Now Or Soon U Mine!

Now Or Soon U Mine!
17. Pertarungan Tempat Tidur



"Lea?" mata merah Akilla terpaku pada seorang wanita berdaster batik yang juga menatapnya terperengah.


Rekkal melirik bergantian keduanya, menggigit bibir cemas dalam atmosfer yang sudah hitam kini makin kelam tanpa bisa ia cegah. Benar, konflik besar di SMA yang terjadi di antara mereka belum terselesaikan pasti menjadikan mereka canggung serta tak nyaman. Dia juga merasakan hal seperti ini saat ia tak sengaja mengenali Akilla di sisi jalan tadi. Dia juga dilema harus apa, menyapanya dan berpura-pura tak ada yang terjadi atau melenggang pergi layaknya orang asing. Setelah perkelahian antara ego dan keinginan, ia memutuskan menyelesaikan apa yang seharusnya dia selesaikan dahulu. Dia tak mau memelihara jiwa pengecutnya lebih lama lagi, itu terlalu menggerogoti jiwanya.


Meski ia merasa keputusannya tepat, kasus Lea dan Akilla adalah masalah yang lebih rumit serta lebih dalam darinya yang menganggap pertengkaran besar yang tidak perlu terlalu dimasukan ke hati. Ia tak bisa menyalahkan sepenuhnya keputusan Lea menghindar, toh, itu kebisaannya tujuh tahun terakhir ini. Lea orangnya lembut dan agak sensitif, diperlakukan seperti waktu itu, hatinya yang ibaratkan kaca tipis mudah pecah, dan Akilla seenak menari-nari di atasnya tanpa keraguan sedikit pun.


Dilihatnya wajah pucat Lea yang menelan ludah gugup. Kedua tangan terkepal menggantung di samping tubuhnya, menunduk dalam merasakan seluruh energi terbang bersama angin malam. Kegelapan seolah memeluknya kembali. Ia tak bisa melakukannya. Tidak sama sekali.


Sebaiknya ia berbalik, mengambil langkah pelarian yang selama ini ia tekuni. Benang kusut yang terjalin di antara mereka mustahil terurai, ibarat besi, mungkin hatinya sudah berkarat tergerus waktu menyimpan semua perasannya.


"Tunggu, Le!"


Langkah Lea terhenti. Namun tak kuasa membalikkan badan.


Akilla berpikir kalut. Apa yang sedang dilakukannya? Apa yang harus dia katakan? Nafasnya memburu, keringat dingin menyembul, mulai menetes di pelipisnya. "Gu-gue.."


Bara yang sedari tadi diam mematung bergetar merasakan betapa situasi aneh menghunus dadanya, menenangkan Akilla dengan mengusap kedua bahu yang tadi dicengkramnya kuat-kuat hingga jika diperlihatkan kulitnya memerah saking kencang tenaganya. Ia sadar sepenuhnya, sebagian besar konflik yang menuai perpecahan ini disebabkan oleh keegoisannya. Harga diri dan ego selalu membutakan setiap langkah dalam hidupnya. Keduanya mengusai sepenuhnya pemikiran serta hati Bara.


"Lo boleh marah, hina ataupun bunuh gue..." lirih Akilla tersendat-sendat. Rekkal yang mendengar itu begitu tersiksa menghadapi situasi yang tak pernah dia bayangkan sebelumnya. Lea tak bergeming.


"Tapi gue mohon, jangan natap gue penuh kebencian kayak gitu..."


***


"Ah! Makasih udah nampung kita di sini. Sebenernya kita gak maksud buat ngerepotin kalian. Oh iya, gue kaget banget pas tahu kalian nikah. Wah gila gak sih? Dua sahabat gue kawin dong! Hahahaha, kok kalian gak undang gue sih?" kereta api panjang itu awalnya membawa kilasan senyum di wajah Rekkal. Mendengar pertanyaan akhir, sebuah sengatan menggentarkan hatinya. Ia melirik Lea yang sempat terdiam sesaat sebelum membuka pintu rumah.


