MY SUGAR DADDY KNOWS MY SECRET

MY SUGAR DADDY KNOWS MY SECRET
perasaan yang kembali



setelah makan malam bersama zara mwngikat kontong sampah dan bermaksud untuk membunganya


"biar aku saja." ucap willi


"tidak perlu. " zara berjalan melewati willi


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


zara sampai di bawah, ia segerah membuang sampahnya, saat ia ingin kembalu ponselnya berdering


"..."


zara menatap ponsel dengan kebingungan karena tertulus 'nomer tidak dikenal' zara menekan tombol silent pada ponselnya, ia membiarkan telfon tersebut lalu ia masuk ke apartemenya lagi. saat berada di loby ada beberapa orang yang membicarakanya awalnya zara tidak tertarik tetapi, mereka menyebut gabriel dengan sebutan 'anak haram' zara mengepalkan tanganya ia berusaha agar tidak marah, tapi lama kelamaan pembicaraan mereka sangat kerterlaluan, zara menghampuri mereka dan ia sengaja menabrak meja tamu yang ada di loby, mereka tersentak kaget


"kalo jalan pakai mata" ucap wanita itu


"jalan itu pakai kaki, melihat itu pakai mata," bantah zara "hem."


"dasar gak punya sopan santun."


"yang gak sopan itu membicarakan orang lain."


"enak aja nuduh orang, memangnya ada bakti"


zara mengangkat kepalanya ke arah cctv yang terdekat, lalu wanita itu juga memperhatikan cctv itu, wanita itu sedikit takut dan akhirnya ia pergi. zara pergi ke apartemenya


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


paginya


zara, willi dan gabriel selalu melakukan aktivitasnya seperti biasa tetapi saat mereka makan, mereka sesalu merasa seperti di awasi dari bawah meja


"mochi kau selalu memandang kami seperti itu saat kami kaman" ucap gabriel


willi memandang zara, zara tampak cemberut dan tidak selesa makan


"ada apa? " memandang zara


"tidak apa apa" zara mengalihkan pandenganya "huu"


"ada masalah? "


"tidak. "


"kau tidak pandai berbohong," memegang tangan zara " katakan saja! "


"hanya sedikit tapi itu bisa di atasi"


zara berdiri dan ia berjalan menuju lantai atas, willi kebingungan dengan sikap zara. gabriel memgan tangan willi dan ia menceritakan tentang sesuatu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


lagi lagi zara turun dengan menggunakan baju mini, bralette berwanah merah dan juga setelan berwarna merah mencolok. mereka keluar dari apartemen lalu pergi berangkat. setelah mengantar gabriel bersekolah saat di tengah perjalanan


"bisakah kau menggunakan baju yang tidak terlalu terbuka? "


"memangnya kenapa? apakah aku mengganggu matamu? "


"aku takut kalau orang lain suka padamu" dengan suara kecil


" apa? kau bicara apa barusan? "


"lupakan!"


"apa? "


"ayo! apa?"


"gak takut di intip"


zara membeku beberapa saat karena setelah beberapa tahun lalu tidak ada yang khawatir padanya dan sekarang willi khawatir padanya walaupun tentang pakaiannya, hal yang menurut zara paling sederhana


"khawatir? " tanya zara sedikut ragu


willi lemalingkan pandanganya dari zara, sebaliknya zara juga memalingkan pandanganya dari willi


"baiklah aku tidak pernah bertanya seperti itu kepada mu? anggap saja aku tidak tau apa apa? lupakan saja! "


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


willi dan zara sampai di kantor, seperti biasanya mereka selalu sibuk dan diam satu sama lain. sebelum zara masuk ke ruanganya ia di panggil


" apa?"


"aku lupa sesuatu."


"apa? "


"tentang kotak yang kemarin, aku lupa menjelaskanya padamu."


"oh "


Zara duduk di sofa yang ada di ruangan willi. Willi menghampiri zara, ia duduk Bersebrangan dengan willi mulai menceritakan tentang kotak tersebut


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"bagaimana? "


"sejauh ini tidak ada yang mencari nona, hanya saja nyonya elin sesalu mencari anda, dan juga wanita yang menggantikan anda di pertunangan itu tiba tiba menghilang"


"pergi"


Pelayan itu pergi dari kamar hana, hana berjalan menuju jendela yang ada di kamarnya, ia menempelkan tanganya di jendela


"aku harus kembali "


Tok.... Tok....


Pelayan itu masuk kembali


"nona, kemarin nona liona menemui tuan willi"


"aku tidak peduli"


"tapi nona, tuan willi membawa seorang wanita"


"itu kebiasaannya "


"tapi wanita itu mendapat perhatian khusus bahkan wanita itu masuk ke kediaman long"


Hana langsung mengalihkan perhatianya ke pelayan itu


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"tunggu, kenapa kakek mu memberikanya kepada ku? Aku juga bukan anggota keluarga long? "


"gak tau, aku juga gak di bolehkan masuk dalam ruanganya"


"hmmm"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Zara duduk di ruangnya, ia memikirkan kenapa kakenya willi memberikan kotak peninggalan keluarga long bertahun - tahun lalu


"otak ku buntet, kenapa harus aku yang menjaga benda berhaga itu lagian itu batu rubi, hmmmm aku orang uang tidak telitih dan pelupa kenapa harus aku," keluh zara "kalau tidak ada kerjaan sungguh membosankan"


Zara melihat tangannya lalu ia meletakan kepalanya tidak lama kemudia ia tertidur


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"alice, alice, ayo bangun, malam ini bulannya indah"


"hmmm"


"ayo alice, "


alice bangun dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju jendela bersama alison, alison membuka jendela


"alice lihatitu bulanya berbentuk bulat dan angin malam juga tidak terlalu kencang"


"iya, alison cerewet"


"panggil aku kakak"


"kita saat lahir hanya beda 10 menit saja, kenapa aku harus panggil kamu kakal"


alison berjalan menuju alice, alison mencubit pipi alice


"aah sakit"