Perfect Baby

Perfect Baby
41



"Ah mungkin kau salah lihat"elak nya,mata nya menatap tajam ke arah gadis yg juga menatap nya dengan tatapan menantang.


"Mungkin saja,tapi aku yakin tak salah melihat"menyadari situasi mulai memanas,amerra memutus kan menarik Nisa masuk ke dalam perusahaan.


"Jangan seperti itu nis!kau terkesan menuduh hilma yg tidak tidak"ibu hamil satu ini mulai mengomel tak berhenti.


"Aku kan tak salah"Nisa menjawab tak kalah kesal, terutama ketika amerra mengomel tak berhenti.


"Nis aku..."perkataan nya terhenti begitu sosok Nisa meninggal kan nya.


"Hisss, gadis ini"dengan kesal amerra mengejar nya.


"Apa ibu mertua mu memperlakukan mu dengan baik?"Nisa bertanya serius,ia kenal dengan baik sosok fresya Julliano.


"Tidak,tapi aku akan berusaha"amerra tak ingin berbohong pada sang sahabat.


"Ibu"lirih amerra, menatap sosok paruh baya di hadapan nya ibu nya tampak bahagia,ia memakai semua jenis pakaian bermerk tapi tunggu......ibu nya kini menggandeng lembut tangan seorang wanita yg tampak tak asing,Vania Chen ya wanita itu yg di gandeng oleh ibu nya.


Nisa juga ikut menoleh ketika amerra memanggil nama seseorang,gadis itu mengeryit bingung tak tahu siapa wanita itu.


"Mom!dia ja*Lang yg merebut Kevin"dengan kesal Vania Chen menunjuk ke arah amerra yg kini tengah mematung.


Pandangan wanita paruh baya itu teralihkan ke wajah sosok cantik di hadapan nya.


Deg!


Jantung nya seakan berhenti berdetak menatap mata itu,mata yg mirip sekali dengan nya,wajah bak duplikat itu mungkin kah dia....


"Mom"rengek Vania kesal karena mom nya terpaku pada amerra.


"Ibu"sapa amerra lirih,air mata nya mulai berjatuhan,ia ingin membenci ibu nya tapi.....dia tetap seorang anak yg selalu menginginkan kehadiran ibu nya.


"Apa kau selalu mau merebut milik ku hah!hingga mom ku saja kau panggil sebagai ibu mu!"mom fikir amerra, mendengar bentak kan vania darah amerra seketika mendidih.


"Jangan membentak nya nona"kini Nisa yg sedari tadi berdiam diri ikut berbicara,ia tak suka ada yg membentak amerra.


"Tapi dia ja*Lang yg merebut tunangan ku"oh sekarang Nisa mulai mengerti situasi nya, berdasarkan paparan dari Vania ia bisa menebak bahwa wanita ini tunangan Kevin.


"aku tak merabut apapun,dia suamiku jadi yang pantas disebut perebut adalah dirimu Nona Vania Chen"yg menjadi topik utama perdebatan mulai angkat bicara.


"Kenapa kau merebut tunangan putri ku"putri?ah amerra ingin tergelak, pantas kah wanita tua di hadapan nya memiliki seorang putri lain? sementara ia di tinggal kan begitu saja.


"Tak sadarkah kau selama ini kau juga memiliki seorang putri? Putri yang tega kau tinggalkan hanya demi kekayaan nyonya LiVia"perkataan Amerra membuat Vania bingung setengah mati, putri setahu nya sang mom hanya memiliki seorang putri yaitu ia lalu siapa amerra yg mengaku ngaku.


Pertanyaan silih pertanyaan bergantian di otak Vania Chen,ia bingung ada apa ini?.


"Ame,dia kakak mu mengalah lah"bujuk Livia, bagaimana pun Vania adalah yg paling penting.


"Kakak?aku tak punya kakak!"pekik amerra kesal,kakak? dia tak mau memiliki kakak se iblis Vania Chen.


"Mau bagaimana pun dia tetap kakak mu!suka tak suka kalian tetap anak ku?"what! candaan macam apa ini?.


"Apa yg mom katakan!"Vania Chen menaikan nada bicaranya.


"Perduli apa aku!walaupun dia kakak ku Kevin tetap suami ku?siapa anda meminta ku untuk mengalah?ibu ku? mohon maaf ibu ku sudah meninggal beberapa tahun lalu"tegas nya sebelum melangkah pergi, meninggal kan perasaan gamang nyonya LiVia.


Putri nya yg lembut kini berubah drastis,Livia sana sekali tak menyangka takdir akan menyeret Vania Chen dan amerra dalam pusaran cinta tak berujung.


"Ibu?masih pantaskah anda di panggil ibu?ibu selalu bersikap adil nyonya,tapi anda berat sebelah"sindir Nisa, melangkah maju ke depan"tak kan ku biarkan kalian mengambil Kevin dari tangan amerra"Nisa berlalu pergi setelah memberikan sedikit ancaman kepada ibu dan saudara tiri dari sang sahabat.


