My Maid, Lara!

My Maid, Lara!
Sepasang Rama Rama Di Gerbong Tua



Pagi datang.


Semua makhluk dimuka Bumi sibuk menyambut segala rutinitas mereka. Bersiap dengan pelbagai hal yang telah menjadi tuntutan hidup mereka.


Asap dari gerbong itu terlihat membumbung bagai kabut ditengah Padang. Begitupun dengan Lara yang telah sibuk dengan aktivitasnya dalam menjalankan keperluan dan kebutuhan dia dan Zac awal hari ini .


Rasa mualnya berangsur hilang sejak Lara hidup disamping pemuda itu. Wajahnya mulai terlihat bersinar. Dengan wajahnya yang terlihat merona menambah kecantikannya yang terlihat hampir sempurna.


Melihat kearah Lantai besi yang tergelar dilapisi tikar plastik dan kasur dakron tipis .


Pagi ini Lara menyiapkan makanan dan teh manis buat Zac.


kemarin malam. Mereka cuma mengisi perut dengan lauk telur dadar dan Mie Instant goreng seperti reques Zac yang sangat ingin makan mie instant. Zac makan sangat lahap persis wanita yang tengah mengidam.


Sekarang Zac masih disungai sambil membawa ember sebagai wadah penampung air buat keperluan Lara memasak makanan buat mereka berdua.


Lara telah menyiapkan sambal teri dan tumis kangkung di atas nampan kecil didekat tempat tidur mereka.


Sambil.melamun ingatan Lara tertuju pada Ibunya dikampung, Lara merasa sangat berdosa.


Padahal telah berjanji kepada sang Bunda akan membantu kebutuhan hidup sang Ibu.


Namun malah terjerat dengan suatu ikatan dosa dan membawanya hidup bersama Zac ditempat yang aneh bagai tunawisma yang tak memiliki tempat tinggal bersama sang pangeran yang telah tak memiliki apa apa lagi itu.


Ibu Ambarwati, Pak Hasri dan Devon semuanya telah pergi dengan jalannya masing masing meninggalkan Zac sendirian dengan seribu satu permasalahan hidup dan menyaksikan kehancuran keluarganya secara langsung dari dekat.


Lara tak bisa meninggalkan Zac dengan keadaan yang demikian ditambah dengan keadaan dirinya yang tengah mengandung anak Zac.


Pria 18 tahun itu akan sendirian berjalan tanpa arah dan tujuan sehingga merusak masa depannya bahkan mengancam hidupnya sendiri.


Sedangkan sang Ibu dikampung pastilah dapat hidup dengan tenang dengan mengandalkan sebidang kebun kecil dan biaya hidup yang dapat menopang hidupnya sehari hari.


Dan Ibunya yang rajin dan cekatan itu pasti dalam keadaan sehat sehat saja dan tak kurang suatu apapun.


Bu Ratna, Samirah, Ratih dan pekerja dirumah besar telah kembali keluarga mereka masing masing tanpa Lara tahu kearah mana pergi dan menghilang bersama nasib mereka masing masing.


Lara mengais perapian kayu untuk memasak air hangat mereka sebagai alternatif penghemat minyak tanah kompor kaleng mereka. Dengan kayu apinya dari pohon singkong kering yang diambil Zac sore kemarin dari belakang gerbong yang banyak teronggok ditepian ladang.


Entah milik siapa, dengan para pekerja yang menyapa Lara dengan ramah. Dan merengsek mundur melihat wajah Zacbyang sangar.


"Suaminya terlihat menakutkan," Bisik para wanita pekerja itu. Mendengar kata kata mereka Lara meringis sedih.


Dia melayani Zac bagai seorang istri yang melayani suaminya. Mereka jarang berbicara disa'at siang hari dan masih merasa kaku sa'at bersama.


Namun melewati malam dengan penuh kenikmatan satu sama lain. Zac sangat menggilainya dan menggaulinya seakan akan tak ada esok.


Namun akan berakhir ketika melepaskan tubuhnya menjauh dan memunggungi Lara Sa'at akan tidur.


Dan setelah kenikmatan itu usai Zac akan kembali kaku dan terlihat dingin. Apa kesalahan yang telah dilakukan Lara? Mengapa Zac sangat susah untuk merubah sikapnya yang terbiasa dengan arogansi dan terlihat menarik diri dari kesan ramah?


