
Setelah kejadian di koridor tadi siang, Akilla semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
Pria tidak jelas itu tiba-tiba berfoto bersama tanpa izin dari pemilik ponsel. Lalu tanpa alasan jelas, meminta foto itu dihapus. Adakah orang yang lebih random darinya?
Perjalanan pulang menuju rumahnya, Akilla tak kunjung menemukan jawaban. Saking asyiknya melamun, ia tak menyadari ponselnya terus berdering, Akilla celingukan mencari sumber suara itu. Ia mengutuk kebodohannya sendiri saat menemukan handphone miliknya sedang berteriak memberitahu ada yang menelfonnya.
Layar ponselnya menampilkan nomor tidak dikenal. Tanpa curiga Akilla menerima panggilan itu. Siapa tahu ada kabar penting?
"Halo? Siapa ya?" tanya Akilla.
"Halo, ini Malika?" pria di seberang sana malah bertanya balik.
Akilla menjauhkan ponselnya, menatap bingung layar yang terus mengeluarkan pertanyaan yang sama.
"Salah sambung kali Mas. Saya Akilla, ya kali nama saya Malika. Dikata kecap manis apa!"
"Nah iya, Akilla. Nama lo susah amat!" balasnya lagi. Tanda tanya dalam otak Akilla semakin membesar. Siapakah gerangan orang yang menelfonnya tak jelas seperti ini?
Tunggu, hanya ada satu kemungkinan yang berkaitan erat dengan kata "gak jelas" ini. Akilla menepis pikiranya, mana mungkin pria itu menelfonnya. Dapat dari mana nomor ponselnya.
Kecuali jika Lea memberikannya pada cowok itu. Secara, sahabatnya itu amat menyukai pria bertubuh semampai itu.
Akilla kembali menggeleng, membuang kemungkinan yang terjadi. Lagi pula dari mana pria itu mendapatkan nomor ponsel Lea? Sedangkan Lea hanya mempunyai 5 kontak di ponselnya, ia, Dion, Rekkal, serta ibunya. Sebentar, itu baru 4, satu lagi siapa?
"Lo, cowok di kantin... tadi?" tanya Akilla ragu-ragu.
"Tumben lo inget."
APAA?!?!! Akilla memekik dalam hati. Bagaimana mungkin?
"Lo dapet nomor gue dari mana?! Lo stalker ya?? Atau hacker? Gila ya lo, saking ngebetnya sama gue, lo sampe tau nomor hape gue. Udah minta foto bareng tanpa minta izin, terus narik gue di koridor supaya bisa berduaan sama gue, sekarang lo mau PDKT-in gue?!"
"Dih! Siapa yang mau PDKT sama lo? Babon di kebun binatang juga mikir seribu kali buat ngajak ngobrol lo!" sarkas pria itu.
Akilla mencebik kesal. "Iya, babonnya kan elo!"
"Serah lo! Gue mau ngomong serius sama lo" nada bicara Bara langsung serius.
"Bentar, gue tau nama lo aja enggak. Tiba-tiba mau diseriusin, lo pikir gue cewek murahan!" Akilla berkata tidak selow.
"Bukan serius kek gitu, Junaedi. Susah ngomong sama orang yang otaknya gak pernah di-upgrade." Akilla langsung mendengus. Bisa-bisanya pria di seberang sana mengata-ngatainya, bagaimana pun ia cewek. Tak bisa dikasari seperti itu.
Akilla diam sejenak. "Kok lo diem? Gue gak nyuruh lo diem kayak tadi siang," Bara berkata heran.
"Kalo mau ngomong serius, tinggal ngomong aja. Gue sibuk!" Akilla terlanjur malas meladeni omongan Bara.
"Gue mau ketemu lo, 1 jam dari sekarang. Gak ada penolakan! Nanti gue share location."
Tut!
Akilla melanjutkan perjalanan pulangnya sembari mempertimbangkan keputusannya untuk menemui Bara atau tidak.
Tepat satu jam berikutnya, Akilla pergi menemui pria tidak jelas yang berhasil membuatnya jengkel hanya dalam waktu satu hari.
Mata Akilla terus berkeliling mencari sosok pria yang merepotkannya. Namun hasilnya nihil. Akilla malas mencarinya lagi. Ia pun duduk lalu memesan bubble green tea kesukaannya.
"Gue cari-cariin ternyata lo di sini!" suara bas milik seseorang mengagetkan Akilla.
