
"Pagi Lara! Apakah tidurmu nyenyak semalam?" Suara dari samping membuatnya terkejut.
Ternyata telah Pagi kembali.
Lara tersipu malu Sa'at membuka mata melihat Aswin yang berdiri disamping ranjangnya.
Berpakaian Casual dan tampak "moody" dengan senyumnya yang menawan.
Lara tersenyum malu dan bangkit dari tidurnya, Terduduk sebentar dan menutup mulutnya yang menguap.
Lara mengangguk pelan.
"Pak Win sudah bangun?" Tanyanya dengan suara yang terasa sumbang.
Dengan cepat Aswin menempelkan telunjuknya kebibir Lara.
"Kau Cukup memanggilku dengan sebutan Aswin saja, Sekarang Kau adalah Istriku Lara!" Bisiknya pelan.
Lara tersentak.
Sangat aneh bagi dirinya menerima statusnya yang baru.
Tapi ini bukan mimpi.
Ini adalah sesuatu yang nyata yang mau tidak mau harus diterima olehnya.
Apakah dia bangga?
Sama sekali tidak! Dia merasa masih bermimpi dengan semua yang terjadi begitu tiba tiba.
Masih lekat dalam ingatan tatkala Zac memeluknya dipagi hari.
Dan mereka akan pergi berdua kesungai jernih berjeram kecil.
Mereka berbicara seperlunya.
Namun Zac dengan cepat meraih pinggulnya sa'at Lara hendak terjatuh. Zac melindungi tubuhnya tatkala kehujanan sepulang mereka dari berbelanja dipasar rakyat.
Zac kedinginan dan memberikan jaketnya untuk melindungi Lara dari kuyupnya hujan.
Dan Zac akan menyisakan Mie Instant gorengnya tatkala melihat Lara sangat menikmati makanannya yang terkadang membuatnya berselera.
Hati Lara semakin teriris ketika mengingat kembali betapa antusiasnya Zac membawa susu murah Ibu hamil untuknya. Dan menyebut nama Lara didalam tidurnya ketika Zac demam disuatu malam digerbong.
Semua terasa baru terjadi bagai slide demi slide diantara kisah Mereka.
Permainan dimulai.
Sekarang lengan Aswin melingkari pinggangnya yang kecil dan ramping mengelus elus perutnya dengan sangat lembut.
Sambil berbisik ditelinganya.
"Untuk merayakan kehadiranmu dirumah ini, Nanti malam aku akan mengundang beberapa tamu penting, Agar mereka tahu kamu adalah istri dari Aswin Halim Winata." Katanya didekat telinga Lara. Hembusan nafasnya yang hangat membuat bulu kuduk Lara meremang. Bukan sensasi yang mengundang hasrat kewanitaannya. Seperti sa'at Zac memeluknya.
Lara merasa didalam pelukan Aswin yang.malah mengundang ketakutan yang tak dapat dipahaminya.
Mengapa harus takut? Bukankah Aswin sangat lembut dan Pria ini juga adalah suaminya?
"Bersiaplah,Istriku yang cantik!," Ucap Aswin sambil mengelus bahu Lara yang tertutup sutra tipis menonjolkan lekuk bahunya yang simetris dan mengayun indah.
Lara memang hebat. Mampu membangkitkan sisi diamnya yang telah padam selama bertahun tahun sejak pengkhianatan yang terjadi dimasa lalu.
Dengan aroma tubuhnya yang beraroma wangi mawar yang samar Aswin hampir kehilangan kendali dirinya.
Mereka belum pernah bersama, Alasan Lara yang bertubuh lemah dan terlihat kurang fit menjadi alasan yang kuat agar tidak dalam satu ruangan dengan Aswin.
Aswin hanya diam dan menuruti permintaan Lara.
Dia akan menunggu Lara masuk kedalam umpan yang dipasangnya agar Lara masuk dan tak mampu melepaskan diri darinya.
Pertama sekali yang akan dilakukan Aswin adalah mengundang keluarga Hasril Rosyadi, Terutama putra bungsu mereka yang bernama Zac.
Devon tak bergeming ketika Ratih sang Chef handal itu dinobatkan sebagai kekasihnya.
Devon sama sekali tidak menyukai Ratih yang sukses, Cantik dan cerdas.Namun ada pengecualian buat Zac.
