Now Or Soon U Mine!

Now Or Soon U Mine!
5. Kepalsuan Yang Nyata



Setelah situasi membingungkan tadi, keluarga Akilla menyuruh Bara ikut makan malam. Kondisi di sana masih dilingkupi perasaan bingung, terutama ketiga remaja SMA yang kini sibuk dengan pikiran mereka sendiri.


"Jadi Bara, kamu di sini sedang dinner bersama seseorang yang spesial?" goda Om Panji yang dibalas senggolan oleh istrinya. "Biasalah anak muda, ini kan malam minggu. Kayak gak pernah muda aja," timpal Tante Nofi. Bara hanya tersenyum kikuk, sementara mata ayahnya terus mengikuti setiap pergerakkannya.


"Oh ya, Pa. Ngomong-ngomong soal perjodohan....aku udah punya pacar, dia–" ucapan ragu Bara disela Tante Nofi, "Bara ternyata anak Pak Darwan, toh?"


Kerutan di kening Akilla semakin tebal.


"Benar, Bara anak saya" balas Pak Darwan singkat.


Semua orang di meja, kecuali keluarga Darwan membulatkan mulutnya. "Bara 'kan sudah berteman lama dengan Dean, tapi saya baru tahu, Bara anak Pak Darwan." Om Panji menjelaskan hubungan rumut yang terjalin di sana.


"Oh ya, tadi kamu bilang kamu punya pacar. Siapa tuh? Tante jadi penasaran."


Bara menghela nafasnya, lalu melirik Akilla yang juga menatapnya aneh. "Akilla itu pacar Bara, jadi Pa, tolong perjodohan–"


"Apa?!?" Semuanya terkejut, tak terkecuali Pak Darwan. Reaksi yang dipikir Bara terlalu berlebihan itu membuat Bara merasa aneh. Apa ia salah bicara?


"Bagus dong! Kedua mempelai ternyata sudah pacaran!" Tante Nofi berujar senang.


Dean, Bara serta Akilla melongo. Apa yang sedang Tuhan rencanakan? Kenapa situasi di sini begitu rumit.


Pikiran Akilla mulai berjalan, meski lambat. Jadi Bara adalah teman baik Dean, sepupunya. Juga anak Pak Darwan, yang ia sangka pria yang akan menikahinya. Ternyata ia yang akan menjadi suaminya adalah Bara! Kakak kelas yang mengaku sebagai pacarnya!!!


"Tunggu, jadi... Akilla bakal dijodohin sama anak Pak Darwan, yaitu Kak Bara?" tanya Akilla pelan-pelan agar tak ada kesalahpahaman.


"Iya, Om gak nyangka bisa kebetulan kayak gitu. Bagus dong kalian udah saling mengenal, pacaran lagi! Tinggal panggil penghulu aja kalo gitu!" tutur Om Panji. Bara merasa tertohok. Rencana yang dikiranya akan menyelamatkan hidupnya, ternyata malah menghancurkan hidupnya lebih cepat.


Dean bertepuk tangan pelan, "wih bro. Gue gak nyangka lo bakal naik pelaminan secepat ini" ujarnya seraya pura-pura menyeka air mata haru.


"Tapi, Akilla sama Kak Bara gak pacaran. Dia cuma kakak kelas Akilla di sekolah..."


"Jadi gimana Pak Darwan, kayaknya pernikahan bisa di lakukan dua minggu lagi?" tampaknya penjelasan Akilla tertutupi pendapat Om Panji yang tak menghiraukannya.


"Apa dua minggu?!" teriak Bara dan Akilla kompak.


Om Panji tersentak. "Oh, kelamaan ya? Kalo gitu, deal minggu depan."


***


Besoknya, wajah kusut kedua muda mudi itu tampil di gerbang sekolah. Mereka tak sengaja berpapasan di sana, saling menyipitkan mata sebal. Kemudian kompak membuang pandangan.


Keduanya berjalan beriringan dengan jarak masing-masing dua meter. Terus seperti itu hingga berpisah di ujung koridor sebab kelas XII, yaitu kelas Bara ada di lantai dua. Kelas Akilla sendiri di lantai satu, dekat lapang upacara.


Akilla masuk ke dalam kelas bersama raut masamnya.


Sungguh, ia sangat menyesal telah mengirim alamat tempat dia berada kemarin. Bukannya menyelesaikan masalah, cowok itu malah memperbesar  masalahnya.


Hentakan setiap langkahnya mengundang tanya dari Dion, Rekkal dan Lea. Ketiganya saling pandang, menanyakan apa yang terjadi. Namun semuanya menggeleng, tak tahu alasan dari sikap Akilla yang uring-uringan.


"Akilla, kamu tidak apa-apa?" tanya Lea mendekat. Kepala Akilla menggeleng, menghempaskan tubuhnya ke kursi secara kasar. Tiba-tiba ia bergerak cepat, menendang-nendang udara juga mengacak-acak rambutnya sendiri seraya berdecak kesal.


"Akilla, naon yang happened?"


Gadis itu masih tak menggubris pertanyaan teman-temannya. "Kalo lo ada masalah, cerita aja sama kita. Kita kan temen lo bukan BAA," ucap Rekkal pelan. "BAA apaan tuh Kal? Bisikan Alang-Alang?" Dion bertanya, wajahnya polos layaknya bayi. Bukannya berteriak girang karna kegantengannya, Akilla membuang muka, ingin muntah. Tapi Lea tersenyum riang, temannya masih penasaran isi percakapan mereka.


"Badut Alun-Alun."


Pletak!


"Ihh, udah-udah, jangan berantem. Gue ceritain nih.." lerai Akilla pada akhirnya.


***


"DEMI MIMI PERI JADI JODOH LO!?!"


