
Nggak terasa sudah seminggu Ferina dan Wulan tinggal di rumah baru. Ferina sering mengajak Rana si anak tetangga untuk bermain di rumah.
Sore itu Ferina kegerahan. Ferina menghampiri kulkas. Nyaris kosong.
“Mama… kulkas’y kosong!” erang Ferina.
Wulan bergegas datang. “Kalau begitu, kamu ke supermarket deh. Mau, kan?” bujuk Wulan. “Mama kan capek habis mengurus toko.”
“Boleh deh!” kata’y bersemangat. “Tapi gimana pergi’y? Ferina kan nggaktahu di mana letak supermarket?”
Wulan berpikir sejenak. “Oh, kalau nggak salah tadi Manda bilang dia mau keluar ada urusan, mungkin bisa barengan. Coba kamu tanya ke sebelah gih, biar Mama bikin catatan belanja’y dulu!”
“Oke.” Ujar Ferina sambil buru2 keluar.
Baru saja Wulan selesai mencatat, Ferina sudah muncul lagi.
“Ma, cepet! Tante Manda udah mau berangkat! Kata’y bisa lewat supermarket tapi agak jauh. Cepet, Ma!” Ferina berteriak.
“Ini.” Ujar Wulan. Ferina pun berlalu secepat kilat.
Sesampai di supermarket, Ferina segera asyik menyusuri rak2 penuh berbagai macam cokelat, permen, kerupuk, dan segala gurih2 dan nggak bikin eneg.
Setelah keranjang penuh, Ferina menyerah dan segera antre di ksair. Dengan sabar dia menunggu sampai akhir’y mendapat giliran.
“Malam, Mbak.” Sapa si mbak kasir, sambil mengeluarkan belanjaan Ferina.
“Malam.” Jawab Ferina cuek. Ferina memandang pintu kaca dan ternyata langit sudah hitam total.
Akhir’y si mbak kasir menyerahkan belanjaan Ferina yang sudah dihitung.
Setelah membayar belanjaan itu, Ferina keluar dari supermarket dengan hati gembira, tahu2 Ferina tersadar. “Gue pulang’y ke mana, ya?” gumam’y.
Ferina nggak tahu alamat rumah’y! Ponsel’y ketinggalan, lagi! Uang’y tinggal gonceng!
Akhir’y Ferina mencari wartel untuk menelepon mama’y. Dia menghubungi ponsel’y yang ketinggalan di depan meja TV. Nggak ada yang angkat.
Ferina mengipas-ngipas leher dengan dompet’y biar adem sedikit. Tiba2 ada yang merebut dompet’y dan membawa kabur. Ferina langsung mengejar si copet..
“Woiii… copeeet! Mau lari ke mana lo!” teriak Ferina. “Woi… ambil aja duit’y! Gue ikhlas! Tapi kembaliin dompet gue…!”
Si copet terus berlari hingga mencapai belokan,sedetik pun pandangan Ferina tak pernah lepas dari…
BRUKK!!
Separuh tubuh Ferina menimpa kantong belanjaan. Ferina sempat melihat si copet masuk ke gang kecil di ujung toko buku.
“Awww…” erang Ferina. Telapak tangan’y lecet dan mulai berdarah. DIa melihat orang yang di tabrak’y. Cowok itu merintih kesakitan sambil membersihkan siku.
Ferina mencoba berdiri. “Maaf…” kata’y.
Cowok yang masih terduduk itu tersenyum pahit. “Gue nggak pa2.” Kata’y. Lalu dia bangkit berdiri. “Lo sendiri gimana?”
“Sangat baik sekali.’ Sahut Ferina sambil meringis. “Syukur deh lo nggak pa2, kalau iya makin apes aja gue! Gue bener2 minta maaf, ya.”
“Iya, tenang aja.”
Ferina berbalik dan menghampiri kantong belanjaan’y.
“Gue bantuin, ya?” si cowok jatuh iba. “Lo kenapa sampai lari2 heboh begitu sih?”
