My Maid, Lara!

My Maid, Lara!
Penculik Atau Penolong?



Pria pemakai Ray-Ban hitam dimatanya itu terus menatap kearah gerbong tua ditengah Ilalang itu sambil memainkan penutup Gasper sealt belt mobilnya meninggalkan suara berdetak detik didalam mobil mewahnya yang ber AC dingin.


Aswin Halim.


Telah memutar mobilnya dengan putaran 360 derajat mengarah kejalan besar.


Memantau Lara yang tengah menjemur pakaian dengan hanya mengenakan kain panjang dengan selimut handuk didada dan bahunya.


Rambutnya yang basah tergerai dibelakang pundaknya.


Melihat dua orang pria suruhannya perlahan mengendap dan mendekat kearah Lara yang sedang bernyanyi nyanyi kecil melukiskan kebahagiaan dari hatinya.


Dibawah cahaya matahari yang Mulai menyinari sekitar daerah gerbong.yang mulai sunyi karena penghuni yang berpencar mencari rejeki dibumi yang penuh berkah ini.


hanya beberapa anak anak yang tampak bermain ditegalan belakang kebun singkong yang berbaris rapi.


bagai garis lurus hijau yang memanjang.


Tiba tiba saja wanita itu terpekik sa'at merasa ada yang yang menyergap dari arah belakang.


Sebelum gadis itu sempat berteriak minta tolong, Yang setidaknya dapat didengar oleh anak anak yang sedang asyiknya bermain.


Lara merasa sesuatu yang dingin menempel dimulutnya. Untuk sejenak matanya melotot dan akhirnya tak sadarkan diri. Kedua lelaki berjas hitam dengan mengenakan topeng hitam yang menutupi hampir seluruh wajahnya itu dengan ringan membopong Lara dengan secepat-cepatnya pergi menuju kemobil yang terparkir tak jauh dari jalan setapak yang kecil.


Dimana Aswin Halim telah menunggu dengan tenang.


Memasukkan Lara dengan cepat dan menutup mobil secepatnya dan distarter langsung menuju jalanan yang meluncur dengan cepat membelah pagi meninggalkan debu jalanan yang beterbangan dihembus angin yang mulai mengembuskan kan hawa panas.


Pria disamping kemudi itu menatap wajah Lara yang terkulai dijok belakang. Wajahnya yang pucat tampak semakin pias Sa'at didalam mobil yang dingin dan seakan membeku.


Aswin menaikkan suhu agar tak terlalu dingin. Dan berharap agar mata indah berbulu lentik itu cepat terbuka dan menatap bola mata indah nan sendu itu.


Ketiga orang asistennya tampak menutupi tubuh Lara yang hampir terbuka pada bagian atasannya.


"Naikkan gas George!Kita harus lebih cepat tiba kerumah!"Perintah Aswin.


Dan mobil melaju kian cepat bagai busur panah yang lepas dari busurnya.


Mata Lara masih terpejam sa'at bermimpi memeluk Zac dan mencium pipi brewok tipisnya yang terasa kasar. Dipipi Lara yang halus dan lembut.


Namun sebuah bayangan hitam menarik tubuhnya dan membawanya terbang tinggi keangkasa.


Melayang layang diatas awan dengan berteriak minta tolong sekuat kuatnya. Zac berlari mengejarnya dari kejauhan dan menghilang ditelan kabut putih.


Lara tampak gelisah didalam pingsannya dan sebutir airmata jatuh membasahi pipinya yang mulus terhapus oleh uap dingin mobil yang akhirnya mengering meninggalkan bekas disudut Mata Lara.


"Zac, Selamat tinggal sayang,"Bisiknya didalam hati didalam pingsannya yang serasa dialam nyata.


...****************...


"Apa?"


"Mama!?"


"Zac baik baik saja Ma!"


"Iya! Zac akan tiba besok!"


Wajahnya yang dijuluki "Tampang kriminal" Oleh Izmar tampak berseri dan tersenyum penuh haru.


Dia akan memberitahu kabar baik ini pada Izmar dan para asisten rumah besar itu.


Zac menelepon seseorang dengan ponsel murahannya.


Dia tidak melupakan Lara.


Untuk sejenak melupakan segala kesedihan yang menderanya selama ini yang diakibatkan peliknya prahara di keluarganya selama dua bulan terakhir ini.


Dan Zac sangat merindukan kakaknya Devon yang sangat menyayanginya. Selama hampir setahun mereka tak pernah berjumpa. Berkomunikasi Anya melalui ponsel.


Namun dimasa penahanan Devon , Zac tak pernah datang menjenguknya di Kalimantan. Zac bukan anak yang penuh dramatis, Sifatnya yang cuek dan acuh pada keadaan keluarganya bukan berarti membuatnya menutup mata. Dia selalu menelepon keluarganya dikala sendirian. Zac tahu sejak penembakan rival dagang Ayahnya yang hampir merengut nyawanya itu, Keluarganya anyak menyimpan rahasia besar darinya.


