
Semua berjalan seperti biasa gemerincik air dipalung bambu dipemandian itu masih berdesir dengan debit yang sama. Tak berubah dari Minggu menuju bulan.
Semua masih sama. Seperti suara lantunan ayat suci yang mengalun merdu melewati lembah dan pohon pohon pinggiran hutan yang berdaun hijau dengan lambaiannya yang lirih bersiuran dengan gerak ritme yang syahdu iringan musik Puput rimba yang menyejukkan hati para penikmat alam.
Fa terbangun dipagi yang cerah melihat cahaya terang berkilau kekuningan lewat celah papan yang membawa lapisan angin pagi.
Selepas sholat subuh Fa tertidur dengan pikiran yang membaik.
Seminggu yang lalu Ustadz Mahmud mengabarkan kalau mereka tak akan pindah kemanapun.
"Pabrik itu dibangun jauh dari lahan pemukiman mereka. Walau lokasi Reboisasi itu hanya masuk kehalaman belakang pondokan mereka. Dan pembelajaran sama sekali tak terganggu." Kata kata Ustadz Mahmud sangat menyejukkan hati Fa.
"Faqihatun! Kemarilah sebentar!" Panggil Umi Zahra dari balik Cadar hitamnya. Fa yang sedang melintas menuju kepancuran memperbaharui Wudhunya mengangkat lima jari tangannya keatas memberi isyarat akan segera datang.
Dan ketika selesai berwudhu langsung menemui Ustadz Mahmud keruang Guru.
"Fa! Bisakah kamu menemani Ainun untuk berbelanja kekampung membeli satu dus besar kerupuk udang yang habis? Dan juga teri kering sebanyak lima kilogram? Itu saja, Besok kami akan berbelanja yang banyak kekota bersama Pak Ustadz," Pinta Umi Zahra dengan hati hati. Karena takut gadis didepannya ini tak menerima permintaannya. Fa belum pernah diminta berbelanja kecuali ada kegiatan para santri yang keluar gerbang membutuhkan pengawasan dari para pengasuh Yayasan.
Dan Fa termasuk pengasuh bagi Santri remaja putri.
Fa mengangguk tanda setuju, Dan menerima uang dari Umi Zahra.
Fa memakai Burdahnya yang selalu tersampir dibahu.
Purdah itu terbuat dari kain cita yang sangat tipis berwarna hitam menutup seluruh wajahnya.
Fa bisa melihat jalanan dengan baik sementara orang luar tak bisa melihat kewajah dan bahkan matanya sekalipun.
Semua tertutup dengan sempurna.
Telapak kaki dan telapak tangan juga memakai kaus tebal yang lembut berwarna hitam.
Ainun telah menunggu didekat gerbang. Gadis itu memakai pakaian yang sama dengan Fa, Cuma Ainun tidak mengenakan Burdah.
Fa merasa nyaman melangkah dibebatuan kerikil dibawah sepatunya yang bersol tipis.Dia merasa aman dan bebas daei tatapan para pria yang menatapnya dengan pandangan lapar.
Wajah dan tubuhnya bagaikan kutukan yang membuatnya merasa tak nyaman.
Sekarang dia bebas berjalan dibawah sinar matahari bersama angin yang mengibaskan gamis longgarnya yang membalut tubuhnya dengan teramat samar.
Membuat bentuk dan lekuk tubuh indahnya bersembunyi tanpa gangguan.
Ainun dan Fa melangkah tanpa tergesa walau menempuh perjalanan melewati jalan selebar tiga meter yang berdebu dan berbatu menuju perkampungan terdekat dengan jarak sekitar 2,5 kilometer.
Namun mereka tak pernah takut melewati perkebunan penduduk setempat yang berlahan datar dengan sambutan ramah para pekerja yang sedang menggarap kebun mereka. Terkadang malah memberi mereka sayur manyur dan palawija lainnya. Penduduk itu sangat menghargai dan memandang mereka dengan cara terhormat.
Sehingga mereka mereka leluasa berjalan saat dalam situasi apapun tanpa ada yang berani mengusik.
"Kak! Apa kau sudah menerima pemberitahuan tentang lamaran Karim Al Chosin anak Haji Mahfud?" Tanya Ainun pelan kepada Fa yang terlihat menunduk membetulkan letak Burdahnya dibagian bawah.
"Belum Nun," Jawab Fa singkat.