“Gue lagi ngejar orang yang nyopet dompet gue.” Jawab Ferina.’
“Trus copet’y ke mana?”
“Tau!”
Ferina mengucapkan terima kasih dengan tampang muram.
“Lo beneran nggak pa2?” Tanya cowok itu.
“Sedikit.” Jawab Ferina.
“Trus ntar lo pulang’y gimana?”
“Nggak tahu.”
“Hhh… kalau gue tinggal sekarang, lo yakin bisa pulang?”
Ferina menggeleng.
“Hei…” cowok itu mengibas-ngibaskan tangan di depan tatapan Ferina yang kosong.
Ferina tersental. “Apa? Belum pergi, ya?” tanya’y.
Cowok itu makin prihatin. “Ya udah, lo gue antar pulang, duit lo semua pasti ada di dompet!”
“Makasih banget…” ujar’y. “Eh, tapi sebentar.”
“Kenapa?”
“Gue masih penasaran sama dompet gue.” Kata Ferina seraya berjalan menuju gang di samping toko buku. Di lihat’y benda yang dicari’y.
“Dompet gue!” sorak Ferina. Ferina meraba sisi tersembunyi tempat dia menyimpan kalung’y yang sangat berharga.
“Syukurlah.” Desah’y lega.
“Gimana?” Tanya si cowok.
“Nggak pa2. Dompet’y ketemu.Tapi duit gue raib.” Sahut Ferina.
“Ya udah, gue antar pulang deh. Rumah lo di mana?”
Ferina terdiam, dan tersenyum bloon. “Itu dia masalah’y…”
Cowok itu menatap Ferina heran. “Ya udah, kalau gitu kita makan aja bentar yuk? Lo kacau banget keliatan’y. Biar gue yang traktir.” Kata’y menenangkan.
Ferina mengangguk pelan. Dia mengikuti cowok itu ke kafe. Di sana mereka berkenalan dan Ferina pun menceritakan kisah sedih’y.
“Jadi lo orang baru ya?” komentar cowok yang mengaku bernama Tama itu.
“Begitulah. Baru, ceroboh dan sial.” Ferina menambahkan. “Oh ya, dan satu lagi.”
“Apa?” Tanya Tama tertarik.
“Hari ini gue ulang tahun.” Sahut Ferina.
“Wah, happy birthday, ya!” kata Tama seraya mengulurkan tangan. Ferina menyambut dengan penuh rasa terima kasih.
“Itulah…” ujar’y lelah. “Gue cuma tahu ada penginapan di depan rumah gue, nama’y… nama’y… kalau nggak salah Di… Dierchy!”
“Dierchy? Oke, kita cari naik motor kalau gitu!” kata Tama.
“Gue ingat dikit2 sih jalan’y.” kata Ferina saat mereka melaju di atas motor. “Maaf ya, gue jadi ngerepotin elo.” Tambah’y. “Tapi gue yakin tadi lewat belokan ini.”
“Nggak masalah. Kalau gitu berarti udah nggak jauh lagi, kan?”
“Mudah2an.” Sahut Ferina.
“Hmmm… gimana kalau kita tanya orang dulu?” usul Tama.
“Terserah deh.” Sahut Ferina.
Cowok itu memarkir motor’y di depan pos polisi kecil, dan menanyai petugas di sana.
“Dapat!” seru Tama.
Mereka tidak banyak mengobrol. Tama melihat tulisan “DIERCHY”
“Nah, itu dia! Akhir’y!” seru Tama seraya menghentikan motor di depan rumah yang cukup menawan. “Kita sampai, Fer!”
“Fer?” Tama baru menyadari punggung’y terasa berat. Ternyata cewek itu tertidur. “Fer…” cowok itu mengguncang punggung Ferina pelan. “Fer?”
“Ngg?” Ferina mendesah pelan.
“Udah di depan rumah.” Ujar Tama lembut.
“Hah?” Ferina baru setengah sadar.
“Udah nyampe.” Ulang Tama.
