
Pantulan di cermin menunjukkan seorang gadis cantik memakai gaun indah berwarna coklat terang. Bahunya terlihat, juga leher putih yang sengaja di perlihatkan karena rambut hitam legamnya di ikat ke atas yang juga dibuat curly. Makeup tipis menjadikan gadis sempurna. Tak akan ada pria yang berani berpaling darinya.
"Tante, sekarang bisa jelasin, kenapa Akilla harus dandan kayak gini?"
Pertanyaan gadis cantik yang tak lain yaitu Akilla, membuat wanita paruh baya yang dipanggil tante tadi tersenyum lembut.
Tante Nofi duduk di tempat tidur, tatapannya tampak menyembunyikan sesuatu. Akilla memutar kursinya, hingga ia bisa melihat sorot kesedihan di wajah adik dari mamanya itu.
"Akilla, sebelum Tante minta maaf banget sama kamu..." Tante Nofi berujar pelan. Tanda tanya semakin memenuhi pikiran Akilla. Kenapa tantenya harus minta maaf? Firasatnya mengatakan, akan ada sesuatu yang buruk akan menimpa dirinya. Namun ia tak tahu, hal buruk apa itu.
"Dulu, sebelum kamu lahir, mama dan ayah kamu berniat untuk menjodohkan kamu dengan anak dari sahabat orangtua kamu. Tante pikir, itu cuma candaan. Tapi sebelum mama kamu meninggal, dia berpesan pada Tante untuk tetap menikahkan kamu pada orang yang telah dijanjikan." Akilla ternganga mendengar penjelasan tantenya. Bagaimana mungkin dia dijodohkan sejak ia belum lahir? Kenapa mamanya sampai segitunya ingin ia menikah dengan pria tak di kenalnya?
Tante Nofi menarik tangan Akilla, meremasnya pelan. Dari sana Akilla tahu, tantenya juga mencemaskan tentang dirinya.
"Tante udah anggap kamu, kayak anak tante sendiri. Begitu pun Om dan Dean, kami menerima kamu sebagai keluarga, bahkan saat pertama kali kamu menginjakkan kaki di rumah ini. Tante juga pingin kamu hidup bahagia, dan bebas memilih apa yang kamu mau, jika itu hal yang positif. Terlebih masalah jodoh, itu hak kamu..." Tante Nofi menjeda ucapannya. Tersenyum lagi, menguatkan dirinya juga keponakannya.
"Kenapa harus sekarang Tante? Akilla kan masih SMA," setelah lama bungkam, akhirnya Akilla membuka mulutnya.
"Keluarga dia bangkrut, dan Tante udah capek mengurus perusahaan yang Papa kamu tinggalkan" balas Tante Nofi. Akilla menghela nafas pelan. Benar, selama ini ia terlalu banyak merepotkan keluarga bibinya itu. Perusahaan milik Papanya diurus oleh tantenya karena suami Tante Nofi berprofesi sebagai produser. Mana mungkin ia mengurus perusahaan besar itu seorang diri. Akilla akan tampak tak tahu terimakasih jika ia menolak perjodohan ini.
Beberapa menit berpikir, Akilla berkata, "biar Akilla lihat dulu cowoknya. Kalo baik, Akilla pasti terima perjodohan ini."
Tante Nofi tersenyum senang. Ia pun membawa Akilla ke dalam pelukannya. "Kamu bisa nolak kok, kalo sekiranya cowok itu bukan tipe kamu." Akilla hanya mengangguk seraya membalas pelukan tantenya.
***
Tak disangka, acara perjodohannya diadakan malam ini juga. Makan malam bersama di restoran mewah, sedangkan jam sudah menunjukkan pukul 18.00, artinya satu jam lagi Akilla akan memutuskan tentang masa depannya.
