
Bait demi bait lagu Jhon Scada itu mengalun lembut dikamar Zac.
"If you go, Sy good Bye.
There'll Be something missing in my life.
Cause you know.
That all, I really want is you (is you)
yeah, Yeah.
Seandainya kau pergi, Dan mengatakan Selamat Tinggal.
Akan ada sesuatu yang hilang dalam hidupku.
Karena kau tahu, Itu yang benar benar Aku inginkan, Adalah kau.
Yeah, Yeah.
Melihat kearah Lara yang sedang tertidur diranjang besar Devon.
Dengan mata menutup diam.
Entah dia tertidur atau sadar. Zac tak ingin menganggunya.
" Kapan kau berencana untuk memindahkan kakak perempuanmu itu ketempat peristirahatan terakhir kalian,"Suara itu datang mengusiknya ditengah Alunan Lagu merdu itu.
Zac mengerutkan mukanya tak suka dengan perkataan Devon.
"Kalau cemburu katakan saja! Tidak usah memakai kata " Kakak perempuan dan Tempat peristirahatan terakhir" Memangnya kami mau mati apa!" Dengus Zac tak senang.
Devon hanya tertawa terbahak bahak.
"Ayolah Dev! Tunjukkan sebuah rumah ditempat kerjamu dihutan itu,Kami akan menetap disana," Bujuk Zac serius.
"Hai, Kalian tak boleh bersama sebelum anak didalam perut wanitamu itu lahir dan kalian harus menikah dulu, setelah tiga bulan Sepuluh hari," Kata Devon tak kalah serius.
Membuat Zac tercenung sejenak.
"Ah terlalu nama menunggu waktu itu, Apakah tidak boleh dipercepat Pak Ustazd?" Pinta Zac Mencoba berdiplomasi.
Devon mendorong bahu adiknya dengan keras sambil berkata.
"Hei itu aturan agama Bung! Kau pikir seenak jidatku merubahnya?" Jawabnya dengan cepat.
"Oh lama sekali!" Fikir Zac yang tak pernah tahu apa apa tentang sebuah agama.
Dan Devon juga baru mulai belajar sejak tahu permasalahan yang menimpa sang adik.
Dan belajar dari panduan ponselnya.
"Kalian boleh tinggal disini, Karena aku akan membantu kalau kalau ada pihak yang berwajib datang mencidukmu sebab melarikan istri orang lain." Sarannya dengan wajah serius.
Dan Buktinya hingga kini tak ada yang mencari Lara. Karena Aswin sudah putus asa dengan kenyataan yang sebenarnya bahwa Lara telah mengandung anak Zac.
Dan itu sangat memukul harga dirinya didepan keluarganya dan rekan rekannya. Yang menudingnya telah mencoba merusak hubungan seseorang dengan cara yang salah. Sehingga Aswin tampak buruk didepan orang orang.
Dan Aswin sangat keberatan menerima Lara dengan anak Zac yang bersemanyam dirahimnya.
Dan Aswin yang pada dasarnya hanya ingin membuat Zac menderita memilih mundur dan membuat rencana kedepan untuk mencelakakan Zac dan Lara karena telah membuatnya sakit hati untuk yang kedua kalinya.
Dan setelah anak mereka lahir.
Mereka akan menikah dan menetap di Tarakan. Tempat Devon membuka perusahaan pertambangan terbarunya. Dan Zac akan berusaha menahan dirinya agar tidak mendekati Lara sebelum Mereka menikah, Dan ini sangat sulit baginya.
Sementara mereka bekerja masuk kedalam hutan.
Sementara Lara menyibukkan diri dengan kursus memasak dirumah dan merajut bahan pakaian untuk Zac dan calon anak mereka.
Dan juga mencoba merajut Sweater buat Devon sang kakak Ipar.
Devon menyanyangi Lara yang selalu penurut dan menyiapkan pelbagai makanan yang enak buat mereka ketika kelelahansepulang bekerja bersama Zac. Sekarang Devon merasa betah berlama lama diapartemennya yang biasanya sunyi namun kini menjadi ramai dengan kehadiran Lara dan Ibu Ratna,Juga Aini dan Samirah. Devon membeli dua unit Aparteman yang mengapit tempat tinggal mereka persis ditengah tengah. Sehingga Lara merasa aman dan nyaman, Dan merasa terhibur dengan mereka yang sudah seperti keluarga ditempat yang jauh.
