
Seminggu kemudian.
Zac tiba bersama Izmar dan Devon. Ke Apartemen mereka di Kalimantan.
Zac benar benar heran dengan Izmar. Temannya yang konyol tapi jenius ini. Baginya sama persis dengan kucing sa'at mendengar tuannya yang sedang makan.
Selalu tahu dimanapun Zac berada dan selalu berhasil menemukannya. Konyol sekali rasanya hanya mencari Zac dengan alat canggihnya dan membuang begitu banyak waktunya hanya untuk bertemu dengan Zac dan hanya untuk memulai perang dingin oleh berbagai sebab yang sepele.
Mereka bagai sepasang angsa yang berenang didanau kotor. Dengan sarang kotor terbuat dari ilalang dan jerami yang telah kering.
Yang satunya menjadi pemantik kemarahan dan satunya bagai jerami kering yang mudah terbakar.
Hari ini Izmar melangkah mengikuti langkah kaki Zac yang panjang. Sambil berkeluh kesah tentang sinyal yang buruk.
Zac berjalan terus tanpa perduli. "Hei Zac! Aku tak percaya kalau kau telah punya anak, Dua orang lagi!
Huh, Tapi aku senang Zac! Aku akan mengajari anak lelakimu membuat transformator listrik untuk pemijat elektrik untukku disa'at tua nanti," Mulutnya terus mengoceh panjang lebar sambil melompat ketangga lantai atas kearah sebuah kamar yang berhawa sejuk. Zac terdiam tak menyahut walau barang sepatah kata, Namun setidaknya dia sedikit menghangat dengan kehadiran sahabat kocaknya dengan seribu kata kata yang bagai musik pagi dari radio yang menyiarkan bunyi kata kata asing yang dinikmatinya tanpa minat namun mampu mengisi mode diam yang akan menambah kegundahan Zac.
Oleh karena itulah Zac membiarkan Izmar dan Devon terus perang mulut yang ditingkahi lelucon aneh yang terkadang membuatnya tersenyum tipis sejak dari Bandara kecil yang berada dikota Tarakan.
Hingga Tiba dikota tepian Kalimantan yang berhawa sedikit hangat.
Zac masuk dan tercenung mengingat SMS yang dikirim Ibu Ratna mengabarkan kepergian Lara yang begitu tiba tiba.
Membuatnya dari kemarin tak berminat melayani ocehan Izmar seperti biasanya.
Zac serasa bagai bermimpi melihat bayi bayi kecilnya yang sedang berada di box bayi dengan tubuh yang sebesar botol minuman rhum dikulkas.
dengan menggunakan celana dan baju panjang. Lengkap dengan topi kupluk mereka yang lucu.
Izmar sibuk memotret mereka dengan rasa takjub yang besar.
Tanpa kata Zac menatap wajah anak anaknya yang menatapnya sambil mengepalkan tangan kecilnya dibawah dagu, Hillary. Nama itu tertera ditopinya hasil rajutan tangan Lara.
Bayi perempuan yang sangat menggemaskan itu tampak menatapnya nanar dengan mata coklatnya yang jernih.
Dan menoleh kearah satunya yang sedang menatap keatas sambil mengeluarkan lidahnya yang bercampur liur yang meleleh jernih.
Zac mengambil tissue dan mengelap dengan lembut bibir anaknya yang berjari sekecil pangkal lidi. Pikirannya berkecamuk antara bahagia sedih yang luka yang teramat dalam.
Mata Zac memerah! Rasanya ingin menghancurkan dan memporak porandakan tempat ini.
Namun bagaimana dengan kedua anaknya?
Devon dan Izmar memegang bahu Zac yang terlihat terkulai lesu sambil mengusap usap pipi Hillary dengan ibu jarinya.
"Anak Tengil ini kena batunya sekarang!" Fikir Izmar dengan tatapan iba kearah Zac. Selama dia berteman dengan Zac baru kali ini Zac terlihat tak berdaya. Dan ketika hidup digerbong bersama Lara, Zac masih saja terlihat sombong dan angkuh hidup sebagai seorang tunawisma.
