
"Kalian baik-baik aja? Kok lesu? Gak tidur ya? Kalo BN harusnya kalian minta obat nyamuk ke gue" Rekkal mengoles selai coklat ke rotinya. Dengan getir ia menatap silih berganti pada Akilla dan Bara yang duduk berdampingan namun saling berdampingan. Maklum, kursi makan cuma ada empat, dan meja merapat ke tembok jadi tak ada celah bagi mereka untuk lebih jauh lagi. Pipi merah yang terus bersinar nampak kontras dibanding kantung mata besar yang kelam.
Mata sayu Akilla nampak digeluyuti kantung hitam, "gak, gak banyak nyamuk kok. Kita cuma..." ia menjeda perkataannya seolah mencari kalimat alasan yang beterbangan di udara, sementara Bara menahan meronanya pipi, menutupnya dengan tatapam sebal. Tanpa ada yang tahu, ia menahan ngilu di bagian tulang ekornya, untuk duduk pun ia cukup kesulitan.
Rekkal menuntut lewat tatapannya. Beberapa detik kemudian dia menjentikkan jari, "oh gue tau.." Akilla tersenyum lemah, baguslah dia tak perlu menjelaskan detail kemarin malam. "...ya biasalah, suami istri malem-malem gak tidur. Ibadah."
Penuturan demikian membelalakkan mata Bara dan Akilla. "Bukan! K-kita gak ngelakuin itu kok!" sahut mereka kompak. Rekkal tertawa meskipun mulutnya penuh dengan gigitan roti. "Kalian kayak remaja SMA yang ketahuan udah muah-muah hahahah."
Kedua meringis pelan. Mereka tahu itu sekedar jokes, tapi...kenyataannya memang begitu. Mereka memang anak SMA yang gak sengaja melakukan ciuman pertama. Mengingatnya saja sudah bikin bulu kuduk berdiri.
Badan Bara beranjak, tangannya berniat menggapai toples berisi selai coklat di samping Rekkal, ia merasa segan jika harus meminta bantuan adik kelasnya itu. Belum sempat jemarinya mendapati yang diinginkannya, sebuah rasa nyeri menyerangnya di bagian pinggang kanan. "Aduh.." ringisnya tanpa sadar.
"Eh lu gak papa?" tanya Rekkal kaget. Bara kembali duduk, melupakan tulang ekornya yang sama sakitnya dengan kondisi pinggangnya, ia mengaduh lagi. "Iya gue... gak papa, cuma jatoh dari ranjang" terang Bara mengusap-usap rasa sakitnya, sesekali ia melirik kesal Akilla. Bayangannya tentang kejadian semalam terbesit di pikirannya. Begitu bagian wajah kenyal itu bertumbuk, tangan ramping Akilla melayang, mencetak guratan merah di pipi mulus Bara. Tak mempersiapkan antisipasi dari kejadian tersebut, tanpa beban badannya terjungkal ke samping. Yang mengenaskan adalah, pinggang kanannya berpapasan dengan ujung nakas yang tumpul namun mampu menimbulkan damage yang begitu besar.
Tatapan Rekkal semakin menjadi-jadi. Mata Akilla spontan melotot atas picinnya Bara mengucapkan sesuatu. "Gue tahu kalo Akilla emang kasar, tapi gue baru tahu kalo dia di ra–"
"Istri lo sama anak lo kemana? Kok gak keliatan?" sahut Bara cepat-cepat memenggal kalimat Rekkal yang semakin lama pikirannya terbawa arus kesalahpahaman.
Untungnya pria itu bisa dikecoh, menjawab sambil memasukan gigitan roti ke-tiga. "Lea lagi ke posyandu, oh ya, dia udah siapin baju ganti buat kalian di sofa" Rekkal berdiri, menggendong tas hitam besar berisi gitar kesayangannya di pojok ruangan. "Di sini kamar mandinya cuma satu, kalian pake giliran, ya, gue harus kerja sekarang. Anggap aja rumah sendiri. Jagain rumah ya, jangan SI!!" (Sampe Ilang)
"Iya, rumah lo gak akan ilang kok. Palingan hancur lebur aja" Akilla ikut berdiri ketika Rekkal tergesa-gesa keluar rumah. Suara pintu tertutup menyisakan senyuman samar di wajah Akilla.
Suasana yang semula hening diruntuhkan oleh suara televisi yang menggema di ruang tamu. Loh? Siapa yang nyalain? Perasaan Bara..–melirik ke kursi makan Bara– tidak ada di sana. Berarti memang pria itu yang mengusik ketenangan rumah itu. Untung mereka sarapan roti saja, jadi Akilla hanya mencuci beberapa piring yang masih nampak bersih dan perkakas kecil lain dengan sangat cepat. Dasar ya, anak manja. Bisa-bisanya Bara membiarkannya membereskan semua itu sendiri, meski total tugas hanya sedikit, harusnya pria itu cukup tahu malu sebab mereka tengah menumpang di rumah temannya.
