Now Or Soon U Mine!

Now Or Soon U Mine!
8. Akhir Dari Awal Masalah



"Loh, kok kamu sudah pulang jam segini?" tanya Tante Nofi yang tengah menyapu lantai di ruang tamu.


Akilla tersenyum kikuk, "Akilla gak enak badan. Jadi mau istirahat aja, boleh 'kan Tante?"


Tante Nofi menatapnya aneh. Sikap Akilla sangat aneh. Jarang-jarang keponakannya itu mengeluh sakit. Jika sudah parah, barulah Akilla minta dibawa ke dokter. Namun bila sakit biasa, seperti flu, demam, batuk dan lain-lain, Akilla langsung minum obat dan istirahat tanpa merepotkannya.


Meski ragu-ragu dan tahu ada hal buruk terjadi–Tante Nofi melihat matanya yang merah– ia mengangguk, "mau Tante ambilin obat? Atau bikin bubur?"


Akilla langsung menggeleng dan pamit masuk kamar. Mengunci pintu. Dan menjatuhkan diri di kasurnya, tangisannya teredam oleh bantal hingga tak akan ada orang yang tahu dirinya menangis.


***


Tubuh segar sehabis mandi mengguarkan bau harum. Bara menggosokkan handuk ke rambutnya yang masih basah.


Ingatannya melayang ke perisitiwa di sekolah pagi tadi. Ketika Akilla berteriak sampai mengundang perhatian semua orang. Apa ia terlalu jahat? Sejahat itukah dirinya, hingga ia sangat mengguncang perasaan gadis itu?


Ekspresi terasingkan itu begitu menyedihkan. Kala orang-orang menatapnya dengan penuh kebencian.


Ah sudahlah, untuk apa ia memikirkan perasaan orang yang tak memikirkan perasaannya? Lagi pula, gadis itupun tega menyebarkan foto dirinya. Bara pun bingung, bagaimana bisa satu foto kedekatannya bertambah menjadi tiga foto?


Yura benar, Akilla tak mungkin sengaja memotret saat mereka berduaan dalam sudut kamera yang bersembunyi seperti itu. Tapi, bisa saja Akilla begitu tergila-gila padanya sampai-sampai menyewa mata-mata.


Siapa tahu..


Pikirannya yang tenang setelah mandi kembali panas memikirkan masalah tadi. Bara menghempaskan dirinya ke tepat tidur lebarnya. Mengambil ponsel keluaran terbaru di atas nakas kecil sebelumnya.


Bara mengingat lagi kejadian di gazebo dua hari lalu. Ia melihat sendiri Akilla menghapus fotonya. Dan fotonya tersebar sehari setelah foto itu dihapus. Diteliti lebih lanjut, Bara malah mengingat gantungan ponsel berbentuk buaya saat cewek itu menghapus foto.


Sebentar. Nampaknya, gantungan buaya lucu itu pernah dilihatnya. Jarang sekali seorang perempuan memilih gantungan bergambar buaya, meski buaya itu berbentuk lucu. Ah! Ia pernah melihatnya! Saat ia turun dari tangga di sekolah. Tak sengaja ia melihat siswi yang membawa dua ponsel, salah satunya seperti milik Akilla.


Orang itu langsung gugup layaknya orang yang telah berbuat kesalahan.


Orang sama dengan gadis yang membujuk Akilla tadi siang, namun malah dibalas bentakan.


Tunggu. Jadi Akilla jujur soal bukan dia yang menyebarkan foto itu. Melainkan gadis yang ia lihat di bawah tangga itu?


***


Menangis sepanjang hari hingga tertidur sebab kelelahan menangis. Akilla tak merasakan matanya bengkak maupun perih yang biasa ia rasakan sehabis menangis tiada henti.


Menguap lebar, mengumpulkan nyawa yang masih berhamburan di alam bawah sadarnya.


