
"gue nitip kunci kamar kos yaaa Sa.." Elvy menitipkan kunci kosnya pada rekannya Elsa.
"iyaaa....enak bener lo, dinas pagi trus libur 2 hari.eehh VyTumben kakak lo jemput..." ucap Elsa melirik Yohan yang sibuk telfon di dalam mobil.
"iya yaa..udah lhaa selagi nggak ngeluarin duit hehehe"
Elvy lalu menaiki mobil Yohan dan lanjut menuju ke rumahnya
"Brother, tumben lo jemput...nggak ngurus bisnis Caffee lo itu ??" tanya Elvy heran karena kakaknya memakai baju rumah dan sepertinya baru bangun tidur juga.
"Apasih yang enggak buat My litle sister... Udah baek gue jemput lo, nih gue beli Deseert Coklat.." Yohan menyodorkan sekotak Deseert Coklat pada Elvy
"ooww brother.. thankyou Mas bro.." Elvy langsung melahap Cake kesukaannya itu.
"ngeliat elo yang kayak gini, gue jadi yakin kenapa mantan pacar lo minta putus.."
"emangnya gue kenapa.."
"Cara duduk lo, pakaian lo, liat rambut lo thu, cara makan lo apa lagi, trus muka lo aaawwwww ngeri. Jangan pernah bilang ke orang lain kalau elo adik gue.." Yohan mulai mengejek Elvy yang sudah biasa dengan ucapan kakaknya itu. Elvy memang terbiasa makan sambil mengangkat kaki kecuali di meja makan, jarang mengurus fhasion kecuali ada pesta, rambut hitam panjangnya yang diikat sembarang sehingga terlihat kusut sekali, makannya kadang sedikit berlepotan jika sudah bertemu makanan kesukaannya, jarang make up dan pakai lipstik kalau dengan orang terdekatnya kecuali ke Rumah Sakit dan urusan penting. Maklum wajahnya sudah cantik dari sononya, dan kulit kuning langsat membuatnya terlihat cantik.
"muji gue dikit ajhaa bisa nggak sih lo.." ucap Elvy yang tetap menikmati Cakenya
"nggak, kecuali lo kasih semua gaji pertama lo.."
"Gue tiba-tiba nggak bisa dengar"
"semoga beneran"
"YOHAN WIJAYA..." teriak Elvy kesal dengan jawaban kakaknya
"iyaaa Elvy Wijaya..."
Mereka terus bertengkar walaupun sudah di rumah besar keluarga Wijaya.
Ayah dan Ibu mereka tidak memperdulikan pertengkaran anak-anaknya.
"hahaha aku rindu sekali dengan suasana ini, cucu-cucuku udah besar.. kapan kalian akan pindah ke sini ?" tanya seorang wanita yang sudah telihat tua yaitu Nenek Katrin Ndiki tapi karena sudah menikah dengan keluarga Wijaya nama beliau diubah menjadi Katrin Wijaya.
"bulan depan ma.. setelah itu kita akan disini terus.." ucap Ayah Elvy
"bagus sekali..aku tidak perlu hidup sendirian lagi.."
"tenang ma, bulan depan perjanjian pernikahan ini sudah bisa terlaksana.. " jelas ibu Elvy sambil memeluk mama mantunya itu
"iyaaa, aku akhirnya bisa bernapas dengan lega, perjanjian ini cukup lama tidak dilakukan. Apakah kalian belum beritahu Elvy..takutnya dia nggak mau.."
"tenang ajhaa ma, aku tau kelemahan cucu perempuanmu itu..entar setelah makan baru kita bahas sama dia"
Keluarga Wijaya makan bersama dengan cukup ramai karena keributan Elvy dan Yohan.
"Malam ini ada yang mau aku bicarakan dengan kalian. Elvy karena kamu sudah besar dan sudah bekerja, Oma mau beritahu kamu tentang keluarga asli kita. Kita sebenarnya adalah keluarga besar Wijaya yang sudah terkenal baik di dalam negri maupun Luar negri. Kita memiliki berbagai macam perusahaan yang sekarang sedang ditangani oleh Papamu sama Kakakmu."
"Hhaa !! tunggu..tunggu.. maksudnya gimana nih. Papa bukan Guru githu.." Elvy kaget dan bingung plus tidak percaya dengan perkataan neneknya.
"Iyaa sayang, selama ini Papa dan mamamu sudah menyembunyikan rahasia keluarga kita sejak kalian kecil. Dalam keluarga Wijaya, kalian harus di didik sebagai keluarga sederhana dulu Kalau kakakmu sudah diberitahu sejak lulus SMA untuk lanjut sekolah bisnis. Kami tidak membritahu kamu karena kata papa sama mamamu, kamu ingin jadi perawat..."
"Iyaaa aku sangat ingin jadi perawat...karena aku penasaran dengan kemampuan mereka..Wwahhh kita benar-benar dari keluarga kaya.. pantas rumah ini besar sekali dan banyak asisten rumah tangga..wwaaahh.." Elvy masih terkagum kagum dengan kenyataan sebenarnya.
"Iiccchh.... jangan bilang kalian mau nyuruh aku untuk kerja di perusahaan juga ?!! aku nggak bisa..aku tetap ingin jadi perawat" Elvy mulai curiga
"Nggak, papa nggak akan mencampuri pekerjaanmu kecuali hal yang mendesak menyangkut keluarga kita. Papa sudah mengatur bagianmu, kamu nggak perlu kerja di perusahaan tetapi kamu bagian penaggung jawab Saham-Saham kita." jelas papanya
"Aadduuhhh saham apa lagi..."