Rumah sederhana yang tersembunyi di balik kulak-kelok gang sempit terlihat begitu bersih sekaligus nyaman sebab dihiasi pot-pot kecil bersisi bunga tulip merah padam berjejer di tembok pagar pemisah yang tingginya kurang dari tinggi lutut. Bara yang baru pertama kali memasuki wilayah cukup kumuh itu sedikit terusik, mau tak mau ia harus menahan semua ketidaknyamanan itu. Untungnya rumah yang dituju mereka adalah bangunan yang tampak lebih meyakinkan alias terawat dibanding tetangga yang berjajar sedikit kumuh.


"K-kita ngundang lo kok..." balas Rekkal ditutupi cengengan palsu, "cuma... lo kayaknya SB, hehe..."


"Gue gak sibuk kok!" sambar Akilla cepat-cepat. Bara menyikut lengannya, menyuruh Akilla untuk segera diam. Tapi gadis itu malah menatapnya tak mengerti. "Paan sih lo?" bisik Akilla tak mengerti.


Tak sempat menjelaskan, Bara mengigit bibir bawahnya kala Rekkal ragu-ragu menjelaskan "pas gue telfon, kata asisten lo lagi sibuk sama projek film baru..?"


Akilla bungkam. Tak bisa berkata apa-apa lagi. Benarkah ia sesibuk itu? Untungnya pintu terbuka menyelamatkan suasana yang lagi-lagi menghempaskan mereka kedalam kecanggungan, namun keduanya terlalu naif untuk bisa jujur, Rekkal cepat-cepat menyuruh mereka masuk. Wajahnya sedikit pucat. Perasaan bersalah tek henti-henti mengalir dalam dadanya.


Tiba di ruang tamu yang hanya dipadati sofa dan meja, juga televisi, ruangan itu terhubung ke dapur, hanya dibatasi rak berisi vas-vas bunga imitasi beragam warna, nampak seorang gadis kecil tertidur lelap di sofa panjang dekat tembok. Buku gambar yang penuh garis pelangi tak beraturan itu seolah menjadi babtal penyangga untuknya. Krayon-krayon yang berserakan meninggalkan bekas di ujung jari-jari tangan kanan.


"SB, anak umur 3 tahun lagi aktif-aktifnya.." Rekkal mengusap tengkuknya, menyunggingkan senyum malu samar. Sepertinya SB yang digunakan pria itu memiliki konteks yang berbeda dari sebelumnya.


Bara pasang siaga, mengacungkan kesepuluh jarinya, mengira-mengira kata singakatan Rekkal seolah sedang menghadapi ujian lisan fisika. "Gak perlu minta maaf, gak terlalu berantakan kok" sahut Akilla sedikit segan.


"Acellin tidur di kamar kita, biar mereka di kamar Acellin" Lea membopong gadis kecilnya menuju kamar setelah suaminya mengangguk, menyetujui usulannya.


"Kalian udah dengerkan? Kamar Acellin DS" ia menunjuk pintu penuh tempelan gambar-gambar abstrak khas anak balita. Bara bertepuk tangan sekali, "pasti 'di sana'!" katanya semangat.


"Gue udah .." doeng! Bara tak melaksanakan niatnya meloncat kegirangan, berdiri kaku menggaruk tengkuknya.


"Oh ya, kalo butuh apa-apa, cari aja sendiri. Atau ketok kamar gue huwahh..." kalimat itu terpotong mulut yang terbuka, menguap. Badan yang lelah digunakan habis-habisan siang malam


Akilla terus mendorongnya hingga masuk ke kamar yang sebelumnya juga dimasuki Lea. "Iya kagak papa, lu pasti udah capek. Kalo mo nanya-nanya besok aja, dah!"


Pintu tertutup. Tersisa keheningan di sana. Canggung dan kikuk menyarapi atmosfer mereka. "Gue ngantuk, tidur duluan ya?" pamit Bara menuju kamar, Akilla tersentak, segera mengekor. "Dih, gue juga ngantuk!"


***


"Sonoan dong! Gue gue hampir jatoh nih!" Bara mendorongkan punggung kecil Akilla di belakangnya.


"Gue juga sempit tau!" dibalas kembali dorongan itu. Kalimat ranjang adalah sarana olahraga bagi sepasang suami istri memang tepat sekali. Namun kata-kata itu berlaku berbeda bagi Bara dan Akilla. Mereka terus berdesakan berebut tempat lebih luas di kasur. Entah tak ada yang mengura atau tak terpikirkan bagi keduanya, tempat tidur anak kecil tentulah tak sebesar orang dewasa. Single bed membuat mereka terus menerus bertengkar tanpa bisa beristirahat tenang.


