My Maid, Lara!

My Maid, Lara!
Pulang



Angin mengibarkan hijab Lara bagai kain yang tercabik tertiup angin. Tak ada yang berbicara.


Pemuda itu menunduk didepannya dengan sinar matanya yang kelam.


Beberapa Santri yang berlalu lalang menatap Lara dan pria yang duduk dibangku taman.


"Kenapa Lara? Kenapa kau tak mau pergi bersamaku, Kau boleh, Memakai pakaian berapa lapis pun dengan jubah hitam itu, Aku tak melarang! beribadah semaumu dirumah kita, Bersama anak anak kita. Hillary dan Leon!" Katanya dengan kesedihan yang mendalam.


"Kita akan menikah! Dan memiliki masa depan bersama.


Usiaku telah dua puluh empat tahun. Bukankah aku bisa mendampingimu? Katakan Lara! Apa yang kau inginkan aku akan memenuhinya! Selama ini aku sangat menderita karena kehilanganmu, Aku nyaris gila! Menyuruh Izmar selama lima tahun melacak keberadaanmu," Katanya sambil.meremas rambutnya dengan kuat seakan hendak menariknya sampai habis.


Lara menggeleng dengan pelan namun tegas.


"Tidak Zac! Aku juga harus pulang! Aku telah mengikat janji dengan Illahi, Disaat aku kehilangan ingatanku dan berpenyakit gila! Aku berjanji jika ingatanku akan pulih, Aku akan mengabdikan hidupku padaNya. Dan Aku berjanji Aku akan melupakan orang telah membuatku Melupakan Penciptaku. Dan itu adalah Kau dan orang orang yang kusayangi.


Ibuku meninggal sehari setelah datang menjengukku kemari,


Aku sudah tak memiliki siapapun lagi didunia ini. Namun aku masih memilikimu dan anak anakku yang terlahir tanpa ikatan.


Jadi tak ada lagi yang mengikatku didunia ini selain ikatan Allah. Kita adalah dua arah yang berbeda dalam segalanya.


Kau hidup untuk duniamu


Dan Akupun hidup untuk duniaku.


Aku tak akan pergi Mengikutimu Seperti kau yang tak akan mampu mengikuti jalan hidupku. Zac! Namun Kau adalah bagian termanis dari dunia yang akan kutinggalkan.Aku berharap kau selalu berbahagia dalam hidupmu! Aku telah menemukan jalanku yang dulu hilang, Dan kini aku akan pulang dengan kedamaian." Katanya pelan, Sepelan bisikan sang bayu yang menyapu hijab hitamnya yang kelam. Burdah tipisnya membayangi wajah yang jelita dibalik tirai.


Zac merasa terbanting kebumi yang paling dalam. Wanita yang dicarinya selama ini telah berubah karena penderitaan yang telah dia berikan.


"Lara! Untuk terakhir kalinya izinkan aku melihat wajahmu," Mohonnya hampir menjerit. Menahan beban yang hampir membuatnya berteriak hingga Burung dan hewan lainnya tersentak terbang membawa lukanya.


Lara hanya diam dan menatap kearah bukit. Zac Bangkit dan mendekat membuka ikatan niqab panjangnya , Namun ditepis pelan oleh Lara.


"Jangan Zac! Kau telah melihat bagian Yang terdalam dari tubuhku, Dan kamu pernah punya kesempatan yang banyak diwaktu lalu. Tanpa kau sadari, Dan kini semua pintu pintu telah tertutup. seperti siang yang tertutup malam. Masa itu selalu memiliki batas kejayaan dan akan habis bila sa'at itu tiba. Dan sekarang pergilah Panggilan Penciptaku sebentar lagi akan tiba," Suruhnya dengan lembut.


Zac mundur perlahan dengan mata yang kini membasah.


Melihat Lara mulai bangkit dari tempat duduknya.


"Pergilah Zac! Aku akan selalu mencintaimu dan anak anak kita, Namun aku harus pulang, Aku ingin pulang dalam keadaan tidak membawa apa apa! Percayalah Zac! Aku akan selalu berdo'a disetiap malam malamku untukmu dan untuk anak anak kita.


Sekali lagi! Kalian adalah bagian terbaik yang pernah ada dalam kehidupan yang akan kutinggalkan, Jangan pernah mengenangku! Atau bercerita tentang kemalangan yang menimpaku kepada anak anak kita! Hapuslah namaku dalam setiap sisi hidupmu! Karena itu hanya membuat luka bagi anak anakku yang tak akan pernah kulihat lagi, Kelak jika mereka dewasa katakan pada mereka kalau Ibunya sangat mencintai mereka berdua." Kata terakhir Lara sambil berbalik pergi dan tak menatap lagi sampai hilang dipintu bilik kecilnya.


