
Gerbong besar itu memiliki ruang yang cukup luas.
Terletak diarea ladang yang terlantar yang ditumbuhi ilalang liar. Dengan bunga bunga putihnya yang membentuk lidi yang berbulu dan lentur melambai sa'at tertiup angin.
Indah dan penuh angin.
Setidaknya ada Dua belas keluarga yang tinggal disitu. Gerbong yang telah berkarat dengan bagian kursi kursi terbuat dari besi tua yang telah hilang digondol maling penguntit besi tua. Sehingga meninggalkan ruang kosong gerbong yang berukuran 4x6 meter. Yang mungkin pada zaman dahulu dijadikan gerbong kereta pengangkut batubara atau apalah itu yang jelas kini meninggalkan sisa sisa kejayaannya dimasa lampau dengan memberikan tempat kepada beberapa keluarga yang tidak memiliki tempat tinggal. Sementara pemerintah daerah tidak mengevakuasi si Gerbong ketempat lain.
Sehingga dapat dijadikan hunian sementara bagi mereka yang memerlukan tempat tinggal yang tetap.
Dibelakang gerbong terdapat perkebunan singkong yang sangat luas yang akan diolah menjadi gaplek atau keripik gurih.
"Aku telah lama memimpikan tinggal ditempat seperti ini."Kata Zachary sambil menyeringai senang kearah beberapa rongsokan seng yang teronggok disudut gerbong yang berkarat.
Lara mengernyitkan keningnya dengan heran merasa tak masuk akal. Cita cita Zac sangat aneh baginya.
Anak ini memang gila dan selalu menemukan hal gila dari pikirannya yang gila.
"Hei, Mengapa kau terlihat tidak bahagia, Aku bosan tinggal di Caravan ketika aku berusia 12 tahun. Karena aku pernah hampir diculik ditengah hutan, Sa'at mobil bodoh itu mogok kehabisan bensin. Dan Sopir Caravan bodoh itu hanya tertawa tawa sa'at aku ketakutan, Ternyata dia adalah salah satu penjahatnya.Untung saja aku memukul besi palang mobil kekepalanya sampai mati"Katanya dengan geram dengan wajah puas, Lara ngeri mendengarnya.
Anak ini telah menjadi pembunuh ketika masih dibawah umur? Apakah dia psikopat? Lara bergidik.
Zac dengan sigap mengangkat beberapa benda yang seperti sisa sisa gelandangan atau mungkin orang gila yang menjadikan tempat ini sebagai tempat tinggalnya.
"Kita harus membuat tempat ini menjadi istana kita,"Katanya penuh semangat.
Membuat Lara hampir tertawa, Sejak kapan tempat kotor berkarat ini jadi istana? Bagai mana ceritanya? Pikirnya dengan senyum sambil melihat Zac yang membuka jeansnya tanpa malu malu didepan Lara meninggalkan celana boxer merah bergarisnya dan mulai mengangkut rongsokan yang teronggok disana sini.
Lara meletakkan barang yang baru mereka beli dari pasar. Kuali Alumunium kecil dan Periuk kecil. Ditambah Enam piring plastik dengan 6 cangkir untuk minum . Ceret alumunium dan beberapa mangkuk plastik.
Dibungkusan yang terletak dekat kakinya terdapat beras dan ember plastik hitam yang berisi beberapa bungkus ikan teri dan ikan asin kering lengkap dengan bumbu masak.Zac membersihkan tempat itu dengan sapu dan lidi yang baru mereka beli. Keringatnya tampak keluar membasahi tubuhnya yang hanya mengenakan kaos tipis putih tanpa lengan. Dan kaos itu mulai terlihat basah oleh keringatnya.
Wajah brewoknya terlihat mengkilap dengan basahan keringat yang terus mengucur deras.
Zac membakar sampah didalam dan didekat pintu gerbong yang sudah terlihat seperti tempat tinggal tetangga mereka yang tinggal disamping gerbong satunya.
sedangkan bagian atas plafon gerbong terlihat bersih dari sarang laba laba dan hanya terlihat karatan besi yang menguning kecoklatan.
Besi gerbong tua yang tebal itu tampak masih kukuh dan kuat, walau agak pengap karena jendela gerbong yang terkunci dan penuh karat dan tak bisa terbuka sejak lama.
Dan pintu gerbong yang telah diganti sebagian dengan kayu yang memiliki engsel pengunci yang dibuat oleh penghuni lama.
Lara menata tikar plastik tipis dilapisi kasur berisi dakron setipis lima cm. Memasang bantal kepala dan satu bantal guling berwarna biru. Dengan gulungan kelambu tipis penghambat nyamuk malam.
melipat beberapa potong daster dan baju kaos Zac dengan 2 celana jeans belel murah yang baru mereka beli.
menyusunnya dengan rapi pada keranjang plastik persegi panjang.