"Oh, Mungkin mereka telah menebak Kak Fa akan menolak lagi! Anak Haji Makfud itu dengar dengar kabar orangnya tampan dan sangat baik lho, Dia juga bekerja sebagai Guru Sekolah Menengah dikota Kabupaten dan baru berusia 24 tahun Kak," Sambungnya antusias seakan turut memberi lampu hijau.
"Entahlah! Nun Kakak takut! Kalau kalau nantinya tidak benar seperti yang dikatakan orang orang, Lagi pula kakak kan sudah berumur 35 tahun lebih." Sahut Fa.
"Itu tidak masalah buatnya! Kakak kan sangat cantik dan berakhlak baik juga, Mereka mungkin telah mendengar tentang Kakak dari Umi Zahra," Sambung gadis 24 tahun itu menatap kearah Fa yang Melangkah kian cepat. Mungkin ingin lekas sampai ketujuan yang masih jauh.
Fa hanya terdiam dan menyahut lagi. Sibuk dengan fikirannya sendiri.
Tqk ada keinginan buat menikah dan dia seakan tak memiliki syahwat sebagai seorang wanita normal.
Dia merasa dirinya adalah seorang perawan tua yang telah kehilangan masa depan dengan seorang lelaki.
Dan merekapun berjalan dengan langkah sedang menuju jarak yang kian dekat. Rumah rumah penduduk mulai terlihat dengan jejeran pagar bambu yang bercat kapur putih.
Rumah papan khas transmigrasi lokal. Toko besar yang menyediakan sembako itu masih jauh diujung akhir desa yang berada ditepi jalan berbatu dan tanah yang menguning ini. Dan tatkala sampai ketoko yang dijaga oleh seorang Bapak berusia awal enam puluhan.
Assalamu Alaikum Pak! Kedua gadis itu menyapa dengan sopan disambut oleh sang Bapak.
Dari dalam rumah tampak muncul Seorang pria berusia sekitar dua puluh empat tahun. Memakai kaos putih dengan pendek dengan celana jeans biru. Pemuda itu tampak gagah dan dengan wajah bersih bercahaya.
Fa baru mengerti mengapa Umi Zahra menyuruhnya berbelanja. Tenyata Sang Umi ingin mengenalkannya secara tidak langsung dengan si Pemuda yang terlihat baik dan sopan itu.
"Itu kerupuk dan Teri keringnyasudah bapak bungkus dan langsung diantar Karim kepondok. Sudah Bapak tambahkan Teri kering sebanyak dua kg Lagi," Kata sang Bapak pemilik toko dengan ramahnya.
Haji Mahfud memang terkenal ramah dan sangat Dermawan.
Beliau sering berderma kepondokan.
Dan beliau juga termasuk penduduk berada dikampung ini.
Pemuda bernama Karim itu mencuri curi pandang kearah Fa dan Ainun.
"Ini percuma! Kau tak kan pernah bisa melihat wajahku, Selain seonggok kain hitam yang berjalan," Kata Fa dalam hati sedikit geli.
Hatinya terasa menghangat.
Karim mengangkut barang barang itu kemotor bebeknya. dan mengikatnya dengan rapi.
Fa menyerahkan uang tersebut diatas meja dan mengucapkan terima kasih kepada Pak Mahfud.
Pria setengah baya itu mengangguk dan tersenyum kearah dua gadis berniqab itu.
"Aku akan menjemput kalian bergantian, Tunggulah disini! Aku khawatir hujan akan turun," Sarannya.
"Biar kami berjalan pelan saja, semoga hujan tidak turun dengan cepat," Tolak Fa dengan halus, Sehalus suaranya sari balik cadarnya.
Karim berangkat pergi dan berjanji pasti akan mengawal perjalanan mereka yang cukup jauh ditempuh dengan berjalan kaki.
Fa Berjalan dengan perlahan diikuti Ainun yang berjalan sambil mendesah pelan.
Mengapa Fa harus menolak tawaran pria baik itu untuk mengangkut mereka satu persatu dengan motornya.
Tak terjamah dan bersikap seperti ikan yang cerdik sehingga sulit untuk dijebak kedalam sebuah perangkap.
...****************...
Mobil bagus berwarna hitam itu berhenti persis disamping mereka.
Dengan pintu yang telah membuka dengan terangkat keatas pelan bagai dikendalikan oleh sebuah mesin berbunyi desingan lembut.
Fa merasa aneh! Bukan membuka kedepan seperti pintu biasa.
Seraut wajah seperti boneka hidup dengan rambut coklat menyapa.mereka dengan sebutan "Hai" Fa dan Ainun hanya menatap heran tanpa berbicara.
