
Seminggu telah terlewati.
Burung prenjak tua didahan mahoni itu masih bernyanyi walau terdengar sumbang. Seolah melagukan kesedihan yang berkisah tentang perjalanan kisah anak manusia yang bermimpi tentang musim bunga, Dengan harum yang diiringi gerimis menepis basah. Namun yang datang hanya mimpi berjalan diatas pelangi yang penuh fatamorgana.
Lara duduk diberanda samping rumah Aswin. Didepannya tampak kolam renang yang sangat bening hingga terlihat sampai kedasar kolam yang berwarna biru terang seperti warna langit diatasnya.
Merenungi kisah hari yang telah lalu.
Hidup yang singkat bersama Zac. Menangis, Tersenyum dan membagi malam yang Indah bersama pemuda tampan penghuni taman hatinya.
Walau kini semua hilang tersaput Mega mendung yang mengiringi kesaksian sebuah kisah yang tak pernah menjadi nyata.
Airmata itu seakan telah habis sa'at akad ijab kabul yang disaksikan oleh Pejabat KUA itu dihadapan Sang Ibunda dan fihak keluarga Aswin yang terdekat.
Lara mengerutkan keningnya yang terasa sakit.
Pernikahan itu telah berlangsung khidmat walau terkesan terburu buru dan sangat sederhana.
Ada apa dengan pernikahan yang sangat mendadak ini?
Apakah Aswin mencintai Lara dengan tulus?
Lara tahu jawabannya.
Dua hari kehadirannya dirumah Aswin Tak sengaja Lara mendengar Pria itu tengah menelpon seseorang.
"Tentu saja aku tak mencintainya, Apa kau gila! Aku hanya ingin merebut "mainan" Zac, Dia sedikit menarik hatiku, Bermain main dengannya akan mendapatkan dua kesenangan untuk diriku.
Pertama sebagai penghancur hati Zac dan keduanya sebagai kesenangan buatku,"Katanya dengan santai sambil tertawa Jahat.
Lara juga mendengar Aswin berkata lagi.
,"Biar Zac tahu bahwa kehilangan mainan kesayangan dan kehilangan adik kesayangan hampir memiliki kesamaan." Sambungnya lagi.
membuat Lara semakin hancur.
Alangkah menyedihkan hidup ini baginya. Tak ubahnya seperti bidak catur yang bisa dipermainkan oleh para Tiran kejam seperti mereka.
Apakah didalam hidup para Tiran seperti Zac dan Aswin tak mengenal cinta seperti dirinya?
Yang ada dalam pikiran mereka hanya nafsu sesa'at?
Zac! Anak itu sama sekali tak berniat mencarinya. Dan membiarkan cerita mereka hilang ditelan malam.
Lara mengelus perutnya. Mengapa harus ada janin yang sedang menyemai didalam rahimnya? Dan remaja itu pun pergi seakan sengaja menyerahkan dirinya kepada Aswin
Setetes embun didedaunan tampak mengering meninggalkan bekas yang menguap dihembus angin dan cahaya mentari. Pada daun bunga yang berkelompok hampir layu dan menjuntai lesu.
Lara membuat perumpamaan itu bagi dirinya.
Cinta gadis miskin sepertinya tak ada nilainya sama sekali dimata Zac atau mungkin juga pada Aswin.
Mereka lebih suka bermain main dengan perasaan seorang wanita seperti dirinya.
Dan Aswin?
Aswin Adalah pria baik Dimata Ibu Lara yang sengaja dijemput kedesa untuk menyaksikan pernikahan putri satu satunya.
Tak tanggung tanggung Aswin membawa rombongan dari kampung Lara. Untuk memberikan support dan dukungan kepada dirinya agar menarik simpati Lara si gadis kampung yang tak mengetahui kemana nasib akan membawa dirinya.
Aswin melakukan ini semua tak lain adalah agar Lara tersentuh dan merasa dirinya dicintai dan menjadi wanita terhormat ,Sehingga dengan senang hati mau menerima lamaran Aswin untuk mempersuntingnya.
Pihak keluarga Lara adalah penduduk desa polos yang lugu seperti Lara. Mereka mempunyai persepsi seperti yang terlihat oleh mata mereka.
