIFFANY, FER!” seru’y.
“LALU SIAPA LAGI?” Ferina nggak mau kalah.
Lama mereka sama2 terdiam. “Oke, gue akan dengerin lo.” Kata Ferina tenang.
Mereka kembali ke tempat tadi dan duduk sesaat dalam diam. Pelan langit mulai gelap.
“Ini tentang Tiffany, dan mama’y.” Tama mulai bicara. “Mama Tiffany sudah lama dirawat di panti rehabilitasi.” Lanjut Tama pelan. “Seharus’y nggak lama lagi mama’y sudah bisa pulang dan berkumpul lagi bersama Tiffany. Tapi hari itu Tiffany mendapat kabar kalau mama’y… mencoba bunuh diri lagi.”
“Lagi?” ujar Ferina spontan.
“Ya, untuk kedua kali. Gue juga nggak tahu pasti kenapa mama’y bisa bertindak seperti itu. Padahal hanya dia milik Tiffany saat ini. Gue tahu derita batin yang dialami Tiffany jauh lebih berat daripada yang bisa gue banyangkan. Walaupun dia selalu berusaha meyakinkan gue bahwa dia baik2 aja, gue nggak terlalu yakin. Gue sampai nggak habis piker kenapa cewek seperti Tiffany bisa tegar menghadapi semua ini.”
“Tiffany hanya memiliki mama’y?”
“Begitulah. Tapi Tiffany nggak cerita banyak tentang itu. Yang gue tahu, Tiffany berasal dari keluarga broken home. Waktu orangtua’y bercerai, Tiffany dipaksa mama’y ikut dengan’y, meskipun hal itu sangat bertentangan dengan keinginan’y sendiri. Mereka pun pindah ke sini dan tinggal di apartemen.”
“Sejak itu hidup Tiffany berantakan. Karier mama’y hancur dan dia memperlakukan putri’y dengan buruk. Tiffany menjadi tempat pelampiasan kekecewaan’y. Saat dilanda masalah, mama’y selalu lari ke pesta2, minum2, merokok, dan nge-drug. Dan saat itu dia nggak ingat siapa diri’y lagi, apalagi
Ferina nggak tahu harus bilang apa.
“Dan selama itulah gue selalu berusaha menjadi sahabat Tiffany. Gue berusaha selalu ada saat dia membutuhkan teman, saat dia sendirian atau ketakutan.”
Sekelabat rasa cemburu kembali membakar hati Ferina.
“Gue membantu sebisa gue. Ketika Tiffany tahu mama’y nge-drug, dia langsung lari ke gue. Akhir’y, gue minta tolong ortu gue buat nolongin nyokap Tiffany yang sempat nyaris overdosis. Sejak itu mama Tiffany aman bersama ortu gue, terutama Nyokap. Dan selama itu pula Tiffany dititipin ke gue. Gue ngejaga dan ngawasin dia. Biar Tiffany nggak salah arah. Biar dia nggak macam2. Karena gue sendiri sadar Tiffany labil dan nekat.”
Ferina terdiam lama sekali.
“Keadaan mama Tiffany gimana?” Tanya Ferina.
“Baru melewati masa kritis, jadi kami bisa pulang dari pusat rehabilitasi. Tapi dia masih belum sadar, jadi masih harus dirawat.”
“Trus kenapa kalian balik?” Tanya Ferina heran.
“Besok ada ulangan. Jadi kami memutuskan untuk pulang dulu.” Jawab Tama.
“Trus Tiffany? Apa dia nggak pa2 ditinggal… sendiri?”
“Nggak masalah. Malah sebenar’y dialah yang nyaranin gue untuk menemui lo.”
Cowok itu langsung melanjutkan. “Dia mengatakan sebelum gue sempat meminya’y.”
Ferina tertegun.
“Kenapa?”
“Entahlah.” Sahut Tama pasrah. “Tapi yang jelas, Tiffany nggak buta, nggak tuli, dan dia juga punya perasaan. Dia sadar perbuatan’y salah karena terlalu memonopoli gue, dan menghalangi cewek2 lain yang ingin berteman dengan gue. Namun di sisi lain dia juga sadar ada satu hal yang nggak bisa dia halanghalangi . Dan itu adalah… perasaan gue.”
Wajah Ferina memanas dan darah’y berdesir.
“Mungkin selama ini gue memang nggak peduli apa yang diinginkan Tiffany. Gue juga nggak peduli sama cewek2 yang batal mendekati gue lantaran takut sama Tiffany. Semua itu nggak penting buat gue.” Kata Tama.
“Namun semua itu nggak berlaku sejak gue kenal lo, Fer. Gue nggak mau lo diperlakukan dengan buruk oleh Tiffany karena kita dekat. Gue melarang Tiffany melakukan’y. Gue tahu dia kecewa. Tapi gue juga nggak tahu harus bagaimana, apalagi Tiffany nggak mau tahu, tetap keras kepala, dan menutup mata terhadap apa yang gue rasakan.”
Tama menatap Ferina lurus2 sampai cewek itu menunduk dan nyaris salah tingkah.
“Rasa itu tidak pernah singgah di hati gue sebelum’y. Perasaan yang mungkin nggak selalu indah untuk dirasakan apalagi kalau lo jauh dari gue. Lo nggak tahu gimana resah’y gue waktu ninggalin lo kemarin. Tapi di sisi lain gue merasa bertanggung jawab terhadap Tiffany. Gue jadi serbasalah.”