Zac melorot turun kererumputan. Menangis bersama senja yang kian turun, Mengepalkan tangannya hingga mati rasa.


Tak ada asa yang tertinggal selain kehampaan. Dan Zac merasa layar hidupnya yang telah terkembang akan turun dan menguncup selamanya. Zachary!


Tak ada yang dapat menandingi kesedihannya sa'at ini. Slide kehidupan mereka sa'at hidup bersama. Kala Lara menangis dengan ciuman pertamanya, Dan percintaan pertamanya yang membuatnya terluka. Dan sa'at manis digerbong tua, Mereka berbelanja dan memakan mie instant bersama, Zachary bisa tertawa sa'at Lara memasak dengan kompor minyak yang tak pernah dikenalnya. Sampai sa'at Lara hampir menyakiti dirinya sa'at Zachary mengacuhkannya dipesta Aswin. Dan tatkala mereka melarikan diri ke Kalimantan dan menginap ditempat Devon.


Dan Lambaian terakhir tangan Lara yang lembut melambai kearahnya sa'at Zac dan Devon berangkat ke Tarakan.


Slide demi slide itu membuatnya kian lemas dan tak berdaya untuk melangkah.


Leo dan Cheryl tiba. Memapahnya memasuki mobil. Tubuhnya bagai tak bernyawa. Dengan pandangan yang kosong dia menatap tempat yang telah membuat Lara melupakan dirinya dan anak anaknya.


Dan mobil hitam itupun meluncur perlahan membelah petang yang kian meremang. Bias bianglala tampak memucat dilapisi awan yang mulai menghitam bagai jelaga kehidupan manusia. Sesungguhnya Allah yang membolak balikkan hati manusia. Selagi detak jantungnya masih melagukan kehidupan Allah akan merengkuh HambaNya yang ingin pulang.Dering telpon yang berada disaku Zac berbunyi dengan iramanya terdengar menyedihkan.


Dengan malas Zac mengangkat telponnya.


"Dev,Batalkan Mega proyek yang di pulau Sumatera! Dan hubungi biro travelku sekarang! Pesan tiket penerbangan pertama ke Warsawa, untuk esok lusa, Aku akan pulang," Katanya pelan hampir tak terdengar. Dan mematikan telponnya sekaligus.


...*************...


Pagi harinya!


Kemara Lara? teriak mereka mencari ditiap tiap sudut ruang dan luar rumah, Lara menghilang bagai embun yang menyesap kedalam Bumi. Pergi tanpa bekas. Dia bahkan masih meninggalkan sandal jepit tipis yang baru dipakainya. Mengantarkan nya ke Mushola kecil ditengah halaman pondokan.


Dan masih meninggalkan Burdah yang masih membekas hangat.


Tak ada satu barangpun Yang terbawa olehnya.


Semua masih tergeletak rapi pada tempatnya.


Lantas dimana Lara? Mereka panik dan gempar dengan mengatakan Lara menghilang karena penyakit skyzoprenianya kambuh lagi.


Nun jauh ditepi hutan yang basah seorang wanita bersimpuh takzim. disebuah rumah kosong, Hanya membawa tempat minuman dan baju hitam dengan kerudung hitamnya yang hampir menutupi seluruh wajahnya yang tampak lusuh.


Namun memancarkan cahaya kebaikan bagi tiap tiap manusia yang ditemuinya dijalan.


Hanya sebagian matanya yang terlihat berbinar indah.


Wanita misterius itu terus menyusuri malam yang kelam. Berjalan tanpa henti. Entah apa yang dicarinya orang orang yang kelak ditemuinya ditepi jalanan yang dilalui semua menggelengkan kepalanya dengan enggan menjawab pertanyaan seputar wanita itu.


Yang mereka tahu siapa yang membutuhkan pertolongan disaat wanitu itu datang pasti akan tertolong dengan mudah.


Bagai sebuah mitos ditengah kehidupan modern, Ternyata seorang wanita dengan kerudung dan jubah hitamnya yang datang dan pergi tanpa ada yang tahu.


Lara selalu tahu arah hidup yang ditempuhnya.


Dia tak pernah kecewa dengan dirinya. Yang selalu merasa dilindungi dari kejahatan. Dia beribadah kapan saja tanpa ada yang mengganggu. Dia makan dan minum sekedarnya dari rejeki yang tanpa pernah disangka sangkanya. Dia tak memerlukan rumah yang megah dan harta yang melimpah.


Tak ada yang mencela atau merendahkannya.


Karena Lara tidak hidup untuk orang orang yang telah menyakitinya.


Tak ada yang tahu tentang wanita itu bersembunyi dibalik cadar tipisnya dan menghindar dari keramaian manusia.


Dia bagaikan mukjizat pada orang orang yang membutuhkan pertolongannya.


