
Akilla menghempaskan tubuhnya ke kasur empuknya. Mengusap sprei putih nyaman dan wangi sedikit membantunya menghilangkan penat. Hari ini, ia merasa sangat bangga pada dirinya sendiri. Bukankah suatu kebanggaan menjadi asisten sutradara film hebat yang tak lain ialah pamannya sendiri. Yah, dalam lubuk hatinya, entah kenapa ia merasa curang. Benar. Ia bisa mendapatkan posisi ini tanpa melakukan apapun. Dijelaskan secara logika, dia memang menjalankan prosesnya di masa lalu yang seharusnya ia jalani. Tetapi, melompati waktu bukanlah kesalahan apalagi keinginannya. Ah, semakin dipikirkan, ia semakin bingung.
Pernah ia merasa ingin mengungkapkan cerita tak masuk akal ini, agar beban dipunggungnya sedikit berkurang. Satu pertanyaan yang menggangu, siapa yang akan memercayainya? Jika kita mengesampingkan hal itu, pertanyaan akan menghadangnya. Apa Bara tidak akan marah jika ia bercerita pada orang lain? Apa orang yang tahu hal itu akan membencinya? Semenjak menjalani hidupnya barunya, ia terlalu cemas memikirkan masa depan yang akan dijalaninya.
Ah, sepertinya ia perlu mandi. Menyegarkan kepalanya yang sudah panas akibat terlalu banyak berpikir. Segera ia mengambil handuk, dan masuk ke dalam kamar mandi di kamarnya itu.
Tepat setelah ia menutup pintu, Bara membuka pintu bersama raut wajah lelahnya. Ia melakukan pekerjaan tak lebih dari 15 menit, namun, ia menghabiskan setengah jam untuk didandani juga dipasangi outfit yang sesuai konsep hari ini.
Selesai berganti pakaian semula, pandangannya tak sengaja mengenali seorang wanita cantik nan menawan yang memikat hatinya. Tidak. Bukan berarti ia mata keranjang. Hanya saja, ia merasa pernah melihat, atau bahkan, mengenal wanita itu. Tak lama ia mencoba mencari identitas wanita itu dipikirannya, orang yang sedang dipikirkan menepuk pundaknya cukup keras, menyadarkannya dari lamunan.
"Ngapain Bar? Kok bengong?" tanyanya diiringi kekehan.
Bara gelagapan tak tahu harus membalas apa. "E-eh? I-iya, gue... aku agak capek, hehe."
Suara canggung itu mengundang kekehan manis dari Yura. "Mentang-mentang jarang, kamu jadi kikuk gitu sama aku" komentarnya seraya menepuk pelan bahu kokohnya.
Pipi Bara sedikit merona. Jadi benar, ia pernah mengenal wanita itu meski ia belum tahu siapa sebenarnya. "Bar, kamu ada waktu gak?" tanya Yura lagi, Bara bergumam canggung, "kenapa emang?"
"Besok kan syuting malem... dan lumayan kan dialognya banyak. Mau latihan bareng? Biar gak canggung lagi kayak gini."
Bara termenung. Ah, benar, ia harus bisa memaksimalkan akting bagaimanapun caranya. Kesempatan ini tak akan datang dua kali. Ia pun mengangguk setuju. Tak ada latihan yang lebih meningkatkan kualitas aktingnya sebagai aktor daripada beradu akting dengan sesama bintang film itu sendiri. Ia pun tak bisa meminta Akilla menemani apalagi mengajarinya bidang yang digelutinya saat ini. Selain –ia meragukan– Akilla bisa berpura-pura, wanita itu pasti sibuk mengerjakan tugasnya sendiri.
Ponsel Bara berdering pelan. Mengabarkan ada pesan masuk. Sontak matanya membulat sempurna. Kenapa tak pernah terpikir sebelumnya? Bagaimana mungkin ia bisa melupakan wanita yang mengisi hatinya sejak masuk SMP? Tunggu dulu. Apa Yura tahu ia sudah bercincin? Ah, pasti wanita itu sudah menyadarinya.
Yura
Bar, besok jadikan?
Jadi dong!
Tempatnya dimana?
Terserah kamu sih
Di kafe kayaknya berisik deh
Gimana kalo di rumah kamu aja?
Sekalian silahturahmi, soalnya udah lama gak ketemu Mama kamu juga
Boleh, nanti biar aku yang jemput
Iya Bara
Sebuah senyuman terbit di wajahnya. Ah, meski waktu berlalu sangat cepat. Perasaanya masih sama seperti yang dulu. Tak berubah. Selain cantik dan pintar, Yura adalah gadis rendah hati yang tak pernah membedakan orang lain. Meski kadang galak dan marah-marah, Yura tak segan-segan menarik kupingnya hingga hampir mau copot, jika ia melakukan kesalahan.
