
Krystal perlahan membuka matanya. Saat akan membalikan tubuhnya, pelukan erat di pingganya membuatnya tidak bisa bergerak. Perlahan Krystal menoleh ke belakang, terpesona pada wajah tampan yang masih memejamkan mata, bahkan dengkuran kecil pria itu bisa Ia dengar.
Seulas senyuman terukir di bibirnya karena merasa tidak menyangka dengan suasana baru ini. Biasanya Ia tidur sendiri, namun berbeda dengan pagi ini, Ia mendapat pelukan hangat dari suaminya. Dengan perlahan Krystal berusaha membalikan badannya, dan akhirnya berhasil tanpa membuat Edrik terbangun.
Tangan Krystal terangkat mengusap rahang tegas Edrik, mengagumi ketampanan pria itu yang luar biasa. Pantas saja Krystal tergila-gila pada Edrik, toh pria itu menurutnya sangat sempurna. Hembusan nafas Edrik menyapu wajahnya membuat Krystal terkekeh karena merasa geli, tapi itu malah membuatnya semakin nyaman dan tidak mau beranjak bangun.
"Sudah puas mengagumi ketampananku sayang?"
Deg!
Edrik membuka matanya, Ia tidak bisa menahan senyumannya melihat wajah terkejut Krystal. Sangat menggemaskan sampai membuatnya tidak tahan untuk mengecup bibir ranum wanita itu.
"Selamat pagi istriku tercinta yang sangat cantik."
"Issh apasih!" Dengus Krystal sambil memanyunkan bibirnya, Ia tentu saja malu mendengar gombalan itu.
"Hey bibirnya di manyunin gini kode minta di cium ya?"
"Gak!"
Edrik tertawa kecil sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Krystal. Ia sangat menikmati saat-saat seperti ini, sangat nyaman. Pagi ini Ia merasa bahagia dan lebih bersemangat, mengingat kalau dirinya sudah seutuhnya mendapatkan Krystal. Sekarang Edrik tidak perlu takut kalau wanita itu pergi, karena Ia akan selalu menjaga dan menyayanginya.
"Aku mau mandi."
"Mau mandi bersama?"
Krystal langsung memukul dada telanjang pria itu pelan. "Tidak mau dan berhenti menggodaku." Ketusnya.
"Memangnya kenapa? Bukankah dulu kau selalu ingin aku bersikap romantis?"
"Tidak lupakan saja, itu dulu. Ternyata kalau dirasakan sangat menggelikan."
"Haha biar saja, toh aku senang menggombalimu."
"Ck menyebalkan." Krystal berusaha melepaskan pelukan Edrik, namun pria itu tidak membiarkannya. "Edrik aku mau mandi, nanti keburu siang, aku harus menyiapkan sarapan."
"Ada syaratnya."
"Apa?"
"Cium aku dulu."
Decakan sebal lagi-lagi terdengar dari bibir Krystal, kenapa Edrik berubah seperti ini? Ia memang senang karena Edrik menjadi pria romantis, tapikan Krystal malu dan tersipu kalau terus digoda. Dengan malas Krystal akhirnya mengabulkan permintaan suaminya, saat akan melepas bibirnya dengan cepat pria itu menahan tengkuknya dan merekapun berciuman lama.
"Hah!" Krystal mengatur nafasnya yang memburu setelah Edrik melepas ciuman itu. Astaga, Ia hampir saja mati kehabisan nafas.
Sedangkan Edrik yang melihat istrinya dibuat terkekeh, betapa menyenangkannya bermesraan dan menggoda Krystal. Pria itu lalu segera berdiri dan menggendong Krystal ala bridal, sampai membuat wanita itu terpekik kaget.
"Edrik apa yang kau lakukan?!"
"Ayo kita mandi bersama."
"AAaa tidak mau!"
***
Edrik menutup panggilannya dengan Ruby, mereka baru saja membicarakan kalau Ia akan pindah ke Washington nanti sore. Malam ini adalah malam tahun baru, dan berencana merayakannya di rumahnya. Rasanya tidak sabar mengajak Krystal ke rumahnya, hidup bahagia bersama layaknya pasangan lain.
"Sedang apa hm?"
Pelukan hangat di belakangnya membuat Edrik langsung menoleh, tersenyum melihat Krystal. Pria itu menarik tangan wanita itu untuk berdiri di sampingnya, Iapun yang beralih memeluk pinggang ramping Krystal.
"Aku sudah mengabari Ruby kalau kita akan pindah sore ini ke Washington."
Krystal menyembunyikan wajahnya di dada bidang itu. "Apa boleh aku bertemu Daddy dan Mommy dulu?" Lirihnya.
Edrik yang mendengar nada sedih itu mengeratkan pelukan mereka, selain itu Ia juga mengecup puncak kepala Krystal mesra. Ia tahu kalau istrinya ini merasa berat untuk berjauhan dengan kedua orang tuanya, apalagi mengingat kalau wanita itu adalah putri yang sangat manja.
"Iya nanti siang kita ke rumah mereka."
Mereka menatap pemandangan indah dari lantai 16, semalam mereka memang menginap di sini. Salju tidak turun banyak, mataharipun bersinar dengan sangat cerah pagi ini.
"Aku masih tidak menyangka kau yang menjadi suamiku."