Dan ketika Zac terseret kalah balapan diputaran terakhirnya anak nakal ini masih mampu mengacungkan tinjunya keatas sebagai tanda menunjukkan kehebatannya.
"Mengapa harus pergi! Lara! " Katanya pelan.
"Dia harus pergi Zac!" Suara Ibunya dari arah pintu masuk menyela tiba tiba. Membuat ketiga pemuda itu terjengkit kaget, Memandang serentak kearah pintu kamar Bayi mungil itu.
"Kau tidak bisa menikah dengan Lara, Dan bayi ini akan diasuh oleh tiga orang suster yang berpengalaman dan profesional tentang pengasuhan dan pengembangan motorik kedua anak itu, Lebih bagus dari didikan seorang Ibu yang hanya tamatan Sekolah menengah dikampung," Sambungnya lagi membuat kening ketiga pemuda itu berkerut dan menarik alis mereka serentak. Mendengar perkataan yang sangat tidak masuk akal itu.
Zac terdiam sambil meremas kain bayinya yang berada dibawah tangannya. Menatap tak berkedip kearah rak baju bayi pada bagian paling bawah terdapat Satu stel Sweater Rajut berwarna abu abu didalam kotak plastik yang dikemas rapi bertuliskan nama Zachary!
Matanya memanas dengan pandangan mengabur oleh sesuatu yang tak pernah terjatuh dari kelenjar airmatanya.
Dia pernah menangis sa'at berusia 8 Tahun sa'at Sweater kesayangannya yang akan dipakai telah berlubang karena kesalahan menyetrika oleh Ibu Ratna. Zac tak bisa memarahi Ibu Asuhnya sejak kecil itu. Dan dia menangis karena Sweaternya hadiah malam natal yang diberikan oleh sang nenek dari Polandia.
Nenek yang belum sempat dikenal olehnya yang meninggal sa'at Zac berusia 12 tahun.
Dan kini Zac menangis karena Sweater yang dirajut oleh tangan spesial dari wanita yang spesial untuknya.
Izmar merenung sejenak!
Lara cerdas dan cekatan dalam mengurus Zac dengan seribu satu sifat jahat. mana mungkin tak becus mengurus bayinya yang hanya disodorkan ASI dan merawatnya dengan kasih sayang.Pikirnya pusing!
Ibu Zac memang sengaja memisahkan Zac beserta bayinya dari Lara dengan alasan yang tak masuk akal.
"Diamlah Zac! Kau mau melihat Papamu mati? Dan menanggung malu tak berani memperlihatkan dirinya ke publik karena ulahmu? Yang membawa Lari istri Aswin dan mengkhianati Keluarga Himawan yang telah banyak membantu keluarga kita! Kau sudah dewasa dan sebentar lagi berusia 19 Tahun. Dan telah memiliki 2 anak, Kau pasti tahu bagaimana rasanya memiliki anak, Dan seandainya kedua bayimu kelak dewasa mengkhianatimu! Apa yang kau rasakan?" Kata Ambarwati mendekatkan mulutnya kearah putranya yang tengah tercenung itu.
"Kau akan menikah dengan Cheryl setelah menyelesaikan pendidikanmu. Tidak ada sanggahan atau alasan apapun, Masih bersyukur Cheryl mau menerima kedua bayi ini sebagai anaknya dan ikut mengasuhnya hingga dewasa." Katanya memandang kearah Bayi dengan pandangan tak senang."Mereka anak malang yang kehadirannya tak diinginkan keluarga kita,"Ucapnya dengan pandangan merendahkan kedua anak Zac.
"Berhenti mengatakan itu!" Bentak Zac tanpa sadar. Dia tak suka anaknya direndahkan oleh Ibunya.
"Aku sangat mencintai mereka, Ma!" Sambung Zac merendahkan suaranya.
" Lantas, Bagaimana dengan kami? Apa kami tak mencintaimu? Dan kau harus menikah dengan gadis baik dan berasal dari keluarga baik baik,"Kata Ambar tak mau kalah.
"Mengapa harus aku?" Katanya putus asa.