Ah, pemikiran tadi sedikit memusingkan kepalanya. Sebaiknya ia mandi, pasti akan sangat menyegarkan menyegarkan, juga badannya terasa lengket. Segera setelah mengambil handuk, Bara membuka pintu kamar mandi yang satu ruangan dengan kamarnya.
Matanya membulat, terlonjak kaget oleh pemandangan di depannya. Jangan berpikir kejauhan. Di sana, cuma ada Akilla yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Ia memakai pakaian lengkap, meski memakai tank top dan celana pendek atas lutut. Pipi Bara memanas. Ia menggeleng menghilangkan pikiran aneh yang sempat dibayangkannya.
Akilla yang menyadari kehadiran Bara dari cermin, langsung membentangkan handuknya, meski tak menutupi semua bagian tubuhnya dengan baik. "Ngapain lo? Ngintip ya? Dasar mesum! Kalo mau masuk ketok dulu, lebih bagus assalamualaikum gitu! Main masuk-masuk aja!"
"Dih, lo kenapa gak kunci pintunya? Gue pikir gak ada orang, soalnya gak dikunci!"
"Untung lo gak masuk pas gue lagi mandi–"
"Gue gak nafsu ya, liat badan gendut lo!" sela Bara, yang entah kenapa darahnya semakin berdesir bersamaan pipinya yang kian memerah.
"Kalian lagi ngapain?" sebuah kepala nongol dari balik pintu. Reflek Bara maju dan ikut bersembunyi di balik handuk Akilla. Radka mengerutkan keningnya heran, "oh, kayaknya saya datang diwaktu yang gak tepat. Maaf, sudah menganggu saat berdua kalian" tampang Radka masih watados, alis wajah tanpa dosa.
Bara dan Akilla saling berpandangan, baru sadar jarak mereka terlalu dekat, keduanya lalu mengambil satu langkah menjauh.
"Bukan gitu Bang, Bara tadi–"
"Ah, jangan malu gitu. Kalian kan udah muhrim, jadi, ya gak papa kalo berduaan" Radka masih mempertahankan posisi menyembulkan kepalanya itu. "Kalian lanjutin dulu aja, Abang cuma mau ngasih paket dari mertua kamu" ungkap Radka memperlihatkan kresek hitam plus lakban transparan yang mengekang kotak berukuran sedang.
"Dari Tante Nofi?" tanya Bara memastikan. Gelengan Radka menimbulkan tanda tanya. "Om Panji?" lagi-lagi kakaknya itu menggeleng.
Sementara Akilla yang dari tadi bergantian menatap jengkel dua kakak beradik yang tak kunjung keluar dari kamar mandi. Kan bisa ngomongnya diluar, dia belum selesai memakai kamar mandi, masa ia harus menunggu sampai mereka bicara?
"Bukan, dari orangtuanya Akilla" dua kata terakhir itu mengalihkan kekesalannya. "S-siapa?" apa pendengarnya salah? Kenapa ia mendengar orangtuanya dari mulut kakak iparnya?
"Kenapa lo?" tanya Bara menyadari perubahan air muka istrinya.
Tak menjawab pertanyaannya, Akilla berjalan cepat menghampiri Radka, merebut paket itu secara paksa. Tangan Akilla memerah sebab membuka paket secara paksa. Lakban yang membungkus begitu kuat dan tak mudah dirobek.
Kedua kakak beradik itu memandangnya heran di ambang pintu.
Susah payah Akilla akhirnya berhasil membuka kemasan paket. Secarik surat jatuh. Akilla memungutnya penuh kehati-hatian, seakan benda itu mudah pecah dan sangat berharga.
Hai Akilla! Juga Bara! Kalian gimana sih, masa belum juga honeymoon? Kan Mama sama Papa nungguin cucu dari kalian. Tadinya Mama mau langsung aja chat kamu, tapi Papa kamu maksa buat nulis surat, biar lebih berkesan katanya. Dasar ada-ada aja ya, Papa kamu! Oh ya, Mama lagi kangen seblak bikinan kamu. Besok Mama sama Papa pulang, minta izin ke suami kamu gih, kamu Mama pinjem satu hari buat nginep dulu di rumah kita. Aduh kepanjangan ya? Ya udah deh, see you later honey, bye!
Tertanda,
Mama kembarannya Jennie Blackpink dan Papa kembarannya Kai EXO
Air mata Akilla meleleh seiring kekehan pelan menyertai perasaan bergejolaknya. Benar. Jika kakak Bara masih ada di dunia ini, bukan kah, itu berarti ayah ibunya masih ada? Jika keadaanya seperti ini, Akilla rela meninggalkan masa remaja penuh kegembiraan demi bertemu kedua orangtuanya kembali. Akilla rela menjadi istri dari orang yang dibencinya demi bertemu orangtuanya.