
Malamnya, Akilla mengajak Bara berbincang mendiskusikan sesuatu yang nampaknya sangat penting. Jendela ditutup gorden rapat-rapat, pintu dikunci kuat-kuat. Catat, hanya berdua. Tidak, bukan membicarakan soal hubungan cinta mereka, melainkan takdir aneh yang membawa mereka kemari. Terlalu banyak kejanggalan yang mereka alami di dunia yang semakin canggih ini, sampai-sampai mereka tak melihat jalinan benang merah yang akan menjadi kunci utama masalah mereka.
Demi diskusi yang lebih berkualitas dan tak memakan banyak wakty, Bara meminjam papan tulis putih besar dari ruangan kerja Radka diam-diam. Sebab ia tak melihat batang hidung abangnya sejak di toilet dari. Mungkin pergi? Entahlah. Saat membawa papan itu kemari, Bara bermonolog sendiri, tak kunjung mendapat jawaban. Akhirnya, ia memberatkan suara, beraksen formal seperti Radka, mengizinkan dirinya sendiri mengangkut papan kayu putih, spidol hitam, serta penggarisnya.
Kacamata tanpa kaca pun menyangkut dimasing-masing hidung pasangan absurd untuk mendramatisir suasana. Sementara Akilla tengkurap di atas kasur, mencatat hal-hal aneh di sebuah buku khusus yang dipersiapkan dadakan, Bara menempel foto-foto orang penting yang harus mereka bahas malam ini juga sampai tuntas.
Bara sebenarnya agak tidak enak hati pada Akilla, terlebih isakan tangis menyayat hati dari gadis yang dibencinya itu. Apa jangan-jangan dulu ia kehilangan orangtuanya dan di sini, orangtuanya masih hidup? Sama seperti Bara yang kehilangan Radka? Ia tak tahu banyak soal kehidupan gadis itu. Yang ia tahu, Akilla orangnya tak mau berhenti bicara dan tak pernah jaim, apalagi menyangkut makanan. Keluarga dekat yang ia tahu hanya Om Panji, Tante Nofi, dan Dean. Bila diingat-ingat lagi, saat SMA ia bertemu sahabat-sahabatnya. Ia penasaran kelanjutan hubungan mereka setelah tragedi yang disebabkan olehnya.
"Udah selesai?" tanya Bara memastikan. Ia tidak dapat menebak kapan diskusi akan selesai. Lebih cepat lebih baik. Akilla bangkit seraya menutup bolpoinnya, "yap, udah."
Bara mengambil penggaris panjang kayu khusus papan tulis sebagai tongkat penunjuk, itu sangat diperlukan dalam rapat. Terpajang di sana foto Radka dan kedua orangtua Akilla yang sama-sama diambil saat resepsi pernikahan–yang tak pernah ia rasakan–, Bara menemukannya di galeri ponselnya sendiri yang kemudian dicetak fotonya.
Tangan Bara terangkat rendah mempersilahkan Akilla membaca satu fakta yang tertulis, "kita 5 tahun lebih tua dari yang seharusnya. Dan kita... menikah" baca Akilla tersirat keraguan pada kata terakhir.
Namun Bara tampaknya tak terganggu akan hal itu. "Fakta ini sangat aneh dan mustahil terjadi. Gue–" Bara berdehem sejenak, tak ingat bahasa formal yang harus ia gunakan sementara, "saya tak pernah suka terhadap anda, apalagi mengejar-ngejar anda." Sejenak Bara memperhatikan setiap inci tubuh Akilla yang balik menatapnya tajam, seolah menelanjanginya tanpa ampun. "Anda bukan tipe istri, bahkan untuk sekedar pacar yang pernah saya bayangkan" lanjutnya yang menohok hati Akilla.
"Kalo gue disuruh milih antara lo sama duda anak sepuluh..." tiba-tiba Akilla menghentikan ucapannya. Bodoh, rutuknya dalam hati, gak ada yang lebih bagus apa? "gue mending jadi perawan tua."
Bara menyahutnya dengan dengusan. "Back to topik, menurut saya, solusi terbaik adalah perceraian.."
"Hah? Gue pribadi setuju banget, tapi gue pikir, mending kita jalanin ini 2 bulan lagi. Lo tega apa, bikin kecewa orangtua lo? Kalo gue sih tega. Lo kan udah setuju jadi fake husband gue" semprot Akilla yang kumat lagi cerewetnya. Janji adalah hutang. Dan hutang harus dibayar. Sekecil apapun itu.
"Waktu itu gue khilaf.."
"Khilaf pala lu botak! Kalo gitu, gue nabrak lo pake tronton, mutilasi lo jadi 34 bagian, terus dibawa ke masing-masing provinsi Indonesia dan bilang gue khilaf, gimana?" Akilla beranjak duduk, berasa menceramahi Bara yang berdecak sebal.