"Melamun?"Suara berat itu membuyarkan lamunan Lara. Lara terperangap dengan gugup.


"Kamu langsung makan?Tawarnya lembut. Pemuda itu hanya diam. Wajahnya terlihat datar.


"Aku akan pergi kebengkel Edwin, Mulai bekerja hari ini,"Katanya mengalihkan topik pembicaraan Lara.


"Oh,"Kata Lara singkat.


Dengan sudut matanya Zac melirik Lara yang terlihat cantik pagi ini, Ya Lara selalu cantik dimatanya.


Dengan wajahnya yang sendu memakai daster kuning gading dengan rambut digelung memperlihatkan leher putihnya yang jenjang dengan dua bercak merah bekas gigitannya tadi malam.


Mereka melewati malam dingin digerbong kereta tua itu dengan sangat panas. Hingga hampir menjelang pagi.


Zac selalu bersemangat jika berhubungan dengan Lara yang dapat menimbulkan percikan api gairah yang sangat menggila. Zac tak pernah bosan dengan wanita itu.


Dengan melihat leher Lara yang memanjang luruspun Zac hampir menerkamnya kembali ke Kasur dakron tipis itu.


Zac segera membuang muka kesamping. Dia harus berangkat pagi ini.


Sudah pukul sembilan pagi lewat sepuluh menit.


"Zac Makanlah," Ulang Lara.


Zac memang lapar dan mengangguk kecil.


Mengambil nasi kepiring Zac yang lagi lagi menatap Lara.


"Kamu berani tinggal disini sendirian?"Tanya Zac pelan. Ada rasa kuatir disana.


Lara mengangguk ragu.


"Kuncilah pintu dari dalam, Dan jangan buka sebelum aku pulang, Atau kau juga akan ikut itu lebih aman,"Saran Zac.


Lara menunduk, Airmatanya keluar perlahan-lahan.


"Sttt dasar cengeng, Kau selalu merepotkan! Lara ! tenanglah! Aku akan membawamu juga, Aswin akan datang terus mengganggu, Dia akan terus memburumu."Kata Zac membuat Lara semakin takut.


Pemuda itu mulai menyuap makanannya dengan tangan, Membuat Lara terbelalak didalam tangisannya.


Zac membaurkan ikan teri dan sambalnya dipiring dan menyuap mulutnya hingga penuh.


"Zac! Apa kau suka dengan makanan ini?"Tanya Lara senang. Dan Zac hanya diam sambil menatap Lara diantara suapannya.


Meminum kuah rebusan kentang dan wortel itu dari mangkuknya langsung hingga habis.


Dan memakan isinya bagai orang kelaparan.


Makan dengan cepat menghabiskan nasiny a hingga tandas dengan piring licin.


Lara tersenyum senang sa'at melihat Zac mengelap bibirnya yang berminyak dengan serbet.


Tib tiba tanpa sadar Lara merangsek maju memeluk dan mencium pipi Zac. Sehingga anak muda itu tampak kaget dan membiarkan Lara melepaskan pelukannya.


"Jangan lakukan itu lagi, Nanti aku tak jadi pergi dan kau akan menyesal telah menciumiku, Aku akan mengurungmu sampai sore sampai kau tak bisa berjalan," Katanya bangkit dari duduknya dan melangkah keluar.


"Zac! Aku dirumah saja, Aku akan mengunci pintunya hingga kau pulang dari kerja,"Kata Lara riang.


moodnya berubah seketika melihat Zac menghabiskan makanannya.


"Ini bukan rumah Lara! Ini Gerbong," Katanya mengingatkan. Membuat Lara tersenyum malu.


Zac melangkah tegap menuju jalan setapak kearah jalanan dan punggungnya terlihat semakin menjauh membuat Lara tersenyum sedih dan berdo'a semoga Zac mendapat rejeki yang baik dan dilindungi Tuhan saat bekerja mencari nafkah buat mereka.


Dan sepasang mata menatap Lara dan Zac sejak tadi dengan mata awas dari rumpunan Ilalang yang bergoyang dihembus angin pagi.


Mengambil ponsel dari saku depannya dan menelepon seseorang.


"Target kita tinggal digerbong tua Boss.Tepat dititik koordinat pencarian,"Katanya pelan.


Sambil meninggalkan lahan penuh Ilalang yang sedang berbunga itu.


Lara mengunci pintu gerbong dari dalam dan merapikan tempat mereka yang mulai terasa pengap.