My Maid, Lara!

My Maid, Lara!
Tirani Mimpi.



Lara membuka matanya dengan pelan. Bias mentari terasa silau, Dia memejamkan kembali untuk menetralkan kornea matanya. Dan membuka pelan sekali.


Ada Ibu yang sedang tersenyum. Dia bermimpi? mengalihkan pandangannya bilik kecilnya berdinding kayu tua menghitam dengan lemari triplek usang yang telah berlubang tempat penyimpanan baju baju mereka yang telah tua.


Lampu kendil semprong kaca itu tersampir didinding dengan meninggalkan bekas jelaga hitan dibagian atasnya.


Oh Lara benar benar dirumahnya dikampung tempat kelahirannya.


Membentuk tubuh dan wajahnya menjadi cameo yang dicintai oleh seorang remaja dari pulau seberang.


Dan ternyata itu hanya mimpi belaka.


Yah! Lara menganggap semua yang terjadi adalah mimpi yang tak ingin dilihat dan dikenang kembali.


Disini, Adalah tempatnya melanjutkan hidup.


Ada sinar matahari yang masih setia memberikan cahaya menemani mereka membajak dihuma kecil yang ditanami sedikit sayuran dan biji bijian yang menanti untuk disemai dibedeng pematang darat yang lembab agar memberikan kehidupan bagi mereka yang memimpikan kesederhanaan.


Ibunya bangkit kearah jendela dan membuka jendela berdaun kayu yang menebarkan cahaya dan kesiur angin yang menghangat kewajah Lara Bangkit dan menuju kearah dapur mengekor sang ibu yang ingin menyiapkan sarapan.


"Oh , Siput!!!" Pekik Lara girang tatkala melihat makanan kesayangannya terhantar dimeja kayu pendek setinggi limapuluh senti meter tanpa kursi berukir.


Lara duduk ditikar dan mulai menyendok nasi dari bakul bambu kepiringnya dan menyendok siput sambal dan sayur pakis kuah santan dan mulai makan dengan berdecak decik nikmat.


Ibunya menatap sedari tadi dengan airmata menggenang.


Aada apa dengan anaknya tampak pucat dan kelelahan, Hanya membawa mukena dan kain sholat yang dulu dibawanya kekota. Menempuh perjalanan yang berjarak sangat jauh itu datang sendirian dan pingsan sa'at berada diambang pintu rumahnya.


Orang tua yang bijaksana itu tak ingin bertanya apa apa pada Lara. Benarkah seperti yang dikatakan Aini lewat telepon bahwa Lara sudah bercerai dari Aswin.


Kemana suaminya Aswin?


Dan mengapa Lara seperti tak mengingat apa apa tentang kehidupannya dikota?


Banyak pertanyaan yang akhirnya ditelan sendiri oleh sang Ibu.


Lara selesai makan dan merasa kenyang.


" Letakkan saja piringnya Nak, Dan pergilah kekamar, Kau benar benar terlihat lelah." Kata sang Ibu tatkala melihat Lara hendak mengangkat piring kotornya kebelakang sumur tua dengan katrol yang diderek dengan tali.


Lara hanya mengangguk pelan. Dan berjalan kekenyangan menuju kebilik kecilnya.


Tiba tiba dia merasa dadanya berdenyut. Lara meraba kedua dadanya yang dibebat kain tipis panjang, Dan lebih kaget sa'at membuka bajunya dengan tergesa.


Dan berusaha membuka bebat penahan air susunya agar berhenti keluar dan jangan meleleh didalam perjalanan.


Lara pernah membaca Buku Best seller dunia yang berjudul"Seruni merah Jambu" Karya Pearls Buck, Menceritakan ketika Tokoh utama wanita yang berkebangsaan Jepang itu meninggalkan suaminya yang berkebangsaan Inggris dan baru saja melahirkan seorang bayi. Dan sa'at mereka berpisah meninggalkan anaknya yang masih merah Wanita itu mengikat dadanya agar ASI nya jangan keluar. Dan kini Lara merasa Rondezvous itu terulang lagi bagai slide panjang dalam kelebat pikirannya yang mulai terasa linglung.


Alangkah terkejutnya dirinya ketika melihat kedua *********** yang terlihat membengkak dan sangat sakit. Apakah dia memiliki anak yang baru dilahirkannya?


Lara meringis pedih jantung dan hatinya terasa perih melebihi kedua buah dadanya yang membengkak bagai bisul yang mengandung nanah.


Hatinya terasa berdenyut denyut.


Dia tidak sedang bermimpi atau baru bangkit dari kematian.


Ini nyata! Dia memiliki sepasang anak kembar yang berusia dua bulan. Mereka sangat lemah dan berat badan dibawah normal.


Lara telah meninggalkan mereka jauh sekali diujung pulau Indonesia.


Dan Ayah anak anak malang itu berada lebih jauh lagi. Masuk kedalam hutan mencari rejeki buat anak anaknya dan Lara.


Oh Salah! Bukan buat dirinya melainkan buat Cheryl!


Wanita yang didalam photo yang tidur bersama Ayah si Bayi malang. Zac! Lara ingat kembali!