Dia bukan tuna wisma dan bukan orang biasa.


Lara! Nama itu hanya bisa dikenang seorang wanita dengan akhlak mulia yang tercemar karena kekhilafannya.


Dan dia pun menghilang ditelan waktu. Tanpa ada yang tahu. Dimana kuburannya atau dimana rumahnya.


Tahun tahun itu tetap berlalu membawanya kesebuah dunia diluar nalar manusia.


...****************...


Sepuluh tahun telah berlalu.


Pria yang berusia 35 tahun itu tampak turun dengan gagah dari pesawat komersil Bandara Internasional Indonesia, Disambut sepasang remaja yang gagah dan cantik jelita dengan kalungan bunga bak seorang pejabat teras negara.


Lelaki itu tertawa dengan bahagia memeluk anak anaknya.


"Ayo, Ayah! Ceritakan padaku tentang keadaanmu ditepian sungai vistuola apakah suasananya masih seperti lima tahun yang lalu? Oh Aku ingin sekali kembali kesana melihat sunset yang menakjubkan melalui teras rumah pangsa yang moderen! Iya Kan? Leon?" Katanya kepada saudara laki lakinya yang terlihat agak pendiam itu.


"Aku tak suka kesana Hillary!Aku lebih suka suasana perdesaan yang sebenarnya, Bukan seperti suasana buatan yang dikarang oleh Leo dan Samirah," Katanya dengan pelan.


Pria itu memeluk bahu kedua anaknya.


"Oh Aku lupa seseorang memberikan bungkusan ini padaku!" Kata Hillary sambil memberikan sebuah bungkusan kecil ketangan Ayahnya.


"Orang yang aneh, Dia mencium pipiku juga pipi Hillary! Dia berkerudung hitam dan harum. Aku suka!" Kata anak lelaki remaja dengan mata bersinar sinar bahagia.


Hillary hanya mengangkat bahunya sambil tersenyum manis kepada sang Ayah.


Yang terbelalak dengan takjub.


Apakah Lara?


Dan lebih terbelalak sa'at membuka bungkusan yang terlihat aneh itu.


Seikat bunga mawar merah!


Bukankah Lara sangat suka bunga mawar?


Zac menghirupnya dengan penuh perasaan dan membayangkan bibir Lara yang secantik kelopak bunga mawar merah. seakan terngiang ditelinganya tatkala Lara berbisik disuatu waktu.


"Kalaupun aku pergi darimu suatu hari nanti aku akan tetap melihatmu dari kejauhan,"


"Lara, Aku juga selalu menatapmu selamanya dari dalam hatiku dan mataku akan selalu tertuju pada bayanganmu," Bisiknya kepada kelopak bunga mawar itu.


"Hai, Ayah Ayolah cepat, Kita akan merayakan pertemuan kita yang langka ini, Dengan memanggil Ibu Ratna dan Samirah. Juga Tante Cheryl dan suaminya yang sedang berbahagia merayakan kelahiran anak keduanya, Papa Devon dan Mama Airin juga sedang menunggu kehadiran Ayah! Untuk makan yang enak bersama sama," Ajak Hillary menarik tangan sang Ayah diikuti oleh sang adik Leon.


Leon berjalan tersaruk saruk sambil berkata" Liburan akhir semester Paman Izmar akan mengajakku berlibur ke Aconcaqua!" Katanya dengan riang dibalik wajah sendunya.


"Ah Ada apalagi dengan Izmar! Dia ingin aku membunuhnya!" Katanya pura pura marah, Disambut tawa Hillary dan Leon.


"Akhirnya cita cita si kunyuk itu kesampaian mengajak putraku ke Aconcaqua, Dasar peramal gadungan, Papa dan Mamaku pasti tak akan memberinya surat izin membawa cucu kesayangan mereka" Katanya dalam hati dengan berbunga bunga .


Mereka masuk kemobil dengan cepat dan meninggalkan barang yang diurus oleh Leo yang datang menjemput langsung ke Kargo.


Mobil mereka pun melaju menentang arah angin yang menghembus dingin.


Dari kejauhan Wanita berbaju hitam itu tersenyum dengan bahagia menyaksikan kebahagiaan Zac dengan keluarga yang tak lengkapnya.


MATAHARI MULAI TURUN!


anak Matahari yang panas itu melembut seiring waktu dengan cahayanya yang menerangi orang orang disekelilingnya.


...****************...


Tamat di part ini.


namun ada bab lain yang menunggu lebih seru!



Saksikan bab berikutnya ya Gaees?


Ceritanya semakin seru !


mungkin Bab tentang Zac dan Lara yang berakhir sejenak.


Namun bab baru ini akan membuat kalian lebih penasaran .


Dimanakah Lara dan bagimana kisah selanjutnya.