"Berisik anj*r!!" Bara menggosok-gosok telinga yang berdengung akibat teriakan Dean lewat telfon.


Detik berikutnya, suara tawa terbahak terdengar. Sahabatnya malah menjadi paginya semakin buruk saja.


"Itu namanya lo memperburuk keadaan, hahahahhha" Dean kembali tertawa nyaring. Yang hanya bisa dilakukan Bara hanya mengerucutkan bibirnya, cemberut.


Istirahat Bara menyempatkan diri untuk mencurahkan isi hatinya. Sebab kemarin ia terlalu lelah, baik fisik maupun pikiran. Semakin ia mengerti apa yang terjadi, semakin ia tak bisa mencari solusi. Sekarang ia tahu, bukan hanya keluarganya yang akan terbantu atas perjodohan ini. Keluarga Akilla a.k.a orangtua Dean pun, akan kehilangan beban sebab perusahaannya diambil alih Papanya.


Dirasa curhatannya tak menimbulkan jalan keluar, Bara memutuskan sambungan telfon sepihak. Sebaiknya ia menyegarkan pikirannya, segelas es cendol pasti bisa mengembalikan semangatnya.


Bara memang tak mempunyai sahabat di sekolah. Hanya sebatas teman sekelas saja ia bergaul.


Saat menuruni tangga, tak sengaja ia lihat seorang gadis tengah diam-diam bersembunyi di bawah tangga. Posisi Bara yang di atasnya memungkinkannya untuk melihat layar ponsel cewek itu. Bukan cuma satu hape, orang itu memegang dua hape sekaligus. Yang Bara lihat, satu ponsel itu menggunakan gantungan unik berbentuk buaya.


Sayangnya, ia terlambat mengetahui apa yang di-upload, cewek itu melompat senang. Kemudian melihatnya, tatapannya kaget, badannya langsung kaku dan gugup. Bara jadi curiga. Apa yang dilakukan cewek itu? Tapi, ah sudahlah, ia tak perlu tahu selama itu tak merugikan dirinya.


Bara melanjutkan perjalanannya menuju ke kantin. Ia mengabulkan keinginannya, membeli es cendol kesukaannya.


Sambil menyeruput minuman, matanya berkelana menyusuri setiap jengkal ruangan itu. Para siswi yang menatapnya penuh decak kagum, para pria yang sibuk main game online, hingga geng mahluk aneh yang terasingkan di sekolah.


Dilihat dari kejauhan, ia mengamati seseorang berambut panjang yang menjadi mimpi buruknya. Gadis itu tengah tertawa lepas. Bara bangkit setelah minumannya habis. Menghampiri orang yang diamatinya dari tadi.


"Bisa kita ngomong berdua?" tanya Bara sesampainya di pojok ruangan, tempat orang-orang aneh tadi berkumpul.


Akilla celingukan. Lalu menunjuk dirinya sendiri. "Lo ngomong sama gue?" tanyanya polos. Bukan bermaksud menghina, siapa tahu Bara mengajak bicara orang lain. Dilihat dari tatapan tajamnya, pria itu memang berbicara padanya.


"Gue ikut dia bentar, bakso tahu gue jangan diabisin loh!" ancam Akilla sebelum pergi.


Lea mengantarkan keduanya lewat pandangan tak bisa diartikan.


Bara mengajaknya ke depan saung dekat lapangan. Gazebo itu tempat istirahat anak-anak saat istirahat olahraga. Karena sekarang istirahat, saung ini sepi dari pengunjung yang mengutamakan kantin.


"Lo ngapain ngajak gue ke sini? Mau macem-macem lo? Jangan mikir yang 'iya-iya' ya! Gue bukan cewek sembarangan!" semprot Akilla setibanya di depan saung.


"Kenapa sih, lo bawaannya curigaan mulu sama gue?" tanya Bara kesal. Ia akui, kesalahannya kemarin memang sangat besar. Besar sekali. Tapi gak segininya juga fitnah dapat terjadi.


Akilla mendengus. "Percaya sama lo musyrik hukumnya!"


Ingin sekali Bara menendang gadis ini supaya melompat dari lantai 15. Kali ini, ia harus menabahkan dirinya.


"Denger, gue ngomong sama lo baik-baik ya. Gue mau lo, hapus foto di kantin waktu itu," tegas Bara to the point. Ia tak mau membuang-buang waktu berharganya. Sebagaimana pria sehat lainnya, Bara menyukai seseorang di sekolah ini. Cewek tentu saja.


Setelah gosip tersebarnya kedekatan Bara dan Akilla, gadis itu terlihat menjauhinya. Memang benar, Bara sering berdekatan fans-fansnya. Namun yang satu ini beda. Bara yang terlebih dahulu terlihat meminta, atau mungkin memaksa Akilla berfoto bersamanya. Bara tak mau gadis yang disukainya itu salah sangka lalu menjauhinya.


"Foto itu? Idih, lo labil ya. Lo duluan yang selfie sama gue. Sekarang minta fotonya dihapus. Bukan berarti gue sayang kalo fotonya dihapus. Gue sih bodo amat..." Akilla mengeluarkan ponselnya dari saku. Bara hanya menatapnya datar, terlalu malas mendengar ucapannya.


"Karna gue baik hati, gue bakal hapus fotonya. Nih, lo puas?" Akilla menunjukkan proses penghapusan foto pada Bara.


Pria itu mengangguk senang, tanpa bicara lagi melenggang pergi. Baru saja Akilla akan memberi wajah konyol melampiaskan kekesalannya, Bara kembali menoleh. "Nomor calon suami lo jangan lupa di-save!


Akilla berdecak seraya menghentakkan kakinya kesal. Sementara pria yang sedang menjauh itu menyunggingkan senyum jahilnya.