Present Love

Present Love
Part//16



Hari sabtu ini hari terakhir skorsing Ferina. Kemarin Ferina dan mama’y sudah memenuhi panggilan Kepala Sekolah untuk menindaklanjuti kenakalan Ferina. Di sana, Ferina dinasihati habis2an. Ditambah lagi bonus omelan panjang mama’y setiba mereka di rumah.


Ferina menarik selimut menutupi kepala. Sudah pukul delapan, namun dia masih enggan beranjak sampai mama’y memasuki kamar dan menyibak gorden serta membuka jendela’y lebar2.


“Bangun, sayang!” seru Wulan sambil menarik selimut Ferina. “Mama mau pergi, kamu mau ikut?”


Ferina menggeleng tanpa membuka mata, lalu kembali menarik selimut.


Wulan hanya menghela napas. “Nggak mau ke Cake Resort?”


Ferina menggeleng. Wulan mengangkat bahu lalu meninggalkan kamar putri’y. Begitu pintu kamar’y tertutup, Ferina langsung duduk tegak sambil memandang daun pintu. Tiba2 ia menyesali sikap’y barusan. Sejak kemarin Ferina memang ngambek setelah kenyang diomeli mama’y. Tapi ya, setelah di pikir2 dia memang pantas diomeli.


Ferina turun dari tempat tidur, mengambil handuk, lalu menuju kamar mandi. Setelah itu ia menghabiskan sarapan sambil nonton TV di sofa. Tak terasa hari sudah beranjak siang. Ferina memutuskan untuk pergi ke Cake Resort dan bersikap lebih baik terhadap mama’y.


Begitu membuka pintu untuk keluar rumah, langkah’y terhenti karena terkejut melihat siapa yang berada di balik pintu’y.


“Tiara?” seru Ferina heran. “Sudah lama?”


“Umm, belum.” Jawab Tiara enggan. Ia belum berani menatap mata Ferina.


“Gue mau minta maaf.”


“Maaf?” ulang Ferina heran. “Masuk dulu yuk. Masa ngomong di depan pintu.” Lanjut Ferina sambil beranjak ke dalam. Tiara mengikuti tanpa mengatakan apa2.


“Gue yang salah kok.” Ujar Ferina memecah keheningan. “Gue sendiri pasti juga bakal kesal kalau lagi ngomong trus telepon gue diputus begitu saja.”


Tiara mengangkat kepala dan memandang Ferina dengan tatapan iba. “Bukan. Bukan itu masalah’y.”


“Lantas?”


“Gue pikir… antara lo dan Haikal ada sesuatu yang lebih dari sekadar teman.”


“Ternyata gue salah.” Lanjut Tiara. “Kemarin gue ke rumah Haikal. Tahu2 yang buka pintu Tiffany. Gue kaget. Di sanalah gue akhir’y tahu cerita yang sebenar’y dari Haikal. Gue mendadak merasa bersalah banget sama lo.”


Ferina menghembuskan napas lega. Jangan sampai Tiara tahu Haikal sempat menyatakan perasaan terhadap’y.


“Tapi gue tetap harus minta maaf.” Ujar Ferina.


Sesaat suasana terasa canggung. Memang rasa’y aneh juga setelah lama tidak saling menyapa, tahu2 mereka berada di sini untuk berterus terang.


“Keluar yuk!” ajak Ferina memecah keheningan untuk kedua kali. “Gue mau potong rambut, trus mau ke Cake Resort.”


“Lo suka Cake Resort juga? Yang baru buka itu, kan? Sama! Mama gue pelanggan di sana lho!” ujar Tiara.


Mendengar itu Ferina tersenyum geli sambil menahan tawa. “Iya, nanti gue kenalin deh sama yang punya.”


***


“Lo… cantik, cute habis!” itulah kata2 pertama yang dilontarkan Tama begitu melihat Ferina dengan penampilan baru’y. Tama nyaris terpana lama dibuat’y. Sedikit sentuhan kecil telah membuat Ferina terlihat sangat berbeda. “Ada apa gerangan sampai lo melakukan ini?”


“Cuma kepingin ganti suasana trus bikin gue merasa baru aja. Lebih ringan dan bebas.”


Tama menatap Ferina yang semakin lama semakin tampak manis di mata’y. Ekspresi wajah’y. Senyum yang membuat’y bersemangat, sorot mata yang menenteramkan jiwa’y. Bagaimana jadi’y jika dia kehilangan cewek ini? Dia bahkan tak sanggup membayangkan’y!


“Hei, jangan liatin gue terus gitu ah!” pipi Ferina merona kerena malu. “Habisin makan’y…”


“Ferinandra cantik banget.” Bisik Tama, belum juga melepaskan tatapan’y.


Ferina menoleh ke arah Tama dengan tatapan aneh selama beberapa saat. Tatapan yang mungkin berarti sesuatu.