
Zac kini tersenyum. Dia berjanji.
Tidak menangis .
Tidak patah hati.
Dia akan menjalani hidupnya yang kembali sempurna. Baginya hidup memang begitu. Tak perlu ditangisi atau disesali. Dia hanya merasa kehilangan ketika Lara pergi diculik untuk pertama kali.
Ruang kosong dihatinya terasa dingin. Berlubang yang tak terlihat. Namun dia bukanlah Zac dengan sikap sentimentil yang seperti gadis remaja yang putus cinta.
Pertama sekali hal yang harus dilakukan dengan keadaannya saat ini adalah melanjutkan studinya. Dan menata hidupnya yang terbelah.
Besok dia akan terbang ke Kalimantan dengan penerbangan pertama. Dia akan menemui Kakaknya Devon dan belajar banyak darinya. Tentang manajemen dan struktur kerja yang baik . Setelah itu dia akan pergi ke Jerman dan melanjutkan studinya dibagian Engineer.
Dia menyukai spare parts pada sebuah mesin sama seperti dia menyukai sepeda motor yang sering dimodifikasi olehnya. Devon selalu memarahinya Sa'at membongkar sepeda motor kesayangannya.
Namun akhirnya tersenyum melihat hasil akhir kerja Zac yang benar benar menakjubkan
Devon yang pendiam , Devon yang bijaksana dan Devon yang pekerja keras, Zac tiba tiba sangat merindukannya.
Devon yang tidak marah dan memukulnya sa'at Zac menabrakkan mobilnya kepembatas jalan sa'at Zac mabuk. Dan Membunuh kucing kesayangan devon, dan bahkan sa'at ketahuan meniduri tunangan kakaknya gadis Cantik bernama Glory.
Devon sangat menyanyangi dirinya dan selalu melindunginya sejak kecil.
Mengajarinya dengan cara yang baik bahkan sampai mengajari hal yang terkadang buruk. Seperti merokok dan cara mencium seorang wanita. Aneh memang! Namum Zac menganggap Zac adalah seorang kakak yang berjiwa komplit.
Dan Zac selalu mengagumi Devon.Dan kini ia ingin bercerita tentang hal penting dari isi hatinya yang dipendam selama mereka berjauhan.Tentang sesuatu yang sangat pribadi dan tak pantas diceritakan melalui telepon seperti selama ini mereka lakukan tentang permasalahan yang menimpa keluarga mereka. Dan juga bercerita tentang yang terjadi dalam hidupnya dibelakangan hari ini.
...****************...
"Apa yang ingin kau bicarakan Zac!" Kata Devon sambil melempar handuk kearah Zac hingga kepala sang adik tertutup handuk lebar yang lembab itu.
Zac yang tampak merenung dengan tangan terlipat kedadanya.
Mengambil handuk yang menutupi wajahnya tanpa semangat dan melemparkan handuk malang itu keranjang sang kakak.
Devon hanya mengenakan baju mandi yang longgar dan terbuka dengan melepaskan pengikat bajunya dan membiarkan tubuh bagian depannya terbuka dengan dada dan ****** ***** berwarna putih bersih, Rambut basahnya yang agak panjang terlihat keren dimata Zac.
Kakaknya berwajah manis dengan hidung tak semancung Zac , Namun Devon memiliki sepasang lesung pipit dipipinya. Sehingga Zac sering iri jikalau kakaknya sedang tersenyum.
Zac merasa yang paling tampan memjadi merasa tersaingi.
Kulit Devon yang putih kecoklatan. Sedangkan Zac Berkulit seputih susu.
Menurun dari kulit nenek.mereka yang berkebangsaan Polandia.
Ibu dari Ambarwati adalah non pribumi. yang bekerja sebagai Acounting disebuah perusahaan multinasional di Indonesia dan akhirnya menikah dengan Ayah Ambarwati, Melahirkan Ibu Zac, Ambarwati yang Cantik dan pekrja keras dengan tingkat kecerdasan yang tinggi.
Dan kini Devon menoleh kearah Zac.
Adik lelaki satu satunya ini terlihat sering murung sejak kedatangannya tadi siang.Kelakuan Zac jadi sedikit aneh.
Walau Zac terlihat ingin tampak wajar dimata sang kakak.
Zac balik menatapnya dan perlahan tersenyum manis berlanjut dengan
tertawa terbahak bahak, Namun jadi terlihat semakin aneh dimata sang kakak.
Tawanya garing dan hambar dan perlahan sang adik tiba tiba menangis, Airmatanya mengalir dan perlahan melorotkan tubuhnya hingga terduduk dilantai. Persis seperti masa kecil dulu, Menangis karena takut telah mengambil coklat kesenangannya Devon yang disembunyikan didalam kulkas.