"Masuklah, Kalian pasti darj pondokan tempat Pabrik Industri yang akan dibangun itu, Sebentar lagi kita akan menjadi tetangga," Ajaknya dengan ramah.
Gadis itu duduk sendiri dijok tengah mobil yang luas dengan hembusan AC yang dingin menerpa keluar.
Musik itu terdengar samar dengan lembut mengalun darj dalam mobil.
Gadis cantik itu menarik tangan Fa dari sisi mobilnya dengan tubuh yang separuh telah keluar memberi jalan kepada dua gadis itu agar memasuki mobil hitam yang mengkilap itu. Fa dan Ainun masuk dengan sikap segan dan takut takut.
Kedua Pria yang berada diJok depan hanya diam. Namun sang Sopir tersenyum ramah kearah Fa dan Ainun. Tapi berbeda dengan Pria yang duduk disisi jendela mobil jok depan yang hanya menatap kedepan kearah jalan yang berdebu.
Sama sekali tak menoleh kearah dua orang gadis berniqab itu.
Tangan kirinya menumpu kepintu jendela dengan jari telunjuk kirinya mengusap usap dagunya yang ditumbuhi bulu bulu halus seperti jenggot yang tipis dan bulu halus dipipinya juga ditumbuhi bulu tipis yang halus. Dan satu lagi. Pria itu sangat tampan dengan sweater abu abunya dari balik punggungnya yang tegap.
Sweater! Sweater itu pernah sangat akrab diingatan Fa.
Dengan krah berpotongan bulat motif hati berwarna hitam. Dan ada hurup besar Z dan L. dibagian Belakang bawah krah polos itu.
Da memejamkan matanya dengan kepala sakit.
Sweater itu!
"Zac Kapan Buldozer itu mulai bekerja," Kata sopir itu bertanya pada lelaki disebelahnya.
"Mungkin besok lusa mereka mulai beroperasi! Operatornya sudah tiba hari ini," Jawab pria memakai Sweater abu abu itu.
"Kau baik baik saja...? " Tanyanya terpotong sa'at tak tahu nama gadis berniqab yang tampak gelisah dalam duduknya.
"" Namanya Faqihatun Annisa, Panggil saja Fa,Dan Aku Ainun," Ainun memperkenalkan dirinya dan Fa.
"Oh, Aku Cheryl, Dan itu adalah Zachary Hasril calon suamiku dan si sopir adalah Leo, Teman dari calon suamiku dan merangkap asisten pribadinya," Jawab Cheryl lagi.
Leo tersenyum dari kaca depan kepada Fa dan Ainun.
Dan Pria bernama Zachary Hasril itu tak bergeming sama sekali.
Masih menekan nekan keypad dan menelepon seseorang dari Ponselnya dengan serius.
" Jangan lupa, Obat Hillary dan Leon ada ditempat yang berbeda jangan sampai tertukar,Samirah,"Katanya pada seseorang.
Fa terhuyung dalam duduknya bukan karena goncangan batu dibawah mobil.
Kepalanya teras memuat memori yang berisi sampah sampah berat yang akan muncul perlahan.
Zachary! Leo! Samirah! Hillary dan Leon.
Nama itu pernah sangat dikenalnya.
Dan tiba tiba dia merasa sangat aneh.
Alangkah lucunya hidup ini.
Airmata itu keluar dibalik malaya dan Burdahnya.
Ini Zac !
Dan wanita ini Cheryl!
Mereka akan bahagia.
Dia juga sudah bahagia dengan hidupnya. Dan kini sudah sampai dirumah.
Aku adalah Lara Senja!
Namun aku akan tetap menjadi Faqihatun Annisa.
Lara sudah mati.
Hilang dengan kegilaannya.
Aku adalah Faqihatun Annisa.
Orang orang baru yang muncul dalam ingatanku adalah orang orang yang pernah mengisi hari indahku.
Mereka adalah bagian manis dunia yang kutinggalkan.
Selamat berbahagia Zac.
Jadilah orangtua yang baik.
Devon, Izmar Ibu Ratna, Aini dan Samirah!
Kalian adalah cerita manis yang tergunting oleh lukaku.
Aku adalah Milik Allah kini! Bukan milik siapa siapa.
Kelak suatu hari kita berjumpa walau dialam yang lain pun aku tetap akan mencintai kalian.
Dan haripun lengkap malam tatkala Faqihatun Annisa menutup matanya dengan setetes airmata masih meluncur turun disisi matanya.