Now Or Soon U Mine!

Now Or Soon U Mine!
7. Pertengkaran Dari Kesalahpahaman



"Buah-buah apa yang jadi presenter debat?" Akilla melontarkan teka-teki pada jam kosong sebelum pulang sekolah. Kebetulan para guru sedang rapat untuk persiapan ujian akhir semester ganjil. Sekarang semua kelas tengah ribut karna tak ada guru yang mengawasi.


Berbagai macam kegiatan dilakukan upaya mengusir kebosanan. Ada yang tidur menggelar karpet di belakang kelas, bermain catur, membuat video Tik-tok, berselfie, dan kegiatan lain selain belajar. Satu atau dua orang dari 37 murid yang memilih membaca buku ketimbang mencari aktivitas lain.


Empat sekawan Akilla, memilih bermain teka-teki lucu seraya menunggu bel pulang berdering.


"Hmm, wortel?" tebak Dion.


Akilla menggeleng, "itu kan sayuran!"


"Apel? Anggur? Stroberi?" lagi-lagi Akilla menggeleng. Ketiga temannya kembali memutar otak, mencari jawaban yang benar.


"Nyerah?" tanya sang pengaju teka-teki. "Jawabannya, pisang!"


Dion, Rekkal, dan Lea menatapnya bingung serta heran. "Why cau? (Kenapa pisang?)" tanya Dion mewakili yang lainnya. Rekkal mengangguk membenarkan pertanyaannya.


"Iyalah! Kalo bahasa Inggris jadi banana. Kalian tahu presenter Mata Najwa? Kan dia suka disebut Mbak Nana, hahaha."


Tawa Akilla pecah sementara ketiga temannya mendengus sebab jawaban teka-teki yang tak masuk akal tadi.


Brak!


Gebrakan meja membuat kantin seketika hening. Semua orang kaget dan bertanya apa yang terjadi. Terutama bangku empat sekawan yang baru saja berceloteh ria, kini bungkam.


Sang empu tangan kekar penggebrak meja itu ialah Bara.


Matanya menyipit, mengintimidasi gadis di hadapannya. "Lo main-main sama orang yang salah.." ucapnya pelan namun tegas.


Suasana tak nyaman itu menyulitkan Akilla menelan salivanya sendiri. "M-maksud lo?"


"Lo lebih nyusahin dari yang gue kira ternyata. Kalo lo mau duit, lo bilang sama gue! Jangan main cara kotor!!" bentak Bara di hadapan semua orang.


Jujur saja, bentakan tadi cukup mengguncang Akilla. Sekuat apapun cewek, sekalinya dibentak pasti nangis. Oke, mungkin Akilla akan bersabar terlebih dahulu. Masalahnya pun belum jelas.


"Duit? Cara kotor? Maksud lo apa?"


Bara terkekeh meremehkan. "Lo pikir, gue gak tau apa yang lo lakuin sama foto itu?!" Brak! Bara kembali menghentak meja keras. Kedua kalinya, siswa-siswi di kantin terkejut dan mengalihkan perhatian pada kebisingan yang terjadi.


"Gue udah minta baik-baik ya, supaya lo hapus itu foto! Tapi apa?! Lo malah nyebarin itu di Facebook!!" volume tinggi Bara semakin menusuk ulu hati.


"Lo kan liat sendiri, foto itu udah gue hapus–"


"Lo pasti bikin duplikatnya!!" sela Bara kesal.


Kesal sahabatnya diperlakukan buruk seperti itu, Rekkal bangkit dan menjauhkan Bara dari Akilla. "Woy, santuy dong bro!"


"Lagian gue gak punya facebook–"


"Udah lo gak usah sok polos! Berapa duit sih yang lo mau? Gue kasih! Gue mau nerima perjodohan itu, tapi bukan berarti lo bisa manfaatin gue seenaknya!!" Bara menepis tangan Rekkal dan Dion yang mulai mengganggunya.


Meski kekesalan yang ia tampung belum sepenuhnya terluapkan, Bara memilih pergi setelah menaruh uang berwarna merah di meja. Baru tiga langkah ia menjauh, ditolehkan pandangannya, "cih! Dasar perempuan murahan!"


Amarah Dion serta Rekkal langsung tersulut. "Woy, maksud sia naon?! (maksud lo apa?!)" untung saja ada Lea yang berdiri dan menenangkan mereka.


Sementara Akilla masih tak bergeming di tempatnya. Matanya memanas. Dadanya sesak.


***


Akilla sibuk menulis sesuatu karton berisi bahan prakteknya. Tugas itu sebenarnya bisa dikerjakan di rumah, tapi ia merasa ingin sendiri terlebih dahulu dengan menyuruh teman-temannya pulang lebih dulu. Sebab jika ia berada di sekitar sahabatnya, ia pasti akan dihibur habis-habisan. Akilla tak suka dihibur, itu malah memperburuk suasana hatinya. Namun ia tak mau mengecewakan teman-temannya juga.


Selepas ketiga sahabatnya pergi, dihembuskannya nafas berat yang begitu mengganggunya. Jika saja beban itu pergi bersama helaan nafasnya, meski ia tahu, masalah tak akan menyelesaikan masalahnya sendiri.


Sayup-sayup orang mengobrol di luar kelas terdengar. Akilla cuek dan terus mengerjakan tugasnya.


Langkah kaki semakin menyakinkan Akilla orang-orang tadi akan melewati kelasnya, segera ia bersembunyi di bawah meja.


"Positif thinking aja, Bara. Di foto itu kan angel kameranya kayak di tempat bersembunyi gitu. Jadi mana mungkin, Akilla itu sengaja buat foto. Terus kamu bilang, kamu yang ngajak dia tiba-tiba kan? Gimana bisa dia nyiapin rencana, sedangkan kamu kalo apa-apa suka dadakan!" argumen panjang tadi menjeda pembicaraan mereka, tepat saat mereka melewati pintu kelas Akilla.


