
"Anj*r, lo bikin telor mata sapi apa mata cacing? Kok gak berbentuk gini kuning telornya?!"
Keramaian dari dapur sekaligus menyatu dengan ruang makan, menyemarakkan pagi buta itu.
"Masih untung kagak dimasakin sayur sop sianida..." jawab Akilla mencabik kesal, mengambil kembali piring Bara. Padahal ia sudah menonton tutorial memasak telur ceplok atau mata sapi selam satu jam penuh tadi pagi. Ia rela bangun subuh demi menyiapkan Bara sarapan. Dari 6 telor yang dipecahkannya, hanya satu telur yang masuk ke dalam wajan sebab ia tak tahu cara memecahkan telur. Sisanya belepotan di meja dapur, kompor, rak piring, tak tahu juga kenapa cairan bening bercampur kuning itu bisa sampai ke sana.
"Kayaknya kalo masak aer juga bakal gosong gegara lo masak–eh honey, tolong siniin masakan kamu. Kamu hari ini bikin telur mata sapi? Ih, ya ampun. Masakan dari istriku pasti enak banget!" omelan yang semula sarkas berubah lembut kala Bara mendengar suara langkah kaki mendekat.
Perubahan tiba-tiba itu sempat membingungkan Akilla. Tak lama kemudian, Ny. Haryata datang, barulah ia mengerti.
"Wah, Akilla masak buat Bara ya? Padahal kan bisa Bi Surti yang masakin," ucap wanita paruh baya itu lembut.
Akilla tersenyum malu, "gak usah Tan–eh Ma. Aku pingin masakin monyet–eh, su..a...miku pake tanganku sendiri" ucapnya gugup. Lidahnya terasa sangat kelu, saat mengucapkan kata 'suamiku' untuk merujuk pada Bara. Tak mungkin ia memanggil suaminya dengan sebutan musuh ata terlebih Bara satu tahun lebih tua darinya.
"Malika emang hebat kan Mah? Masak batu aja enak. Tarung master chef sama Spongebob aja, Spongebob yang kalah," timpal Bara.
"Bukannya nama kamu Akilla ya? Kok jadi Malika?" tanya Ny. Haryata bingung mendengar ucapan anaknya.
Susah payah Akilla menelan salivanya, "a-ah? Kan i-itu..." matanya mengerjap-ngerjap mencari alasan logis agar mertuanya percaya.
"Panggilan sayang! Malika itu kan kecap manis, sama item–eh, manisnya kaya Akilla, ya kan sayang?" Bara menyela cepat, lewat tatapannya ia menyuruh Akilla membenarkan perkataannya. "Iya Ma, Kak Bara juga sweet husband, haha."
Ny. Haryata ikut tertawa, "dasar anak muda. Ada-ada aja. Kalo gitu Mama pergi dulu ya, Mama masih harus ngambil naskah kamu, Bara. Oh ya Akilla, Om kamu pesen, kalo ada berkas yang harus disalin dulu sebelum kamu pergi lokasi syuting" panjang lebar Ny. Haryata yang membuka tas tangan mewahnya, mencari kunci mobil yang tak kunjung ia temukan.
Kedua anaknya mengerutkan dahi. "Syuting apa?" tanya Bara tak mengerti. Apa di dunia ini, dia masih menjadi model? Atau beralih menjadi selebriti? Akilla pun bertanya-tanya, apa ia masih asisten pamannya atau tidak? Ia baru menyadari ia rindu kehidupan lamanya.
Fokus sang ibu masih ke dalam tas, sepertinya ia terlalu banyak memasukan barang yang penting, sampai-sampai tak menemukan kunci mobil. Kedua anaknya masih menunggu jawaban. Sesaat kemudian, ia mendapat barang ia cari. "Gak ada waktu buat jelasin, nanti Mama kirim lokasi syutingnya. Assalamualaikum!"
Akilla dan Bara terdiam heran memandangi punggung Ny. Haryata yang menjauh lalu hilang ke balik tembok.
***
Seharian ini, Akilla menonton televisi. Tak ada acara menarik, jadi ia memutuskan menyaksikan berita seputar Indonesia. Mulai dari bencana, korupsi, hingga kecelakaan, ia tonton sampai ia bosan berdecak malas.
"Kemana lo?" tanya Akilla melihat suaminya berpakaian rapih juga wangi.
Bara menatap kagum pantulan dirinya sendiri di cermin. Beranjak semakin dewasa, kadar ketampanannya meningkat. Meski waktu yang ia habiskan di kamar mandi lebih lama karena harus bercukur. Ia tidak suka jika memelihara kumis apalagi jambang, kesannya ia terlihat lebih tua dari usianya. Wajah glowingnya saat ini dapat menipu orang-orang bahwa dirinya masih anak SMA, tidak, bercanda.
"Gue mau pergi beli martabak, mau apél!" jawab Bara asal. Puas memuji dirinya sendiri, ia mengambil jaket dan kunci motornya.
