
Suara elang melagu itu terus berbunyi dengan sedih.Dari balik kelam kabut malam dikaki bukit diketinggian dahan pohon Dadap tua yang berusia ratusan tahun berdiri tegak melawan musim.
Dan keadaan Lara yang semakin memprihatinkan.
Terkadang dia tak bisa membedakan kenyataan dan halusinasi.
Sa'at dibawa kekota sebagai salah satu rumah sakit besar dikota kabupaten yang tidak ramai. Lara didiagnosa mengidap skyzoprenia(Gila) dalam Kilas balik kehidupan yang dijalaninya. Ibu Warsini sangat terpukul melihat mirisnya keadaan Lara dan menolak keras menolak putrinya dibawa kerumah sakit jiwa yang berada jauh kekota provinsi. Atas inisiatif dari kepala desa agar Lara dibawa kesebuah Yayasan yang berbasis Agama dan diruqyah secara spiritual.
Untuk memulihkan kesehatan mental dan perkembangan yang baik buat Lara.
Ibu Warsini hanya menurut dan mengamini anjuran sang sesepuh desa itu.
Lara mulai menjalani perawatan mental selama 6 Bulan. Dipesanggrahan itu. Dan dengan susah payah mulai dapat menerima dirinya walau dalam keadaan yang berbeda.
Ibunya memutuskan agar Lara terus berada dipondokan ini dan dapat mendalami agama menjadi lebih baik lagi dan tidak menyalahkan diri sendiri dalam tiap musibah yang telah dilewatinya.
Ingatannya tak berjalan seperti biasa. Dia tak bisa mengingat cerita lalu dihidupnya. Memorinya hanya mencatat kehidupannya yang sekarang. Dan sekelumit hidupnya disa'at remaja.
Dia berulangkali berusaha mengingat tentang sebuah kisah penting didalam hidupnya.
Namun sia sia. Lara benar benar tak mengingatnya.
Dan dia bahkan tak mampu mengingat namanya. Dia hanya nengingat Ibunya dan neberapa gelintir kaum kerabat dekatnya. Mungkin ini lebih baik buat Lara.
Hidup sebagai manusia baru yang tak mengenal dunia yang pernah menyuguhkan kesakitan dan kepahitan itu untuknya.
Dan sang guru spiritual itupun berinisiatip agar mengganti nama Lara agar jangan lagi mendengar sesuatu yang mengingatkan dirinya pada sebuah trauma panjang yang dapat menyebabkannya lebih terpuruk. dan Akhirnya Lara tinggal disini. Dengan identitas yang lain.
Faqihatun Annisa. Itu adalah sebuah nama yang diberikan untuknya sebagai pribadi yang baru dengan latar belakang yang sama.
Lara hampir tak mengingat dirinya lagi. Benar benar seakan menghapus dirinya sendiri.
Hingga minggu dan bulan digantikan oleh tahun. Lara senang berada disini dan merasa damai diantara angin pagi dan pepohonan rimba yang menebar harum rerumputan kering yang dibakar sebagian para petani yang akan menugal dan menanam benih baru tanaman jagung yang memberi harapan dan penghidupan. Ini adalah rumah baru baginya.
Dia akan terus disini. Dipelukan malam dingin yang menebar cahaya dan harapan dihari depan.
Suatu tempat dipondokan sebuah Yayasan sederhana yang dihuni oleh ratusan santri yang terdiri dari berbagai kalangan usia. Dengan pondok pondok kecil yang berukuran 3x4 per tiap pondok dihuni oleh seorang santri yang dibagi menurut usia.
Bagi usia remaja menempati pondok dengan dua orang penghuni, Dan satu orang penghuni pondok yang berusia dewasa.Pondok pondok kecil berdinding papan berpintu triplek tebal itu berbaris teratur berbentuk huruf U Mengelilingi halaman yang sangat luas itu.
Faqihatun Annisa memakai malayya tipis diwajahnya melangkah pelan. Menuju kearah pancuran kayu yang mengucur deras dan berbuih. dan sangat jernih. Ada sepuluh pancuran yang memancar khusus buat putri diasrama kayu sederhana itu. Berada di kaki gunung yang berbaris rapi. Bagai barisan tentara gagah dengan pakaian berwarna hijau.
Gamis hitamnya yang menjuntai panjang dengan Niqaf yang senada tampak sedang membilas baju yang selesai dicucinya dibawah jemuran kawat yang melintang didepannya tampak tengah menjemur beberapa potong Baju panjangnya yang berwarna hitam.
