
Jalanan ramai yang sangat padat berangsur-angsur sepi. Tengah malam di kota Bandung sangatlah dingin. Tak ada kehangatan yang bisa dimanfaatkan Akilla dan Bara untuk bisa bertahan dengan suhu udara kurang dari 20 derajat celcius itu, apalagi beranjak subuh, embun-embun jam 2 ke atas itu bisa membuat jari-jari mati rasa. Ponsel tak ada, uang tak tersisa, satu-satunya benda yang berharga cuma piyama polos yang melekat di tubuh mereka.
Bangku besi dingin yang ikut menusuk tulang mereka diduduki di masing-masing ujung dekat lengan kursi. Wajah pucat yang kontas dengan semburat merah padam yang melintang dari telinga melewati pipi dan hidung lalu sampai ke telinga seberang.
Dua kejadian memalukan tadi rasanya begitu impas. Sembari menahan lapar dan dingin, mereka membayangkan kejadian 2 jam lalu. Ya, mereka duduk diam di kursi umum trotoar tanpa membuka mulut sedikitpun.
"Ehm, yang tadi... lupain aja.." Bara angkat bicara. Tak nyaman sekali mematung canggung di sisi jalan seperti itu.
Terlebih, beberapa pengendara yang lewat menatap bingung ke arah mereka. Meskipun sekilas, Bara tahu apa yang ada dipikiran mereka, cosplayers mana di jam segini masih mangkal, juga kostum mereka yang tak meyakinkan. Memangnya ada tokoh kartun atau anime yang memakai baju tidur sebagai ciri khas mereka?
Akilla melirik Bara dari sudut matanya. "Kejadian yang mana?"
Ah! Pake pura-pura segala! Gue tambah malu!! Pekik Bara dalam hati. Merah pada pipinya semakin kontras. "G-gue gak mesum ya! Lo juga meluk gue, pertama kan?" argumennya tak mau menjatuhkan gengsi.
"Wajarlah, kan gue takut. Gue shock banget waktu liat bokap, nyokap, sama abang lo gitu! Gue sebagai perempuan gak bisa nahan rasa ngeri gue!" Akilla tak mau kalah, bersikeras mengelak.
"Kalo lo nyuruh gue maklumin perbuatan lo, berarti lo bisa maklumin kesalahan gue?"
Kali ini Akilla benar-benar menoleh, "kesalahan? Gue gak ngerasa bersalah sedikit pun. Justru gue nyesel pernah nyentuh tubuh menjijikan lo itu!" Akill bergidik, mengusap-ngusap bahunya seolah ada debu di bajunya itu.
"Eh! Menjijikan kata lo?! Lo gak tau ya, cewek-cewek seluas Stadion Sijalak Harupat ngantri cuma pingin liat muka dan body gue yang seksi!"
Akilla berdecih, semakin menyulut emosi cowok di sebelahnya, "palingan cewek modelan Mimi Peri atau Lucinta Luna!"
"Dih lo kata muka ganteng gue ini terbuat dari plastisin murahan?"
"Gue gak bilang tuh!"
"Jujur deh sama gue, sebenernya lo tergila-gila kan sama gue? Tapi lo gak mau gue anggap kayak cewek lain? Kayak dinovel-novel gitu?!"
"Dih! Lo kira muka kayak kaos kaki kecebur got lo itu bakal gue demenin? Udah gedeg duluan gue ngebayanginya!"
"Bahasa cewek itu emang rumit ya? Bilangnya gak mau padahal mau. Gue ngerti kok kalo lo malu ngakuinnya, sebagai kaum rebahan yang baik hati dan tidak sombong, gue bisa ngasih kesempatan lo buat deket sama gue!"
"Bacot jomlo! Demi nenek sepupu gue yang masih virgin, gue gak mau deket sama lo, bahkan denger suara nafas lo aja rasanya gue pingin muntah!"
Perdebatan tak berfaedah itu berlanjut memanaskan atmosfer yang sempat dingin dan canggung. Sambaran petir seakan menjadi musik latar bepakang mereka.
"Woy kalian lagi ngapain di sini malem-malem?" suara itu menghentikan perang dunia ketiga, dua orang yang tengah berdebat tadi melingkan muka ke arah cowok yang menggendong-gendong tas hitam besar diduga berisi gitar, jika dilihat dari bentuknya.
Mata Akilla membulat. Tak menyangka sesosok pria jangkung di depannya ini adalah teman yang dia temui lima tahun alias satu minggu lalu. Tidak, buka Gio teman virtualnya, melainkan Rekal. Iya, si orang absurd yang suka seenak jidatnya singkat-singkat kata. "Re-rekal? L-lo?"
"Wuis! 7 tahun kagak ketemu, lu masih sama aja.." Rekal tersenyum, dari sorot mata sayunya, ia nampak begitu lelah.
"Bukan, masih sama randomnya" balas Rekal menusuk ekspetasi Akilla. Menggeleng tak habis pikir, Akilla... Akilla... Bertahun-tahun tak komunikasi, masih sama narsis, dipuji dikit berasa dilayangin ke syurga firdaus. Sudah tugas seorang sahabat menjatuhkannya ke neraka jahanam.