"Zac! Aku lupa memberitahumu untuk membeli kain selimut dan kain sarung untuk sholat.
Zac diam seolah tak mendengar.
" Besok akan kita beli." Jawab pemuda itu singkat tak lama kemudian.
Lara mengeluarkan kompor minyak dua belas sumbu dengan kerangka yang terbuat dari seng putih. menuang minyak tanah dan mulai menyalakannya agar sumbu apinya yang baru berapi merah menghitam itu berubah menjadi biru. Zac tertarik dengan benda kecil itu merapat kearah Lara. "Aku belum pernah melihat benda kecil berapi kecil biru ini,"Katanya takjub.
Lara mengangguk mengerti, Zac yang selalu hampir tiap hari memasak menggunakan kompor energi listrik,Gas dan Mikrowave. Dengan makanan yang jarang hampir tak dikenalinya. Dan dianggapnya aneh.
Lara tersenyum kearah Zac. "Kita akan pergi kesungai kecil tak jauh dari sini, Airnya bersih dan kita bisa meminumnya juga," Ajak Lara. Anak muda itu mengangguk.
Lara mematikan kompornya dan masuk ke gerbong mengambil beberapa potong bajunya yang kotor dan satu yang bersih dengan handuk lebar tipis dibahunya membawa sabun dan shampoo didalam plastik.
Zac melangkah kearah barat dijalan setapak menuju sungai. Membawa ember sedang berwarna hitam untuk wajah tempat air.
Mereka melangkah beriringan menuju sungai yang terdengar gemericik tak jauh dari tempat mereka.
Ilalang tampak bergoyang goyang tertiup angin yang hampir sore. Mereka tiba ditempat itu. sebuah cerukan kecil yang berair jernih dengan jeram kecil yang berkecipak nyaring. Zac berlari dan langsung terjun dengan riang disungai yang hanya sebatas dada itu.
Airnya yang jernih menampilkan bebatuan didasarnya yang menghijau terkena lumut dan pasir kasar dan bersih.
Lara turun pelan pelan kedalam sungai itu dan membuka gelungan rambutnya yang panjang menghitam lebat.
Lara menenggelamkan dirinya seluruhnya dengan merasakan kesejukan yang sangat segar hingga menyemai jauh kesasar hatinya yang nyaman seolah menenggelamkan segala beban hidupnya yang telah dipilihnya dengan pemuda bersifat keras dengan arogan yang tinggi.
Dan mendekati Lara perlahan.
Memeluk tubuh indah Lara dari samping belakang dan meraih dagu Lara kebibirnya yang terasa lembut dan sejuk kedadanya yang berdebar kencang. Menyentuhnya dengan selembut bulu namun semakin terbuai didalam perpaduan dinginnya air yang terasa sejuk,dengan tangan membelai tubuh bagian depan Lara terasa melembut basah ditangannya. Tangan Zac terus turun hingga mengelus perutnya yang masih rata. Namun dengan cepat melepaskannya sa'at mendengar sesuatu yang aneh disisi sungai.
" kresek kresek kresek" Suara itu mengganggu Zac yang datang dari arah sisi kiri mereka.Pemuda itu mengangkat wajahnya dengan pelan dan menoleh kesamping dengan kedua lengan masih memeluk Lara yang sedang terpejam dengan rambut basahnya yang terlihat bagai cameo dipinggiran kali.
Anak anak nakal itu bersorak Sorai sambil melompat lompat dari seberang membuat Lara kaget dan menunduk dengan tersipu malu.
Zac hendak mengambil kerikil kecil dari dalam sungai untuk menimpuk anak anak itu dengan kesal. Anak anak kecil itu seketika berlari kearah gerbong.
"Zac! Sudahlah. Mereka masih kecil dan belum tahu apa apa," Larang Lara sambil menahan tangan pemuda itu yang sedang bersungut sungut kesal.
Mereka pulang sa'at matahari hampir tenggelam, Dengan membawa seember air dan dengan keadaan segar.
Ada bias kelembutan diwajah Pria muda itu sa'at menuntun tangan Lara yang tersandung oleh batu bulat yang menghalangi jalannya.
Tak ada sumpah serapah dan makian dari bibir Zac. Dia selalu menatap kedepan dengan Lara disampingnya.
Dan mungkin mulai menyadari bahwa dalam diri Lara ada darah dagingnya sendiri yang menanti sedikit kasih sayangnya yang selama ini hilang.
Karena kesombongan dan keangkuhannya didalam kehidupan yang bergelimang dengan kebutaan mata hati diiringi kesenangan yang tak berbatas.