Now Or Soon U Mine!

Now Or Soon U Mine!
11. Perasaan Aneh



Kesibukan Akilla meneliti produk-produk di supermarket, membuat mereka menghabiskan waktu 1 setengah jam lebih lama dari lima belas menit yang seharusnya mereka habiskan untuk membeli krim cukur. Tepat jam makan malam, mereka pulang dengan membawa satu belanjaan saja, yaitu krim cukur Bara.


Perasaannya masih kesal mengingat semua tingkah cewek itu. Berjalan-jalan seraya menonton drama Akilla satu jam saja sudah melelahkan, ditambah macet jalanan di malam minggu ini, malam dimana pasangan-pasangan menghabiskan waktu keluar bersama. Bara tak tahu akan seribet ini membawa Akilla ikut. Ia kapok dan tak akan membawanya berbelanja lagi.


"Eh, Bara, Akilla, ayo makan malam dulu" ajak Ny. Haryata dari ruang makan.


Akilla memegang perutnya. Benar, ia sudah sangat lapar sejak menginjakkan kaki di supermarket tapi ia terlalu sibuk berkeliling supermarket. Segera ia menghampiri keluarga Haryata yang menunggu mereka.


"Bara masih kenyang, Ma. Tadi makan fastfood di perjalanan pulang," jawab Bara lemas.


Sementara Akilla mengangkat acuh pundaknya, dan ikut bergabung makan malam. Rasa laparnya mengalahkan urat malu yang hanya akan membuatnya kelaparan.


Bara menatap istrinya yang akan mendekati meja makan, "lo mau makan lagi? Lo kan udah makan tadi, ditambah bagian gue juga."


"Itu namanya ngemil. Yang namanya makan itu pake nasi. Tadinya gue mau makan burger pake nasi, tapi gak ada di menu!" keluarga Haryata tertawa mendengar jawaban anggota keluarga baru mereka.


"Udah gak papa, kita juga gak keberatan. Masa kamu ngebiarin istri kamu yang kelaparan?" goda Tn. Haryata diiringi kekehan. Bara bergidik, tak sanggup menganggap Akilla sebagai istirnya. Tak mau berlama-lama di sana, ia pun pergi menuju kamarnya.


"Kak Bara emang gitu ya, Ma?" tanya Akilla tiba-tiba. Piring makannya sudah penuh oleh nasi dan lauk pauk yang masak ibu mertuanya.


Ny. Haryata yang selesai melayani suaminya, mengerutkan kening, "gitu gimana, Akilla?"


"Ya gitu... Baik tapi emosian."


Radka tertawa kecil. Adik iparnya itu begitu polos, tak henti-hentinya ia dibuat terkejut serta geli oleh sifatnya. "Bara itu, gengsian orangnya. Dari kecil sampai sekarang aja, dia gak pernah ngakuin, kalo saya itu lebih ganteng daripada dia hahaha." Radka mengingat bagaimana merajuknya Bara, saat orang-orang memuji kegantengan dirinya saat kecil. Saat itu, Bara selalu keasyikan main di luar tanpa memperdulikan pakaiannya yang kotor dan berdebu. Berbanding balik dirinya yang selalu terlihat rapih dan wangi.


Semua pujian merujuk padanya, hal itu jadi memotivasi Bara, untuk berubah hanya karena ingin dipuji tampan.


Akilla mengangguk setuju. "Setahu Akilla, Kak Bara orangnya labil. Tadi pagi sikap baik, eh, pas sore, sikapnya berubah jadi marah-marah. Akilla bahkan gak tahu, kenapa dia marah-marah" curhatnya berapi-api. Tampak sekali ia bersemangat menceritakan apa yang suaminya lakukan. Bukannya marah, keluarga Bara justru terhibur cara bicaranya.


"Bahkan pernah tuh, dia ngambil hape Akilla buat foto selfie bareng. Disangkanya Akilla yang ngefans sama dia, padahal mah, Akilla lagi selfie sendiri buat temen virtual Akilla. Abis itu, dia malah marah-marah terus nyuruh Akilla buat hapus foto itu!" suasana malam itu begitu hangat dengan kehadiran Akilla. Tn. Haryata pun tak henti-hentinya tertawa, serasa mempunyai seorang putri. Istrinya benar, melahirkan anak perempuan sepertinya lebih menyenangkan. Sayangnya Tuhan malah memberi mereka anak laki-laki, meski ia pun sangat bersyukur atas hal itu.


