
Zac pulang ketika malam menjelang, Kala itu Lara telah mulai berkenalan dengan salah satu warga gerbong tua.Wanita berusia lima puluh tahun yang terlihat baik dan ramah. Lara sedang bercerita dengannya disamping gerbong sebelah yang baru tiba tadi pagi. Bu Mirah adalah salah satu tukang pijat yang dapat dipanggil dari rumah ke rumah.
Bu Mirah bercerita sambil mengurut bahu Lara yang terasa pegal. Perempuan itu tersenyum menyapa Zac yang pulang dengan pakaian yang kotor menghitam seperti terkena jelaga dicerobong asap dibaju kaos birunya dengan jaket jeans yang tergantung dipundaknya.
Lara memandang Zac dengan takjub, Zac sangat gagah dan tampak dewasa dengan mata kecoklatan ya yang bersinar. Dengan penampakan bak tukang jagal dirumah pemotongan hewan.Auranya seram dan keras. Dengan
Menganggukkan kepala kearah Bu Mirah. Suatu hal yang sangat jarang dilakukannya pada orang yang baru dikenalnya.
Wanita itu mohon diri pada Lara. Dan pergi menuju gerbongnya yang dibagi dua dengan pemilik lain yang berprofesi sebagai tukang asongan yang selalu pulang sa'at azan isya menjelang. Dan pergi sebelum shubuh kepasar sebagai buruh pengangkut sayur manyur para pedagang.
Lara menyambut Zac dengan penuh senyum. Mereka bagai pasangan yang sempurna walau si pria terlihat begitu dingin dan kaku.
Walau sepulang dari kerja Zac selalu memberikan uang selembar ratusan ribu buatnya. Dan Zac akan membelikan bakso atau martabak manis yang dipesannya malu malu pada Zac.
Pada hari Minggu mereka akan pergi berbelanja kepasar bersama. Dengan uang seadanya.mereka akan berhemat.
Atau kalau penghasilan Zac sedang naik Zac akan membeli produk susu yang berharga murah buat Ibu hamil juga membeli sebotol kecil madu dari apotek.
Zac akan bertanya pada Lara nama nama merk produk murah untuk mereka konsumsi.
Namun hari ini Zac tampak murung dan duduk dengan menekuk dengan tangan dilututnya dan tangan kanan yang memegang rokoknya.
Lara membawa air hangat yang telah dimasaknya kearah Zac dan mengusap wajah Zac yang duduk sambil menyalakan rokoknya didekat tempat tidur mereka.
Menyesapnya dengan handuk kecil.
Zac menepiskan tangan Lara dengan pelan. Merasa jengah atas perlakuan Lara .
"Sudahlah! Jangan berbuat seperti ini, Aku bukan Tuan besar sekarang! Badanku kotor ,Handuk kecil itu tak akan mampu menghapus kotoran diwajahku,"Protesnya kepada Lara. Wanita cantik itu terdiam dan menunduk diam , meletakkan handuk kecil dan air hangat itu kelantai besi gerbong. Lalu mencoba bangkit dan menjangkau gelas plastik yang tak jauh darinya.
"Atau kau mau minum?"Tanyanya lagi sambil menyodorkan Teh manis hangat kedepan Zac.
Pria itu menatapnya tajam dan tiba tiba saja menepis gelas itu hingga tergeletak dan menumpahkan isi didalamnya mengenai pakaian Lara.
"Apa kau bodoh Lara? Sudah kubilang aku benci minum Teh, Dasar bodoh!" Rungutnya kasar.
Lara tersentak. Mengapa Zac tak pernah berubah sepenuhnya. Mereka sudah tinggal digerbong ini selama satu bulan Namun Zac selalu bersikap dingin dan jarang berkomunikasi dengan baik.
Bicaranya masih kasar dan ketus.
Dia mendekat kala dia hendak menyentuh Lara yang hampir dilakukannya setiap hari sampai lara kelelahan dan melayani segala keperluannya setiap hari.
Tanpa sadar Lara mengusap perutnya yang masih rata.
Mampukah dia terus terusan menghadapi Zac yang lebih sering mempunyai mood buruk?