Kenapa mereka menyebut namanya? Dan juga cewek tadi memanggil Bara? Apa mereka sedang membicarakannya?


Entah firasat dari mana, Akilla merasakan ada sesuatu yang buruk akan menimpanya.


***


Tatapan orang-orang langsung terpusat pada Akilla saat ia memasuki kawasan sekolah. Terutama lorong yang menghubungkan koridor utama ke kelasnya. Begitu ia berjalan melewati mereka, orang-orang berbisik pada temannya.


"Akilla, woy! Kamu mau gak sama Aa? Berapapun yang kamu minta, Aa kasih" celetuk seorang pria diikuti gelak tawa teman-temannya.


"Neng Akilla, pernah nyobain ke hotel bintang lima gak? Kalo gak pernah, cobain yuk sama abang!"


Akilla segera mempercepat langkahnya. Sangat-sangat tak nyaman. Apa ada yang terjadi tanpa sepengetahuannya? Setahunya, siswa-siswi di seolah ini tak mengetahui keberadaanya sebab ia jarang bergaul selain dengan ketiga sahabatnya.


"Gimana, belom mau ngaku lo yang nyebarin fotonya?" seringai sinis Bara menyambutnya di depan kelas. Pria itu menyender sambil melipat tangan, tatapannya begitu meremehkan.


Oh, Akilla tahu. Pasti yang terjadi hari ini, adalah perbuatan Bara! Ia yakin 100% semua celetuk aneh itu melayang karna Bara. Meski Akilla belum yakin apa yang sudah laki-laki itu lakukan sehingga mencemarkan nama baiknya.


"Lo? Apa yang lo lakuin sampe-sampe murid satu sekolah ngebully gue?" tanya Akilla mendekat.


Bara berdiri tegak, mencondongkan tubuhnya sampai jarak wajahnya cukup dekat dengan Akilla. "Lo bisa mikir 'kan? Ya, lo mikir sendiri lah!" ucapnya kemudian menjauh.


"Yura! Sini!" panggilan Bara pada seseorang di belakang Akilla, membuatnya ikut menolehkan pandangan.


Seorang cewek cantik berambut pendek, yang Akilla tahu adalah bintang sekolah mendekat. "Kenapa Bar? Aku harus balik ke kelas–eh kamu Akilla ya? Bara gak ngapa-ngapain kamu kan? Dia orangnya jahat, kamu gak boleh deket-deket sama dia!"


Akilla menatap Yura tanpa ekspresi. Justru cowok lo udah bikin gue sengsara! Padahal gue gak ngapa-ngapain! Sarkas Akilla dalam hati.


"Bara, aku denger gosip gak enak tentang Akilla. Ini bukan ulah kamu kan?" tanya Yura memastikan.


"Kamu nuduh aku?" tanya Bara. Wajahnya menantang, seolah tak punya dosa.


Yang bisa dilakukan Akilla cuma menatapnya geram.


"Yang sabar ya Akilla. Aku tahu itu gak mu–"


"Siapa lo?! Lo tahu apa soal gue?! Apa peduli lo?! Cewek cantik mana paham rasanya dibully kayak gini! Bara! Lo masih berpikir, kalo yang nyebarin foto itu gue?! Gue minta maaf! Meski gue gak ngerasa kalo gue salah! Asal lo tahu, gue gak tertarik, bahkan gak pernah terpikir buat gue manfaatin kepopuleran lo! Gue juga gak tertarik sama muka lo yang kayak pantat ayam itu!"


Para siswa yang mulai berkumpul berdecak kagum atas keberanian Akilla menghina ketampanan idola merekamDada Akilla kembang kempis, nafasnya begitu memburu setelah mengucapkan rentetan kalimat nada tinggi. Bahunya naik turun, mengatur emosi yang masih menggebu-gebu ingin segera dikeluarkan.


Mendengar ribut-ribut, para siswa terus berkumpul, menganggap pertengkaran tadi adalah pertunjukan yang menarik untuk dipertontonkan.


Lea, Dion dan Rekkal yang melihat sahabatnya dikepung langsung menerobos gerombolan para siswa.


"Akilla, udah. Malu diliat orang-orang.." Rekkal mencoba membujuk gadis cerewet yang ia kenal bertahun-tahun. Sayangnya, uluran tangannya itu ditepis kasar. Lea pun turun tangan, "sudah Akilla, kan bisa diobrolkan baik–"


"Peduli lo apa?! Lo siapa, berani ikut campur urusan gue?! Toh, gue sendiri yang dibully satu sekolah! Bukan kalian yang sok simpati padahal cuma nusuk dari belakang!"


Lutut Lea gemetar. Kata-kata tajam Akilla sangat menusuk ulu hatinya. Sentakan dan nada tinggi sebatas candaan yang sering ia terima, berbeda dengan kalimat sarkas penuh amarah yang telah diucapkan Akilla.


Badan Akilla seketika kaku. Mengetahui ucapan yang tak pantas ia keluarkan yang pastinya menyakitkan bagi teman-temannya.


Reaksi Lea, Dion dan Rekkal yang sama terkejut sudah cukup menyimpulkan bahwa kata-katanya sangat menyakitkan.


Tatapan orang-orang begitu memojokkannya. Ia tak tahan bisikan juga tatapan hina dari orang-orang. Ia berbalik lalu berlari sekencang yang ia bisa. Matanya memanas. Apa yang baru saja ia lakukan? Kenapa ia lepas kendali seperti itu? Jelas- masalah ini tak ada hubungannya dengan sahabat-sahabatnya.