Apa matahari bersinar lebih cepat hari ini? Kenapa rasanya sangat hangat dan nyaman di pagi hari ini? Bantal guling yang ia peluk pun begitu bidang dan besar, begitu berbentuk tak seperti guling pada umumnya yang berbentuk lonjong.


Matanya pelan-pelan mengerjap. Bahkan gulingnya beraroma maskulin yang menenangkan. Akilla kembali memejamkan mata, merasakan setiap sensasi dari wangi gulingnya. Tangannya meraba-raba bantalnya.


Sungguh guling yang istimewa. Harum, nyaman, bahkan gulingnya itu mempunyai hidung... mata... dan bibir. Kayak manusia aja, Akilla terkekeh akan pikiran konyolnya.


Apa?! Guling dengan hidung, mata dan bibir? Yang benar saja, hotel bintang lima pun tak menyediakan fasilitas itu!


Akilla membuka matanya dan menemukan sebuah dada bidang penuh otot saat dirabanya. Ia mendongkak. Nafasnya seketika tertahan. Wajah seorang pria tampan yang jaraknya hanya beberapa centimeter dari wajahnya. Bahkan hidungnya hampir menyentuh hidung pria itu.


"Aaaah!!!!"


Orang yang disangka Akilla guling itu tersentak. Keduanya langsung mundur, lalu terjatuh ke sisi ranjang bersebrangan. Menstabilkan jantung mereka yang memompa begitu cepat.


Secara kompak, keduanya menyembulkan kepala perlahan, memastikan kejadian tadi halusinasi semata. Lagi-lagi mereka menenggelamkan kepala. Sebab itu bukan imajinasi. Layaknya ada ikatan batin, sepasang manusia itu mengintip ke kolong ranjang dan menemukan tubuh masing-masing.


Akilla menatap ke atas lemari kecil di sebelahnya. Ada jam weker digital, lampu tidur, dan kunci. Tangannya mengambil kunci kecil sebagai senjata ketimbang benda lain yang lebih berat agar calon korban terluka.


"Siapa lo?!" teriak kompak Bara dan Akilla, menodongkan senjata masing-masing.


Mata mereka terbelalak."Lo?! Lo ngapain di sini?!" jika mereka mengikuti kontes kekompakan, mereka pasti akan menang dengan skor terbaik.


"Loh? Bara? Akilla? Kalian lagi main peperangan? Saya boleh ikutan?" pintu kamar terbuka. Pria berkacamata kotak berkemeja tampan masuk. "Saya senjatanya payung aja," katanya mengambil payung merah di sudut ruangan. Tatapannya berbinar.


Sementara Akilla memberikan tatapan aneh. Beda halnya Bara. Cowok itu membulatkan matanya. Seakan-akan rentetan kejadian tadi tak cukup mengejutkan.


"Bang Radka...?" gumam Bara. "Abang kok masih hidup...?"


***


"APA?!? Kita umur 23 tahun?! Dan kita baru 1 bulan MENIKAH?!" beo Akilla memotong penjelasan Radka.


"Kamp*et lo! Kalo ngomong gak pernah dikontrol volumenya!" Bara mengusap telinganya yang panas dan berdenging.


Akilla membuka mulut, hendak membalas umpatan pria di sampingnya. Suara lembut dari tangga, menghentikan kalimat di tenggorokannya. "Bara, kok kamu kasar sama istri kamu?"


"Hahaha, pengantin baru harusnya penuh cinta dan sayang. Iya 'kan Ma?" suara berwibawa mengikuti langkah Ny. Haryata. "Ah engga Pa, buktinya kita masih penuh cinta kayak gini" jawab sang istri, kemudian sepasang suami istri itu terkekeh bersama.


Ketiga anak muda di sana bergidik melihat kebucinan Nyonya dan Tuan Haryata.