Anak ini pasti akan meradang tatkala mainannya yang mengasyikkan itu telah direbut. Yaitu Lara.
Dengan merusak mood Zac agar kacau, Sebab Zac terdengan kabar burung mengatakan Zac baru tiba dari Kalimantan.
Dia adalah pengusaha termuda yang mampu membuat spekulasi besar besaran bersama sang kakak. Devon!
Zac Cepat dalam bertindak, Cakap dan Ambisius dengan darah mudanya.
Dia baru tiba dari Jerman, Untuk menimba ilmu Engineer otomotif yang mulai mempelajari manajemen keuangan dan pengaturan jaringan bisnis keluarganya.
Zac tak bisa dianggap sepele dengan usianya yang masih muda.
Zac terkenal dengan sifat berangasan dan ganas ciri khas jiwa muda yang masih labil.
Jadi Aswin berasumsi lebih mudah menghajar Zac dengan cara yang lebih lembut dan halus dalam menghancurkan mentalmya dari dalam. Undangan yang telah disebarkan kebeberapa kolega penting dan termasuk rival bisnisnya yang dianggap berbahaya.
Seolah menunjukkan betapa kuat dan tangguhnya dia dalam menjaga silaturahmi yang sempat terurai karena mencoba menjerumuskan pesaing bisnisnya dengan cara skenario yang dibuatnya.
Jika anak mental anak muda itu hancur maka dengan mudah Aswin memporak porandakan Keluarga Hasril dengan cara yang lebih kejam.
Dendamnya kepada Zac sangat dalam. Dan Aswin ingin melihat Zac remuk redam dalam kekalahan.
"Aku telah menyediakan tim make up artis untuk membantumu dalam menyiapkan penampilan terbaik," Kata Aswin sebelum pergi meninggalkan Lara yang terdiam ditempatnya.
...****************...
Musik lembut dari penjuru ruangan terdengar mengalun lembut dan mewah.
Beberapa wanita Cantik berkelebatan persis kupu kupu didalam taman.
Dengan pakaian anggun dan penuh warna yang berkilau
Lara tidak perlu merias wajahnya dengan berlebihan. Dia tak ingin ujung jari siapapun yang menghias wajah cantiknya.
Lara merias wajahnya dengan compact powdwer transparan. Wajah yang telah dilapisi dengan Foundation itu terlihat hebat.
Putih halus laksana satin, Warna cerah menyatu dengan kulitnya yang bersinar.
Lara mempertegas bibir indahnya dengan warna peach lemut berkilau dan menambah sinar diwajah natural alaminya.
Tulang rahang dipipinya diusap dengan sekali sapuan blush on yang sewarna jingga merah emas.
Tampak samar dengan lekukan pipinya dengan lengkungan indah.
Lara melihat bayangan wajahnya yang sangat cantik bagai burung cendrawasih yang anggun.
Lara memakai kostum berbentuk gaun dengan terusan panjang berkilauan batu pasir berlian pada bagian pinggang kebawah.
Gaun berbentuk balutan lekat kebadan itu membalutnya dalam nuansa hitam dengan leher rendah.
Sehingga dadanya yang besar dan indah itu benar benar tak bisa diabaikan oleh mata siapapun.
Membusung pas dengan sangat memukau.
Dengan balutan Syal tipis halus sutra yang berkilau dileher jenjangnya yang putih. dan mengulur turun menutupi perutnya yang mulai terlihat.
dengan asesories kecil yang kalem lembut menekuarkan kilapnya didalam cahaya lampu.
Ramnut panjangnya digelung keatas dihias tiara kecil berbentuk bulan sabit dua helai kecil rambutnya menjuntai lembut disisi pipinya .
Lara turun dengan iringan tatapan para asisten rumah tangganya dengan pandangan kagum. dan memuja.
Lara tiba ditangga dan langsung disambut oleh Aswin suaminya dengan menggandeng tangannya dengan bangga.
Mata yang terkagum kagum kepada Lara sebagai salah satu peserta baru dan penting didalam komunitas mereka.
Dari sekian banyak mata yang memandang kearah Nyonya Aswin Halim, Seorang pemuda yang duduk didekat jendela kaca disamping luar rumah sama sekali tak bergeming dari tempatnya.
