Now Or Soon U Mine!

Now Or Soon U Mine!
15. Don't Gone



"Eh? Gak bisa gitu dong Bang!" Bara melayangkan protes.


Namun, aura ruangan itu mendadak berubah drastis. Kekehan dan tawa menguap begitu saja. Tn Haryata bertindak aneh, kemudian menjalar ke anggota keluarga lain kecuali Bara dan Akilla sendiri. "Ha–a–p–pa? B–b–be–ja–ko–arn–" suara-suara aneh seolah terpotong lalu disusun secara acak. Tubuh mereka bertiga pun ikut mengalami hal ganjil, memudar, menghilang sebagian, berwarna pucat, terus saling bergantian lebih cepat sekedar berkedip.


Bara dan Akilla saling berpandangan kaget. Beringsut menjauhi meja makan, "me-mereka kenapa?" tanya Akilla terlontar sia-sia. Suaminya pun tak tahu apa yang tengah terjadi.


Seakan kejadian tadi tak cukup menakuti keduanya, keanehan itu menjalar lebih luas. Tembok-tembok bergoncang tanpa suara, benda mati di sekeliling mereka ikut berubah bentuk dalam hitungan detik.


Lutut Akilla gemetar sampai-sampai ia tak bisa menahan bobot tubuhnya sendiri. Kalau saja Bara tak menangkap bahunya, ia pasti sudah ambruk tak sadarkan diri. Dikeadaan seperti itu, tak ada yang bisa Bara lakukan. Jangankan menghibur atau mencemooh tipisnya keberanian Akilla seperti yang biasanya, ia sendiri ikut merasakan ketakutan luar biasa yang sama, meski gengsinya bisa menutupi wajah merah menahan tangisnya.


Beda halnya dengan Bara yang bisa menyembunyikan sosok pengecutnya, tangis Akilla pecah secara perlahan. Badan gemetar hebat, gigi bergemeletuk merinding, Akilla hanya bisa memberikan sebagian besar beban tubuhnya pada Bara yang terus menggigit bibir cemas.


Goncangan bumi yang terus menguat membuat Bara dan Akilla mual, seolah dikocok dalam sebuah toples, wajah mereka lebih dari sekedar pucat pasi. Tak bisa dicegah, Akilla melingkarkan tanganya pada pinggang Bara. Sejenak melupakan akal sehat yang ia punya sejak lahir. Sekian detik terlewatkan, kejadian mengerikan mencapai puncaknya, diakhiri ledakan memekakkan telinga. Cahaya menyilaukan mata itu menyebar keseluruh pelosok rumah megah milik keluarga Haryata.


Hening. Laksana semesta sedang bermain-main. Kedua orang itu masih merekatkan kelopak mereka rapat-rapat. Kondisi terlalu sunyi, bahkan suara angin bertiup pun tak terdengar.


Mereka membuka mata perlahan. Debar jantung rasanya masih ikut bergoncang. Berakhirkah? Apa semuanya telah berakhir?


"Ehem! Eh.. kayaknya kita belum muhrim?" Bara menggaruk kepalanya menggunakan telunjuk, wajahnya sedikit bersemu merah.


Kesalahn yang tak bisa dimaafkan, termasuk maaf dari dirinya sendiri. Akilla melompat menjauh, wajahnya begitu abnormal hanya untuk terkejut. Lebih ke ngeri dan merinding. Kaki tertekuk. Akilla menutupi wajahnya yang terasa membara sambil berjongkok. Ah, ia harus mencari toples bekas rengginang, itu satu-satunya tempat dimana wajahnya bisa ditarus setelah kejadian memalukan ini.


Air muka Akilla yang mengerikan tadi sedikit mencoreng harga dirinya, Bara mencolek bahu Akilla yang tengah memunggunginya. Gadis itu hanya mengibaskan tangan, menyuruhnya menjauh. Mungkin ia butuh sedikit waktu untuk menenangkan rasa malu yang menggunung itu.


"Kalo lo malu, gue bisa lupain kejadian itu. Tapi sekarang bukan ini prioritasnya, bisa gak lo liat ke arah sini?" ujar Bara mulai santai. Ia akui, insiden hebat tadi juga menghilangkan sebagian besar kewarasaanya, tapi apa yang tengah ia lihat semakin menyusutkan kewarasaanya.


Ragu-ragu Akilla menoleh, takut jika Bara sengaja memancing agar bisa melihat wajahnya yang tampak seperti Cepot, salah satu tokoh wayang Sunda yang terkenal dengan kulit merahnya. Bukan ekspresi ketakutan, juga rasa malu yang bersarang di wajahnya, melainkan kekaguman akan sesuatu yang indah mengalihkan semua fokusnya.


Latar putih sejauh mata memandang, mulai terisi kembali oleh warna-warna kehidupan yang beragam dan terhias sempurna. Langit-langit yang kosong perlahan memunculkan warna asli mereka, biru gelap tanpa kabut persis seperti cakrawala yang mereka lihat terakhir kali sebelum kejadian tadi.  Titik-titik kecil kemudian hidup seolah ada saklar yang membuat mereka bermunculan di angkasa.


Gedung-gedung pencakar langit tumbuh dari tanah di sekitar mereka laksana pohon kacang ajaib di negeri dongeng. Secara kompak, jendela kotak-kotak dari jauh mulai memancarkan sinar lampu.


