Now Or Soon U Mine!

Now Or Soon U Mine!
9. Terpaksa T^T



"Lo halu apa gimana sih Bar? Jelas-jelas lo yang ngebet pengen nikah sama Akilla." Dean mendengus pelan.


Kedatangannya ke rumah sahabatnya malah berujung curhatan tak masuk akal yang terlihat dipaksakan. Baru saja ia masuk ke rumah besar keluarga Haryata, ia di tarik paksa supaya masuk ke dalam kamar. Eits, bukan untuk melakukan hal yang tidak-tidak (meski ia sempat berpikir begitu) sebab raut wajah Bara menunjukkan hal yang berbeda. Pria itu tampak bingung bercampur kesal.


"Gue gak boong, perasaan kemarin gue umur gue masih 18 tahun. Gue masih inget, kemarin gue nyebarin gosip tentang Malika–"


"Akilla" ralat Dean.


"Nah iya, Sakilla" Dean hanya memutar bola mata mendengar Bara lagi-lagi salah menyebut nama. "Kenarin dia marah-marah sampe sahabatnya sendiri kena semprot. Tapi pas gue bangun, kok gue udah bercincin ae?" cerocos Bara tanpa jeda.


Dean menurunkan sedikit kacamata bulatnya. "Lo gak salah minum obat kan?"


Bara berdecak kesal, "gue serius!"


"Siapa yang becanda, Su'ep!" balas Dean gemas. "Udah deh, gak peduli kemarin lo masih SMA dan sekarang udah berkepala dua, intinya lo harus jalanin kehidupan lo yang sekarang." Ceramah Dean pada akhirnya. Ia tak sanggup lagi mendengar curahan hati Bara yang melantur kemana-mana.


Bara membuka mulutnya siap bicara. Tapi ia tak menemukan alasan untuk menyangkal nasehat Dean. Apa ia harus menjalani hidupnya yang kini berubah tanpa pernah ia bayangkan sebelumnya? Hidup yang tak masuk akal. Bagaimana mungkin ia menikahi gadis yang ia benci kemarin? Oh tidak, gadis yang ia benci lima tahun kemarin. Bagaimanapun juga, memang ada benarnya ceramah Dean. Tak kalah jauh dengan Mamah Dedeh.


Tak mungkin ia terus menyangkal bahwa waktu berlalu terlalu cepat, dimana lima tahun terasa satu malam saja. Orang-orang pasti akan menganggapnya gila.


"Lo bener bro, gue harus jalanin hidup apapun yang terjadi!" tegasnya tanpa ragu sedikitpun.


***


"Hahahaha! Gue gak nyangka Bara Adnan Haryata pernah pake gaun pink plus pita lope-lope, apalagi rambut lo panjang! Hahahaha! Mirip cewek bet anj*r!!"


Gelak tawa Akilla memenuhi penjuru kamar. Ponselnya kini menunjukkan foto masa kecil Bara yang ia curi dari album keluarga. Begitu banyak foto-foto aib Bara dan didandani layaknya gadis kecil yang imut dan cantik.


Sang pemilik aib tersebut menatap malas Akilla seraya menopang dagu di sisi ranjang. Ia menunggu sampai Akilla kelelahan tertawa. Namun sudah cukup lama ia menanti, gadis itu tak kunjung menutup mulut. Runtuh sudah tekadnya untuk melanjutkan hidup bagaimanapun situasinya. Kondisi ini sangat buruk lebih dari hidupnya yang lama.


Oh ya, sebenarnya, dari pagi ua ingin menanyakan sesuatu pada Akilla mengenai keanehan luar biasa yang membuatnya lima tahun lebih tua. Ia yakin bukan cuma dirinya yang mengalami waktu singkat itu.


"Gue mau ngomong serius nih!"


Perkataanya tak digubris. Akilla masih sibuk tertawa, sesekali menghapus cairan bening disudut matanya. Berguling-guling di tempat tidur sambil memegang perutnya yang sakit, kebanyakan tertawa.


Lima menit berlalu, tawanya mulai reda. "Oke-oke, jadi apa yang mau lo bilang tadi?" tanya Akilla diselingi tawanya yang masih belum usai.


"Kemarin kita masih SMA kan? Kok sekarang kita malah nikah? Diumur dua puluhan pula."


Akilla mendekatkan diri pada Bara, duduk disebelahnya. "Hmmm, iya ya. Kok lo malah jdi suami gue? Oh iya, gue kan masih marah sama lo!" Akilla melipat tangan lalu memunggunginya. Ia lupa masalah yang menimpanya di sekolah, karena Bara menyebarkan gosip aneh tentangnya. Terutama tatapan belas kasihan dari Yura yang memaksanya mengeluarkan emosi berlebihan hingga teman-temannya ikut merasakan pelampiasan amarah.


Hmmm, sekarang kabar teman-temannya bagaimana ya?


"Gue juga masih marah soal lo nyebarin foto kita ya!" Bara ikut-ikutan ngambek sambil, mengerucutkan bibir, mencontoh sikap Akilla padanya.


