Now Or Soon U Mine!

Now Or Soon U Mine!
2. Rencana Bara



"Bara pulang!!"


Bara melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah luas nan megah. Rumah hasil kerja kerasnya selama ini sebagai model. Awalnya Bara iseng jadi model baju butik milik temannya. Dengan visual yang mengagumkan, ia memosting gambar itu di media sosial pribadi maupun resmi. Siapa sangka, penjualan dari baju yang dia kenakan berkembang pesat. 2 bulan dia mulai meniti karir sebagai model amatir, berbagai perusahaan mulai menawarinya kontrak kerja. Dan di sinilah ia sekarang. Pesonanya yang bisa meluluhkan para wanita. Ia bisa membeli apa yang dia mau tanpa meminta sepeserpun uang orangtua.


"Akhirnya kamu dateng!" sambut Mamanya penuh keceriaan. Bara mengangguk, tersenyum senang.


"Bara, sini duduk!" Ibunya mengibaskan tangan, menyuruh anaknya untuk segera duduk di sampingnya. Bara pun mengikuti perintahnya.


Wajah Mamanya yang selalu ceria memang hal wajar yang selalu Bara lihat. Meski dalam kondisi sedih, sakit, bahkan menderita, ibunya selalu beribu macam alasan positif yang bisa membuatnya tetap tersenyum. Rasanya Bara tak mau kehilangan wanita yang melahirkannya itu.


"Baguslah kamu tak keluyuran dulu!"


Suara sarkas dari tangga menarik perhatian mereka berdua. Papa Bara berjalan penuh wibawa kemudian duduk di hadapan anaknya. Tatapan tajam juga sinis terlalu terpampang sempurna wajah.


Bara mendengus mendengar perkataan ayahnya. Padahal dia keluar mencari uang, bukan hura-hura seperti yang disangka Papanya selama ini.


"Kamu tahu, keuangan kita menipis?" tanya Papanya penuh penekanan.


Alis Bara terangkat. "Gimana bisa? Bara kan gak pernah make uang buat hal yang gak perlu!"


Uang yang selama ini Bara hasilkan sebagian besar di sumbangkan ke panti asuhan, kemudian di tabung, selebihnya ia gunakan untuk kebutuhan yang ia perlukan. Memang beberapa kali ayahnya meminjam uang untuk investasi, tapi Bara tak pernah meminta haknya kembali. Toh, selama ini ayahnya yang menafkahinya.


Tanpa sengaja Mama Bara batuk berkali-kali tanpa bisa ditahan. Sorot cemas langsung terpancar di wajah Bara. Ibunya terus batuk dan menolak dipegang anaknya. Mengisyaratkan dia baik-baik saja. Selesai batuk, cairan kental merah menempel di tangan Mama Bara. Betap terkejutnya Bara melihat hal itu.


"Kau terlalu sibuk hingga tak pernah tahu bagaimana kondisi ibumu sebenarnya," ujar Papa Bara dingin.


"Enggak, Mama emang gak mau bikin kamu cemas" istrinya mengelak agar Bara tak merasa bersalah atas kondisi yang menimpanya.


Sudut bibir Papa Bara terangkat. Tersenyum geli atas tingka laku anggota keluarganya. "Papa gak pernah setuju kamu jadi model. Papa ingin kamu menjadi penerus perusahaan Papa. Sekarang lihat kan? Uang yang kamu hasilkan tidak seberapa, sementara Papa kewalahan mengurus perusahaan. Jika dari dulu kamu menuruti Papa, Mama kamu tidak akan seperti ini."


Kesabaran Bara menipis. Namun ia ta mau bertengkar dengan ayah di depan ibunya. Jadi, ia terus menguatkan hatinya agar ia tak berteriak.


"Terus, Papa nyalahin semua ini ke Bara?" tanya Bara serak. Dadanya terasa sesak oleh amarah yang tertahan.


"Kamu memang pantas disalahkan!"


Bentakkan ayahnya mengakhiri perjuangan Bara menahan emosi. Wajahnya memerah, nafasnya memburu. Mamanya memegang tangan Bara yang mulai terkepal kuat. "Untuk apa Bara ngikutin kemauan Papa, kalo Papa sendiri gak pernah nurutin permintaan Bara!" Cukup sudah. Semua perasaan tak bisa lagi ia tahan. Bara bangkit berdiri sembari menatap tajam ayahnya.


"Anak tidak tahu diri! Kamu pikir, Papa bakal maafin kamu setelah kamu bunuh kakak kamu sendiri?!?" ucapan Papanya begitu menusuk ke ulu hati. Luka yang selama ini tertutup rasa bersalah begitu menyakiti Bara.


Bara langsung lepas kendali, "Papa pikir kecelakaan itu ulah Bara?! Itu salah Papa sendiri karena ngebiarin Bang Noel nyetir mobil!"


Papa Bara terlihat ikut marah. Ia merasa tak pernah mengajarkan anaknya berlaku tidak sopan pada yang lebih tua, terutama ayahnya sendiri.


"Anak kep*rat! Jika bukan karena kamu, Noel gak akan jemput kamu selesai pemotretan! Profesi sial itu bikin Papa kehilangan putra kesayangan Papa!"