"Eh, selimut ini bukan punya paman moyang lo ya, gue gak kebagian nih!" rutuk Bara menarik selimut tebal namun kecil itu menutupi semua badannya.


"Badan lu tuh bongsor, kek kebo nyadar kagak?"


Sret! Perebutan luas kekuasaan berakhir, memulai perebutan fasilitas. Padahal jam dinding bulat minimalis di pojok kamar sudah menunjukkan pukul 2 pagi, dan mereka tak semenit pun bisa memejamkan mata.


"Badan lo aja yang kekecilan" timpal Bara tak mau kalah.


"Sebagai lelaki plus suami, lo harus ngalah sama gue!"


"Di saat kek gini aja, lu baru nganggep gue suami!" dengus Bara kesal. Hening. Tak ada yang menarik selimut kembali. Yah, bukankah itu kabar baik untuknya? Tapi ia merasa ada sesuatu yang salah. Tentu saja, Akilla diam itu sebuah keanehan teraneh semenjak ia bertemu gadis itu untuk pertama kalinya. Ragu-ragu Bara menoleh perlahan, loh kok gak ada?


Beranjak duduk, Bara menoleh kesana kemari mencarinya. Akilla ngajak peyak umpet apa gimana? Kok suasananya tiba-tiba horor ya? Apa jangan-jangan Akilla lagi praktek sulapnya Riana? Bara merasakan akan ada insiden yang mengenaskan beberapa saat lagi. Lampu mati menambah kesan angker dan seram, ia merasa sedang berada di serial film horor. Satu-satunya cahaya berasal dari sinar bulan yang temaram di jendela. "Kill?"


Sesosok manusia bertubuh mungil muncul dari kegelapan secepat petir menyambar. Langkah terakhir, kakinya terjulur "gue pun kagak mau jadi istri lo!"


Terbelalak, seakan oksigen tak mau sama sekali mendekati hidungnya. Sesak, tulang ekornya ngilu, pantatnya terbanting ke lantai yang keras dan dingin. Kejadian itu diciptakan sendiri oleh istrinya, yang kini mengangkat salah satu sudut bibirnya. Tersenyum sinis.


"****** lu!"


Akilla mengibaskan rambutnya bak model iklan pencuci bulu kuda. Menepuk-nepuk ranjang dengan elegan, membersihkan debu yang kemungkinan bisa menganggu istirahatnya lalu berbaring leluasa di tempat tidur. Nyamannya... untunglah tenaganya cukup kuat untuk bisa melumpuhkan lawannya.


Cup!


Hah? Apa itu? Sekilas bagian kecil pipinya terasa hangat dan basah. Kenyamanan membutakan rasa penarasan Akilla, ia terus terpejam tak bergeming. Sama sekali tak peduli.


Insiden itu kembali lagi, kali ini merambat juga ke pipi lain. Ia masih kekeh kalo itu hanya imajinasi sebab kelelahan menembus waktu. Lagi-lagi kedua pipinya menghangat juga basah seperti ditempeli sesuatu yamg kenyal. Semakin lama didiamkan, semakin ganas pula benda itu nafsu menempeli wajahnya.


Akilla membuka matanya jengkel, mulutnya yang hendak bertanya gerangan yamg terjadi. Wajah Bara yang begitu dekat di atasnya, cukup untuk mbeberkan penjelaskan fenomena aneh tadi.


"LU YANG–"


"Ssst! Jangan berisik ini di rumah orang" bisik Bara setelah membungkam mulut istrinya menggunakan tangan kanannya. Akilla merasakan de javu seperti saat di koridor sekolah. Tapi bisikan yaang diterimanya itu mampu membuat bulu kuduknya merinding. Sebisa mungkin ia menghempas tangan Bara yang begitu kuat mengunci mulutnya.


Namun tindakannya justru mengundang malapetaka bagi mereka berdua. Bara yang kehilangan keseimbangan seketika roboh menimpa gadis mungil lalu alam menampilkan sifat jahil... Bibir mereka saling bertemu dengan cara yang tak pernah terlintas dibenak mereka.