Cuci piring dilewati dengan rutukan juga omelan yang tak bersuara dari mulut Akilla. Dari dapur, ia dapat mendengar samar-samar acara berita yang tengah ditonton Bara. Semula ia mendengus sebal, berita atau lebih tepatnya gosip langgangan ibu-ibu kini menyapa pendengarannya. Tak bisa dipercaya, badan kokoh Bara membohongi kelaziman bagi para pria selevelnya. Apakah selama ini, pria yang memiliki tahi lalat di bawah sudut matanya itu lebih menyukai berita gosip ketimbang film aksi atau pun chanel edukasi? Walau tayangan rumpi mengenai kehidupan selebriti yang penuh drama itu lebih tinggi sedikit ketimbang sinetron yang digarap asal-asalan.
"Suami macem apa lu yang biarin istri lu cuci piring sendiri?" omel Akilla keras-keras supaya Bara mendengarnya dari jarak sekitar 2 meter.
Dari sofa Bara memakan keripik keju dari toples sedang dipangkuannya. Seolah-olah bangunan sederhana yang menyejukkan hati ini adalah rumahnya sendiri. Tanpa menoleh, dia menyahut, "jadi lo ngarepin gue peluk lo dari belakang, terus nyimpen dagu gue di bahu lo habis itu kita saling nyipratin air cucian pir–"
Cerocosan yang identik dengan kepribadian Akilla langsung terpotong oleh sang empu kecerewetan. "Ngarep lu!"
"Yaudah, diem! Nyuci piring yang bener, jangan sampe pecah, punya orang itu."
Berakhir dengan dengusan.
–\=mantan aktor sekaligus model Bara Haryata terciduk sedang menghabiskan waktu bersama seorang wanita di Alun-Alun. Nampak pula pria lain yang menghampiri mereka. Setelah sang istri melahirkan anak pertama merema, Bara digosipkan dekat dengan seorang aktris cantik Yura yang ternyata teman saat SMA...\=–
Piring kaca itu seketika lepas dari genggaman Akilla kala ia mendengar laporan berita. Wajahnya pucat pasi. Tatapannya kosong. Tak kalah berbeda dari air muka Bara.
Perlahan keduanya melirik satu sama lain.
"LU NGEHAMILIN GUE?!"
"LU HAMILIN ANAK SAPE?!"
Keduanya serempak berteriak dengan jarak berjauhan. Melempar pandangan tak percaya.
Suasana yang tak bisa digambarkan oleh susuna kata. Keduanya tak bergeming dalam atmosfer aneh itu.
-\=Wah wah, semoga apa yang tertangkap kamera ini cuma salah paham ya? Padahal kemarin-kemarin keliatan harmonis banget. Bara yang awalnya model, masuk dunia akting karena terlibat cinlok sama Akilla, terus sekarang Bara berhenti setelah 5 tahun berkarya, meneruskan perusahaan ayahnya karena ingin sang putra...\=-
Ketimbang terus melanjutkan tatapan tak percaya, Akilla memilih membereskan pecahan piring yang tak sengaja ia jatuhkan. Padahal ia hanya menumpang, tapi sudah berani menghancurkan satu barang, meski tidak begitu berharga, ia tetap merasa tidak enak. Sementara Bara mengusap rambutnya ke belakang, frustasi akan hidupnya yang serasa ikut hancur bersama piring putih yang kini dipunguti oleh sang pembuat ulah itu sendiri.
Akilla cepat-cepat menarik tangannya sembari meringis pelan saat cairan merah mulai merembes keluar dari ujung jari telunjuknya.
Seketika Bara menoleh, segera menghampiri Akilla, tak lupa berjalan memutar agar bisa melewati pecahan kaca, sebab di rumah ini semua orang bertelanjang kaki. Berbeda jika di rumahnya. Memang tak nyaman, tapi ia harus menghormati tuan rumah beserta kepunyaannya.
Ia ikut berjongkok, menyesuaikan tingginya dengan Akilla. "Gue bilang hati-hati, lu budeg ya? Nurut apa kata suami. Sebagai hukuman, angkat tangan lo ke atas!"
Melihat wajah muram Akilla menggerakkan Bara supaya menggantikannya memungut kepingan kaca pecah yang tidak terlalu hancur. Bibir Akilla tertutup rapat. Bukan keinginan hatinya menjatuhkan piring lalu Tangannya melaksakan hukuman yang baru saja didapatnya. Meski alasan dibalik tangan terangkat itu konyol, dirinya lebih konyol karena menuruti perintah Bara.
Bara yang awalnya berusaha fokus menahan tawa berhasil menjahili gadis cerewet itu, saat matanya tak kuasa ingin menyaksikan wajah suram Akilla, tawanya seketika pecah. Menimbulkan tanda tanya mendalam di benak Akilla.
"Sebenarnya itu buat berhentiin pendarahannya, bukan hukuman hahha" tangan Bara yang menunjuk lengan langsung terkena cubitan kesal dari korban kejahilan. "Aduh! Maap! Maap!"
"Gue setengah jam teriak di depan rumah orang sambil gendong bayi, kalian di sini enak-enakan berdua bucin-bucinan?!"
Suara pintu terbuka diiringi teriakan sebal seseorang mengalihkan suasana. Pria berambut coklat muda berantakan itu mengerutu menatap dua orang yang berjongkok dengan ekpresi melongo seolah memenangkan lotre besar, sembari satu tangan menggendong bayi, yang satu lagi menggenggam erat gadis kecil bermata besar yang sibuk menjilati permen kaki.
"DEAN LU SEKARANG JADI PEDO?"