
"Bara, ini naskahnya. Kamu bisa latihan 10 menit," ujar Om Panji mengarahkan. Bara hanya mengangguk linglung. Ia tak mengerti pada nasibnya sekarang. Bagaimana bisa, dunia model yang dulu ditentang ayahnya kini malah berpindah ke dunia perfilman. Bahkan ibunya sendiri yang menjadi manajernya. Ayahnya pun adem-adem aja, tak ada amarah atau perasaan kesal saat ia berangkat.
Seperti yang dibilang Mamanya sehabis sarapan, mereka berangkat ke lokasi syuting di salah satu kafe cukup terkenal di Bandung. Ia sendiri bingung akan profesinya sebagai aktor. Beberapa penghargaan yang terdapat di rumahnya membuktikan, ia benar-benar serius meniti karir di dunia perfilman. Dalam waktu 4 tahun, satu gelar pemeran utama terbaik, dan 3 pemeran pendamping paling populer pendatang baru terpajang rapih di lemari ruang tamu.
Dibacanya buku naskah yang cukup tebal. Diceritakan Bara harus meminta maaf kepada lawan mainnya sebab ia berselingkuh. Setelah permintaan maaf, tak ada dialog lain, pemeran utama mendominasi di scene ini. Hatinya gentar, dikondisinya sekarang, tak ada pengalaman apapun dalam berakting. Mau tak mau, harus ia lakukan. Produksi film hampir usai, sudah mencapai puncak klimaks. Namun itu tantangan sangat berat baginya, di sana emosi harus meledak-ledak agar bisa menyentuh hati para penonton.
Bara menyiapkan suaranya. Menghafal saru baris kalimat, meneguhkan hatinya terlebih dahulu.
"Aku.. aku minta maaf.." ujarnya bersuara rendah. "Ah, terlalu lembek" komentarnya sendiri. Mengerutkan dahinya, mendramatisir aktingnya, tangannya sedikit terangkat seperti orang yang membaca puisi. "Aku... Aku minta maaf!" bentaknya menaikkan volume suara, kameraman pun sempat tersentak, kemudian memakluminya.
"Minta maaf apa ngajak berantem?" timbul suara khas seorang cewek membuyarkan fokusnya. Akilla datang memakai kemeja hitam dengan gulungan kertas di tangannya.
Bara menoleh, kemudian berdehem canggung. "Gue cuma mendalami peran."
Akilla tersenyum sinis, lalu duduk di bangku sebelahnya. "Mau gue bantuin? Gini-gini, gue pernah ikutan opera" tawar Akilla sedikit sombong. Ya, dia pernah ikutan. Waktu perpisahan saat lulus SMP.
"Palingan, peran jadi pohon" remeh Bara tak percaya. Wajah Akilla memang kurang meyakinkan.
"Enak aja, peran gue jadi Dayang Sumbi di cerita Gatot Kaca!" pembelaan yang dilakukannya malah mengundang tawa Bara. "Kalo mau bo'ong, pinteran dikit. Mana ada Dayang Sumbi di cerita Gatot Kaca!" Gadis di sebelahnya merona menahan malu, "t-terus dicerita apa?"
"Danau Toba."
Kali ini Akilla yang tertawa terbahak-bahak. Memegang perut lalu menepuk lututnya sendiri, terlalu keras tertawa. "Begonya gak intro! Jangan menghina sesama ****-lers! Hahahahah." Bara pun ikut tertawa, menertawakan kebodohan mereka.
"Dayang Sumbi 'kan di cerita Pinokio!" Akilla langsung menghentikan tawanya, tatapnya menatap Bara dingin. "Tololnya sampe ke urat-urat" gumamnya tak habis pikir, walau ia kembali menertawakan Bara, yang orangnya sendiri masih kebingungan kenapa ia tertawa.
Tawa itu akhirnya terhenti ketika Om Panji datang, mengabarkan bahwa syuting akan segera dimulai.
Perasaan cemas kembali menghampiri Bara. Padahal dia baru membaca satu kalimat dari 5 dialog yang harus ia lafalkan. Bara pergi tanpa pamit menuju kursi dekat jendela besar yang mengarah ke jalanan.
"Barbar! Bentar, sini!" panggil Akilla sebelum Bara pergi terlalu jauh.
"Lo gak pamit sama gue?!" teriaknya menyatukan alis tampak marah. Kedua tangannya disimpan di pinggang.
Bara menatapnya bingung, "elah, cuma pergi ke sini!" balasnya berteriak.
"Gak! Minta maaf sekarang! Kalo gak–"
"Akilla, sini! Kamu pantau letak kamera, jangan diem di situ mulu!" omel Om Panji yang sibuk mengecek pencahayaan agar sesuai dan terlihat natural.
Gadis itu tak melanjutkan pembicaraan, jari telunjuk serta jari tengahnya mengarah pada kedua matanya sendiri lalu diarahkan ke Bara. Seolah-olah ia akan mengawasi setiap gerakan pria itu.
Sebelum memulai proses syuting, kru yang bertugas menyiapkan penampilan Bara membenahi riasannya agar tampak segar namun alami tak dibuat-buat. Semua orang di sana nampak sudah siap menjalankan tugas mereka. Om Panji berbicara lewat pengeras suara, mengecek semua persiapan, agar tak ada masalah saat pengambilan gambar.
Mata Bara terpejam mengingat dialog yang terus dibacanya, mencoba mengingat semua itu dalam hitungan detik.