Edrik tertawa kecil. "Seharusnya aku yang bicara seperti itu nona."
"Nona?"
"Hm, dulu kau adalah nona mudaku."
"Aku ini hanya pria biasa yang dengan lancangnya jatuh cinta pada ratunya. Kau tahu Krystal kenapa dulu aku tidak berani mengucapkan kata cinta?"
"Kenapa?"
"Karena aku selalu merasa tidak percaya diri, kau sangat sempurna sedangkan aku?"
"Hei kenapa bicara seperti itu?" Krystal mengangkat kepalanya, Ia mengusap pipi Edrik lembut. "Akukan sudah bilang kalau mencintaimu dengan tulus, aku tidak masalah sama sekali dengan perbedaan kita."
"Hm itu menurutmu, tapi tetap saja aku merasa malu."
"Sudahlah jangan bicara seperti itu lagi, sekarangkan semua sudah berubah. Kita sudah menjadi pasangan seutuhnya dan sama-sama saling mencintai, ku mohon jangan lagi pergi tanpa kabar hm?"
"Maafkan aku, aku melakukannya karena ingin bersamamu."
"Aku tahu, dan sekarang kau sudah mendapatkannya." Krystal mengecup pipi Edrik. "I love you."
Edrik ikut tersenyum, Ia menyampirkan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah cantik Krystal. "I love you too." Ucapnya tulus.
"Oh iya aku baru saja membuat kue, ayo."
Edrik mengikuti kemana wanita itu menariknya, ternyata di meja depan televisi berukuran besar sudah terhidang berbagai macam makanan, bahkan ada sebotol minuman alkohol. Pria itu duduk di samping Krystal, Ia hanya diam memperhatikan.
Krystal menuangkan bir ke gelas lalu di serahkan pada Edrik, selanjutnya Ia melakukan untuk dirinya sendiri. Setelah siap wanita itu mengangkat gelasnya, mengetukan pelan pada gelas milik Edrik lalu meminumnya.
"Apa ini?" Tanya Edrik sambil tersenyum lebar.
"Bukan apa-apa, anggap saja ini perayaan kecil-kecilan untuk kita berdua."
Edrik mengangguk dengan senyuman yang semakin lebar, tingkah Krystal sangat menggemaskan. Di depan mereka sendiri sedang menayangkan film romantis, titanic. Lalu saat bagian Jake dan Rose melakukan adegan romantis, pria itu langsung menoleh ke samping. Sedangkan Krystal tentu saja menyadari kalau Edrik terus menatapnya, membuat wanita itu tidak nyaman.
"Apasih Edrik?!" Dengusnya.
Edrik merangkul bahu Krystal, saat akan mencium segera Krystal menahan bahunya. "Tidak."
"Kenapa?"
"Pokoknya tidak, sudah menonton saja."
Tetapi Edrik sudah banyak berubah, pria itu tidak mendengarnya. Ia malah berusaha mencium Krystal yang tentu saja sampai terdengar tawa dari mereka. Akhirnya Edrik harus menyerah karena Krystal yang terus menahannya, baiklah lihat saja nanti.
Mereka duduk berpelukan menonton sampai tidak terasa telah selesai juga. Bir di botol sudah habis hampir setengahnya dan tentu saja karena mereka berdua, sekarang entahlah keduanya mabuk atau tidak. Edrik mengangkat dagu Krystal dengan jarinya, menatap ke balik mata indah itu.
"Kau sangat cantik."
"Lebih cantik aku atau Camelia?"
Edrik tersenyum, sepertinya wanita ini sudah mabuk sampai meracau tidak jelas. Pipi Krystal yang merah merona karena mabuk membuat kecantikannya bertambah berkali lipat. Edrik sendiri tidak mabuk, hanya merasa sedikit pusing saja.
"Tentu saja kau lebih cantik, kau wanita tercantik yang pernah aku lihat."
"Dasar raja gombal."
Krystal menyembunyikan kepalanya di dada Edrik, menghirup wangi khas pria itu yang memabukan. "Aku mengantuk."
"Kau tidak boleh dulu tidur."
"Kenapa?"
Kembali Edrik mengangkat wajah Krystal. "Karena kita harus mengerjakan sesuatu."
"Apa?"
Awalnya Krystal bingung dengan kata-kata pria itu, tapi saat Ia melihat seringai di bibir Edrik membuatnya merinding. Tunggu, apa jangan-jangan...
"Kita harus membuat bayi."
Sebelum Krystal protes, Edrik langsung menggendongnya dan berjalan cepat ke kamar. Mereka kembali bermesraan dengan penuh cinta. Ternyata benar kalau pengantin baru itu selalu bahagia, akhirnya Edrik juga Krystal merasakannya.
Setelah perjuangan dan penantian yang begitu lama, akhirnya mereka bisa bersama. Benar, Tuhan akan kembali mempertemukannya dengan jodohnya. Semoga mereka bisa hidup bahagia bersama anak dan cucu nanti, sampai tidak ada yang dapat memisahkan mereka kecuali kematian.
TAMAT
***
Terima kasih kepada semuanya yang sudah membaca sampai sejauh ini. Jangan lupa mampir ke karyaku yang lain yang pastinya gak kalah seru, follow my profil.
Love, by Aranel T ❤