Bara yang semua mendelik kealayan Akilla, terkekeh geli mendengar balasan teman istrinya tersebut.
"Hei, bro. Gue denger-denger lo berhenti dari dunia akting? Bukan kepo sih, itu cuma BB" Rekal menjabat tangan Bara yang mengangkat sebelah alis, tak mengetahui arti kata 'BB' yang digunakannya.
"Basa-basi, Bar" Akilla menjelaskan. Yah, setidaknya salah satu sahabat karibnya pun tidak berubah. Sifatnya masih begitu aneh begitu pun kebiasaan bicaranya yang tak masuk KBBI.
Mulut Bara berbentuk bulat. Sedetik kemudian ia terheran-heran, "berhenti? Emang iya?" gumamnya sendiri entah pada siapa.
"Lah lo yang jalanin, kok malah nanya ke gue" Rekal terkekeh.
"Wait, tadi pas kalimat pertama lo apa?" tanya Akilla yang menyadari keganjanggalan. Bara yang sebenarnya model, melanjutkan karir sebagai aktor, sekarang setelah kejadian misterius beberapa jam lalu, Rekkal mengatakan skandal tak jelas yang tak pernah dilakukannya.
"Paan ya? Gue LL" mata Bara mengarah ke atas, mengira-ngira singkatan apa yang digunakan Rekkal. "Lulus Latihan? Lele Lucu? Lempar Lembing? Lagi Lekong?" gumamnya tak kunjung menemukan kata yang tepat.
Akilla yang mendengar itu meringis, ia tak ambil pusing oleh tebakan melenceng Bara. Ia menatap Rekkal, "umur lu berapa?"
Pria itu mengerutkan kening, "gue? 25. Napa?"
DUWAR!! Kilat menyambar persis sama di video viral Hayuk Main Yuk. Rekkal merasa dirinya seorang manusia setengah lulus SMK TKJ di antara para peretas andal. Apa dia melewatkan sesuatu? Memangnya ada yang salah dengan umurnya? Apa flek hitam dan keriput menyerangnya sampai-sampai sahabatnya sendiri tak percaya bahwa dia baru berusia sangat matang?
"Kita harus gimana? Gimana kalo kita pulang? Kita lihat dulu kondisi keluarga lo, kalo mereka baik-baik aja, seenggaknya kita gak terlalu sendirian" cerocos Akilla panik. Ia berbalik, mengarah ke jalanan, mencari ojeg atau taksi yang bisa membawa mereka pulang.
Bara menarik pundak Akilla, mencengkram kuat-kuat bahunya, namun gadis itu meronta-ronta kembali menatap jalanan, mencari kendaraan umum. "Dengerin gue," Bara berkata pelan, Akilla mengacuhkannya, "denger, DENGERIN GUE!" Seperti dugaannya, gadis itu tak bergeming, menuruti perintahnya. "Kita sekarang ada di Alun-Alun Bandung, sedangkan rumah gue ada di Lembang. Lu mau naik apa ke sana?! Kita bahkan gak bawa apapun selain baju yang kita pakek."
"Kita bisa naik taksi dulu, terus bayar nanti di rumah" elak Akilla bergetar.
"Masalah keduanya yaitu, kita gak tahu apa yang terjadi dua tahun sekarang. Lo mikir aja, lima tahun yang rasanya satu malem aja, banyak kejadian yang diluar nalar. Gue nikah sama lo; orang yang udah mati, idup lagi; kita kerja di profesi yang gak pernah kita bayangin." Bara menghela nafas gusar, memalingkan tubuhnya seraya mengusap wajah khawatir. Kembali melanjutkan, "lo pikir hal apa lagi yang berubah dua tahun ini? Bisa aja gue pindah rumah, atau gue bangkrut? Gelandangan? Buronan polisi?"
Perdebatan kali ini begitu serius. Adu mulut tak bisa disepelekan. Mereka bingung, takut, cemas juga perasaan-perasaan negatif lainnya, mendorong mereka ke tepi jurang keputusasaan. Mata Akilla memerah terasa membara membakar wajahnya. Giginya bergemeletuk hebat, menahan air mata kekesalan. Ia begitu marah. Bahkan lebih marah lagi mengetahui ia tak punya alasan kenapa ia merasa marah.
"Gini aja, dari pada kalian CC alias cekcok kek gini, malem-malem, di sisi jalan. Kemasukan angin topan baru tahu rasa. Kalian ikut gue aja ke rumah gue, gak jauh dari sini kok." Yah, hanya itu yang bisa dilakukan Rekkal. Tak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain, takut memperkeruh keadaan. Melupakan sejenak kalimat-kalimat lontaran dua orang di hapadannya yang terasa acak, tak tahu apa poin penting yang tengah diperdebatkan.
Sesaat tak ada yang menyahut. Keduanya tak bersuara, saling memunggungi. Akilla 'lah yang pertama membuka suara, "ok, rumah lo di mana?"
Senyum Rekkal seketika terbit, "rumah gue dari sin–"
"Yah! Saya cemas menunggu di rumah dari tadi, tapi Ayah malah mangkal di sini. Acellin juga khawa..tir..?"
"Lea?"