"Nj*r, lo mau nyari istri lagi?" Akilla bertanya bukan berarti ia cemburu ya. Ia kesal saja Bara bersikap seenaknya.
"Kagaklah, gue cuma mau ke supermarket beli krim cukur, abis soalnya" Bara melangkah menuju pintu.
Secepat kilat Akill menghalanginya di ambang pintu. "Ikut.." ucapnya sambil memelas. Pria itu malah memberi tatapan jijik. Bukannya menyerah, Akilla semakin menjadi-jadi mengeluarkan semua gaya imutnya.
***
P
Cukup 5 menit, Bara berhasil mendapatkan apa yang dibutuhkannya.
"Bar-Bar, sini deh. Gue mau beli sesuatu" panggil Akilla di jarak 4 meter di sebelahnya. Panggilan itu sedikit menyinggung. Memang benar namanya Bara, mana mungkin ia disebut 'ba' atau 'ra' saja, tapi 'bar' yang sebut dua kali sangat tidak etis sekali.
Dengan malas Bara menghampirinya di rak khusus sabun, lulur, deodorant dan sebagainya. Akilla membungkuk, mengambil lotion cukup besar berwarna putih yang bertulis diskon. Matanya meneliti setiap inci benda harum itu.
"Tolong ambilin lotion yang sama dong, tapi yang kecilnya. Tuh di sana!" Akilla menunjuk rak seberang letak barang yang dimaksud.
Tak membantah sekali pun, Bara menurut mengambil lotion putih mirip yang dipegang Akilla hanya saja lebih kecil. Segera ia memberikannya pada gadis itu yang langsung sibuk mengamati kedua lotion di tangannya. "Diskon 20 persen, harganya cuma beda tiga ribu. Hmmm, apa?!" katanya sedikit terkejut mengetahui tulisan di sudut bawah kemasan.
"Apaan sih?! Lo malu-maluin" ucap Bara yang sempat tersentak saat istrinya berteriak.
"Lo liat ini?" gadis itu menyodorkan kedua lotion tepat ke depan wajahnya. Bara menatapnya bingung. Memang yang ada yang salah? Pikirnya aneh.
Mendramatisir keadaan, Akilla menunjuk susut kemasan sambil berlagak sedih dan menangis tanpa air mata. "Liat, katanya diskon. Harganya pun beda tiga ribu, padahal nettonya sama... Hiks..."
Tatapan Bara seketika datar. "Elah, cuma tiga ribu doang lo nangis kek gitu?" Bara tak habis pikir. Masalah sepele seperti itu reaksinya dramatis sekali. Padahal itu hanya trik pemasaran agar pembeli lebih tertarik. Sikap Akilla benar-benar berlebihan.
"Lo enteng bilang gitu. Untung tiga ribu gak emang seberapa. Tapi kan gak cuma satu orang doang yang beli. Kalo ada 10 orang yang beli, untungnya sampe tiga ratus ribu. Kalo seratus orang? Seribu orang?" cerocos Akilla melanjutkan dramanya. Orang yang lewat mulai menyumbangkan perhatiannya, bahkan petugas supermarket pun hanya geleng-geleng kepala, berpikir mereka pasti pengantin baru yang dipenuhi suka duka bersama.
"Jadi lo mau beli yang mana? Cepetan, bentar lagi hujan" desak Bara. Ia tak berlama-lama dipermalukan begini, terlebih langit sudah mendung siap meneteskan setiap bulir airnya.
Namun Akilla belum berhenti dari aksi konyolnya. "Nggak bisa, gue harus nuntut perusahaan lotion ini!"
Bara mengerutkan keningnya. Mimpi apa dia semalam sampai-sampai ia menikahi cewek macam Akilla ini?
"Udahlah gak usah." Akilla tetap menggeleng dan bertekad untuk protes. Ia mencari telepon center di belakang kemasan, dan mulai menekan nomor di ponselnya. Tindakan Akilla ini begitu bodoh dan ceroboh, sangat sia-sia untuk dilakukan.
"Denger ya, yang ini kan kemasannya lebih gede, pasti modal buat kemasannya butuh dana lebih. Kalo yang kecil, pasti lebih hemat. Makanya harganya beda, walaupun cuma tiga ribu..." jelas Bara sabar. Pasal tiga ribu rupiah saja ribetnya minta ampun. Ia menyesal tidak menalak tiga Akilla tadi malam.
Tampaknya cewek itu percaya apa yang dikatakan Bara, mengangguk lalu menaruh kembali kedua lotion itu pada tempatnya.
Bara mengambil helaan nafas lega. Dramanya sudah berakhir. Keningnya kembali berkerut melihat Akilla berjalan begitu saja, "lo gak jadi beli lotionnya?"
"Siapa yang bilang mau beli lotion? Eh Bar... Bar sini deh, ada shampoo diskon 35 persen!"
Baiklah, tadi hanya permulaan saja. Dapat diperkirakan, Bara akan menghabiskan waktu lebih lama di supermarket hari ini. Bersama sang istri TERCINTANYA.