Noer

Noer
Episode 15



Sore itu, Noer duduk di tepian sungai samping rumahnya. Ia masih bingung ingin ikut pentas seni itu atau tidak. Hatinya sangat ingin mengikuti pentas seni itu dan ingin membawakan puisi karangannya sendiri.


Tetapi ke mana ia akan mencari uang untuk membayar kostum dan juga makeover-nya pakai apa.


Jika ia tidak mengikuti, rasanya sangat menyedihkan. Jika ia meminta uang pada ibu untuk keperluan pentas seni itu, iya masih takut. Bagus jika Ibu memberikan izin dan memberikan uang, justru nanti malam menjadi malah petaka.


Noer sangat bimbang dan sedih. Sementara itu dari kejauhan ternyata Andre memperhatikan luar dari pondok tempat tongkrongan mereka.


Ingin rasanya iya menemui Noer melepas rasa rindunya pada Noer. Tapi ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyusahkan Noer, dan tidak memberi masalah pada Noer.


Tapi hatinya sangat ingin bertemu dan bicara pada Noer.


Hanya menatap layar dari kejauhan sangatlah tidak bisa, tapi apalah daya seakan ingin memeluk gunung apalah daya tangan tak sampai.


''Kenapa lu bro?''tanya Rizal.


''Nggak ada bro, gue ingin sekali bertemu dan menemui Noer. Tapi jika gue menemuinya malah nanti terjadi masalah besar antara Noer dan orang tuanya''jelas Andre.


''Iya bro, sebaiknya tidak usah dulu,jika Tuhan mengizinkan kalian bertemu maka pasti ada jalan untuk hal itu.''Kata Rizal mencoba menenangkan hati Andre.


''Iya bro, thanks ya!''ujar Andre.


Noer pembelanja dari tempat duduknya itu, lalu menuju tepian sungai, memainkan air sungai itu dengan kakinya.


Terkadang ada pemikiran ingin mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan dirinya di dalam sungai itu.Karena merasa dirinya serba salah dalam setiap langkah hidup yang ia lalui. Merasa selalu menderita dalam keadaan apapun.Selalu dianggap salah walaupun yang ia lakukan benar.


Terkadang Noer menganggap dunia ini tidak adil padanya. Iya sempat iri kepada teman-temannya yang selalu diberi support oleh orang tuanya dalam kegiatan apapun di sekolah.


Noer merasa iri kepada setiap anak yang mendapatkan kasih sayang layaknya orang tua kepada anaknya.


Dosa apa yang telah ia lakukan sehingga memiliki jalan hidup seperti ini. Sampai kapan ia akan menanggung derita hidup yang tidak kunjung berhenti.


Lelah memikirkan semua itu akhirnya Noer pun menyelam ke dasar sungai itu berharap mendapatkan ketenangan setelah ia keluar dari air itu.


Tapi tidak, Noer pun semakin merasa sesak dan ingin berteriak melepaskan beban di hati dan dibenaknya.


Iya adalah seorang anak yang ingin seperti anak-anak lainnya. Bisa bermain saat sepulang sekolah, bercanda di dalam rumah bersama keluarga.


Noer pun berharap bisa mendapatkan kasih sayang yang sama antara diri nya dan Citra juga Gunawan.


Tapi semua itu bagaikan kisah Cinderella dan saudara tiri nya.Selalu di perlakukan tidak adil oleh Ibu tiri nya.


Selalu di kekang dan di dewasakan oleh keadaan dengan melakukan pekerjaan rumah sebelum dan sepulang sekolah.


Waktu bermain anak seusia nya di renggut,kasih sayang seutuh nya dari orang tua hanya dia dapatkan berupa bentakan dan hukuman.


Terkadang karena kesalahan Citra atau Gunawan Noer yang di hukum.Tidak mendapatkan makan malam atau pun uang saku.


Akan tetapi Ibu dan Ayah sangat pandai menutupi hal tersebut dari sanak saudara.


Setiap ada sanak saudara dari Ayah berkunjung Noer selalu di puji sebagai anak yang rajin.Tahu membantu orang tua dirumah dan memilih di rumah dari pada menghabiskan waktu sia-sia bersama teman nya.


Setiap ada perkumpulan keluarga Ayah dan Ibu selalu mengagungkan Noer.


Fakta sebenar nya jauh bertolak belakang,jika ada yang tau di balik pakaian yang menutupi tubuh Noer banyak sekali luka memar karena di hukum Ibu.