"Jadi, kalian udah mutusin buat honeymoon di mana? New Zealand? Korea? London? Prancis? Ke Mars juga boleh kok, hahaha." Ny. Haryata ikut duduk di samping anak sulungnya, Tn. Haryata duduk di kursi satu orang.


"Ho-honeymoon?" ulang Akilla gugup.


Muka Bara dan Akilla memerah. "Gak usah malu kayak gitu, mentang-mentang kalian melangkahi Abang buat nikah," goda Radka. Bara mengerutkan keningnya, "Abang belum nikah?"


"Hmm, belum sih. Tapi Abang udah ada calon, nanti kapan-kapan Abang ajak dia ke sini deh."


"Assalamualaikum semuanya!!" salam tamu yang baru masuk.


Semua orang di ruangan membalas salam. "Eh, Nofi? Ada apa tiba-tiba ke sini?" Ny. Haryata menyambut dengan gembira yang secara tidak langsung adalah besannya. Salam pipi kanan, pipi kiri sangat umum bagi kaum ibu-ibu, terutama ibu rumpita.


Tn. Haryata dan Om Panji cukup berjabatan diiringi basa-basi menanyakan kabar. Kedua laki-laki itu pergi, memilih mengobrol tentang bisnis di taman belakang setelah mengajak Radka untuk ikut serta.


Tak lupa, Akilla dan Bara pun mencium tangan Tante Nofi dan Om Panji. "Dean gak ikut, Tante?" tanya Bara karena tak menemukan sahabatnya.


"Oh, Dean lagi parkir mobil. Sekalian dia bawa oleh-oleh dari Singapura," balas Tante Nofi. "Dean di Singapura ngapain?" Bara bertanya lagi. Ia masih pusing pada keadaan ini. Perasaan, baru kemarin umurnya masih 18 tahun. Kenapa sekarang ia berumur 24 tahun.


"Kamu lupa Bara? Kan Dean kuliah bisnis di sana. Kamu sendiri yang nganter dia ke bandara," jawab Om Panji diakhiri tawa semua orang kecuali, dia dan Akilla yang masih kebingungan.


Bara nyengir, "o-oh iya ya..." ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, berusaha mencerna semua informasi agar ia ta dianggap aneh.


"Wah, gak terasa ya, Akilla udah nikah aja. Rasanya baru kemarin Tante liat kamu masih lari-lari kecil bawa boneka yang bisa nyanyi itu loh." Akilla hanya tersenyum menanggapi Tante Nofi. Apa ia bertanya saja apa yang terjadi? Atau dia simpan rapat-rapat? Tapi ia tak tahan dalam kebodohan ini.


Ny. Haryata pun ikut tertawa, "iya bener. Perasaan baru kemarin Bara Mama dandanin mirip Mini Mouse. Habisnya waktu itu Mama pinginnya aak cewek, eh, yang lahir kamu. Ya udah deh, Mama dandanin kayak cewek hahaha." Cerita masa kecilnya dibongkar sedikit, muka Bara panas hingga terlihat memerah akibat malu.


Semua orang tertawa membayangkan cowok berbadan atletis saat kecil mengenakan rok merah muda polkadot putih disertai bando pita senada.


Bara sendiri tak sanggup membayangkan. Bergidik ngeri. Kenapa dulu dia tak menolak saat didandani seperti itu? Ah iya, waktu itu umurnya 2 tahunan dan baru lancar berjalan.


"Beneran Tan–eh, Ma? Punya fotonya gak?" tanya Akilla semangat. Bara mendelik padanya, Akilla tak peduli. "Oh ada, sebentar ya" Ny. Haryata pergi megambil album keluarganya.


Tak lama ia kembali dengan sebuah buku tebal bersampul hitam bertulis 'Album Keluarga' di depannya.


Digesekkannya kedua tangan, tatapan Akilla sangat semangat untuk segera menemukan aib-aib musuh–tidak, suaminya itu. Bara hanya bisa cemberut, melihat harga dirinya akan hancur dalam hitungan detik.