“Oh, iya!” ujar Ferina penuh semangat. “Makasih banget ya.” Kata’y. Refleks, dia memeluk cowok itu dari belakang. “Nggg… eh… maaf.” Kata Ferina buru2.
Tak di duga gerimis turun. Ferina menurunkan belanjaan’y.
“Ma! Mamaaa….!!!” Teriak Ferina.
“Lo suka banget teriak, ya?” ujar Tama sambil menutup sebelah telinga’y.
“Hehehe… bukan begitu… ntar Mama nggak dengar soal’y.” sahut Ferina.
“MAMAAAAA!!!”
“Ferina!” terdengar seruan dari rumah sebelah.
“Kamu ke mana aja? Mama cemas banget!” ujar Wulan. “Tadi Mama udah cari ke supermarket tempat kamu belanja, tapi kamu nggak ada!”
“Cerita’y nanti aja deh. Panjang!” kata Ferina.
“Teman Ferina, ya?” sapa Wulan ramah.
“Eh… iya, Tante.” Sahut Tama. “Nggg… saya mau pamit dulu ya, Tan.” Lanjut’y.
“Buru2 amat. Mampir dulu ya…” ujar Wulan sambil membuka pintu. “Lagian hujan. Tunggu sebentar aja.”
“Kemalaman…” bisik Tama di telinga Ferina.
“Masuk dulu!” balas Ferina dengan bisikan lebih keras.
Hujan menerpa teras tempat mereka berdiri. “Tuh, kan… benar kata Mama, tunggu bentar.”
Wulan kemudian menghidupkan lampu.
“SURPRISEEEE!” sorak Wulan.
Ferina terpana. Ruang tamu telah disulap menjadi ruang pesta.
Tak lama setelah itu tetangga mereka, Manda, Erwin, dan Rana kesil bersorak kompak.
“HAPPY BIRTHDAY!!!”
“HOREEEE… PESTA!!!” sorak Rana.
Ferina nyaris tak percaya. Air mata’y mengalir begitu saja. Wulan memeluk’y.
“Sekali lagi, selamat ulang tahun ya.” Kata Tama.
“Happy birthday to you… happy birthday to you…”
Lagu itu ikut memeriahkan suasana malam yang mendung. Sesaat Ferina memandang mama’y dengan penuh arti, kemudian meniup lilin’y. Wulan membalas tatapan Ferina dengan anggukan kecil yang juga penuh arti. Ferina tersenyum tipis, memejamkan mata, dan meniup lilin.
Selamat ulang tahun, Faren.
“Makasih ya, Ma.” Ucap Ferina.
Wulan memeluk Ferina dengan tegar dan mencoba tetap tersenyum.
***
“Ehm udah lumayan reda hujan’y.” kata Tama. “Gue pulang dulu, ya?”
“Umm… kok buru2 banget sih?” kata Ferina.
“Udah kemalaman.”
“Iya sih, ya udah, gue panggil Mama dulu, ya?” kata Ferina sambil memanggil mama’y.
“Makasih ya, udah direpotin Ferina.” Ujar Wulan.
“Sama2, Tante, saya pamit dulu.” Kata Tama seraya beranjak dari ruang tamu.
“Hei, udah di luar aja!” tegur Ferina. “Nih!” kata’y sambil menyodorkan sesuatu.
“Apa itu?” Tanya Tama.
“Jaket.” Sahut Ferina. “Biar nggak dingin dan kena hujan. Gerimis malah lebih sering bikin sakit lho!”
“Oh begitu.” Sahut Tama sambil membuka lipatan jaket yang seperti’y masih baru itu. “Belum pernah dipakai, ya?” ada tulisan Ferinandra.
“Umm… itu jaket kompakan kelas gue waktu di Semarang, baru dapat pertengahan semester lalu. Memang belum pernah dipakai, kegedean sih, nggak fit aja di badan gue jadi’y. Pakai aja.”
“Makasih, ya. Juga buat pesta’y yang keren!” kata Tama. “Hope we’ll meet again.”
“I hope so. Daaah…” kata Ferina sambil melambaikan tangan.