Yang mereka tahu bahwa Aswin Adalah seorang Pria baik bertanggung jawab dan sangat kaya, Telah mempersunting Lara yang dicap sangat beruntung dunia akhirat telah mendapatkan suami seperti Aswin. Yang bahkan didalam mimpi merekapun tak pernah terpikir Lara akan mendapatkan suami seperti Aswin Halim.
Pria Blasteran Tionghoa-Pribumi yang sangat hebat.
Dengan sekejap Lara berubah bak Cinderella.
Aswin sepertinya sangat menyayangi Lara. Namun Lara telah tahu dibalik semua kesan manis itu.
Pria gagah dengan stelan kantornya yang rapi itu terlihat mendekati Lara yang sedang melamun didekat jendela kaca lantai dua yang terbuka.
membias wajah cantik dengan rambut panjang itu bak lukisan imperialisme tinggi dan mewah bagi penikmat seni.
Indah dari berbagai sisi.
Baju longgar model Geisha dengan kimono tipis berwarna ungu muda yang berbahan ringan dan sangat lembut itu berhembus tertiup angin.
Aswin mengelus bahu Lara dan tersenyum dengan manis.
"Aku berangkat dulu, Kamu dirumah bersama Ani. Sore nanti aku akan pulang cepat," Katanya sambil melihat Lara dari samping.
Gadis itu tampak memukau."Hmmm pantaslah Anak brengsek itu menjadikannya mainan yang mengasyikan, Lara memang sangat cantik,"Batinnya membisik.
Lara hanya mengangguk kecil dan kaku.
Aswin mengecup kening Lara dengan lembut. Dan menatap kedalam mata bening gadis itu dengan penuh arti.
Ada keraguan dimata Lara atas semua sikapnya yang manis.
Pria berusia 27 tahun itu melangkah tegap menuju garasi yang telah ditunggu oleh sopirnya, Pria setengah tua yang terlihat sopan itu mengangguk kearah Lara dari kejauhan.
Aswin pun pergi menuju jalanan hilang dari pandangan.
Lara menarik nafas panjang.
Dia teringat barang barangnya yang sederhana bersama Zac yang banyak tertinggal digerbong tua.
Untuk sa'at ini biarlah semua berlalu.
Mungkin esok atau lusa pusaran waktu akan membawanya kearah yang lebih baik.
Rumah itu kini sepi. Para sanak keluarga dan handai taulan telah pulang kemarin sore.
Demikian juga Ibu Lara, Wanita tua yang polos itu tak betah berlama lama dirumah mentereng Aswin.
Dia lebih suka pulang kerumahnya.
Merebus Daun daun pandan yang akan diolah menjadi kreasi tangannya yang bisa menjadi penopang hidupnya.
Dia tak berharap mendapat cipratan kekayaan dan kesenangan materi yang melimpah ruah dari Aswin yang kini jadi menantunya.
Ibu Warsini, Ibunya Diah itu telah biasa hidup dengan cukup sederhana. Tak pernah bermimpi memiliki rumah megah dengan berjejer dibagasi besar.
Beliau hanya mempunyai satu keinginan didalam hidupnya, Yaitu melihat Lara berbahagia.
Bukan sebagai pajangan dan dijadikan sebuah koleksi yang dapat diperjual belikan.
Ibu Lara sebenarnya tahu dari sorot mata Putrinya kalau sebenarnya Lara tak memancarkan kebahagiaan dengan pernikahan dwngan Aswin.
Malam kemarin Sa'at Lara datng kekamar Ibunya, Wanita tua itu berkata.
"Lara, Kalau kau tak merasa bahagia dengan perkawinan ini, Pulanglah! Jangan memaksakan diri, Ibu tak ingin kau tertekan dengan sesuatu yang tidak kau inginkan." Katanya sambil mengelus rambut putrinya.
Ya Lara memang tak bahagia. Namun dia masih akan terus bertahan dengan kandungannya yang nantinya kian membesar.
Walau bagaimanapun Lara tak ingin anaknya dicemo'oh sebagai anak haram yang diluar nikah.
Biarlah Allah memberi taqdir padanya, Karena Lara tahu: Setiap penderitaan itu ada pangkal dan ada ujungnya.
Lara berjalan kearah kamarnya dan merebahkan tubuh lelahnya.
Dia ingin melupakan sejenak saja wajah Zac yang selalu bermain main dipelupuk matanya.
Nanti suatu sa'at dia mungkin akan melupakan Zac seperti Pemuda itu yang telah mengikhlaskan kepergiannya untuk pria lain.