"Kak Fa!, Aku bingung dengan dengan pelajaran filsafat Agama disertai ilmu Tauhid yang diajarkan Umi Zahra, Tolong diajari ya! Aku masih belum paham dari dasar," Kata seorang gadis yang berusia 23 tahun memakai hijab tanpa penutup wajah seperti temannya yang dipanggilnya Fa itu.
Fa mengangguk pelan dan meneruskan pekerjaannya.
Dia akan beristirahat sejenak jika pekerjaannya rampung.
Hari ini Hafalannya memasuki juz ketujuh. Dan berencana akan lanjut ke Juz kedelapan dalam tempo 4 hari.
Kini pekerjaan telah selesai. Sambil membawa embernya yang telah kosong dia melangkah menuju pondok.
Kepalanya terasa agak sakit hampir di setiap malam mereka selalu belajar pendalaman ilmu agama dan filsafat.
Namun gadis yang bernama Fa itu terlihat sangat puas dengan semua kelelahannya.
Faqihatun melangkah keluar menuju kearah taman dan melihat bunga bunga yang bermekaran.
Melihat Seorang putri kecil Buya Hamdan dan Umi Zahra berlari tertatih tatih berjalan menuju koridor kecil berlantai semen kasar dengan campuran batu kerikil.
"Hillary!"Bisiknya pelan tersamar oleh suara pengajian dari Aula depan. "Hillary Dan Leon, Mengapa nama itu terasa akrab dan sering terucap bibirku tanpa sengaja, Siapa mereka?"Katanya dengan jantung berdegup kencang. Dia tak mengerti dengan kata hatinya.
Dan dia tak tahu apa apa tentang hidupnya walau hanya sekelumit.
Dia hanya tahu dirinya anak seorang janda tua bernama Warsini dan dia adalah seorang gadis berusia 32 tahun. Dan belum menikah, Tetapi mengapa setiap kali mendengar suara anak anak dan melihat anak anak bibirnya tak berhenti menyebut dua nama. Hillary dan Leon.
Faqihatun Yang telah pergi dari rumah kecil mereka yang tertinggal membawa luka. Dengan luka dan cakaran diwajahnya stahun lalu masih membekas hingga kini.
Guntingan ingatannya menghilang tentang sosok Lara.
Lara yang malang.
Sejak divonis menderita gangguan jiwa. Karena sering mengamuk dan menyakiti dirinya sendiri, terkena depresi dan neuralgia yang parah hingga harus dibawa kesuatu tempat untuk pemulihan mentalnya. Namun Fa merasa dirinya penuh dengan dosa dalam kehilangan sebagian besar ingatannya.
Juga merasa tentang suatu perasaan masa lalunya yang kelam.
Dan Fa juga merasakan kemalangan itu berasal dari keindahan tubuhnya dan keelokan paras yang cantik.
Tatkala Dia memutuskan untuk menutup seluruh tubuhnya hingga menyisakan matanya yang Indah, Dan memutuskan memakai Burdah yang tipis menutupi seluruh wajahnya kala keluar dari rumah.
Fa, lebih tenang sa'at berada disini. Dengan memutuskan hubungannya dari dunia luar.
Dia terbangun pada pukul 04.Dini hari dan melaksanakan rutinitas spiritualnya dan beristirahat lewat pukul 14.00 Siang. Dan beristirahat pada pukul 23.00 Wib.
Fa merasa baik baik saja dengan hidupnya.
Dia menjalani hidupnya bersamaan dengan arah jarum jam yang melintas angka demi angka.
Melalui hari hari berarti yang selalu diingatnya hanya tentang suatu kebaikan dan tak peduli tentang sesuatu yang terjadi diluar gerbang pondokan.
Setiap hari berkutat dengan ilmu agama dan bersembunyi dibalik pakaiannya yang berkibar dan berjuntai panjang sehingga tatkala Fa berjalan lebih menyerupai bayang hitam yang kehilangan bentuk.
Fa Tak peduli dengan fashionable.
Dia merasa pernah memakai pakaian Yang lazim dipakai oleh seorang wanita biasa. Namun hatinya terasa sakit sa'at mengingatnya. Entah itu apa.
yang jelas dia mengingat suatu hal abstrak namun seperti sebuah mimpi buruk yang tak mampu diuraikannya dan tak ingin mengulang waktu itu.
"Fa! Hujan telah turun! Kainmu akan basah," Kata tetangga dari samping pondoknya.
Fa turun kehalaman dan berharap hujan memulihkan segenap ingatannya yang terasa kurang.
Apakah dia harus bersikap seperti sang ibu yang berharap agar ingatannya jangan pulih selamanya?