Lara pergi ketempat penyimpanan hidangan disudut ruangan gerbong dan meminum teh manisnya sendiri. Terasa hambar dimulutnya.
Sementara Zac belum beranjak pergi kesungai membersihkan tubuhnya yang kotor.
Ketukan dipintu membuat mereka saling melihat satu sama lain.Belum pernah ada tamu yang datang sejak mereka pindah kegerbong tua ini.
Sebelum Lara bangkit Zac telah lebih dahulu menuju pintu besi itu dan membukakannya dengan suara berderit.
Seraut wajah penuh bintik coklat dan bekas jerawat namun dengan tampang tersenyum dengan stelan coklat berambut ikal gondrong itu mendorong pintu dengan kuat sebelum masuk dengan cengengesan melihat kearah Zac.
"Kamu kemana saja Bodoh! Aku susah sekali mencari titik koordinatmu, Kenapa kau tak menghubungiku Zac,"Tanyanya memberondong beruntun kepada Zac yang menatapnya masa bodoh dan kembali duduk ditempatnya semula. Merokok dengan santai.
"Hei, Tampang Kriminal! Apa kau sudah tuli juga!?" Tanyanya marah sambil ikutan duduk disamping Zac. Dan menatap Zac lekat menunggu jawaban.
Zac membuang asap rokoknya dan meremas puntungnya dengan jari telunjuk dan jempolnya, Menggilasnya sekalian menjadi serpihan dengan tembakau yang menjadi partikel halus. "Mengapa kau datang Izmar!" Katanya dengan suara yang berat. Pemuda yang ternyata teman dekat Zac itu melihat kearah Lara yang tengah melihat kearahnya perlahan bangkit dan memberikan segelas teh manis yang masih tersisa satu gelas plastik sedang kedepan pemuda yang bernama Izmar itu.
Pemuda itu mengangguk dan menatap Lara dengan pandangan kasihan. Melihat kearah wajah pucat Lara dengan mata yang sembab bagai habis menangis.
Izmar tahu sebabnya. Apalagi kalau bukan Zac teman brengseknya itu pasti telah memarahi gadis malang ini.
"Silakan diminum,"Tawar Lara dengan suaranya yang lembut.
Melipat kain yang baru diangkat dari jemuran didepan. Yang dibuat Zac Minggu kemarin, Karena melihat Lara selalu menjemur pakaian mereka dibesi gerbong samping.
Zac takut baju mereka terkena karatan besi dan meninggalkan bekas kuning. Sedangkan Lara sudah susah payah menyuci pakaian mereka kesungai.
"Apa yang kau lakukan padanya Zac! Kau memarahi gadis itu lagi?"Tanyanya serius.
"Apa peduliku Dengan kemarahanmu Iz, Aku pusing, si Brengsek Aswin Halim itu telah memberikan kesaksian palsu bahwa surat perizinan perusahaan Kami yang di Kalimantan adalah Illegal. Padahal surat dan lisensi pemerintah sudah lengkap, Dan asisten Papa juga disumpal dengan uang hingga sanggup mengkhianati Devon dan Papa,"Kata Zac dengan penuh emosi tangannya mengepal kuat dengan buku jemari yang terasa panas.
"Lalu apa hubungannya dengan kau memarahi Lara, Yang sama sekali tak bersalah,"Protes Izmar kesal dan menatap Zac tajam.
Seperti biasa Zac mau disalahkan dan mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Aku bingung Iz, Aku pelik memikirkan Mama yang kini entah berada dimana , Juga Papa, Dan aku tak bisa berkonsentrasi disa'at bekerja, Aku takut seseorang menculik Lara yang tengah hamil, Beberapa hari ini aku merasa seseorang memata matai aku, Mungkin mau melakukan makar terhadapku," Katanya pelan. namun jujur. Izmar adalah sahabatnya dari kecil. Dan mereka berteman sejak duduk di bangku TK.
"Maka dari itu Zac, Pergilah dari tempat konyol ini, Mengapa kau menyiksa dirimu dan juga Lara, Heh! Kau ingin menjadi petualang picisan yang hidup dicerobong tua yang penuh asap? Untuk membuat catatan hidupmu di guines book?