"Demi apapun... gue gak pernah ngerasa di masukin ke neraka jahanam, terus diangkat ke syurga firdaus.. TADI ITU KEREN BANGET GAK SIH?!?" desisan Akilla berubah jadi teriakan mega yang cetar membaha di keramaian kota. Jalanan yang tercipta seperti kue gulung yang terlepas kembali mulai dipadati kendaran dengan beragam jumlah roda.


Ini terlalu aneh, abnormal, ajaib, semua insiden tadi benar-benar di luar nalarnya. Bara masih mematung di trotoar yang dihiasi batu bulat besar yang berjajar rapi laksana tahu bulat raksasa. Tiang lampu dan kursi umum bergaya klasik penuh mode, sepaket dengan orang-orang yang bercengkrama bersama teman-teman mau pun pacar. Suasana riuh khas kota di malam hari ini begitu familiar dan terlalu normal. Bara tak menghiraukan Akilla yang berlari ke sana kemari menyapa para pengamen jalanan yang memakai kostum hantu maupun tokoh kartun di sepanjang trotoar yang selalu sukses menjadi daya tarik wisatawan yang sedang berkunjung ke Bandung.


Tak kalah menarik, masjid kokoh yang agung berada di jarak 20 meter di depannya. Kubah-kubah putih yang memancarkan sinar terangnya hingga sampai ke ujung lapangan luas berumput sintetis di depannya. "Alun-alun? Kok tiba-tiba?"


Obrolan tak jelas dan suara mesin kendaraan yang saling bersahutan semakin lama semakin riuh. Tidak, keramaian ini berbeda dengan keramaian yang beberaoa menit ia rasakan.


"Wah ada apaan tuh?" samar-samar ia mendengar percakapan di belakanganya.


"Gak tahu tuh, tapi kok pada kumpul di tengah jalan?" balas temannya bertanya.


"Cepet panggil ambulan! Biar mbak ini bisa cepet ditangani!!" teriak seseorang di tengah kerumunan yang semakin bergerombol.


Deg!


Mata Bara terbelalak. Matanya memandabg ke sekeliling, mencari sesuatu yang dirasa hilang tanpa jejak. Tubuhnya berputar seperti pikirannya yang berputar kalut. Nafasnya mulai terengah-engah, suasana semakin bising dan memuakkan. Bara menekan telinganya penuh tekanan.


Tanpa ragu atau berpikir lebih lanjut, Bara tergesa-gesa berlari ke arah gerombolan orang asing yang tengah gusar menunggu ambulan.


"Lo mau kemana?!"


Kaki Bara spontan mengerem. Jantungnya seolah mau meloncat keluar dari dadanya. Menoleh cepat, ia menemukan seseorang yang hamoir saja berhasil meledakkan seluruh tubuhnya. Ia kira, ia akan ditinggalkan oleh lebih banyak orang.


Bara kembali berlari, namun ke arah yang berbeda. Kecepatannya kian bertambah kala jaraknya dengan Akilla kian menipis. Jaran 10 meter itu terasa lebih jauh dari yang dirasakan Bara.


Bruk! Tubuh Bara menubruk Akilla keras. Sosis merasa sedikit gosong di tangan gadis itu jatuh begitu saja. Ia bisa merasakan badan kokoh Bara yang gemetar tak karuan. Tangannya mencoba melepaskan lengan Bara yang kuat melingkar di lehernya. Pelukan itu terlalu eraf. Akilla sedikit tak bisa mengambil oksigen. Lehernya terkunci sebab pelukan erat dari pria yang perwatakan lebih tinggi 25cm darinya. "Gini dulu... sebentar..." bisiknya tepat di telinga Akilla. Tak ada respon baik atau buruk, Akilla mematung.


Gejolak emosi menrangkul Bara saat itu juga. Keluarga yang dilihatnya lima belas menit lalu hilang tak alasan jelas tepat di hadapannya. Rasa gembira menyergap Bara untuk pertama kalinya sesampainya ia di dunia tak jelas keberadaannya ini. Kakaknya yang selamanya pergi seakan kembali pulang. Hati Tn. Haryata yang beku terbutakan uang, meleleh oleh kasih sayang seorang ayah yang tak pernah ia dapatkan semenjak kakaknya pergi. Begitu sempurna dan mengharukan. Apalagi yang ia perlukan selain itu?


Tapi, kepulangan mustahil yang sementara abangnya ini harus ia bayar lebih dengan mengorbankan seluruh keluarganya. Apa ini impas? Adil? Bara tak memang tak pernah meminta, walaupun keinginnya begitu, ia tak akan menuntut lebih sehingga yang ia dapatkan sebagai balasan sangat lebih dari yang ia siap pertanggungjawabkan.


Jika memang takdir telah berbaik hati meminjamkan kehadiran sosok Radka dan kebaikan ayahnya sejenak, lalu merampas yang lebih lagi, Bara kini hanya mempunyai Akilla. Mau tidak mau ia bergantung pada gadis itu. Karena hanya Akilla satu-satunya orang mengalami hal yang sama dengan dirinya. Terjebak dalam waktu. Secara tidak langsung, ia tak mau kehilangan Akilla.