My Maid, Lara!

My Maid, Lara!
Cheque Kontan Dari Ambarwati



Aswin tengah menelpon seseorang. Sejak kepergian Lara pria itu lebih sering mengurung diri dikamarnya.Disebuah pesanggrahan tua dirumah peristirahatannya yang asri.


Pucuk pucuk pohon pinus terlihat mengerucut keatas dengan rantingnya yang lebat.


Aswin tampak tersenyum miring.


"Aturlah semuanya Cheryl! Dan kupastikan kau telah mengirim photo shoot yang spektakuler itu untukku besok. Dan satu lagi jangan lupa kirimkan pada Lara, Aku sangat ingin melihat wajahnya yang menderita," Kata Aswin dengan santai.


"Kau salah dengan mempermainkanku ,Kucing kecil," Katanya pelan sambil mengusap bibirnya yang terasa kering.


"Dan Tunggu permainanku selanjutnya Lara," Bisiknya penuh arti.


Dua bulan telah berlalu. Waktu berjalan sangat cepat.


Lara hampir setiap hari memiliki kesibukan mengasuh dan merawat bayi bayi itu bersama Ibu Ratna.


Dan mengingat Zac dikala dia sendirian dikamarnya, Sa'at anak anaknya tertidur nyenyak di box bayi.


Bayi bayi kecil itu mulai keluar dari Inkubator yang telah dibeli oleh Zac, Tepat anaknya berusia satu Minggu yang telah lalu. Tubuh mereka mulai tampak besar dan normal berkat perawatan dari seorang juru rawat dan bidan yang profesional sengaja dipanggil bekerja dirumahnya untuk mengurus Lara dan kedua anak bayinya.


Zac akan pulang satu minggu lagi.


Lara sudah mulai pulih setelah melahirkan bayi bayi kecilnya.


Suara mereka sudah mulai terdengar walau mirip suara anak kucing yang baru lahir. Namun semua berjalan baik, dengan detak jantung mereka yang normal. Bayi kembar itu sangat cantik. Lara mengebelakangkan segala norma yang telah dilanggarnya baik secara hukum dan agama. Dia hanya seorang manusia yang tak luput dari kesalahan dan dosa yang telah dilakukannya bersama Zac. Anak anak mungil ini tidak bersalah dan dia sangat keberatan sa'at Ibu Ambarwati mengatakan anaknya adalah anak haram. Mereka bersih dengan fitrahnya sebagai manusia.


Lara duduk setelah memberi ASI buat kedua putra putrinya.


Mereka mulai menyusu dengan Lancar dipandu dengan susah payah oleh Ibu Ratna, Yang telah dianggap Lara sebagai orangtuanya.


Lara lalu bangkit dan duduk dibalkon apartemen Devon.


Menatap dedaunan yang yang menghijau ditaman bawah.


Apartemen mereka terletak dilantai dua yang nyaman dan berhawa sejuk.


Lara merasa bermimpi telah memiliki mereka. Lengkap dengan segala rasa cintanya pada Zachary.


Seminggu yang lalu Zac dan Devon telah memberi nama buat si bayi kembar


Hillary dan Leon.


Nama itu sangat asing ditelinga Lara.


Namun Zac mengatakan nama adalah cermin jiwa.


Anak anaknya akan menjadi orang orang kuat. Maka nama merekapun harus sekuat mereka.


Begitu Alasannya.


Lara tersenyum dengan bahagia. Namun Apakah senyumnya akan abadi selamanya.


Dan mimpi tidaklah selalu indah seperti hari yang tak selalu cerah.


kadang mendung membayang diantara awan hitam yang berarak.


selalu ada petir diantaranya.


Sepertu hari ini, Mimpi burukpun mulai menghampiri.


Kala Ibu Zac, Ambarwati datang menemuinya pada suatu sore yang basah. Dengan penerbangan terakhir dari Jakarta.


Lara terhenyak sa',at melihat cek kontan yang berjumlah tiga ratus juta itu tergeletak dihadapannya.


"Pergilah Lara! Dan tinggalkan bayi bayi itu disini, Kami akan merawatnya dengan sangat baik. Dan ambillah uang ini untuk keperluan hidupmu kedepannya," Kata wanita itu setengah memohon.


Lara menatap sayu wanita setengah baya itu dengan bibir tergetar.


Lututnya terasa lemas.


Mengapa Ambarwati setega itu padanya? Dan bukankah Zac dan Devon telah berjanji akan menikahkan mereka setelah anak Zac lahir?


Dan Lara secara harfiahnya telah lepas dari Aswin?


Banyak pertanyaan yang merubung dikepalanya seperti ribuan lalat yang berdenging memenuhi pikirannya.


Apakah karena dia berasal dari keturunan rendah anak seorang janda miskin dari desa sehingga dia tak pantas berada disamping Zachary?


"Aku tak pernah memandang ststus sosial seorang wanita yang akan.menjadi menantuku Lara," Kata Ambarwati seolah dapat meraba fikiran Lara sa'at ini.


Lara diam, meneguk ludahnya yang terasa pahit.


Airmatanya yang telah hilang kini mulai menetes mengalir membasahi pipinya yang terlihat berisi sejak menyusui kedua anak anaknya. dengan makan yang banyak.


Namun mungkin itu tak akan lama lagi, Lara merasa tak berselera melihat buah yang berada diatas meja didepannya.