Jangan gila Zac! Persetan dengan soal uang! Aku masih bisa membantumu kalau kau betul betul tak punya uang sepeserpun! Aku tahu kau masih memiliki rumah peristirahatan Bogor! Dan memiliki sebuah Galery Seni Ibu Ambarwati atas namamu di Bali, Dan persetan kau telah menjual Motor kesayanganmu! Kau ingin terlihat seolah olah menderita, Untuk apa Zac! Untuk menipu Lara agar bersimpati padamu? Dan tak meninggalkanmu? Dan membuatnya hamil dan kau meninggalkannya setelah kau bosan dengannya?" Kata Izmar dengan geram .
Zac menatap Izmar tajam.
"Hentikan! Aku tak memungkiri yang kau katakan.
Namun Terkadang aku juga berfikir, Mengapa aku harus akan menjadi seorang Ayah diusiaku yang masih delapan belas," Gumamnya pelan hampir tak terdengar.
Izmar membelalakkan matanya kearah Lara yang seakan tak mendengar perkataan mereka berdua.
"Lara hamil? Dan kalian belum menikah! Lalu anakmu lahir dengan statusnya yang tidak jelas. Apa kau tidak kasihan melihat Lara dan juga calon anakmu yang tinggal digerbong tua ini layaknya tuna wisma? Aku salah Zac, Aku tak pernah berpikir kau Senekat dan sebodoh ini! Zac ! Nikahi gadis itu! Atau kau nanti akan menyesalinya," Saran Izmar berapi api.
Kini ganti Zac yang terkejut dengan membelalakkan matanya. Melotot kearah Izmar.
"Menikah? Aku belum berfikir sejauh itu Iz! Apa kau gila! Aku belum siap dari segi umur!" Katanya seakan mengeluh.Izmar tampak terkesiap mendengar Jawaban Zac."Kaulah yang Gila! Mengapa kau justru bisa menghamili gadis itu jika belum siap menjadi Ayah? Aku tak mau mendengarkan alasan apapun, Kau harus menikah dengan Lara dalam waktu dekat,"Tegasnya dengan berbisik. Begitu dekat kewajah Zac sehingga ludahnya memerciki wajah temannya yang tampak merengut itu.
Izmar memegang tepatnya meremas bahu Zac dengan kuat.
"Dan Cheryl! Seminggu yang lalu dia meneleponku! Dia telah mengetahui keberadaanmu dari Edwin! Sebentar lagi akan datang menjemput kau kemari Zac!"Katanya dengan nada kalut.
Zac terdiam tak peduli.
Izmar mengusap usap bahu Zac dengan rasa sesal dan simpati namun tak dapat menolong Zac dalam masalah ini.
Izmar menatap Zac lekat dan kelihatan sangat menyesali tindakan sang teman yang melangkah terlalu jauh.
Dia berdecak decak sambil menggelengkan gelengkan kepalanya. Menepuk nepuk bahu Zac.
"Kau membuat masalah dengan meninggalkan masalah dan dalam keadaan masalah yang ada disekitarmu," Katanya sebelum melangkah keluar.
menuju kemobilnya yang terparkir jauh diujung jalan setapak yang melintas kejalan besar.
Zac tak peduli.
Dan membuang muka kesamping.
menatap kearah Lara yang kini tertidur atau mungkin berpura pura tidur. Lara mendengar semua percakapan Izmar dan Zac walau diucapkan setengah berbisik, Gerbong tua ini terlalu sempit untuk membuat suara mereka agar tak terdengar sampai ketelinga ya.
Menikah?
Zac tak ingin tahu dan tak mau banyak tahu tentang sebuah pernikahan yang baginya hanya sebuah ikatan yang membuat hidupnya terbelenggu selama lamanya.
Dia ingin bebas. Selalu bebas.
Dia juga akan menolak perjodohan dengan Cheryl.
Dan telah mengatakan pada Ibunya sebelumnya, Bahwa dia tak ingin ada perjodohan yang telah disepakati oleh orang tua mereka.