Disamping pemuda itu tampak Ambarwati Sang Ibu sedang tertawa senang terlibat dalam obrolan seru dengan salah satu tamu.
Sepintas lalu terlihat tak ada permusuhan diantara Keluarga Halim dan keluarga Hasril.
Zac!
Menghabiskan minumannya dengan cepat menatap kearah tamu dan menyapu pandangan sekaligus kearah Lara yang digandeng suaminya kearah Zac.
"Lara! Kenalkan, Ini keluarga Hasril, Salah satu mitra kita," Kenalnya pada Lara dan disambut Ibu Ambarwati yang mengulurkan tangannya dan mencium pipi Lara dengan hangat.
"Silakan duduk sayang!," Suruh Aswin pada Lara yang sengaja duduk disamping Zac.
"Dan ini Putra Bungsunya,Zachary Hasril Rosyadi," Sambungnya lagi. Dan mencoba melirik riman wajah Zac yang tampak datar dan acuh
Anak itu terlihat tak perduli sama sekali dan hampir membuat airmata Lara terjatuh seketika.
Sa'at tangan Lara yang hendak.menjabat tangannya tak disambut oleh Zac.
Zac Malah mengambil pisau pemotong buah dan membuat keratan pada potongan melon didepannya memakannya tanpa kata.
Lara menatap kewajah Zac dari samping dengan terang terangan, Penuh kerinduan dengan wajah kian sendu. Dengan wajah hampir menangis. Lara tak perduli dengan tatapan heran Ambarwati yang tak pernah mengenal atau berjumpa dengannya Lara.
Zac! Katanya dalam hati.
Dalam kurun satu bulan Zac telah banyak berubah.
Rambutnya telah tumbuh sepanjang dua sentimeter. Tubuhnya tampak semakin tegap dan berisi.
Wajahnya terlihat bersinar cerah.
Zac menatapnya dengan sinis persis sa'at mereka jumpa pertama kali.
Zac menepis tangannya dengan jijik dan menjauhkan tangannya yang terletak berdekatan dengan tangan Lara diatas meja.
Lara terluka dengan sikap Zac .
Lara merasa gila.
Dia merasa tak ada orang lain didalam ruangan ini .
Hanya dia dan Zac.
Hawa terasa semakin menipis diparu parunya.
Kandungannya yang baru berusia 3 bulan lebih itu terasa bergolak.
"Zac! Jangan berpaling dariku! Zac! Atau aku akan mati bersama anakmu," Katanya tak kuasa mengendalikan dirinya dan merebut pisau ditangan Zac.
serta melayangkan kearah perutnya.
Seketika itu Zac menahan dengan tangannya dan berusaha menepis pisau yang tajam mengkilat itu hingga terlempar jatuh kelantai.
Ambarwati, Aswin dan tamu disekitar meja besar itu terkesima dan mulai paham apa yang telah terjadi terjadi.
Serta terpekik pelan melihat tubuh Lara yang terjatuh kepelukan Zac.
Ambarwati hampir terjatuh dengan limbung. Sa'at melihat kearah perut wanita itu yang terlihat mengembang kedepan seperti orang hamil dipermulaan triwulan kehamilan pertama.
Suasana geger!
Zac tak perduli dengan teriakan Aswin sa'at melarikan tubuh Lara yang pingsan kearah mobilnya.
Sa'at Aswin hendak memburu Zac dan Lara, Tangan wanita itu menahannya. Dan berkata dengan tegas didepan keluarga Aswin lainnya.
"Aku tahu! Mengapa kau menikahi wanita itu, Dan mengundang kami kerumahmu! Dan sebuah teka teki untuk anakku Zac! Mengapa dia tak ingin lagi melanjutkan hidupnya! setelah kejatuhan keluarga kami yang disebabkan olehmu Aswin! Kau ingin melihat Zac hancur melihat wanita yang dicintainya telah menikah dengan orang yang telah menghancurkan keluarganya. Ternyata Kau sangat licik Aswin! Ingat! wanita itu dalam keadaan hamil dan kau tidak sah menikahi wanita dalam keadaan hamil.
Lepaskan Wanita itu! Dan biarkan anakku Zac berbahagia dengannya.
Sebelum Zac benar benar melenyapkanmu bersamanya!" Ancam wanita itu sebelum pergi bersama para asisten dan pengawal yang dibawanya tanpa sepengetahuan Zac.