
Pulang sekolah, aktivitas rutin Akilla ialah membaca novel yang baru dipinjamnya di perpustakaan. Hanya untuk buku sekali baca, Akilla lebih memilih meminjam buku novel dari sekolah daripada membeli yang baru dari toko buku. Maklum, ia tak mau menghabiskan uang jajan, tentunya untuk hobi yang tak terlalu memberinya manfaat. Mending ia tabung, siapa tahu ada kebutuhan mendadak atau ada barang yang diinginkannya. Menyangkut soal buku pendidikan, Akilla tak pernah sungkan menguras semua tabungannya membeli ilmu pengetahuan baik buku asli maupun e-book.
Tubuh segar sehabis mandi, mata pun bisa memfokuskan diri menyerap utaian kalimat di kertas tipis yang disusun menjadi sebuah novel itu. Akilla sudah menyiapkan secangkir susu coklat panas juga selimut hangatnya. Baiklah, ia siap memulai petualangan imajinasinya.
Baru saja membuka buku, suatu gangguan menyerangnya. Ia abaikan. Sebuah chat bisa menunggu dibalas, beberapa menit atau mungkin beberapa jam dari sekarang–tergantung mood Akilla membaca hari ini– pasti pesan itu akan dibalas, tapi nanti.
Menit berikutnya, ponselnya kembali berdering. Memberitahunya ada pesan masuk, yang masih tak dihiraukan.
Kini bukan hitungan menit lagi, satuan detik, pesan pun mulai bersahutan. Akilla mencoba terus fokus dan tak mau terganggu. Waktu peminjamannya berakhir besok, mau tak mu ia harus menyelesaikan bacaannya hari ini juga.
Ting!
Ting!
Ting!
Kali ini Akilla mengatupkan bibirnya geram. Mengambil benda pipih bergantungan buaya hijau kecil imut itu dengan gusar. "Siapa sih, nafsu amat mau gue bales chat-nya? Gue gak pernah tahu, operator kartu sim gue se-posesif ini nyuruh gue buat isi pulsa. Hmpft!" dengusnya kasar.
Dilihatnya notifikasi yang ia geser dari atas layar.
Si Gaje Best Series! : Woy!
Si Gaje Best Series! : Read napa!!
Si Gaje Best Series! : Malika!!
Si Gaje Best Series! : Gue gak jualan kacang ya!!
Si Gaje Best Series! : Sayang~~
Jijik naj*s (⊙_◎)
Si Gaje Best Series! :
Akhirnya lo bales juga, diginin baru bales. Dasar cewek :v
Lu pikir gue apaan?
Si Gaje Best Series! : Tukang Es Dawet keliling
Si Gaje Best Series! : Gue serius, lo beneran kan udah hapus foto itu?
Kan lo sendiri juga liat
Gue juga gak nafsu buat nyimpen foto lo di galeri gue
Si Gaje Best Series! : Sikut ular dasar! Lu gak bisa bedain mana malaikat mana upik abu?
Iya iya lo emang mirip malaikat!
Si Gaje Best Series! : Nah lo sadar tuh!
Malaikat pencabut nyawa! Hiya hiya hiya
Si Gaje Best Series! : Gue anggap itu pujian :)
Si Gaje Best Series! : Lo juga mirip boneka tau!
Boneka apaan? Barbie?
Si Gaje Best Series! : Boneka Annabelle wkwkwwkwkwkwk
Si Gaje Best Series! : Dih Lisa Cinta Monyet pas jadi monyetnya sih iya wkwkwkwk
Au ah
Lo mau apa ngechat gue? Jangan bilang mau minjem duit!
Si Gaje Best Series! : Jangan su-udzon jadi orang, gue cuma mau...
Si Gaje Best Series! : Gue mau ngapain ya?
Gini nih kalo sendal jepit hasil colongan dikasih nyawa
Si Gaje Best Series! : Yang sopan sama calon suami!
Anj*r, lo dari sore ngomong itu mulu. Jadi pingin umroh rasanya!
Si Gaje Best Series! : Kagak nyambung Jaenudin
Serah gue
Udah ah gue sibuk, jangan ganggu gue!
Tak mau membuang waktunya, Akilla melempar ponselnya ke atas tepat tidur dan melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
***
"Jadi, kamu ngajak ketemuan cuma buat bilang itu?" tanya Yura pada pria di hadapannya. Orang itu menggangguk polos seraya menyeruput kopi americano-nya, tak merasa risih dengan semua tatapan memuja para gadis di kafe itu.