"Bang Noel emang selalu jadi anak emas buat Papa!"


"Papa gak pernah mengajarkan sikap kurang ajar begini!"


"Emang kapan Papa ngajarin Bara sopan santun?!"


Mama Bara berdiri di tengah-tengah untuk melerai pertengkaran antara anak dan suaminya. "Sudah-sudah, jangan bertengkar! Gak ada hasil yang bakal kalian terima lewat perdebatan ini!"


Keduanya kemudian diam. Saling menatap tajam. Perasaan mereka belum sepenuhnya lega. Sifat keras kepala keduanya hanya akan menimbulkan perselisihan tiada akhir, tenaga dan pikiran merekalah yang akan terkuras tanpa hasil.


Papa Bara berbalik, "jika memang kamu tak mau menuruti permintaan Papa. Tolong turuti permintaan Mamamu!" lalu melenggang pergi bersama sisa-sisa amarah yang masih tersimpan batinnya.


Sebelum Bara membuka mulut, menanyakan maksud ayahnya. Mamanya berujar, "Mama ingin, kamu menikah dengan anak teman Mama."


***


"Ya, lo pikir aja, masa gue nikah di usia segini?!" Bara berteriak frustasi di kamarnya. Percakapan di selingi perselisihan tadi membuatnya tak bisa bernafas tenang. Terlebih ucapan terakhir Papanya.


"Gak pa-pa kali, siapa tahu cewek yang mau dijodohin sama lo cakep!"


Jawaban Dean semakin membuat hati Bara panas. "Tampang mulu yang lo pikirin!"


"Hahahha, lumayan kan dapet istri cakep!"


Bara mendengus, "serah lo!"


Tawa Dean kembali terdengar. "Lagian, hidup lo kayak sinetron di TV-TV."


"Serius, bro. Cuma gue kan gak boleh egois, nyawa Mama gue taruhannya." Bara menghempaskan tubuhnya di ranjang. Matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Jika saja, kakak laki-lakinya masih ada di sini, mungkin dia tidak akan sehancur ini menghadapi sikap Papanya selalu menekan tanpa berpikir tentang kebahagiaannya. Jika saja, Papanya mau mengerti dan percaya Bara akan mencari uang selain dari meneruskan bisnis, mungkin Bara bisa memulihka kembali kesehatan Mamanya.


"Bara! Bara! Lo denger gue?!?!"


Harapan Bara seketika ambyar mendengar teriakan Dean. Kupingnya panas dan berdengung akibat teriakan sahabatnya itu. "Apaan sih? Nge-gas lo!"


"Abisnya lo gak dengerin gue!!" omel Dean sebal.


"Ya sorry, gue lagi mikir aja. Gimana kalo gue kerja lebih keras, misalnya gue ikut casting sinetron atau apalah gitu, supaya gue bisa dapet duit!" saran Bara pada dirinya sendiri.


"Boleh juga. Nanti gue tanya bokap gue, siapa tahu bokap lagi nyari pemain buat film barunya." Bara baru ingat kalo ayah temannya itu seorang produser sekaligus sutradara film yang cukup terkenal. Sehingga peluangnya untuk mendapat pekerjaan cukup besar.


"Thanks bro!" balas Bara sumringah. Berarti ia bisa menghindari perjodohan yang direncanakan keluarganya.


Tapi ia merasa ada sesuatu yang terlupakan. Tapi apa itu?


Suara Dean menyap gendang telinga, "lo bilang perjodohannya mau diadain besok?"


Bara menepuk dahinya. Bagaimana ia bisa lupa? Acara perjodohannya besok malam. Sedangkan Bara belum menemukan alasan untuk menolak perjodohan itu. "Terus, gimana caranya gue nolaknya?"


"Gue pikir, lo harus nyari cewek kaya yang mau pura-pura jadi pacar lo!"


"Hah?" Bara tidak mnegerti rencana yang diungkapkan Dean.


"Bokap lo jodohin lo cuma karena uang 'kan? Ya, lo harus cari cewek yang punya latar belakang kaya, supaya perjodohan lo batal." Bara memikirkan saran Dean. Benar juga, jika ayahnya sudah percaya cewek yang berperan sebagai pacarnya itu kaya, maka Bara tinggal mencari uang lebih giat untuk pemgobatan ibunya.


"Masalahnya, gue gak suka cewek kegatelan! Lo tau kan, gue itu model yang digilai para gadis hingga janda?" ujar Bara diakhiri kesombongan.


Dean terdengar mendengus. Sudah dibantu masih banyak maunya, ditambah sombong pula. Kembali otaknya berpikir. Ia rasa, memang benar perkataan Bara. Hingga satu ide terlintas di otaknya. "Gimana kalo gue pura-pura jadi cewek lo?"


"Lo gila apa?! Meski cuma fake, gue juga pilih-pilih kali!!" tolak Bara tak terima. Bisa-bisanya Dean berpikir seperti itu.


Ting! Bagai sebuah lampu kuning menyala di samping kepalanya, Bara mendapat sebuah pencerahan. "Gue tahu satu cewek yang gak tergila-gila sama gue..."


"Serius? Ternyata Bara masih kurang terkenal di pulau Jawa" komentar Dean seraya terkekeh.


"S*alan lo!"