Mungkin siapa pun yang melihatnya tak kan sanggup melihat derita nya.


Sebagai anak yang berbakti kepada Orangtuanya Noer tidak pernah memberitahu siapa pun.Noer menganggap itu adalah bentuk kasih sayang orangtuanya.


Mungkin ini itu ada lah jalan takdir yang harus di jalani Noer.


''Aduh!'' Lenguh Noer saat Mira sepupu Noer menyentuh punggung nya.


''Ada apa Noer?" Mira menoleh dan khawatir


''Tidak Mir,Gue hanya kaget saja!''Kata Noer menutupi rasa sakit bekas memar dari sebuah hanger kawat yang di berikan Ibu karena kesalahan Gunawan.


''Yakin Lo tidak Apa-apa?" Mira meyakinkan Noer kembali.


''Tidak apa-apa Mira Beneran!'' Noer mencoba tersenyum agar Mira tidak curiga.


Disaat acara di rumah Tante Eni selesai Noer di tawari Mira menginap dirumah nya.


''Noer besok sekolah Mira, dan Noer juga banyak PR yang harus di selesaikan nya'' Ibu memotong pembicaraan 2 sepupuan itu.


''Oh,baiklah! Kapan-kapan Noer nginap sini ya Bu Yati!'' Ajak Mira.


Noer sendiri hanya tersenyum getir.Ingin rasa nya Noer curhat kepada Mira,tetapi Noer takut nanti akan menimbulkan masalah besar.


''Jangan pernah kamu berharap untuk bisa menginap di rumah keluarga ayahmu ini!''Bisik ibu di telinga Noer.


''Tapi kenapa ibu? Bukankah ini rumah Tante Eni adiknya ayah? Apa masalahnya?''Katanya Noer setengah berbisik pula.


''Tidak pokoknya tidak! Jangan pernah ngebantah apa yang sudah Ibu katakan!''bentak ibu setengah berbisik.


''Baik bu!''Kata Noer dengan tertunduk kecewa dan sedih.


Noer duduk di depan televisi sedang menonton melody drama.Kebetulan lagu di dalam drama itu seperti kisah Noer.Noer pun menikmati lirik demi lirik lagu itu.


'Malang nian nasibku..


Hidup dalam dunia...


Malang nian nasibku..


Hidup dalam dunia...


Bagaikan sudah terjatuh


oh tertimpa tangga pula..


Malang nian nasibku hidup dalam dunia...


Yang kucintai oh telah pergi..


Pergi tak pernah kembali...


Kesucianku direnggut orang


Yang tak berhak menikmati...


Derita silih berganti...


Oh Tuhan tolonglah aku...


Malang nian nasibku..


Hidup dalam dunia...


Bagaikan sudah terjatuh


oh tertimpa tangga pula..


Malang nian nasibku hidup dalam dunia...


Di akhir lirik lagu tersebut Noer menyadari air matanya telah membasahi pipinya. Dan hal tersebut dilihat oleh Om Bram suami Tante Eni.


Om Bram mendekati Noer bermaksud ingin bertanya kenapa Noer menangis. Tapi sebelum Om Bram bertanya ibu yati segera memanggil Noer dan menyuruhnya bersiap-siap untuk pulang.


Tentu saja Noer bergegas melaksanakan apa yang disuruh oleh ibunya itu.


Om Bram pun mengalihkan pertanyaannya kepada Mira untuk membantu Noer bersiap-siap.


Om Bram menyelipkan uang ke tangan Mira untuk diberikan kepada Noer.


''Selipkan uang ini kepada Noer dan katakan jangan kasih tahu kepada orang tuanya.''Bisik Om Bram kepada Mira.


Tentu saja Mira patuh kepada papanya itu, karena Mira juga sangat kasihan kepada Noer yang sepertinya memendam semua perasaan yang ada di dalam hatinya.Tapi Mira tidak bisa berbuat apa-apa karena Mira tahu karakter ibu yati seperti apa.


...****************...


Apa yang akan terjadi pada Noer setelah itu?


Ayo jangan lewatkan episode berikutnya ya.


Dan jangan lupa beri like, komentar, gif dan vote nya ya...


Biar outhor makin semangat lanjutin kisahnya.


Terima kasih salam sayang buat pembaca gue tercinta.


Terima kasih buat yang udah vote, memberi like, dan juga gifnya.


Semoga berkah. 🥰🥰🥰