Pria itu langsung duduk di depannya, lalu memesan segelas americano.
"Jadi lo yang nelfon gue? Sorry ya, gue gak kenal siapa lo sebenarnya. Gue dateng ke sini karna gue pingin, bukan karna lo nyuruh gue–" mulut Akilla tersumbat tisu yang sengaja Bara sumpal agar gadis itu berhenti mengoceh.
Bara menghebuskan nafasnya. Menelan salivanya dengan susah payah. Ia tak percaya akan mengatakan sesuatu yang pastinya menghacurkan martabatnya.
"Gini, gue mau nawarin lo, pura-pura jadi pacar gue..." ujar Bara pelan-pelan.
Namun Akilla terlalu cepat bereaksi, ia menggebrak meja seraya berteriak, "lo pikir gue cewek apaan?" beberapa orang melirik meja mereka, bertanya apa yang sedang terjadi sehingga menimbulkan kegaduhan. Bahkan waiters pengantar pesanan pun terkejut, tak berani berkutik di sebelah Bara.
Bara menutup wajahnya, bisa-bisa tercemar nama baiknya gara-gara cewek ini membentaknya.
Akilla menenangkan dirinya. Kembali duduk menunggu waiters itu menyajikan pesanan, kemudian menyesap minumannya penuh nikmat seolah tak pernah membuat kegaduhan.
Sementara cowok di depannya hanya bisa melongo melihat perubahan suasana hati Akilla yang begitu cepat berubah. Berdehem pelan, Bara melanjutkan ucapannya, "lo tahu kan, cewek-cewek di sekolah suka sama gue. Bisa-bisa mereka baper kalo gue nawarin ini. Pilihan satu-satunya gue cuma lo!"
Memang benar, pesona Bara tak bisa ditolak sama sekali oleh kaum hawa. Buktinya, dari tadi ada saja orang yang teus curi-curi pandang ke arahnya. Sayangnya, Akilla tidak termasuk kategori itu. Karena alasan itu pula, Bara memilih Akilla menjadi kekasih palsunya.
"Terus, kalo gue bantu lo, lo mau ngasih apa ke gue?" tanya Akilla mulai serius.
"Lo bisa makan gratis, jalan-jalan gratis. Yang paling penting, semua itu dilakuin bareng gue!" jelas Bara penuh percaya diri. Tangannya menyisir rambut hitam kebanggaannya. Para wanita pasti langsung meleleh.
Merasa tak tergiur imbalan yang ia tawarkan, Bara kembali berdehem, ternyata memang gadis di depannya ini tidak bisa menerima pesonanya. "Gue bisa bayar lo, sebutin aja angka berapa" ucapnya tak peduli. Dalam hatinya ia khawatir cewek itu akan meminta uang yang sangat besar.
Akilla terus menenggak bubble green teanya, hingga tersisa setengah. "Lo pikir, gue bakal terpesona sama lo? Terus tertarik sama duit yang lo kasih?" tanya Akilla datar. Bara langsung mengangguk percaya diri, tangannya terlipat depan dada seolah situasi berada di bawah kendalinya.
"Gak, gue gak tergoda."
Untuk kesekian kalinya, Bara menyimpulkan Akilla adalah gadis paling aneh di muka bumi atau mungkin galaksi Bimasakti. Materi tidak suka. Fisik apalagi. Hmm, apa ada hal lain yang ia suka? "Terus lo mau apa?" tanyanya hampir putus asa.
"Gue cuma butuh aktor buat film perdana gue. Dan lo kayaknya cocok," Akilla kembali minum, kali ini hingga tak tersisa. Berbanding balik dengan cangkir Bara yang belum tersentuh.
Sungguh. Aneh. Dua kalimat itu belum bisa menggambarkan pendapat Bara tentang gadis di depannya. "Gue bisa jadi aktor lo, asal lo mau jadi pacar pura-pura gue!" tegas Bara pada akhirnya. Dibayar murah pun tak apa, asal ia bebas dari permintaan keluarganya.
"Mending gue cari aktor lain ketimbang sama lo. Udah sombong, gaje parah, minta pura-pura jadi pacar lo lagi. Sorry gue gak tertarik!" Akilla bangkit berdiri meninggalkan Bara yang merasa tertohok oleh ucapannya.
Jadi, dirinya di tolak? "Dasar cewek gila!"