Setelah perawatan dan pengobatannya yang menelan biaya yang tak sedikit.


Dan Zac pun tak ingin membagi kesedihannya pada orang terdekatnya, Termasuk Lara dan Izmar. Juga para asisten rumah tangganya yang sangat setia. Semua dirumahkan untuk sementara.


Zac mengendalikan hidupnya dengan baik karena ada Lara disisinya. Yang telah rela mendampinginya dengan tulus walau sering menjadi sasaran kemarahan Zachary.


Lara!


Zachary sangat merindukan gadis baik dan berhati mulia itu dengan tiba tiba. Namun entah mengapa hatinya merasa kosong tanpa sebab yang jelas dan datang secara tiba tiba.


"Iz! Akhirnya lisensi perusahaan keluargaku kembali dimenangkan oleh tim pembela.


Dan perusak bahan mentah meubel yang membuat kerugian yang sangat besar itu telah tertangkap.Kemungkinan besar Otaknya Adalah di Brengsek Aswin! Namun hanya pelaku sebagai orang suruhannya yang tertangkap dan tak mau mengakui pria Brengsek itu yang mengendalikannya. Orangtuaku tak perduli dengan Aswin. Yang penting mereka tidak bersalah Secara hukum Negara dan bisa berusaha kembali dengan tenang." Katanya bersemangat.


" Iya, Izmar! Aku akan memikirkan untuk menikahinya! Puas? Tapi kita harus berkemas kemas dan bersiap siap untuk kembali kerumah peristirahatanku. Kau boleh datang membawa pasanganmu untuk menemani calon istri dari Zachary Hasril,"Katanya pelan menyembunyikan perasaannya yang bahagia.


"Iya Iz. Umur itu tak penting lagi untukku! yang penting Aku akan melanjutkan pendidikanku dan Lara akan terus memberi support bagiku,"Katanya seakan bukan berasal dari mulut seorang Zac.


Zac menutup telponnya dan berpamitan pulang kepada Edwin. Dengan wajah berseri dia melompat kedalam Bis yang membawanya pergi menuju gerbong.


"Lara pasti sedang menungguku sambil melipat kain dan membuat rajutan sepatu bayi dan sweater bagus untukku dan calon anakku," Katanya dalam hati.


Dengan benang wol yang baru dipesannya melalui Zac kemarin. Gadis itu punya janji.


Lara gadis yang kreatif dan cerdas.


Dan Lara berjanji sa'at mereka tidur bersama menghabiskan malam.


" Aku akan membuat sweater bagus untukmu dalam Tiga bulan kedepan, Tapi memerlukan benang yang banyak! tiap kali kau pulang dari Bekerja bawalah dua gelondong benang berwarna krem, Sweatermu akan menjadi sweater termahal dan tak akan kau dapatkan di manapun," Katanya sambil membelai wajah Zac yang hanya diam menatapnya.


Zac hanya mengedipkan matanya dan mengangguk kecil dengan senyumnya yang tipis kepada Lara.


Dan kini Angin seakan tak berhembus lagi!


Sa'at tiba didalam Gerbong kosong yang menyisakan barang barang mereka yang seakan membisu. Sepatu bayi berwarna krem yang baru dimulai dirajut itu tergeletak ditempat tidur mereka lunglai terhampar tak berdaya.


Teh manis yang baru dibuat Lara pagi tadi yang tak disentuhnya. Dengan tangan gemetar diminumnya tanpa sisa. Rasanya Nikmat dan segar! Mengapa Zac malah menumpahkannya? Dan memaki Lara?


Apa kesalahan Lara? Kesalahan Lara cuma satu.


Yaitu telah jatuh cinta pada pria jahat seperti dirinya.


Dengan gontai Zac berjalan menuju halte Bis terakhir.


Semua tangis dan penyesalan itu hanya tersimpan dihatinya.


Tak ada yang tahu apa telah terjadi dihari kemarin. Dan Apa yang akan menjadi nyata dalam sekelumit kisah cinta yang kini pergi bersama wanita yang telah dipilihnya dengan cara cinta yang tak sama dengan para pujangga yang pandai merangkai kata buat wanitanya.


Zac pergi kala hari mulai malam lampu lampu jalanan yang seolah merayakan kepulangannya kembali kerumah. Dan pepohonan ditepian jalan melambai membuat salam perpisahan dari angin yang berhembus dari tempat Lara berada.


Dan ketika teleponnya berbunyi pendek.Dengan sebuah pesan tertulis dilayar biru yang kian meremang dimatanya.


"Hai Zac! Lara telah tiba dirumahnya(Rumahku)


Besok kami akan menikah, Jaga dirimu baik baik anak nakal!


Aswin Halim.