Akilla mengintip di balik tembok toilet kala seseorang menghampiri meja paman dan bibinya. Mata Akilla membulat, mengetahui siapa yang akan dijodohkan padanya. Seorang lelaki tua berwajah menyeramkan tengah berbincang bersama pamannya. Akilla tak bisa mendengar percakapan mereka dari sini.
"Ngapain lo?" Akilla tersentak kaget, lalu berbalik menatap Dean yang juga habis dari toilet. Mata Dean mengikuti pandangan Akilla tadi, penasaran apa yang sedang diperhatikan saudaranya itu.
Melihat pria berwibawa di ambang pintu, Dean ikut bersembunyi di belakang Akilla.
"Siapa itu?" bisik Dean. Akilla hanya menggeleng pelan.
Perasaannya bercampur aduk. Apa tantenya tega menjodohkan dirinya dengan pria tua yang tampak menyeramkan itu? Jika bersanding di pelaminan, mereka akan tampak seperti kakek dan cucu ketimbang suami istri. Tapi di sisi lain, Akilla tak mau membebani tantenya lebih lanjut. Merawatnya sampai sebesar ini pun pasti sudah sangat merepotkan.
Sedang asyik-asyiknya mengintip, ponsel Aeera berdering. Sang empu tidak sadar hapenya berbunyi, Dean yang merasa terganggu segera memberi tahunya. Gadis itu malah memberinya tatapan 'Ada-Apa-?' Dean menunjuk ponsel yang dipegangnya, barulah Akilla sadar.
Dean terus mengintip di balik dinding seraya menatap curiga pria tua itu. Sore tadi ibunya hanya menyuruhnya berdandan, katanya ada acara. Tanpa diberitahu acara apa yang terlihat sangat penting ini, jarang-jarang keluarga mereka dinner di luar, terlebih menggunakan pakaian formal di restoran mahal pula.
Akilla menjauh agar bisa mengangkat telfon, untung sepupunya itu bukan orang kepo. Jadi ia hanya menjauh beberapa langkah dari Dean. Ia pun menerima panggilan suara dari nomor tidak dikenal yang masih tertera di layar.
"Iya, ha–"
"Lo kemana aja sih?! Kok lo belum ngasih jawaban?!" teriakan itu memotong kata-kata Akilla. Namun setidaknya ia tahu siapa yang berada di balik nomor tidak dikenal itu.
"Lo tuh nawarin atau maksa sih?" Dean menepuk pundak Akilla, lalu berdesis agar gadis itu bisa mengecilkan suaranya, dia masih sibuk menguping pembicaraan Mama bersama tamu. Akilla mengangguk, menuruti perintah isyaratnya.
"Lagian lo gak bilang kapan gue harus kabarin lo buat ngasih keputusan!" balas Akilla berbisik.
"Kenapa lo bisik-bisik? Gue gak bisa denger!!"
Akilla mendengus. "Lo budeg ya?!" lagi-lagi Dean harus menepuk pundaknya supaya tidak berteriak.
"Gue gak lagi di rumah!"
"Ya, share location kalo gitu!"
Tut!
Telfon berakhir begitu saja tanpa Akilla sempat menjelaskan apa yang terjadi.
***
Sejak pagi hari hati Bara dipenuhi kekhawatiran. Malam minggu ini, keluarganya akan makan diluar sembari mengenalkan wanita yang dijodohkan untuknya, sekaligus menentukan tanggal pernikahan. Lebih cepat lebih baik, katanya.
Jam 5 sore mamanya sudah mengetuk pintu, menyuruh segera bersiap agar tak telat datang ke restoran. Bara menjawab sekenanya.
Kenapa sampai sekarang cewek itu belum menghubunginya? Berkali-kali Bara mengecek ponsel, berharap ada pesan masuk dari Akilla.
Bara tak habis pikir, kenapa harus cara ini yang dipilih? Papanya bisa saja meminjam uang pada bank, bisa juga meminjam modal ke rekan bisnis, kebetulan papanya anak tunggal sehingga tak punya saudara yang bisa meminjam uang.