Jentikan jari Bara memberi tanda ide sudah didapat. "Gimana kalo kita, mesra-mesraan sama kayak suami-istri yang lain–" bruk! Serangan bantal mendarat keras menghantam wajahnya. "Bac*t lo, bilang aja mau modus!"
Tatapan Bara datar laksana Tol Cipularang. Selain cerewet dan merepotkan, Akilla juga orang tak sabaran menanti ujung pendapatnya. Akilla memiringkan kepalanya, mendapat ide yang dirasa cukup cemerlang. "Gimana kalo kita pura-pura jadi pasangan bahagia selama dua bulan, terus satu bulan kemudian, salah satu dari kita ada yang ketahuan selingkuh. Jadi kita punya alesan buat cerai!"
Jenius. Idenya sangat jenius. Persis sama dengan usulan yang akan Bara berikan. Tak mau membuang waktu terlalu banyak, mereka sepakat menjalankan rencana Akilla–dan Bara–, tanpa komentar apapun lagi.
Bara kembali mempersilahkannya membaca poin berikutnya.
***
Ny. Haryata dan Tn. Haryata saling berpandangan aneh di meja makan. Mereka menyadari sikap aneh dari anak bungsunya. Suapan mesra dari tangan Akilla diterima baik oleh Bara yang tersenyum lebar, seolah menerima kado-kado ulang tahunya di tahun kabisat. Bara tersenyum riang saat Akilla memuji seraya menepuk pucuk kepalanya seperti sedang memberi makan anjing, anak maksudnya.
Kedua pasangan tertua di rumah itu terkekeh pelan. Menggelengkan kepala. Dasar anak muda.
"Jadi..." Tn. Haryata membuka percakapan, sebab aura yang diberikan Radka sangatlah gelap, suram, berbanding balik dengan cahaya yang terpancar dari dua orang di sampingnya. Bagai surga dan neraka yang bersandingan. Bara menoleh, menyeruput air minum di depannya, "...kalian udah mutusin mau honeymoon di mana?"
Sontak air menyembur dari mulut Bara –untungnya– ke istrinya –bukan ke lauk pauk di meja– bagai Mbak Dukun sedang menyembuhkan pasiennya dari kutukan santet. Jika bukan dihadapan para mertuanya, Akilla ingin sekali membogem mentah ke pipi mulus Bara sampai seluruh ke-glowing-annya hilang. Ia hanya memasang wajah datar, menyeka air yang mulai menetes. Kalau saja Bara benar-benar suaminya, maka bibirnya akan melontarkan : untung suami, untung ganteng. Sayangnya, itu delusi tingkat dewa yang sangat mustahil ia ucapkan.
Sadar tengah berpura-pura mesra, Bara mengambil tisu terdekat, bekasnya mengelap bibir usai mengatasi semburan, ikut menyeka wajah Akilla.
Akilla mendengus sebal. Sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Sekali lagi ia mengurung niat membogem Bara. Perhatian sih memang. Tapi gak pake tisu bekas dia pula! Akilla cuma bisa berdecak sebal. Air semburan darinya lengkap dilap dengan tisu bekas semburan. Satu paket.
"Ehm, kita... mau tinggal sendiri aja" balas Bara cepat-cepat setelah uluran simpatinya digubris kasar.
"Sendiri? Apartemen? Atau villa?" Tn. Haryata membalas tenang.
"Bukan, rumah beneran.." jelas Bara yang menghentikan aktivitas ayahnya itu. Sementara itu, Ny. Haryata tersenyum geli, dasar anak zaman sekarang, lebih milih honeymoon panjang di rumah sendiri tapi tiap hari dibanding honeymoon ke luar negeri cuma beberapa minggu.
Mengetahui pikiran ibu mertuanya, Akilla terkesiap, "s-soalnya, kita mau mandiri.. iya kan Kak Bara?" Akilla menoleh, menendang-nendang kaki Bara di bawah meja, memberitahu agar segera angkat bicara lagi.
"Iya, kita gak mau repotin Mama sama Papa lagi. Jadi.." Bara memiringkan kepalanya dalam satu gerakan, menyelesaikan kalimat yang sudah jelas maksudnya.
Sejenak, kedua orang dewasa itu berpikir, saling pandang.
Putra sulung yang dari tadi bungkam, angkat suara, "yakin mau mandiri?" Radka memainkan alisnya jahil. Tn. Haryata dan Ny. Haryata peka akan pikiran bujangan itu. Mereka mengangguk, si kepala keluarga mengumumkan keputusan, "tentu saja! Kalian boleh tinggal sendiri!"
Akilla dan Bara bersorak. Yah, rencana pertama mereka sampai sini berhasil. Setidaknya, jika mereka tak tinggal orang lain, termasuk keluarga sendiri, mereka akan lebih sedikit berakting sebagai pasangan.
Hingga kebahagiaan itu sedikit tersendat kala Radka melanjutkan idenya, "biar sekalian mandirinya, beli rumah sama tanahnya pake uang kalian. Lebih bagus, Bara doang sebagai kepala keluarga."