My Lady

My Lady
Kata Cinta



Krystal kembali melihat jam di tangannya, Ia sudah menunggu hampir sepuluh menit lamanya. Suasana restoran yang sepi membuat wanita itu mulai bosan, sesekali kedua tangannya menggosok satu sama lain karena kedinginan. Dress putih selutut dengan turtle nick membuatnya malam ini terlihat sangat cantik, rambutnya digerai dengan hiasan jepit bintang kecil.


Malam ini pertemuan dengan pria yang akan di jodohkan dengannya, dan ini adalah pertemuan pertama mereka, tapi kemana pria itu? Krystal sudah kebosanan di sini. Anehnya restoran ini tidak ada pengunjung selainnya. Krystal duduk di meja tengah, tapi yang lebih aneh meja lain juga dihias dengan indah, padahal tidak ada yang menempati.


Suara langkah kaki mendekat ke arahnya membuat Krystal tersadar, tangannya memegang dadanya merasa aneh dengan perasaannya sendiri. Apa mungkin pria yang akan dijodohkan dengannya? Astaga Ia sangat gugup.


Saat Krystal bangkit dari duduknya bertepatan dengan pintu ruangan terbuka, seseorang masuk dengan Krystal yang langsung membelakan matanya tak percaya melihat orang itu.


Kejadian ini seperti slow motion, dimana dua orang berbeda kelamin itu menatap satu sama lain dengan tatapan berbeda. Pria yang memakai jas hitam itu melangkah mendekat ke meja, Ia memberikan sebuket bunga mawar biru besar pada Krystal.


"Good night, my future wife."


Krystal menggeleng tak percaya. "Apa ini?" Bisiknya.


Pria itu tersenyum tipis, Ia menyimpan buket bunga itu di meja. Kedua tangannya Ia masukan ke saku celana. "Apa kau terkejut karena aku yang ternyata menjadi calon suamimu?"


Kryatal tidak menjawab, matanya memerah menahan segala sesuatu yang bergejolak di dadanya.


"Semua ini sudah aku rencanakan dan akhirnya cerita ini akan berakhir dengan bahagia, dimana aku akan menjadikanmu milikku untuk selama-lamanya."


"Aku tidak percaya kau melakukan ini padaku."


Edrik menunduk merasa sedih melihat tatapan terluka itu, tapi pria itu mencoba tersenyum. "Jadi apa yang aku lakukan jahat? Lalu aku harus bagaimana?"


"Aku minta maaf jika ternyata ini menyakitimu, tapi aku juga tidak mungkin kembali padamu seperti dulu. Aku ingin membuktikan semua itu, dulu aku pergi karena cinta itu tidak pantas dan sekarang aku sudah kembali dengan cinta yang pantas. Apa kau tidak senang aku kembali?"


Sebutir air mata jatuh di pipi Krystal. "Aku tidak pernah mempermasalahkan kasta kita Edrik, dulu maupun sekarang tidak ada yang berbeda. Aku malah mencintaimu yang dulu, dibanding Edrik yang sama sekali tidak aku kenali."


"Tetapi aku ingin berubah Krystal, aku tidak ingin malah membuat hidupmu menderita jika bersamaku. Tolong mengertilah, ini semua aku lakukan untukmu, untuk kita."


Melihat Krystal yang seperti akan menangis membuat Edrik langsung membawanya ke pelukan. Ia mengusap kepala Krystal yang bersender di dadanya, sesekali mengecupnya sayang.


"Aku tidak bisa kehilanganmu untuk yang kedua kalinya, itu sangat berat. Maaf jika ini menyakitimu, tapi akupun pergi untuk berjuang demi cinta kita."


Krystal semakin mengeratkan memeluk Edrik, terisak di pelukan pria itu. Ia tidak peduli dibilang cengeng ataupun apa, sekarang Ia hanya ingin melampiaskan semua rasa sesak dan sakit hati di dada.


Jadi pria yang akan menjadi suaminya adalah Edrik? Benarkah itu?