Biasanya dalam kehidupan atau drama-drama, seorang wanita yang dipaksa menikahi pria kaya, untuk melunasi hutang tentunya. Kenyataan hidup Bara berbeda. Malah dia yang dipaksa menikahi wanita yang mampu menyelamat keluarganya. Bara selalu kecewa pada Papanya, baik dalam pemikiran, perkataan juga perlakuan Papa pada dirinya. Mungkin, memang benar, ayahnya juga kecewa pasal profesinya sebagai model. Bara tak mau berharap lagi, ayahnya akan mengerti tentang perasaannya. Perihal jodoh, memang tak akan tertukar apalagi salah alamat. Tetap saja, manusia harus berjuang untuk mendapatkan yang terbaik.
Sampai jam 6 lewat beberapa menit, mamanya kembali meyuruhnya langsung bersiap.
Dengan penuh kekecewaan, Bara menuruti perintah mamanya masih mengulur waktu. Siapa tahu Akilla menghubunginya, menerima penawarannya. Walau pada akhirnya, Bara sendiri yang harus menelfon gadis itu.
Papanya berangkat lebih dulu, ada bisnis yang harus selesaikan, jadi ia harus pergi ke restoran sendiri. Kondisi Mamanya pun tak memungkinkan untuk ikut bersama 'Acara Penting' ini.
Kini penampilanya sangat sempurna, kemeja putih yang kontras dengan celana dan jas hitam melekat pas di tubuh atletisnya. Bukan karena Bara menyukai olahraga, melainkan tuntutan kerja yang mengharuskannya rajin ke gym.
Bara menatap aneh serta heran pada layar ponselnya, melihat tempat yang di kirim Akilla. Restoran mewah. Apa Akilla sedang kencan bersama pacarnya? Ah, tapi mana mungkin. Dilihat dari penampilannya, mana ada yang mau pacaran dengan gadis ngegas bin cerewet kayak Akilla.
Memasuki restoran, Bara berputar-putar mencari sosok yang dicarinya. Ruangan itu penuh orang-orang, sulit mencari gadis itu, terlebih badannya yang mungil pasti membuatnya tenggelam dalam lautan manusia.
10 menit mencari kian kemari, sosok yang dicari akhirnya terlihat. Hanya berjarak beberapa meja dri tempat Bara berdiri. Tak mau membuang waktu, ia pun menghampiri meja orang tersebut.
Dari belakang Bara bisa melihat sosok pria paruh baya yang sangat familiar di matanya. Semakin dekat jaraknya dengan meja Akilla, Bara melihat Dean, sahabatnya di kursi meja Akilla.
Jarak beberapa meter Akilla menoleh lalu terkejut melihat kedatangannya. Dean yang melihat saudaranya bersikap aneh, ikut menyumbangkan perhatian pada ada objek yang tengah Akilla lihat.
Tante Nofi dan Om Panji merasakan perubahan raut muka pada kedua remaja itu sehingga ikut menolehkan pandangan.
"Loh, kamu lagi ada dinner di sini juga?" tanya Tante Nofi pada Bara.
"Bara lo ke sini sendirian?" Dean ikut bertanya.
Mendengar nama anaknya disebut, Tuan Darwan ikut menoleh pada perhatian keluarga Dean.
Akilla semakin bingung, kenapa Tante Nofi, Om Panji, Dean kenal Bara. Padahal kan Bara adalah kakak kelasnya di sekolah, dan Dean beda sekolah dengannya. Jadi Mana mungkin mereka kenal dengan Bara.
Pria yang menjadi pusat perhatian ikut terkejut melihat ayahnya berada di restoran bersama keluarga sahabtnya juga Akilla. "Papa lagi ngapain di sini?" Bara semakin bingung dengan apa yang terjadi.
"Jadi anak pak Darwan ini bara? Bara 'kan temennya Dean, bisa kebetulan gitu ya?" Om Panji berkata Seraya terkekeh karena kondisi yang kebetulan itu.