Alis Akilla bertaut, "udah gue bilang bukan gue!! Lo jadi orang sudah dibilangin ya, mending gue ngobrol sama batu daripada sama lo. Kepala lo lebih keras dari batu!"


Bara ikut menoleh, "lo gak ngaca? Kalo lo suka sama gue bilang aja! Gak usah pake cara kayak gitu, jijik gue liatnya!" katanya ikut meninggikan volume suara.


"Udah, kita kan niatnya diskusiin kejadian aneh. Kenapa malah bahas masalah yang udah gak penting lagi?" Akilla menghembuskan nafasnya. Pria di depan ikut menghela nafas. Gadis itu benar, tak ada untungnya ia tetap memperdebatkan masalah yang telah berlalu lima tahun kemarin.


"Aneh deh, lima tahun berasa satu malem. Bokap pun baik sama gue. Terus Abang gue yang udah meninggal karena kecelakaan, kok masih hidup...?" Bara mengingat-ingat hal-hal aneh yang tak seharusnya ia jalani.


"Jangan-jangan..." Akilla menggantungkan kalimatnya. Membuatnya penasaran, "jangan-jangan apaan?" desaknya tak sabar.


Mata Bara membulat. Hah? Mati? Apa benar ia sudah mati? Ia tak menduga surga akan seperti ini bentuknya. Tapi, jika ini akhirat, kenapa orangtuanya juga ada di sini? Tante Nofi? Om Panji? Dean? Apa dunia telah berakhir?


"Kita gak mati deh kayaknya," gumam Akilla yang seolah bicara pada dirinya sendiri.


Salah satu alis Bara terangkat, meminta penjelasan. Bukannya menjawab, cewek itu justru menonjok hidungnya keras. Sampai ia merintih kesakitan. "Aw! Lo kok nonjok gue?!"


"Tuh 'kan, kita masih idup. Buktinya lo masih ngerasa sakit" cetusnya bermuka polos. Tak merasa sedikitpun rasa bersalah telah menyakitinya. Jujur, hidungnya sangat sakit karena tonjokan. Bukan berarti ia cengeng, tapi itu kenyataan, dan ia tak menduga Akilla akan menyerangnya mendadak seperti tadi.


"Ya terus, kita harus ngapain?" tanya Bara yang masih mengusap tulang hidungnya yang ngilu.


Cewek berambut panjang itu menoleh. "Kita harus pura-pura jadi pasangan suami-istri."


"Gak mau!"


"Kalo gitu, kita bakal dianggap aneh dan ditendang dari rumah ini!"


"Orangtua gue gak setega itu ya!"


"Buktinya, nyokap lo tega umbar foto masa kecil lo."


"I-iya sih... Kalo gitu, gue minta cerai!"


"Lo gila, kita baru satu bulan nikah. Masa main cerai-cerai ae, lo pikir ini prank buat pansos?"


"Gak peduli, gue nalak tiga lo!"


"Bac*t kau, mau taruh muka keluarga lo sama keluarga gue?"


"Kalo gitu..." Bara memutar otak mencari argumen lagi. Namun tampaknya otaknya memang tak pernah berputar, ia tak menemukan alasan untuk bisa keluar dari zona berbahaya ini. "Kalo gitu... gue bakal jadi fake husband lo..."


***


"Gak mau! Lo tidur di sofa!!"


"Eh, ini kan rumah gue, lo aja!" Sebuah bantal melayang begitu saja menghantam badan Akilla. Dibayar sepadan lagi oleh serangan bantal guling.


Baru lima menit berlalu tentang janji mereka bekerjasama di dunia aneh yang mereka kunjungi tanpa sengaja ini. "Dimana-mana cowok tuh ngalah sama cewek!"


"Cowok itu pemimpin cewek, masa cowok takut sama cewek? Jadi kata dunia?" bantal-bantal terus melayang seperti peluru yang menembak musuhnya. Bedanya, gumpalan busa itu tak menyakitkan.


"Cewek itu begitu dimuliakan, kalo cowok gak mau ngalah, apa kata akhirat?" balas Akilla yang menunduk menghindar dari serangan bantal Bara.


"Bawa-bawa akhirat, lo mau pergi ke sana lebih cepet?!"


"Kalian lagi ngapain? Peperangan pagi tadi emang belum beres? Saya gak diajak lagi?" Radka masuk bersama seberkas file di tangannya. Mengambil boneka beruang kecil di rak dekat pintu.


Seketika Bara melempar bantalnya ke sembarang arah. "Bang, gue nginep di kamar lo ya?" dikeluarkan jurus membujuknya. Bertingkah sok imut, Akilla rasanya mual melihat wajah itu. Mending liat pantat kuda, pikirnya.


"Loh, kenapa?" tanyanya heran. Harusnya pengantin baru tak mau jauh-jauh dari pasangan. Kayak lagi berantem aja pisah ranjang. "Dia kalo tidur kayak radio rusak, berisik, apalagi tangannya gak bisa diem."


"Apa? Kamu mau tidur di kamar Abang?" Ny. Haryata datang karena mendengar percakapan kedua anaknya. "Gak boleh gitu, pamali!"


Bara langsung mengerucutkan bibirnya bersamaan dengan turunnya bahu Akilla.