
Kantin selalu ramai oleh para penghuni sekolah berperut lapar. Tempat paling digemari siswa ini tak pernah sepi pengunjung saat jam istirahat seperti ini.
Saat orang-orang sibuk mengisi perut seraya berceloteh bersama teman, Akilla sibuk bermain gawai di salah satu kursi kantin. Beberapa kali temannya bertanya pendapat, jawaban ala kadar diberikannya tanpa perhatian penuh. Seakan di dunia ini, ia akan senang dan tak peduli jika ia hanya hidup dengan benda pipih bernama ponsel itu.
Bukan ponsel yang menarik sebenarnya. Namun orang di seberang sana berinteraksi semi langsunglah yang membuat smartphone itu begitu istimewa.
"Eh, *****. Gio minta pap!" Akilla sedikit berteriak, menyita perhatian hampir seluruh siswa. Detik berikutnya, tak ada yang peduli padanya. Bukan hal yang aneh lagi, jika Akilla berteriak heboh atau melakukan hal yang tak lazim bagi para cewek.
Berbanding balik dengan namanya yang manis, gadis bermata hazel itu justru berkepribadian "Gak Santuy" dan terlalu enerjik. Tingkahnya memang tidak terlalu tomboy, hanya saja tak sisi feminin dalam kehidupannya. Memakai rok pun sekedar seragam sekolah, selebihnya ia hanya akan memakai jeans atau training. Tak pernah terlintas di kepalanya untuk menghafal alat make up, yang ia pakai hanya bedak tabur bayi kesukaannya.
"Nyelow napa! Aing sumpel kaos kaki my ucing, anata baru tahu rasa!" sarkas Dion tajam khas campuran bahasnya. Pisang keju di sendoknya hampir jatuh akibat teriakan Akilla tadi.
Akilla hanya nyengir tak bersalah.
Diangkatnya ponsel, mencari pencayaan tepat supaya wajahnya terlihat glowing-glowing in the dark saat kameranya menangkap potret wajahnya yang manis.
"Sok sok-an lo pap, biasanya lo send foto NG!" Rekkal menjitak kepala Akilla tanpa ampun. Gadis itu mencabikkan mulutnya sebal.
"What tuh NG? Naik Galon?" tanya Dion random. "Nenek Gayung! Hahahah" mereka berdua tertawa lepas. "Jangan begitu, kasihan Akilla" Lea mengelus kepala Akilla penuh kasih sayang. Ciri khasnya bicara formal terdengar sangat kontras dengan teman-teman yang lain.
Rekal dan Dion hanya bisa mengedikkan bahu tak peduli. Kemudian ber-tos ria, yaitu tos persahabatan yang sudah mereka lakukan semenjak sekolah menengah pertama.
Setelah 10 menit mencari pencahayaan yang bagus, Akilla menemukan posisi nyaman dan cahaya cukup untuk sisi pemotretan tidak resminya. Puluhan jepretan foto tak kunjung membuat Akilla berhenti selfie. Dari semua fotonya, dirasa tak ada yang sempurna.
Sementara di seberang meja Akilla, seorang pria sibuk membagi-bagikan tanda tangan pada setipa benda yang dibawa para siswi. Ia terus tersenyum penuh percaya diri sehingga gadis-gadis di sekitarnya berteriak histeris. "Kaila, namanya manis banget kayak orangnya" gombalan itu melayang memberikan sentuhan merah di wajah cewek bernama Kaila tadi.
Bara hendak menandatangani foto cetak yang di sodorkan, matanya menangkap smartphone sedang mengarah padanya. Salah satu alisnya terangkat. Sebagai model majalah remaja terkenal yang digemari cewek-cewek hampir disemua kalangan, Bara merasa terhormat ada gadis yang teramat menyukainya meski malu-malu untuk menunjukkannya.
Ia bangkit dari kursinya, mengundang tanda tanya para penggemarnya.
Orang-orang terus memperhatikan setiap pergerak Bara. Cowok itu berjalan mendekati salah satu bangku yang dihuni segerombolan siswa paling berisik di kantin. Tangan Bara mengambil ponsel di genggaman Akilla.
Semua orang syok termasuk Akilla yang tak menyangka seseorang akan mengambil handphone tanpa seizinnya.
"Lo ngap-" Bara menempelkan telunjuk di dekat bibirnya sendiri, namun tak mengucapkan apa-apa. Diangkatnya ponsel milik Akilla, lalu cekrek! Satu foto selfie tertangkap kamera. Bara mengacungkan tanda 'peace' oleh jarinya, sedangkan Akilla tengah mengerutkan dahi bingung.
"Lain kali, kalo mau minta foto bilang aja. Jangan malu-malu kayak gitu!" ucap Bara mengembalikan ponsel itu pada pemiliknya.
Para siswi yang dari tadi memperhatikan hanya bisa berteriak iri pada Akilla yang masih memasang mimik muka tertohok. Hah? Orang tadi kenapa? Gak jelas banget tiba-tiba ngajak selfie. Tunggu, apa itu bisa disebut ajakan? Akilla bergidik ngeri mengingat kejadian yang barusan terjadi.
Lea menyerempet Akilla, kepo dengan hasil selfie sahabat bersama bintang sekolah pujaan para cewek. "Sejak kapan kamu mengenal Bara?" tanya Lea heran. Setahunya, Akilla tak pernah sekalipun menyukai cowok. Bukan berarti dia suka sesama jenis. Tapi Akilla cenderung memperlakuka semua orang sama, entah itu perempuan, laki-laki, kaya, miskin, Akilla tak pernah membedakan teman. Kecuali jika orang itu mencari gara-gara duluan.