Ferina tetap bergeming.
“Fer.” Tama menyapa Ferina yang membatu. “Ferinandra…?”
“Hmmm… yah, maaf.” Ujar Ferina buru2, malu sendiri. Tama melihat kilatan aneh di mata Ferina setiap kali memanggil’y dengan nama itu.
“Tiffany titip ini sebelum gue pergi. Kata’y buat elo. Gue nggak tahu apa isi’y, tapi gue udah janji akan menyampaikan’y ke elo.”
Dengan bimbang Ferina membuka lipata kertas itu. Apa sih mau’y Tiffany? Batin’y.
Gue tahu, nggak semua yang kita inginkan selalu dapat diraih. Dan gue tahu, nggak selalu orang yang kita cintai bisa mencintai. Waktu terus bergulir dan akhir’y gue sadar, dia telah menemukan cinta’y.
Mungkin inilah saat’y dia menyelami hati’y sendiri, walaupun hati gue sakit. Entah kenapa, melihat dia hampa tanpa cinta’y, hati gue lebih sakit lagi. Gue masih ingin melihat’y tersenyum dan tertawa lepas, walaupun itu bukan buat gue, walaupun itu bikin hati gue sakit.
Walaupun gue belum sepenuh’y yakin atas keputusan gue ini, namun kali ini gue membiarkan dia menemui cinta’y.
Tiffany.
“Apa Tiffany ngomong kasar?” Tanya Tama.
“Nggak kok.” Jawab Ferina. “Mungkin sedikit banyak gue bisa ngerti perasaan’y. Gue juga nggak bisa berkomentar banyak. Sebenar’y yang dialami Tiffany nggak jauh berbeda dengan yang gue alami. Beda’y gue hanya sedikit lebih beruntung, mungkin.”
“Maksud lo, Fer?”
Feriana tersenyum miris. “Memang sih di keluarga gue nggak ada yang ngedrug sampai harus di bawa ke rehabilitasi ataupun mencoba bunuh diri berulang kali. Tapi bagian hidup gue cukup menyedihkan. Namun yang paling penting sekarang gue masih punya Mama yang sayang sama gue.”
Ferina memeluk kaki’y dan menopangkan dagu’y di lutut. Kemudian dia menatap langit, mengharapkan keberanian untuk bersuara, keberanian untuk menyampaikan perasaan.
Tama kembali memandang Ferina dan berkata. “Fer, apa pun penilaian lo terhadap gue setelah ini, gue mungkin nggak peduli. Karena gue cuma pengin lo tahu, kalau gue… kalau gue sayang elo…”
Degup jantung Ferina sangat kuat dan dekat. Tama merangkul’y dekat ke tubuh’y.
Ferina tidak mengatakan apa2. Bahasa diam’y sudah lebih dari cukup bagi Tama.
Tama merangkul Ferina semakin erat. “Makasih ya.” Ujar cowok itu lembut. ***
Tiffany baru saja menyelesaikan ulangan yang membuat’y pusing setengah mati. Sekarang dia pusing dan mual.
“Tama, gue ke kamar mandi dulu.” Kata’y buru2 dan langsung lari.
Huek… huek…
Tiffany muntah2 di wastafel. Dia mengeringkan wajah dengan tisu.
Zrrt… zrrt…
Tiffany menekan tombol hijau di HP’y yang bergetar.
“Ya. Saya sendiri. Apa?! Sekarang juga? Baiklah.”
Dengan panik Tiffany keluar kamar mandi dan menuju kelas. Mama’y kembali kritis.
Sial! Dia tidak menemukan Tama. Tiffany menghubungi ponsel cowok itu, tapi tidak berhasil. Dengan gusar dia merenggut tas’y, lalu berjalan secepat mungkin menuju ruang piket dan meminta surat izin.
“Fan! Lo mau ke mana?” Haikal tahu2 muncul di hadapan’y. “Lo kenapa, Fan? Ada apa?” Tanya Haikal cemas.
“Bukan urusan lo! Minggir!” bentak Tiffany. Dia kembali melangkah.
“Nggak!” Haikal menggenggam tangan Tiffany sangat erat.
“Hei! Apa2an sih lo?! Lo nyakitin gue, tahu! Lepasin!” Tiffany meronta melawan.
“Apa sih mau lo?” tantang Tiffany.
“Gue cuma kepingin lo berhenti bersikap kayak gini ke gue!” tukas Haikal. “Gue pengin lo bicara lagi ke gue, dan kita kayak dulu lagi. Gue pengin kita kembali bersama. Gue mohon.” Suara Haikal melunak.
“In your dreams!” tukas Tiffany ketus. “Gue nggak butuh lo atau siapa pun yang bersama lo! Ngerti?”
“Lo dulu nggak kayak gini.” Kata Haikal.
“Makasih buat perhatian lo.” Shaut Tiffany.
“Gue menyesal, Fan. Gue…”
“Maaf gue buru2, dan gue nggak punya waktu mendengarkan rentetan penyesalan lo. Permisi!”
“Gue sayang lo. Dan gue yakin lo juga masih sayang sama gue. Karena gue kenal gimana lo, Fan. Lebih daripada siapa pun.” Bisik Haikal.