Dan Ibunya yang bernama Ambarwati yang telah mengusirnya lembut dari apartemen dan sekaligus pria bernama Zac itu.


Devon yang sangat baik. Memiliki dua keponakan yang malang.


Oh! Anak anaknya bernama Hillary dan Leon. Nama yang sangat aneh.


Hill artinya :Bukit dan Lary: Ya lari lari!


Lari kebukit. Seperti dirinya yang kini berada dirumah ditepian bukit. Kata Lara sambil tersenyum seperti orang yang hilang ingatan.


Dan Leon, Bukankah Leon itu singa dan sosok yang identik dengan pria berhati kejam.


Leonidas!


"Aku tak mau anakku kejam sepertimu Zac! Anakku tak usah diberi nama jelek itu, Zac!" Pekiknya tiba tiba dengan sangat keras dan menjambak rambutnya sendiri.


Dan mencakar wajahnya dan sekujur tubuhnya dengan raut jijik.


"Aku benci Tubuhku! Emakkk Aku benci tubuh kotor ini" Pekiknya dengan keras.


Lara menerjang kearah pintu kayu dan menubrukkan kepalanya kedaun pintu bilik kecil yang terbuat dari kayu hutan yang keras


Sang Ibu yang ketakutan menjerit menghalangi Kelakuan Lara yang menyakiti dirinya sendiri hingga kepalanya mengeluarkan darah. dengan wajah yang penuh dengan cakaran.


"Lara! Berhentilah Nak, Sadarlah Nak! " Jerit wanita tua itu ketakutan.


"Pak Biiiin!" Jerit wanita tua itu sambil memeluk tubuh Lara yang kalap sambil memanggil tetangga mereka yang rumahnya agak dekat.


Rumah yang berjauhan membuat susahnya mencari pertolongan.


Pak Bin! Lelaki parobaya yang tinggal bersama istrinya dan seorang Cucu nya yang masih duduk disekolah dasar itu datang tergopoh gopoh dengan.pakaian hitam lusuh membawa cangkulnya yang masih tersampir dibahu berusaha menolong Lara yang hendak menghantamkan kepalanya kedinding.


Dengan sekali sentakan petani tua yang gagah itu menarik tangan Lara keranjang dan merebahkan tubuh Lara dengan paksa hingga Lara menyerah kelelahan.


Matanya mengabur dan tenggelam dalam kegelapan.


Ibu Warsini menangis sesenggukan melihat keadaan sang putri yang sedang pingsan sambil menyelimuti tubuh Lara yang terasa dingin.


Wanita itu dapat merasakan beban Lara yang tak terucapkan oleh Kata kata. Ibu Warsini ikut merebahkan dirinya sambil membelai rambut halus anaknya yang malang itu.


"Tidurlah Nak, Hari mulai malam seperti dulu kau datang didalam kelukaan dan kini hal yang sama terjadi Kau datang dalam kepelukan Emak penuh dengan kelukaan." Bisik Ibu tua itu dengan airmata yang meleleh dipipinya yang mulai keriput.


Dulu Ibu Lara tak pernah bermimpi dan bercita cita agar Lara menikah dengan pengusaha yang kaya raya seperti Aswin atau Zac. Dengan wajah yang cantik Lara takut untuk menerima semua pinangan para pria yang menggilai dirinya. Karena Warsini tahu Lara sangat takut bernasib seperti dirinya.


Sa'at undangan dan jemputan agar datang kepernikahan Lara dan Aswin yang begitu tiba tiba Warsini sama sekali tak bahagia.


Wanita tua itu malah takut sesuatu akan terjadi pada putrinya. Diasa'at orang lain memuji Aswin yang kaya raya dengan bangga, Ibu Lara malah berfirasat buruk tentang Aswin yang mencoba bersikap baik kepadanya dan kepada kerabat Lara yang diundang kerumahnya.


Mimpi Warsini cuma satu.


Dia ingin Lara menikah dengan salah satu pemuda dari kampung sebelah dan membajak sebidang tanah dikampung, Menuai hasil bersama dikelilingi oleh cucu cucunya dihari tuanya.


Dia tak pernah berfikir agar menjadi kaya dan menumpang hidup dengan menantunya.


Wanita itu masih menyimpan semua uang pemberian Aswin dan Zac didalam peti belakang rumah dan akan dikirim oleh Lara kembali sa'at semua keadaan sudah tenang.


Dan Lara pasti sudah mengembalikan uang para Tiran kejam yang telah menyiksa anak gadisnya yang berakhlak lembut dan mulia ini.


Sebulan yang Lalu Ibu Warsini sudah melaporkan kepada putra pak Lurah yang bernama Sadly agar transfer atas nama Zachary dihentikan! kerekeningnya yang berwarna kuning. Dan Ibu Warsini juga tak suka menerima segala bantuan dari pemerintah yang mengatas namakan dirinya sebagai warga tidak mampu. Dia sudah terbiasa hidup dengan mengandalkan hasil keringat dan ketangkasan tangannya.


Baginya hidup dalam kemiskinan dan hidup sederhana lebih mudah dari pada kesedihan karena kehilangan harga diri seperti yang dialami putrinya Lara sa'at ini.