Devon yang memang terbiasa bergaul dengan para asisten keluarga mereka malah sangat bahagia dengan kedatangan mereka ke tempatnya.
Dan Ibu Warsini tak tahu menahu tentang nasib Lara, Yang hanya diketahuinya masih bersama Aswin.Dan Wanita setengah baya itu tak pernah menghubungi Lara dari desa kecil mereka.
Dia sibuk dengan rutinitasnya mengolah daun pandan dan tunjangan hidup yang dikirim Zac sebulan sekali dianggapnya berasal dari Aswin.
Lara sengaja merahasiakan tentang dirinya karena takut Ibunya akan sangat marah dan kecewa karena dia telah pergi dari Aswin dan tinggal bersama Zac, Dan dalam keadaan berbadan dua.
Ibunya yang sangat religius pasti akan sangat murka. Dan Lara tak ingin hal tersebut akan terjadi.
Lara dan Zac menunggu sa'at yang tepat untuk berbicara dengan orangtua itu.
Mungkin setelah mereka menikah dan anak mereka yang akan lahir.
"Lara, Biarkan kami yang mencuci baju Zac, kamu sangat kelelahan," Kata Samirah khawatir melihat Lara yang kepayahan dengan perutnya yang besar tengah menjemur beberapa potong baju Zac yang telah seminggu tak dicucinya menemaninya ketika tidur dengan aroma Zac Masih tercium disana.
Zac dan Devon tengah pergi ke Tolaki dibagian daerah Sulawesi. Mengadakan peninjauan keperusahaan mereka.
Zac menjadi workaholic sejak Lara ada yang menemani.
Dia dan Devon lebih sering berpergian kedaerah daerah terpencil dan pedalaman lokasi penambangan dan perkayuan sebagai lahan usaha mereka.
...****************...
Dan akhirnya telah dua bulan berlalu Zac dan Devin tidak pulang kerumah.
Mereka menginap dikamp peristirahatan bersama para pekerja pekerja mereka.
Dan Do'a Lara selalu mengiringi mereka berdua.
Hari yang dinantipun telah tiba
Suara Jeritan Lara yang tengah kesakitan itu datang dari sebuah kamar diapartemen Devon dan Zac.
Lara masih merasa baik baik saja siang itu. Sa'at membantu Bu Ratna menyiapkan makan siang untuk Pak Herman dan lima orang anak buahnya. Mereka bertugas menjaga rumah merangkap sopir dan mengerjakan penjagaan ketat diapartemen Devon.
Dengan tangkas Bu Ratna menelpon Bidan yang berpraktek tak jauh dari tempat tinggal mereka. Lara meringis dan perutnya tiba tiba sangat sakit dan diiringi air yang berlendir mengalir dipahanya. Tak sampai satu jam jeritan melengking itu tak terdengar lagi!
Diam dan senyap.
Tak lama Bu Ratna tiba dengan Bayi Kembar yang berukuran tak biasa.
Sangat kecil seukuran mentimun Dengan suara tangisan mereka yang mirip bisikan.Pelan dan hampir tak terdengar.
"Ya Tuhan mereka sangat kecil Bu?!" Kata Samirah dengan nada khawatir.
Bu Ratna hanya diam melihat sekilas bayi kedua bayi kecil yang tengah tertidur itu
Dengan cekatan mengisi dua botol bekas sirup dengan air hangat dan merapatkannya kepada si Bayi. Yang berjenis kelamin laki laki dan perempuan itu.
Lara masih lemas dan Bu Bidan masih membuat jahitan dijalan lahirnya.
"Apa kegunaan botol botol yang berisi air hangat yang ditempel kebayi itu Bu?" Tanya Samirah heran.
"Itu Inkubator Tradisional orang jaman dulu sebelum ada mesin penghangat seperti sa'at ini," Terang Bu Ratna dan melihat kearah kedua bayi yang nampak tidur dengan nyaman.