"Iya Tante, Aku atau Devon, Kami juga mau kok menikah dengan Cheryl," Sela Izmar memberanikan diri. Dan meringis sa'at Devon menginjak kakinya diatas lantai.
"Kau saja yang menikah! bodoh! Jangan bawa bawa namaku," Bisiknya dengan marah.
"Cheryl hanya ingin Zac sejak mereka kecil bukan yang lain," Jawab Ambarwati dengan suara lelah. Dan terduduk sambil memijit kepalanya yang terasa sakit.
"Aku tak ingin anak anakku diasuh oleh siapapun selain Ibu Ratna dan Samirah," Putus Zac tegas sebelum bangkit dan pergi meninggalkan ruangan yang sejuk itu.
Suasana berubah dingin dan terasa beku. Entah apa yang akan terjadi kedepannya. Hanya waktu yang bisa menjawab.
...****************...
Zac mengepak barang barangnya dengan wajah tegang. Hari ini dia akan berangkat ke Ibukota untuk melanjutkan studinya. Ayahnya telah tiba kemarin dirumah besar.
Dan Zac tak akan pergi keluar negeri.
Perguruan tinggi di negeri ini sudah bisa diandalkan dan menjadi maskot mahasiswa dari luar. Dengan banyaknya Alumni alumni terbaik yang handal.
Lagi pula ada sebab lain sehingga Zac jadi pergi, Yakni anak anaknya! Bayi Hillary dan Leon.
Izmar yang sejak tadi merasa sedih dan kasihan kepada Zac hanya berputar putar mengelilingi pemuda yang tengah sibuk itu.
Zac tak ingin ada yang membantunya mengemas barang barangnya. Dia ingin Bu Ratna dan Samirah menjaga bayi bayi malang itu.
"Aku jadi ingat waktu kita masih duduk dibangku SMP dulu," Katanya memulai pembicaraan yang biasanya hanya mengundang kekesalan Zac yang sedang ruwet.
Zac memiringkan wajahnya dengan waspada kearah Izmar bersiap siap memukul kepala sahabatnya yang jenius tapi konyol itu.
"Apa yang kau ingat! Heh!",Tanyanya dengan setengah hati.
" Kau mengajak aku mendaki ke Acancoqua dan kita tertinggal Jadwal karena kau salah meletakkan dompetmu berisi dokumen kedalam tas yang salah yaitu memasukkannya kekoperku, Kau marah dan kita tak jadi berangkat,"Katanya mengenang sejenak sebuah peristiwa bersejarah itu.
"Kita masih terlalu kecil sa'at itu dan Ibuku yang berbuat begitu! Bukan aku Iz," Sahut Zac tersenyum samar.
"Hei aku akan mengajak anakmu untuk berangkat ke Acancoqua mengajak Leon Zachary!" Seringainya optimis.
"Kau sudah jadi hantu di Aconcaqua sa'at hari itu tiba Izmar!" Sambut Zac tertawa sejak kedatangannya kekota ini.
Izmar tersenyum hangat melihat Tawa Zac. Baginya senyum dan tawa Zac lebih penting dari Puncak Aconcaqua impiannya.
Dia hanya ingin melihat Zac tetap optimis mengejar cita citanya demi anak anak kecilnya yang terbaring disebuah kamar. Dan Izmar berharap Zac akan bersatu dengan Lara.
Namun sepertinya mimpi itu akan menunguap setelah dia melacak Lara dengan alat canggihnya berbentuk Komputer mini yang selalu dibawanya.
Dan ternyata data Wanita itu menunjukkan Tanda invalid!
mengatakan Bahwa Lara sudah tidak berada disana. Dan kalaupun Lara masih ada mungkin ditempat yang tak terjangkau oleh gelombang elektromagnetik dari pantulan satelit.
Dimana engkau Lara! Desah Izmar dengan sedih.
Menatap kearah sahabatnya yang sebentar lagi akan tinggal landas menuju Bandara.
Star Dash! Zac!
Kamu harus kuat. Bisiknya hilang terbawa angin siang yang meniup pelan.