"Kita memiliki Saham terbesar 50% disetiap perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kita. Seperti perusahan LV, Ch, Dor, Hrms, Guc, Cart, Tiffa dan masih banyak lagi.Hasil penjualan dari setiap perusahaan itu akan dibagi menjadi 50% untuk mereka dan 50% untuk kita. 50% yang kita dapat dari setiap perusahan itu akan dibagi lagi menjadi 25% dimasukan ke Bank keuangan keluarga Besar Wijaya dan 25% dimasukan ke Bank Pribadi keluarga kita. Bank pribadi keluarga Wijaya ini adalah Bank pribadi khusus kamu sendiri tanpa campur tangan dari kami. Kamu bebas memakai semua uang itu." jelas Ayahnya dengan serius
"Wwwaahh aku kaya...aku jadi nggak kepengen kerja lagi.." Elvy memasang wajah ngiler akan uang
"Tidak ! kamu harus tetap kerja, jangan jadi pemalas. Kalau terjadi dengan perusahaan keluarga kita, kamu bagian terpenting dalam keuangan tersebut, jangan beritahu orang lain walaupun itu suamimu tentang Bank keluarga kita. Yang tau tentang Bank keluarga kita ini cuma mereka keluarga Asli perusahan tersebut, sedangkan orang lain hanya mengetahui 50% saham."
"Yayaya... tenang aku akan menyimpan rahasia ini" jawab Elvy sambil menggerakan tangan untuk mengunci mulutnya.
"bagus bagus...karena kamu sudah mendapat pekerjaanmu, entar aku serahin semua berkas-berkasnya untuk kamu liat dan baca sedikit." kata kakaknya sambil menepuk pundak Elvy
"Trus kalian kerja apa donk, emang perusahan kita apa saja sih..."
"Papa bagian penanggung jawab setiap Bank di dalam negri dan luar negri, listrik, sedangkan aku...aku..aku bagian terberat dari keluarga kita" jelas kakaknya dengan wajah memelas yang dibuat buat
"gue nggak bercanda.." Elvy memukul keras bahu kakaknya
"Hahahahahaahahaha " mereka semua tertawa dengan tingkah laku kakak beradik itu.
"intinya kamu udah tau tanggung jawabmu dalam keluarga kita itu apa. Bagian papa sama kakakmu itu urusan kami.. mamamu juga punya tanggung jawab sendiri, Oma juga punya tanggung jawab sendiri.. jadi kamu nggak usah berpikir terlalu keras, nikmati saja semuanya." jelas papanya santai
"tapi kayaknya uang di Bank pribadi kita bakal habis nih ditangan anak perempuan ini " ejek Yohan sambil menunjuk ke arah Elvy
"YOHAN WIJAYAA!!!" teriak Elvy emosi. Sedangkan kakaknya tertawa mengejek ke arah Elvy.
"sudah-sudah...sekarang giliran mama yang ngomong. Elvy sayang, kita sudah bahas tentang berita bahagia, mama nggak tau.. bagi kamu apakah ini berita bahagia atau sedih yang akan mama sampaikan. Karena besok dan Lusa kamu libur, besok kita akan makan bersama keluarga besar Mahendra. Kamu akan dijodohkan dengan anak laki-laki keluarga Mahendra"
"APA!!! DIJODOHKAN!! Aadduuhh apa lagi ini..ini mah berita buruk Maa" Elvy kaget dan tidak jadi memasukan puding coklatnya ke dalam mulut.
"iyaa, untuk pertunangan Lusa dan pernikahan baru mama beritahu kamu. Keluarga kita dan Mahendra sudah sudah memiliki perjanjian nikah ini sejak lama, tapi karena penundaan terus menerus dari keluarga kita, keluarga kita hanya bisa bekerja sama sebatas teman bisnis. Jadi kali ini untuk mempererat hubungan kedua perusahan terbesar ini, kami akan menikahkan kalian"
"Tapi Ma, aku baru putus aku masih kepingin bebas.."
"kalau kamu tidak setuju, Bank Pribadi itu akan diserahkan ke Mama dan kamu hanya menikmati gaji perawatmu.Kalau kamu mau Bank pribadi maka harus menikah"
"HAA!!"
"sekarang pilih Bank Pribadi atau miskin" Mamanya langsung memberi pertanyaan dengan cepat
"Bank Pribadi" jawab Elvy cepat tanpa pikir panjang
"Bagus. Semuanya di sini saksi dan besok malam kita makan malam bersama dengan keluarga Mahendra" Ibu Elvy mengakhiri pembicaraan tersebut disertai tepuk tangan semua yang ada di situ kecuali Elvy. Mereka semua beranjak pergi ke kamar masing-masing meninggalkan Elvy sendiri di meja makan. Elvy masih syok dengan jawaban yang dilontarkannya.
"Non...non Elvy..." seorang pelayan menyadarkan Elvy dari kebengongannya itu
"Haa"
"Silakan kembali ke kamar non.. saya mau merapikan meja makan dulu.." kata pelayan tersebut dengan sopan
"Oohh yaya..lanjut" Elvy beranjak ke kamarnya dengan pandangan kosong.