My Lady

My Lady
Tepat Waktu



Trak trak!


Ketukan keras kaca mobilnya membuat wanita itu terbangun dari tidurnya, meringis kecil karena posisi tidurnya yang bertumpu pada setir membuat lehernya pegal. Krystal menoleh dan langsung terkejut melihat dua orang pria mengetuk-ngetuk kencang kaca mobilnya dari luar.


"Astaga siapa mereka?!"


Sekarang Krystal panik, apalagi pria-pria itu berteriak menyuruhnya untuk keluar. Walaupun Ia mengunci pintu mobil, tapi Ia tetap takut. Krystal langsung membawa ponselnya yang tergeletak dibawah, tapi sialnya benda itu mati kehabisan baterai.


Suasana jalanan sangat sepi dan gelap, Krystal ketiduran. Mobilnya mogok dijalan yang tidak Ia kenali, ponselnya mati dan sekarang ada penjahat. Sial sekali hidupnya hari ini.


"Keluar atau kaca mobil ini akan kami pecahkan!!" Teriak pria bertubuh besar itu sambil menodong pisau ke arahnya.


Krystal menggigiti kuku jarinya, Ia duduk tidak nyaman. Apalagi saat pria itu mengancam akan memecahkan kaca mobilnya. Apa Krystal keluar saja? Tapi Ia sangat takut.


Trak!


Melihat pria itu yang tak main-main akan memecahkan kaca mobil dengan batu membuat Krystal memutuskan untuk keluar. Tangannya langsung ditarik kasar oleh pria bertubuh besar membuatnya kesakitan.


"Kalian siapa?!" Teriak Krystal.


Kedua pria itu malah terkekeh sambil menatap penampilannya, apalagi pria satunya mengusap bibirnya dengan jari sambil menatapnya mesum.


"Waw sepertinya malam ini akan menjadi malam yang tidak terlupakan karena bertemu dengan wanita secantik dirimu."


Krystal menepis kasar tangan pria itu yang beraninya mencolek dagunya, Ia menatap tajam mereka. "Apa mau kalian?! Uang? Aku akan memberikannya!"


"Ckck kita sudah menyangka kau ini memang orang kaya, buktinya mobil ini hanya untuk kalangan atas saja. Sekarang kami tidak tertarik dengan uang, tapi lebih tertarik pada.. Tubuhmu."


Mendengar itu Krystal dibuat ketakutan, Ia memundurkan tubuhnya tapi saat akan masuk ke mobil dengan cepat pria itu menarik tangannya dan Ia diseret entah kemana.


"Lepaskan aku! Tolongg!!"


"Haha ini hutan nona, tidak ada kendaraan yang lewat, apalagi sedang musim salju seperti ini."


"Lepas bodoh! Aku akan laporkan kalian ke polisi!"


"Waw kami jadi takut, tapi tidak apa, yang terpenting sekarang kami bisa bersenang-senang dengan wanita secantik dirimu."


Krystal diseret ke dalam hutan yang gelap, wanita itu sudah menangis karena ketakutan. Berteriak minta tolong sampai tenggorokannya sakit, tapi sayangnya tidak ada siapapun. Saat melihat sebuah gubuk kecil membuat wanita itu semakin menangis jadi.


"Lepaskan aku hiks!"


"Melihatmu menangis, kecantikanmu malah semakin bertambah."


Saat pria bertubuh kurus akan membuka pintu, suara berat dibelakang mereka langsung mengalihkan pandangan. Krystal menatap tak percaya pria yang baru datang itu, hatinya langsung merasa lega.


"Edrik tolong hiks!"


"Siapa kau?!" Tanya pria bertubuh besar itu sambil mengeratkan cengkramannya ditangan Krystal.


"Saya kekasihnya, berani sekali kalian menyentuhnya dan membuat dia menangis!" Desis Edrik tidak suka. Kedua tanganya sampai terkepal erat menahan amarah.


"Oh ternyata ada pahlawan kesiangan, ck kau ini jangan sok berani pada kami. Mana mungkin aku melepaskan wanita secantik ini!"


"Oh ya? Jadi kalian tidak mau melepaskannya?"


"Tidak!!"


Edrik lalu mengelurkan sesuatu dari balik jaketnya, kedua penjahat itu langsung terbelak melihatnya.


"Saya akan hitung sampai tiga, kalau tidak maka kepala kalian akan bocor dengan benda ini!"


Edrik menarik penutup geser pistolnya ke belakang. "Dua." Pria itu lalu mengangkat pistolnya dan diarahkan pada pria bertubuh besar itu. "Ti-"


"Berhenti! Oke!"


