
Fa! Dia masih saja menyimpan kecantikannya dibalik Malaya yang menutupi wajahnya. Membuat tubuh indahnya yang menakjubkan dengan gamis besar yang berkibar sa'at tertiup angin.Waktu seakan tak dapat memudarkan sisi terang kemolekannya bagai lukisan tangan Tuhan.
Sinarnya terhalang tirai yang membuat penghalang pandangan. Bagi pria manapun. Bahkan dilokasi Pesanggrahan tua yang sederhana yang banyak menyimpan cahaya terang.
Fa tak pernah membuka niqaf tebal hitamnya.
Kulitnya yang terlindung jadi semakin bercahaya dibawah pakaiannya. Dan wajah cantiknya makin nyata tatkala Fa membuka hijab dikamarnya
Luka cakarannya empat tahun yang lalu mulai menghilang seiring sang waktu yang mulai menghilangkan segenap ingatannya tentang sebuah nama yang sering disebut sa'at dalam tidurnya.
Zac, Nama itu tak pernah lagi terlontar dari bibir indahnya. Semua seakan terbawa mimpi menjelang pagi.
Fa lebih sering menyebut Asma Illahi dibibirnya. Dan mulai memasrahkan diri kehariba'an sang pencipta yang telah mengatur jalan hidupnya.
Sang Ibu sangat berbahagia melihat keadaan anaknya. Sesekali datang bertandang menjenguk Fa yang tampak lebih berbahagia dari hari hari yang kelam itu.
Setahun sekali sang ibu berkunjung membawa semacam sambal siput kesukaan putrinya. Dan tersenyum lirih melihat bias kecantikan anaknya yang kian bersinar.
Dalam hati sang Ibu berkata. "Biarlah Lara menjadi milik Allah," Dan mengatur segala sesuatu tentang sang anak. Warsini hanya terdiam saat Lara bertanya.
"Mengapa aku masih belum mengingat apa apa Mak?" Tanyanya.
"Apa yang harus kau ingat sekarang, Itulah hidupmu, Fa! Jangan berusaha mengingat yang lainnya, Kau akan kecewa nantinya,"Balas wanita tua itu dengan tegas. Membuat Fa terdiam.
Namun jauh disudut hatinya ada sesuatu yang hilang.
Dan tatkala sedang sendiri dia akan menulis sesuatu dimeja kecil dari kayu hutan.
"Aku ingin melihat matahari disa'at senja menjelang dari bawah kaki bukit, Tatkala Matahari itu perlahan turun kebelahan lain. Seperti aku yang ingin melihat sesuatu yang tersembunyi dari diriku yang ingin kulihat namun tak kutemui,"Tulisan itu tertera pada selembar kertas diatas meja kecil kayu Faqihatun tergeletak dengan tulisannya yang sangat rapi.
Gadis itu selalu merasa ada yang salah dengan dirinya.
Catatan hidupnya yang singkat jadi membuat sebuah pertanyaan besar.
Mengapa diusianya yang telah beranjak keangka 35 tak ada sedikitpun tentang ingatan akan seorang pria?
Bahkan Tarman si Maskot kampung putra Pak Lurah yang pernah menggilainya. Hanya didengar dari orang orang sekitarnya. Yang datang berkunjung dengan melontarkan anehdot lucu tentang sebuah perjodohan.
Fa, Tak ingin mendengar kala seseorang berkata si A akan melamarnya dalam waktu dekat.
Atau si B yang ingin menjadikan FA sebagai Ibu sambung anak anaknya.
FA selalu ketakutan dan seakan trauma dengan sebuah perkawinan.
Dia merasa bagai gadis yang masih hijau belum pernah mengenal pria manapun.
Ini sama sekali tak masuk diakalnya.
Apakah dia masih perawan?
Atau apakah dia sebegitu menakutkan dan paranoid menjalin hubungan dengan pria?
Padahal tatkala dia bercermin, Wajahnya tidaklah buruk.
Cantik dan menawan menurut Ainun teman kamar sebelah pondoknya. Tetapi mengapa belum ada tambatan dihatinya?
Empat tahun telah berlalu.
Dia masih setia dipondok ini.
Ketika temannya satu persatu pergi menikah dengan jalan Ta'aruf bertemu jodohnya. Fa masih saja duduk dipintu pondoknya dan menjadi pembagi makanan kepada para santri dan ikut membantu para juru masak didapur umum Pesanggrahan. Atau menyiapkan bahan pembelajaran untuk Umi Zahra sebagai Istri pemilik Yayasan besar ini.
FA Tak ingin jauh dari tempat ini.
ini adalah rumahnya, Dan Fa mulai terganggu sa'at serombongan para petugas dari kantor Industri dari kota itu mulai memotret disana sini. Dilahan pondokan yang asri ini.