Yura memutar bola matanya. "Denger Bara, aku tahu kamu punya perasaan sama aku. Nyatanya, aku udah gak ada rasa lebih buat kamu. Kamu sendiri yang bilang aku murahan dan sama kayak cewek-cewek lainnya karna ngejar kamu sampai kayak orang gak waras. Semenjak itu aku sadar, kalo cinta aku ini bukan untuk dihina dan injak-injak kayak gitu!" rantai kalimat itu begitu menohok Bara hingga ke ulu hati. Sebegitu bencinya kah, cewek itu sekarang padanya?
Ia tahu dulu dia pernah meremehkannya, menghinanya, sebab Yura selalu mengganggunya melalui audio berisi petikan gitar juga nyanyian yang selalu diberikannya melalu media sosial. Bara hanya menikmati selintas saja. Musiknya cukup menyenangkan dan easy listening, ia tak sadar ia kecanduan suara alunan gitar beriring senandung lembut Yura.
Bara mengusap rambutnya gusar. "Untuk kesekian kalinya, aku minta maaf pernah ngomong kasar ke kamu. Kalo kamu udah gak suka sama aku lagi, it's okay. Aku bakal bikin kamu jatuh cinta lagi apapun caranya."
Mendengar ucapan Bara yang terdengar menyakinkan itu malah membuat Yura terkekeh. "Udah lah Bara, aku gak bisa suka lagi sama kamu. Terlebih kedekatan kamu sama adik kelas yang kamu temuin di kantin itu."
Bara terkejut, bagaimana Yura bisa tahu hubungannya dengan Akilla? Perasaan fotonya sudah dihapus dan tak ada lagi rumor tentang dirinya berpacaran.
Tangan Yura mengambil ponsel di tas selempang kecilnya, mengutak-atik layar sebentar lalu menunjukkan sesuatu pada cowok di hadapannya. "Kamu heran aku tahu dari mana? Liat, foto di kantin, di lorong, terus yang ini masih anget, gazebo tadi siang. Semua foto ini diambil diem-diem dan sekarang sudah tersebar di medsos."
Layar ponsel itu membenarkan semua perkataan Yura. Ada seseorang yang sembunyi dan diam-diam menangkap foto saat dirinya berduaan dengan Akilla. Ia sangat ceroboh tak melihat kondisi sekitar, kini ia tak tahu apa yang harus dia katakan pada Yura.
"Sesaat, aku pernah berpikir buat ngasih kamu kesempatan. Saat kabar kedekatan kamu sama adik kelas menyebar, ternyata pilihan aku salah." Yura bangkit bersama kekecewaan di raut wajahnya. Tak mampu menatap lawan bicaranya hanya untuk sekedar berpamitan.
Bara sendiri bergeming di tempatnya. Hatinya merasa dilambungkan ketika mendengar gadis itu ingin kembali membuka hatinya padanya. Detik berikutnya, ia dihempas begitu saja bersama rasa kecewa yang menyesakkan dadanya.
Ditatapnya punggung Yura yang kian menjauh lalu hilang di balik pintu kafe. Tangan Bara terkepal menahan amarah. "Cewek s*alan!"
Sementara itu, beberapa meter dari meja Bara, seorang gadis terus menatap punggungnya. Kacamata hitam dan topi menutupi sebagian besar wajahnya. "Maafkan saya Akilla, saya tidak ingin kamu atau orang lain merebut Bara dari saya..."
Beberapa hari yang lalu, dari kantin, Lea menyadari hilangnya Akilla di koridor sekolah menuju kelas. Niatnya kembali ke kantin mencarinya. Naasnya, ia malah melihat temannya itu merapat di dinding bersama seseorang yang disukainya.
Perasaannya tak enak, segera ia membuka kamera ponsel dan memperbesar foto agar mengetahui apa yang dilakukan mereka berdua. Lalu tak sengaja ia menangkap foto mereka. Lea sempat kaget dan ingin menghapus foto itu, namun keegoisannya menang.
Rasanya, ia tak mau melepas orang yang disukainya semenjak bangku SMP. Sebelum Bara seterkenal ini. Sebelum Bara sesombong dan seangkuh seperti ini. Bara hanyalah kakak kelas yang mengurusnya saat MPLS alias Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Ia sadar ia melakukan keburukan. Tapi hatinya sesak melihat kedekatan Akilla dan Bara, padahal temannya itu tak pernah mengetahui ada orang bernama Bara di sekolah mereka. Ia hanya bisa menahan nafas saat Bara menghampiri meja mereka di kantin tadi siang. Kekecewaan yang ia terima, pria itu ternyata menghampiri Akilla bukan dirinya.
Tanpa pikir panjang, Lea mengikuti mereka kemudian mengabadikan setiap momen kedekatan mereka dengan menyebarkan foto tersebut di akun palsunya.