New Life

New Life
Episode 18



Pov. Elvy


Hari ini seperi biasa aku membawa bekal makan siang untuk suamiku Riko Mahendra. Walaupun kami sudah menikah sekitar 3 minggu, aku sama sekali tidak pernah menyukai Riko sebagai seorang pria. Aku hanya menganggapnya sebagai rekan seperjuangan untuk 1 tahun ini, aku juga merasa nyaman dengan kondisi pernikahan kami yang seperti ini walaupun aku selalu mendapatinya dengan cewek di dalam kantornya. Aku memanfaatkan keadaan tersebut untuk mendapatkan Black Kardnya Riko, aku memang terlihat matre tapi yaaa itu digunakan untuk menutup mulut para mata-mata yang juga melihat Riko dengan wanita lain. Riko berpikir aku menggunakan Black Kard untuk belanja, memang benar juga sih aku belanja, tapi aku pergi belanja dengan pegawai resepsionisnya Riko. Aku sengaja mengajak mereka belanja dan mentraktir mereka makan hanya untuk bisa bekerja sama dengan aku dalam memantau para wanita yang menemui Riko dan orang-orang yang mencurigakan. Kadang kala para wanita yang mendekati Riko dalam kantor sengaja membayar paparazi untuk mengambil foto mesra mereka dengan Riko Mahendra. Itulah sadisnya wanita. Aku memang sengaja melakukan tindakan ini agar kontrak pernikahan kami dan nama keluarga kami tidak rusak di Publik. Tapi itu cuma didalam kantor..kalau diluar kantor aku tidak bisa membantu karena pergaulan Riko sangat terekspos, aku cuma bisa berharap banyak pada Riko untuk tidak terlalu aneh-aneh sehingga nama baik keluarga kami tetap aman, aku juga tidak ingin wajahku terekspos di depan publik karena itu akan mengganggu kehidupan bebasku, tapi itu cuma harapanku saja, nyatanya diluar kantor Riko tetap terekspos dengan para wanita sehingga Riko sering kali dimarahi oleh Orangtuanya dan akupun juga kadang kala kena getahnya.


Karena para Resepsionis sudah mengatakan bahwa tidak ada wanita di dalam kantornya Riko, aku bisa duduk santai di kantin kantor milik Riko sambil menyesap Kopi Capucino kesukaanku dan cuci mata melihat para barista dan koki yang masih muda. Maklum kalau dilihat dari luar pernikahan kontrak ini, aku masih Jomblo. Riko muncul dari arah lift dan menuju ke arahku, dia langsung meletakan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan kursiku.


"tumben kamu tidak ke ruanganku, lebih memilih makan di sini ? " kata Riko sambil membuka bekal makan siang.


"iyaa firasatku mengatakan hari ini didalam kantormu lagi nggak ada cewe.." Riko memang nggak tau kalau aku punya mata-mata dikantornya.


"kamu pasti pasang cctv di ruangankukan...makanya setiap kali tidak ada cewe diruanganku kamu pasti memintaku makan di meja kesukaanmu ini.."


"iyyaaa anggap saja aku pasang cctv, lanjut makan saja...." aku cuma bisa iyaakan saja apa yang dikatan Riko, aku lagi males berdebat dengan dia.


"kamu nggak makan ?"


"nggak...aku udah makan..."


"kalau githu bantu aku habiskan makanan ini..." Riko menyodorkan bekal yang masih tersisa setengah.


"kaukan sudah biasa makan 2 porsi, habiskan sendiri saja..."


"nggak...aku mau kamu juga makan.." Paksa Riko sambil duduk disamping Elvy.


Aku terpaksa makan satu piring dengan Riko dan satu sendok pula dengan Riko syukur botolnya beda. Kita berdua memang udah biasa makan satu piring baik dirumah maupun diluar rumah. Menurut orang-orang kami seperti pasangan yang harmonis makan satu piring, tapi sebenarnya kami sengaja hemat piring dan senduk sehingga tidak banyak piring kotornya. Karena aku juga sudah biasa makan satu piring dengan teman-teman kosku, aku juga tidak terlalu canggung makan satu piring dengan Riko, dia juga termasuk teman seperjuanganku.


"kamu tau nggak, banyak yang senyum-senyum ke arah kita..." bisik Riko di telinga Elvy


"ya iyalah....gimana nggak senyam senyum, kamu juga pakai acara suapin aku, akukan bisa senduk sendiri..."


"yyaaa aku tuh mempermudah dan mempercepat makan kita..."


"ini sudah habis...aku beresin dulu...aku juga masih ada urusan di rumah.."


"lhaa terus mau ngapain...kan udah selesai makannya..."


"yyaaa...ngopi dulu kek..."


"aku udah...kau bisa ajak ngopi Reno asistenmu itu..." tunjuk Elvy pada Asisten Riko yang sudah berkeringat dingin karena namanya dibawa-bawa kedalam pertengkaran mereka.


"yyaaa jangan githu dong... akukan udah dari tadi sama dia...kan hari ini baru liat kamu lagi..."


"kan di rumah sudah liat aku...."


"kan dari jam 8 pagi sampai siang ini belum liat kamu.."


"Haa?!!!" aku cukup kaget dengan alasan Riko yang tiba-tiba begitu. satu minggu lebih ini sikap Riko agak aneh saat denganku. Riko yang dingin tiba-tiba jadi manjaa banget, biasanya aku yg manja. Aku awal-awalnya cukup merasa ilfeel, seperti melihat diriku sendiri saat manja, tapi lama-lama udah biasa, tapi hari ini kenapa nada suaranya seperti itu.


"masa kamu nggak kasian sama aku rekan seperjuanganmu ini..." kata Riko sambil menarik Elvy untuk duduk kembali di kursinya


"aahhh udah-udah...kamu thu sebenarnya mau apasih Rik..."


"aku cuma mau ditemenin... masa sebagai sahabat dan rekanku kamu nggak mau temenin...aku dari pagi rapat mulu..." Riko mulai meletakan kepalanya di bahu Elvy


"sahabat ?!!! kepalamu itu...udah aahhh....aku sibuk...kamu tidur ajhaa di ruanganmu kalau capek...aku mau pergi..." Elvy segera mendorong Riko ke samping dan berjalan dengan cepat ke arah pintu keluar kantor Riko.


Riko yang melihat kepergian Elvy hanya bisa memandang sedih...setelah Elvy menghilang dari pandangannya, ekspresi Riko berubah kembali menjadi dingin dan tetap berkarisma, Rikopun kembali ke ruangannya.


Aku masih penasaran dengan sikap Riko tadi, jadi aku bersembunyi saat keluar dari kantornya. Aku melihat sikap Riko yang berubah kembali ke Riko yang dulu. Dia memang seperti itu, dengan aku manja, dengan pegawainya dingin. CEO memang beda.


Dugaanku kalau dia menyukai aku, tapi satu sisi aku masih belum yakin. Aku jugs berharap itu tidak terjadi diantara kami, karena hal itu hanya membuat kami terluka. Aku tau dia juga punya wanita lain dan aku juga punya kehidupan yang kuinginkan sendiri.


Jadi nggak mungkin banget kami berdua saling menyukai.