Apa yang mereka lakukan? Bisiknya dalam hati.
Apa mereka ingin menggusur tempat ini seperti difilm film yang pernah ditontonnya?
"Mega Industri itu akan mulai mengadakan peninjauan bulan ini,"Ustad Mahmud terdengar bersuara, FA yang sedang memegang sapu itu terdiam dipintu masuk.
Dadanya bergemuruh apakah mereka akan terusir? Pikiran buruk berkelebat cepat diotaknya.
"Dan pembangunan Industri besar itu disponsori langsung oleh tiga proyek Raksasa salah satunya adalah Centra Hasril Prima Group. Seorang pengusaha pertambangan dan Energi Bumi dari Kalimantan yang berpusat di Ibukota,"Sambung Ustadz Abdul yang bertugas sebagai seksi Bimas perwakilan Santri pada Yayasan ini.
Fa tak peduli sedikitpun dengan penguasaha apalah itu.
Yang dia pedulikan hanyalah pondokan kecilnya yang terancam dan akan terisolasi ketempat lain.
Dia tak mau pindah ke lain tempat! Ini rumahnya! Tak ada satupun yang boleh mengusik tempat ini.
Dia tak suka pergi kemanapun. Bahkan kerumah kelahirannya sendiri.
Dia senang berkumpul dengan banyak orang baik dan dibawah cahaya yang baik. Tempat yang baik itu disini! Disavana luas yang menjanjikan kedamaian.
Dia berjalan menyeret kakinya yang terasa berat diantara gamis longgarnya yang hitam.
Kearah Jalanan setapak menuju pondoknya yang kecil dan bersahaja.
Dia berjanji akan membuat perhitungan dengan pengusaha yang dianggapnya semena mena terhadap tempat tinggalnya ini.
Fa merebahkan dirinya didipan dengan mata mulai terpejam. Dan mimpi buruk itu seakan datang membayang saat Fa bergerak gelisah dalam tidurnya.
Wajah pria itu mendekat kearahnya dan menyentuhnya dengan lembut. selembut helaian bulu ayam menyentuh kulitnya yang halus.
" Pergi! Aku tak ingin melihatmu lagi Zac! Pergi!" Fa terbangun dengan nafas tersengal sengal.
Dia terduduk bangun membuka niqafnya dan beristighfar berkali kali dengan bibir gemetar.
Mengapa mimpi buruk itu datang lagi?
...****************...
Suara riuh rendah berhasil membangunkan Fa yang tertidur saat menjelang pagi. Fa bangun mengenakan niqafnya dan membuka jendela bagian belakang pondok. Beberapa orang tampak turun dari dua unit mobil yang sangat bagus dan rasanya belum pernah dilihatnya seumur hidupnya.
Delapan orang pria itu tampak menunjuk nunjuk ke sebelah Barat. Kearah sungai tempat para anak anak memancing ikan dan mandi dengan riang.
Para pria yang berasal dari kota itu membawa Alat pengukur luas tanah menggunakan benda seperti teropong besar yang memiliki empat tiang penyangga dari besi.
Mereka melihat lokasi dengan bergantian.
Pakaian mereka sangat rapi dan kontras dengan pakaian jubah pemilik Pesanggrahan yang bagai orang suci.
Fa Tak suka melihat tamu tamu itu.
Sekarang pria itu menuju kearah halaman belakang persis didekat jendela kamar kayunya yang kecil. Seorang dengan tubuh atletis dengan kakinya yang panjang melangkah teratur dengan tangan disaku celananya dan memakai kemeja putih.
Wajahnya yang tertutup oleh kaca mata hitam terlihat sangat tampan dengan rambut yang agak panjang melewati telinganya.Wajahnya terlihat beku dan gayanya yang elegant dengan dagu terangkat tinggi menatap kearah
Fa yang tengah memandangnya dari jendelanya berdecih marah melihat sang tamu.
"Bagaimana menurutmu Zac! Apakah Lahan ini memang benar benar cocok untuk dijadikan Lahan Industri meubeler itu?"Tanya pria yang satunya.
"Yah! Kita sudah sepakat bukan? Dan tetap menjadikan lahan bertanah lempung ini sebagai lahan yang sangat cocok, "Balasnya.
Fa. terdiam mendengarnya dan menutup jendela kayunya dengan keras sehingga meninggalkan bunyi berdebum .
Para pria itu tampak kaget dan Fa benci melihat pria berkaca mata yang dipanggil Zac itu!
Dia adalah dalang dari semua ini.
Tiran kejam!
Tiran? Rasa rasanya dia sering melontarkan kalimat ini dari hatinya. Tapi dimana?