"Namun keadaan ini berbeda Lara. Pak Himawan, Ayah Cheryl yang seorang pengacara terkemuka telah banyak menolong keluarga kami sa'at terpuruk. Selain keluarga, Kami juga tak ingin silaturahmi yang telah terjalin ini terurai lagi bagai sebuah pengkhianatan yang dilakukan Zac dengan memilihmu jadi istrinya. Ibu Mohon kepadamu, Lara! tinggalkan Zac! Chery lah yang harus berada ditempatmu, Kami tak tahu harus bagaimana, Suamiku tak akan sanggup bertemu muka dengan keluarga Himawan kalau sempat terjadi kegagalan lagi.


Lagipula Zac masih terlalu muda untuk menjadi seorang Ayah.


Semua akan aku ambil alih untuk mengurus kedua anakmu." Kata wanita itu pelan tapi bagai palu godam yang terus menghantam kepala Lara.


Lara hanya terdiam sambil mengusap kain baju dipangkuannya.


Hatinya sangat hancur. Ternyata Ibu Ambar hanya menghiburnya sejenak sa'at membiarkan kedua anaknya lahir kedunia dan tinggal menunggu waktu agar bisa mendepak Lara dari sisi Zachary.Mengapa Para Tiran ini sama sekali tak menghargai perasaan Kasih sayang yang diberikan Lara dengan tulus? Lara tak pernah ingin menguasai dan memiliki harta Zac. Dia hanya ingin cinta dari Zac dan bersama sama mengasuh anak mereka dimasa yang akan datang.


Tangan Lara terulur dengan gemetar dan terasa dingin sa'at meraih kertas cek yang berisi Angka 300 Juta tersebut. Dan menyerahkannya kembali kepada Ambarwati.


"Ambillah bu, Aku akan pergi dengan sedikit uang tabunganku yang setiap hari diberi oleh Zac Sa'at kami tinggal digerbong tua, Dan Uang penjualan sepeda motornya yang masih disimpan padaku, Aku akan menggunakannya sebagai ongkos pulang kekampung halamanku dan akan kuganti kelak jika aku telah memiliki uang," Sahutnya dengan sangat sedih. Bagai lagu kematian yang dinyanyikan oleh burung elang dibelakang rumahnya dikampung. Tak ada lagi harapan baginya untuk tinggal disini, Harapan untuk hidup bersama Zac telah pupus bagai embun terkena sinar mentari. Lenyap tak berbekas.


Lara mohon diri pada Ibu Zac yang tengah menatapnya dengan sorot mata kasihan.


Lara tak ingin melihat pandangan kasihan itu. Lara tak pantas untuk dikasihani atas segala dosa yang dilakukannya bersama Zac.


Lara ingin menjerit sa'at ini.Dan menangis sepuas puasnya dipundak Ibunya.


Dia sama sekali tak berharga. Dia tak pantas berada ditempat ini.


Ini bukan tempatnya. Dan Lara tak ingin berharap apa apa.


Notifikasi dari ponselnya berbunyi.


Dengan cepat Lara membuka Layar.


Dengan mata terbelalak disertai kantung yang memacu kencang Lara menyaksikan,Seorang wanita yang sangat cantik dengan rambut coklat terlempar kesamping wajahnya. Dalam posisi diranjang bersama Zac yang tengah tidur menelungkup. Tubuh polos Zac tanpa berbalut apa apa selain celana boxer tipis berwarna abu abu.


Dan Wanita itu berada diatas tubuh Zac. Sambil tersenyum kepada Kamera dalam keadaan tubuh seperti Zac! tanpa pakaian, Sehelai selimut yang hampir terbuka menutupi tubuh polosnya.


Lara berusaha mengingat Gadis didalam photo itu dalam kabut airmatanya dan kepedihan hatinya. Yang bagai ribuan jarum tajam menancap kekulitnya secara bersamaan.


Gadis itu Sering terlihat dipajangan Pigura besar diruang keluarga Zac.


Berphoto dengan keluarga Hasril sejak kecil hingga beranjak dewasa.


Gadis cantik putri seorang Pengacara terkenal Yang telah lama dijodohkan untuk Zac.


Cheryl!


Ya! Nama gadis itu Cheryl Himawan.


Dia akan berada disini menggantikan dimana dia duduk menunggu Zac.


Disisi Jendela kaca menatap kejalanan. Berharap Zac dan Devon datang membawa setitik harapan.


Namun semua hilang ditelan kabut malam.


Nyanyian burung pekakak diranting pohon tak lagi indah.


Bergantian nyanyian puput rimba yang mendayu ditelinganya dari sebuah desa sunyi dikaki bukit.


Dimana Sang Ibu menunggunya dibawah pohon Jambu tua yang rimbun dan selalu berkata.


"Pulanglah Nak, Selagi angin masih angin buritan, Sehingga laju perahumu melaju ketepi menuju tempat seharusnya kita berada. Tempat bersahaja dari kayu rimba, Pulang kembali kesarang kita, Selagi langkahmu masih bisa membawa lukamu untukku! Kita akan bercerita tentang hidupmu dipagi hari,"


Lagu itu seakan terus memanggilnya.


Lara akan pulang!


Kembalu keharibaan Ibunda.


Seperti garis manusia dan filosofi burung bangau.


Setinggi awanpun terbang angun malang melintang. Kembalinya pasti kekubangan yang bertanah basah.