Krystal didorong pria itu dan tubuh wanita itu langsung dipelukan Edrik, tanpa waktu lama Krystal langsung mengeratkan pelukannya sambil terisak.


"Pilihan bagus, kau tahu siapa aku?"


Kedua pria itu menggeleng pelan, Edrik masih mengarahkan pistolnya pada mereka, terlihat menakutkan.


"Baguslah kalau kalian tidak tahu, karena kalau kalian tahu hidup kalian tidak akan tenang."


Edrik menurunkan pistolnya dan kembali memasukannya ke dalam jaket. Pria itu mengangkat tubuh Krystal ala bridal, dan melenggang pergi dari sana.


Tubuh Krystal Edrik dudukan di kursi penumpang depan, setelah itu Ia masuk dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Dasar ceroboh! Kau pikir ini dimana?! Kalau aku tidak tepat waktu datang bagaimana hah?!"


Krystal menundukan kepalanya mendengar bentakan itu, kedua tangannya saling bertaut. Ia tidak tahu harus menjawab apa, keadaannya saja masih syok karena kejadian tadi. Dan sekarang pria di sampingnya ini malah memarahinya.


"Untung saja tadi aku berhasil mendapatkan dimana lokasimu, sialnya ini sangat jauh dari New York."


"Terima kasih."


"Ya kau memang harus berterima kasih!"


"Aku tidak bisa membayangkan kalau kau tidak ada, aku mungkin sudah-" Mata Krystal mulai berkaca-kaca lagi.


"Sudahlah, jangan diingat lagi!"


Mengingat kejadin tadi membuat Edrik kembali marah, hampir saja wanita itu dinodai. Jika itu sampai terjadi, sungguh Edrik tidak akan pernah memaafkan penjahat itu, bahkan kalau bisa Ia akan membunuh mereka.


Setelah mendapat telphone itu, entah apa yang Edrik rasakan. Sedih dan terharu menjadi satu. Edrik memang tidak berbicara sama sekali di panggilan itu, Ia hanya setia mendengarkan Krystal yang mengelurkan semua isi hatinya.


Tanpa disadari kata-kata itu mampu membuat pria sepertinya meneteskan air mata. Ternyata wanita itu masih mencintainya, setia menunggunya selama ini. Jahat sekali Edrik yang malah menyia-nyiakan wanita seperti Krystal.


Tapi saat panggilan terputus membuat Edrik kalut, entah kenapa perasaannya jadi tidak enak. Saat Ia mencoba kembali menelphone Krystal tapi tidak aktif. Maka Edrik melacak dimana posisi wanita itu, dan betapa terkejutnya Ia saat ternyata Krystal sangat jauh dari New York.


Yang lebih anehnya lagi, posisi wanita itu hanya diam tidak bergerak kemana-mana. Edrik pun memutuskan untuk menyusul, perasaannya yang tidak enak memang benar. Jika tadi Ia terlambat, Edrik tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada wanita yang amat sangat di cintainya itu.


Mobil berhenti tepat didepan halaman rumahnya di Washington. Edrik memutuskan untuk membawa Krystal ke sini, lagi pula jaraknya tidak terlalu jauh dari sana. Untuk ke New York membutuhkan perjalanan lama dan ini sudah sangat malam.


Edrik menoleh ke samping, ternyata Krystal tertidur. Lelehan air mata masih terlihat di pipi membuat Edrik tidak tega, Ia menghapusnya pelan. "Maafkan aku." Bisiknya.


Tidak ada siapapun di rumahnya, Albert sendiri baru ke New York tadi sore untuk menyusulnya. Edrik menurunkan tubuh Krystal di ranjang besar miliknya, Ia lalu duduk di samping wanita itu sambil mengusap pipi Krystal. Sepertinya pergerakannya membuat Krystal terjaga, mata wanita itu perlahan terbuka dan langsung bertatapan dengannya.


"Tidurlah lagi."


Keystal memperhatikan seluruh ruangan yang asing, Ia sama sekali belum pernah ke sini. "Dimana aku?"


"Di rumahku."


Krystal mendudukan tubuhnya, meringis kecil merasa pusing. Lalu usapan di kepalanya membuat wanita itu langsung menatap Edrik.


"Apa kau baik-baik saja? Aku sangat khawatir. Maaf kalau tadi aku malah membentakmu dan berkata kasar, kau harus tahu kalau aku sangat khawatir."


"Aku baik-baik saja." Ucap Krystal sambil menunduk.


Edrik mengangkat dagu Krystal dengan jarinya agar kembali menatapnya. "Aku akan selalu menjagamu, aku tidak akan pernah membiarkan kejadian ini terulang lagi. Jangan takut."