Pikirannya malah melayang mengingat kekesalan Akilla, masalah ia tidak pamit padanya. Memangnya, apa yang salah? Dia juga kan berada di lokasi yang sama. Haruskah dia pamit? Agaknya, pekerjaan mendadak ini membuat pikirannya buntu dan sedikit terguncang. Sehingga sangat sensitif sekali terhadap hal-hal remeh.
Kebingungannya Bara menyembunyikan detak jantung yang sempat berdebar kencang.
Dalam kertas skenario menyebutkan, ia harus duduk di kursi yang telah disiapkan. Di sana, beberapa penata rias mengerumuni seorang wanita cantik nan anggun–terlihat saat Om Panji mengumumkan semua bersiap ditempat. Kerumunan itu membubarkan diri, menyisakan wanita berambut gelombang indah yang juga menyempatkan diri melafalkan dialognya.
Pikiran Bara tak berada di tubuhnya. Hingga ia duduk, kepalanya menunduk bersama tatapan kosong penuh penyesalan. Hatinya tiba-tiba merasa bersalah. Pekerjaan ini berat karena datang tanpa aba-aba, meski begitu, Bara setidaknya bisa mengatasinya. Pekerjaannya sebagai model ampuh menghilangkan penyakit demam kamera yang sering menganggu orang yang tak terbiasa berhadapan langsung dengan kamera. Namun tugas Akilla menurutnya sangat berat. Ilmu perfilman pasti sangat sedikit diketahuinya. Ia yakin Om Panji pernah mengajarinya sesuatu mengenai film, tetapi, Akilla pasti belum ahli dalam hal itu.
"Action!"
Pikirannya buyar. Bara tak tahu apa yang harus ia lakukan. Hal yang pertama diatasi adalah, keterkejutan tadi, untungnya dapat disembunyikan dengan mudah.
Wanita berpipi tirus itu memperlihatkan raut kesal padanya. Entah bagaimana caranya, hidung mancung itu berubah menjadi hidung kecil pas-pasan, bibir tebal seksi beralih menjadi bibir tipis kecil merona, pipi tirus berlesung pipit berevolusi jadi pipi cubby. Singkatnya, lawan main di hadapannya itu seolah bertukar tubuh menjadi Akilla.
Bara menggigit bibir bawahnya, canggung. "Maaf..." katanya lirih. Sungguh, perasaannya tak enak sekali. Rasa bersalah muncul begitu saja.
"Maaf, gue gak ada maksud buat–" rangkaian kata Bara disela seketika, "pikiran lo dimana? Lo tahu yang kamu lakuin itu salah?" Akilla meninggi volumenya, sorot mata marah dan kekecewaan menusuk hati Bara. Bara memandangnya dalam-dalam. Tak ada mata sebal yang tak begitu serius yang sering dilihatnya.
Masalah pamit doang kok rumit banget? Pikir Bara aneh. "Emangnya kenapa? Perihal gitu doang diributin?!" bentaknya menahan amarah. Ia tak bermaksud begitu, hanya saja, perasaan bersalah ternyata sangat membebaninya.
Sementara Bara merasa sesak, perasaan campur aduk di dadanya, Om Panji berdecak kagum menyaksikan pertarungan emosi itu. Begitupun Akilla asli yang berada di sisi pamannya. Bakat Bara memang tak bisa diragukan. Pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padanya. Akilla mengakui hal itu. Hanya saja, kepercayaan tinggi mengubur semua kekagumannya.
Yura–yang lawan main Bara terkejut. Improvisasi Bara sangat rapi dan lebih berkesan ketimbang skenario yang asli. Pria itu ternyata banyak berubah semenjak kelulusan SMA dulu. Tak mau kalah, ia pun ikut berimprovisasi namun tak begitu melenceng dari dialog seharusnya.
"Gitu doang? Gitu doang kata lo?! Pikiran lo dimana sih? Kalo gitu kita putus aja!" bentaknya seraya berdiri. Menghela nafas sejenak. Memandang Bara dari sudut mata, pria itu pucat pasi, begitu natural dan mengagumkan. Berikutnya, ia melenggang pergi dengan perasaan puas.
"Cut! Cut!" Om Panji berteriak senang. "Baiklah, syuting hari ini selesai! Kalian semua telah bekerja keras, sampai jumpa besok!" tepuk tangan riuh memenuhi ruangan itu.
Bara yang masih merenung sontak terperanjat merasakan tepukan di ubun-ubunnya. "Kerja bagus!" puji tulus Akilla sambil mengulum senyum.
"Kerja bagus?" kerutan dahi menyiratkan kebingungan Bara. Perasaannya, dia tak melakukan apa-apa. Dia hanya meminta maaf pada Akilla karena.... Tunggu, Akilla yang dihadapannya sekarang memakai kemeja hitam persis seperti yang dilihatnya sebelum syuting. Namun, Akilla yang duduk satu menit lalu berpakaian modis dan glamor.
Tiba-tiba ia merasakan pipinya panas. Tetapi, ia sembunyikan. "Iya dong, gue emang bakat dari dulu" Akilla menatapnya sinis. Bara bangkit dari kursi, berdehem canggung, "kalo gitu, gue... ke toilet dulu" pamitnya yang dibalas anggukan.
Kepergian canggung Bara membuat Akilla terkekeh. Untung saja, ia marah-marah tadi sehingga Bara bisa mendalami perannya. Jika tidak, habislah riwayat mereka.