"Mom siapa gadis itu!"Vania bertanya diiringi dengan bentakan keras,ia tak terima musuh nya ternyata adik nya walau tiri ingat garis bawahi tiri.


"Aku tak mau punya adik!"pekik Vania kesal, meninggal kan sang mommy nya yg masih mematung terdiam.


"Me!me!"Nisa terus memanggil amerra yg berjalan dengan cepat ke ruangan nya.


Brak!pintu di buka kasar oleh nya,lalu meletakkan tas secara kasar,netra nya di penuhi lelehan air mata tak memperdulikan semua orang di divisi nya yg terkejut karena bukaan pintu yg kasar.


"Loh nis,ame kenapa?"Mbak Ratna bertanya ketika melihat sang junior menangis.


"Bukan apa-apa,dia hanya sedang menangis"jawaban klise nan ambigu yg di dapat semua orang di divisi.


Nino mulai beranjak dari kursi,mengelus bahu amerra yg tertutup oleh rambut pendek.


"Ada apa?"Nino sudah menganggap amerra seperti adik nya jadi ia akan selalu ada untuknya apapun kapan pun dan di mana pun.


"Hiks,,,aku,,,hiks,,hanya ingin menangis"semua orang tahu bahwa itu hanya lah alasan,Karena amerra adalah pribadi yg tertutup untuk beberapa hal.


"Minum lah me"Frans mengulurkan segelas air putih agar nafas Amerra kembali stabil.


Mbak ratna juga ikut mengelus punggung amerra yg ikut bergetar seiring dengan tangis nya.


"Semua akan baik-baik saja, apapun itu"nasehat Frans yg terkadang bijak tapi lebih sering gesrek.


"Terima kasih"jawab amerra tulus,ia merasa benar benar beruntung dengan keberadaan semua sahabat nya di sini.


Nisa mendekat ke arah Nino lalu membisikan sesuatu, setelah itu ia berlalu ke ruang CEO karena Kevin memanggil nya hari ini, untuk Aisyah entahlah gadis itu hilang beberapa hari ini.


Di luar ruangan Kevin Nisa di suguhkan pandangan sekertaris Wahyu yg sibuk di depan laptop nya,Nisa berdiri di hadapan nya lalu membungkuk hormat.


"Selamat pagi sekertaris Wahyu"Wahyu yg mendengar sontak mendongak,lalu berdiri menatap wajah cantik berbalut jilbab mocca.


"Pagi nona,tuan muda sudah menunggu anda"sekertaris tampan nan Soleh ini, membimbing Nisa untuk masuk ke ruangan sang ceo.


Begitu masuk tanpa basa basi ia duduk di hadapan Kevin, memasang wajah yg amat serius.


"Vania Chen dan juga ame adalah saudara"tawa menggelegar dari Kevin,ia tak menyangka sahabat istri nya akan bercanda sehebat itu.


Brak!


Kevin terdiam ketika Nisa menggebrak meja nya, gadis itu terlihat tidak bercanda.


"Kau tak bercanda?"Nisa memutar bola mata nya malas,tak tahu kah ia sudah memasang wajah yg amat serius.


"Anda berfikir saya bercanda,ibu nona Vania Chen juga ibu amerra,kami baru mengetahui fakta ini tadi,jika sekali saja kau menyakiti nya jangan salah kan saya, jika Rendy merebut nya kembali"ancam Nisa, setelah itu ia beranjak tanpa memperdulikan Kevin yg terdiam mendengar ancaman nya.


"Bagaimana jika Rendy merebut Ra ku?"setelah lama terdiam,Kevin mengeluarkan sesuatu yg mengganjal di hati nya.


"Anda harus berusaha yg terbaik"sekretaris Wahyu mana faham dengan hal hal begitu, terutama tentang percintaan.


"Hufhhhh,kurang berusaha apa lagi aku!"teriak nya frustasi,Kevin sudah mencoba bermacam macam cara tapi apa, kehadiran mommy dan ja*Lang satu itu mengacau kan segala nya.


"Anda tak boleh menyerah tuan!anda harus semangat"hanya kata semangat yg sekertaris Wahyu berikan ia juga turut pusing karena dia tak ingin ikut campur dalam kasus percintaan sang bos.


# Assalamualaikum 🙏💗🥰🙏💗🥰


bismillahirrahmanirrahim author balik lagi yah,like, like, like, like, like, komen, komen, komen, komen, komen, and, vote, vote, vote, vote.


thanks yg udah dukung author,gimana bisa yah Si Vania Chen itu saudara amerra wah ini amat rumit guys, Author jadi pusing.


yg nanya tokoh nya terlalu banyak udah gak perlu di hafal,cukup di hafal kan Amerra,Kevin,Rendy,Wahyu,Erik,Nisa, Aisyah dah gitu aja yg utama karena mereka paling penting.