"Hah? Cowok tadi? Dia gak jelas banget sumpah, orang gue lagi foto diri gue sendiri! Dia-"
Rekkal membekap mulut Akilla agar kereta panjang berupa susunan kata itu tak berlanjut. Bisa-bisa sampai mereka lulus Akilla baru menyelesaikan ucapannya.
"Shhtt! We tadi nengok kok," Dion melepaskan tangannya.
"Tapi lumayan lah, lo bisa NF di eiji foto tadi" saran Rekkal yang dibalas tatapan bingung bin aneh dari teman-temannya.
"NF apaan again?" Lea mengangguk membenarkan Dion, lanjut bertanya, "lalu eiji itu apa?"
Akilla menjelaskan ucapan Rekkal, "Nambah Follower IG!" Ketiganya mengangguk seraya ber-oh ria. Ketika sadar yang diucapakn Rekkal, matanya langsung membulat, "lo gila ya? Kalo gue upload foto ini ke Instagram, apa kabarnya Gio? Dia pasti kecewa banget, malaikatnya foto bareng cowok lain!" Akilla menolak saran Rekkal tegas. Lea setuju pendapatnya.
Rekkal meringis pelan mengusap kepalanya, "Gio gak bakalan marah!" kompornya menghasut Akilla.
"Pasti Gio akan marah. Gebetannya dekat sama orang lain," pendapat Lea penuh penekanan.
Namun ada yang janggal di sini. Bukannya Akilla tak pernah dekat-dekat cowok tak lebih dari teman. Dari penuturannya, jelas ia mempunyai gebetan! Atau mungkin pacar?! Dion, Rekkal serta Lea membulatkan mata kemudian menatap Akilla tak percaya.
"Akhirnya, babaturan-ku have pacar! Alhamdulillah" kalau saja mereka tidak berada di tempat umum, Dion ingin sekali sujud syukur. Ternyata temannya itu masih normal.
Rekkal terlihat paling excited di antara mereka. "Bener, harus yasinan kita!" kembali Rekkal mendapatkan jitakkan tangan Dion. "Kowe think Akilla maot?"
"Kalian kenapa sih? Gio itu cuma temen virtual gue di hape!"
Seketika Lea, Dion, dan Rekkal saling menepuk dahi. Lea menepuk Dion, Dion pada Rekkal, dan Rekkal ke Lea.
***
"Crazy ya, gua think lu boga pacar benaran" ucap Dion seraya berjalan beriringan dengan teman-teman yang lain. Tak habis pikir, bisa-bisanya dia percaya bahwa Akilla telah menemukan seseorang yang mau dengannya.
"Yoi bro, lagian mana ada orang yang mau sama keset KM?" timpal Rekkal diakhiri tawa sendiri, sebab teman-temannya tak mengerti. "Yailah, masa gue disamain sama keset kamar mandi?" dengus Akilla sebal.
Lea dan Dion melongo takjub, tanpa sadar mereka bertepuk tangan sambil geleng-geleng kepala. "Lu miracles! Bisa ngarti bahasa monyet!" puji Dion yang tentu saja dihadiahi jitakan oleh Rekkal.
Mereka berbincang lebih lanjut, sebuah tangan tiba-tiba menarik Akilla ke belakang. Teman-temannya yang lain entah tak sadar atau tak peduli tetap berjalan menuju kelas. Akilla berbalik, ditemukannya Bara yang tengah mengigit bibir tampak kalut. "Apa sih lo? Main tarik-tarik tangan orang? Lu kira gue badut ancol? Bisa seenaknyaa lo hmp!"
"Berisik lu!" Akilla melotot kala Bara membekap mulutnya.
"Denger ya, cepet hapus foto tad– AH! Kenapa lo gigit tangan gue?" Bara menggeram sebal.
"Tangan lu bau kaos kaki jerapah!" cabik Akilla marah.
Merasa terhina, Bara mengusap tangan ke tembok dengan ekspresi jijik. "Enak aja! Mulut lu yang bau terasi gosong!"
"Lagian foto apaan sih? Lu siapa nyuruh-nyuruh gue?"
Tatapan takjub sekaligus ngeri terlihat di wajah Bara. Wah, baru kali ini dia bertemu korban penuaan dini yang sangat parah, diusia belasan tahun sudah terserang kepikunan. "Gue Bara! Kita baru aja ketemu lima belas menit lalu! Dengan sangat memohon, gue pingin lo hapus foto selfie kita!"
"Kita? Kapan kita fotbar?"
Bara mengerang pelan. Kesabarannya kali ini benar-benar diuji. Jika saja Yura tak bersikap aneh setelah ia berfoto dengan Akilla, dia tak mau memohon apalagi bicara dengan gadis aneh ini.
"Bentar-bentar, keknya ada yang aneh deh?" Akilla teralihkan, merasakan sesuatu yang janggal. Tapi koridor ini sunyi dan sepi. "Ini author yang bikin suasanan kita makin aneh, atau gimana? Kok sepi gini ya?"
Ikut tersadar, Bara berkedip beberapa kali. "Iya ya?"
"Hei! Bel sudah berbunyi sepuluh menit lalu! Kalian malah pacaran di sini?!" Pak Sam, kepala sekolah berbadan kurus itu melotot. Bahkan kumis baplangnya pun seolah-olah ikut melotot membuat bulu kuduk merinding.
Tak sadar keduanya berdesis kompak, "******!"
"Lari!"
"Oi! Awas kalian kalo ketemu!" Pak Sam berteriak melihat kedua muridnya kabur. Senyumnya terbit menggantikan wajah garangnya. "Hahaha, mereka ngingetin saya waktu pacaran dulu.."