Cerita Akilla berhenti sejenak saat mengunyah makanannya. "Ya lebih parah, dia kan chat Akilla. Gak tahu dari mana dapet nomornya. Besoknya, dia malah teriak bilang 'nomor calon suami lo jangan lupa di save!' padahal belum ada kesepakatan perjodohan waktu itu bakal diterima."


Tawa keluarga Haryata seketika itu pecah. Betapa menyenangkannya mendengarkan cerita anak mereka dari mulut orang lain seperti Akilla. Mereka tidak pernah tahu, Bara sesuka itu pada gadis yang sekarang adalh istrinya. Mereka sama sekali tak kecewa pada gadis yang dia pilih, justru mereka bersyukur, sebab Akilla pandai mencairkan suasana.


***


"Bangun!"


"Kebo!! Bangun woy!!"


Diliriknya lagi jam dinding yang menggantung, jam 05.24 pagi, adzan sudah berkumandang dari tadi, tapi Bara belum juga bangun.


Akilla memutuskan solat subuh lebih dahulu. Kemarin, keluarga Haryata memberitahu jika melaksanakan solat, ada ruang khusus bisa dibilang mushola di rumah.


Akilla berjalan ke mushola itu, dan menemukan Al-Qur'an sedang terbuka bersamaan lantunan merdu dari bibir Radka. Saat dilihat lebih dekat, mata Radka terpejam. Akilla berdecak kagum.


Segera ia mengambil wudhu, di tempat khusus sebelah tempat solat.


Setelah berwudhu, ia menunaikan solat dengan khusyuk. Selesai menjalankan kewajiban, kakak iparnya itu masih belum selesai melantunkan ayat-ayat suci menenangkannya.


Suara air mengalir terdengar kala Akilla melipat mukenanya dan memasukkannya ke lemari. Bara berjalan keluar tempat wudhu. Wajahnya begitu segar saat beberapa bulir air menuruni alisnya yang tebal. Mengambil sarung tepat di sebelah Akilla. Tanpa sadar, nafasnya terhenti. Jantungnya berdebar tak karuan. Ada apa dengannya? Hanya karena melihat rambut basah Bara malah membuat pipinya panas.


Diaturnya nafas yang sedikit memburu. Itu cuma Bara yang melaksanakan solat subuh, kenapa perasaannya menjadi tak jelas seperti ini.


Kepalanya menggeleng menepis pikiran yang menggangu. Beberapa mukena dan sarung tampak berantakan, ketimbang berpikiran yang aneh-aneh, ia membereskannya sampai rapih dan enak dipandang mata.


Radka usai melakukan kebiasaannya sehabis solat subuh. Melihat Bara yang tengah berdzikir di sebelahnya, berdoa lalu menggumamkan kata aamin. Tangannya menepuk punggung Bara. Adiknya menoleh. Lewat tatapan mata, Radka menyuruh Bara mendekati Akilla.


Bara sempat menatapnya tak mengerti. Radka kemudian mempraktekan mencium tangannya, lalu menyuruhnya lagi mendekati Akilla.


Seperti adanya telepati, Bara mengerutkan dahinya menolak. Seolah berbicara KENAPA-AKU-HARUS-MELAKUKANNYA?


Mata Radka berputar malas. Didorongnya Bara agar berani mendekati Akilla.


"Malika.." panggil Bara pada akhirnya. Radka melotot, menyuruh memanggil Akilla dengan sebutan yang benar. Bara menghela nafas pasrah.


"Akilla.."


Gadis itu menoleh, sedikit terkejut. "K-kenapa?" tanyanya gugup.


Ngapain sih nyamperin ke sini? Baru aja jantung gue berenti olahraga, masa sekarang mau olahraga lagi? batin Akilla berkecamuk.


Bara menyodorkan tangan kanannya. Akilla sempat menatapnya bingung, pria itu kembali mengasongkan tangan. Bukannya bersalaman sehabis solat seperti jemaah pada umumnya, Akilla malah menunjuk laci tempat peci di simpan.


Gemas dengan sikapnya, Bara mengambil tangan Akilla tanpa permisi. Setelah itu, menempelkan tangannya di ke pipi Akilla. Tak ada sepatah katapun terucap, Bara membereskan sarung dan melenggang pergi.


Sementara gadis itu masih mematung dengan tangan terangkat. Apa yang barusan terjadi? Pasti ada yang salah dengan Bara. Atau ada yang salah dengan jantungnya? Ia harus segera mengecek kondisi jantungnya yang akhir-akhir ini berdegup kencang.