Zac kecil tertawa dan kemudian menangis mengakui kesalahannya.
Devon gelisah dan menjadi was was. dan mendekati Zac yang Masih menangis tersedu sedu. Sambil menatap kelantai.
" Zac !! Kau tak perlu minta ma'af hanya karena Glory! Aku sudah memaafkanmu dan memutuskan hubungan dengan wanita binal itu, Itu bukan salahmu! Gadis itu yang menjebakmu hingga masuk kepelukannya," Katanya lembut kepada adiknya yang sedang menangis bombay itu.
Sambil berusaha memeluk kepala Zac kedadanya.
Seperti difilm film roman yang pernah mereka tonton diteather mini rumah mereka.
Namun Zac menepis tangan sang kakak dengan kesal.
"Aku tak perduli sepeserpun tentang Glory! Aku sedang memikirkan Lara!" Sentaknya dengan hidung penuh ingus yang meleleh membentuk lendir bergaris panjang hampir menyentuh lantai pualam diapartemen kakaknya.
"Lara?" Tanya Devon mengernyitkan kening tak mengerti.
"iya Dev! Aku telah menghamilinya dan tinggal bersama dengannya digerbong tua, Tempat yang dulu kau pernah mengajariku merokok sepulang sekolah yang memiliki ladang singkong dibelakang gerbong kosong itu! " Katanya dengan tangis mulai mereda. Panjang lebar.
"Oh Zac! Aku jadi ingat! Ma'afkan aku telah menjadi kakak yang jahat untukmu!" Sesalnya. Dan sejenak kemudian terkejut.
"Apa??? Hamil? Kau memang keterlaluan Brengsek! seharusnya aku yang lebih dulu yang menghamili gadis itu," Katanya marah,Namun kemudian membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangannya. Seolah menyesal telah berkata seperti itu pada Zac.
Kini giliran Zac yang menganga mendengar kata sang kakak.
"Kau seriuslah Dev! aku bingung dan merasa sangat beesalah," Katanya kemudian.
"Mengapa bingung? Nikahi saja dia! Kalau kau tak sanggup mendidik anakmu itu, Berikan padaku, Biarkan aku yang mengasuh dan mendidik anak itu agar berguna bagi nusa dan bangsa," Kata Devon sambil mengerak gerakkan tangan keatas bagai orang yang sedang membaca puisi. Devon adalah pemuda serius yang dewasa, Namun permasalahan dengan seorang wanita baginya masalah kecil dan tak perlu ditangisi sedemikian rupa.
Dia mengajarkan hal itu kepada Zac sejak dini. Dan dia benci melihat seorang pria menangis karena putus cinta.
Baginya permasalahan hidup keluarganta lebih penting.
Wanita didunia ini sangat banyak berpencar dimuka bumi dengan berbagai warna. Ada yang berbentuk berlian dan ada yang berbentuk batu yang sangat jelek.
Terserah dia mau memilih wanita yang bertipe seperti apa.
Dan sekarang Zac malah menangus karena seorang wanita. Suatu hal yang sangat ganjil bagi Devon melihat Zac yang kembali bagai adik kecilnya dulu. Yang cengeng dan pemarah. Dia yang membuat salah dua juga yang menangis.
Dari dulu anak bandel ini tak pernah berubah. Pandai membuat masalah besar dan melimpahkan keauaahan padanya.
Kadang Devon ingin mencekik leher adiknya ini. Namun anehnya!Bahkan menjewer sang Adikpun dia tak sanggup.
Dia sangat mencintai Zac sejak kecil.
Jarak usia mereka yang jauh membuat Devon mendidik Zac seperti mendisik seorang anak.
Devon sejak kecil selalu ingin adik lelaki temannya untuk bermain.
Dan ketika dia duduk di kelas lima sekolah dasar Zac lahir kedunia.
Devon melonjak lonjak senang.
Dan mereka berteman sejak Zac lahir kedua.
"Itulah permasalahannya sekarang! Lara telah digondol Aswin dan mereka telah menikah seminggu yang lalu," Desah Zac putus asa.
"Lagi lagi nama Aswin yang ada disini." Kayanya geram.
Lalu berubah serius.
"Zac! Bukankah ini juga salahmu? Kau membunuh adik kesayangannya secara tidak langsung? Kau memang hebat selalu membuat masalah diatas masalah! Tapi jangan kuatir! Aku akan selalu bersama dan melindungimu, Kamu jangan bersedih! Setiap permasalahan pasti ada penyelesaian," Kata Devon sambil memeluk Zac. dan mengelus elus kepala botak Zac dengan rambut mulai tumbuh dikepalanya.
Zac mengangguk. Baru kali ini Dia merasa tak berarti dan tak berdaya.