Entah ini sebuah keajaiban atau apa, tapi semua rencana ini diatur dengan sangat indah. Kisah percintaan yang terbilang rumit dan penuh dengan lika-liku. Jika Krystal memang dulu tidak mempermasalhkan kasta mereka, tapi Edrik merasa mundur dengan semua itu.


Edrik pergi karena berjuang demi cintanya, sekarang Ia sudah mendapatkan semuanya. Edrik tidak akan pernah membiarkan wanita itu pergi lagi, Edrik berjanji akan membahagiakan Krystal. Cintanya, kekasih hidupnya.


"Sudah jangan menangis, nanti matamu bengkak."


Krystal memukul tangan Edrik. "Kau sendiri yang membuat aku menangis!" Ketusnya yang langsung mendapat tawa dari Edrik.


"Baiklah sekali lagi aku minta maaf, apa kau meaafkan aku?"


"Tidak!"


"Kenapa begitu?"


"Kau jahat!"


"Sebagai permintaan maaf, aku akan mengabulkan apapun yang kau minta."


Krystal mengangkat kepalanya menatap Edrik yang masih memeluk pingganya. "Apapun?"


"Hm apapun."


"Cium aku."


"Hm."


Edrik menatap ke balik mata Krystal, tangannya masih setia mengusap pipi wanita itu. Perlahan wajahnya mendekat dengan mata yang tertutup, lalu bibir mereka bersatu membuat gejolak yang luar biasa di dada masing-masing.


"Apa sekarang sudah di maafkan?" Tanya Edrik setelah bibir mereka terpisah.


Krystal membuka matanya perlahan, Ia mengangguk pelan dengan senyuman manisnya. Wanita itu lalu memilih kembali memeluk Edrik untuk menyembunyikan wajahnya yang merona karena merasa bahagia juga malu secara bersamaan.


Astaga apa yang Krystal lakukan sampai meminta itu pada Edrik? Akh Ia malu sekali.


Edrik sangat menikmati masa-masa ini, semua rindunya Ia lepaskan. Tangannya memeluk erat punggung Krystal, seolah merasa takut kehilangan.


"Aku mungkin jahat karena telah meninggalkanmu begitu saja, tapi percayalah, setiap detik aku tersiksa karena merindukanmu. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, dan itu hampir membuat aku gila."


"Kau berubah menjadi romantis."


Edrik terkekeh kecil, lalu mengecup kening wanita itu sebentar. "Hm entah kenapa aku jadi begini, yang pasti hanya padamu."


Pelukan mereka terlepas sebentar, tapi Edrik masih memeluk pinggang wanita itu. "Kenapa kau menjauhiku lagi hm? Kau tahu Krystal, saat pulang dari Washington aku benar-benar takut karena kau sama sekali tidak mau bertemu denganku. Aku kira kau membenciku dan tidak pernah mau memaafkan aku."


"Ya saat itu aku benar-benar sedih, kau berbohong dan aku sakit hati. Sikapmu banyak berubah, kau seperti bukan Edrik yang aku kenal. Tapi ternyata Tuhan memberi aku petunjuk sedang kau tidak menceritakannya."


"Maaf ya?"


"Hm."


Pelayan lalu masuk membawa berbagai makanan, menyimpannya di meja lalu mereka kembali pergi.


"Kenapa di sini sepi?"


"Aku sengaja menyewanya, karena aku butuh waktu berdua bersamamu."


"Ck sudah jangan menggombal terus!"


Edrik terkekeh melihat rona semerah tomat di pipi Krystal, membuat wanita itu lebih cantik dan manis. Tangannya terangkat mengusap kembali pipi Krystal, dan ucapan itu tak bisa Ia tahan.


"Aku mencintaimu."


Deg!


Jantungnya terasa berhenti berdetak mendengar itu, perlahan Krystal mengangkat kepalanya menatap Edrik. Tanpa bisa ditahan matanya mulai berkaca-kaca lagi, bibir bawahnya Ia gigit menahan isakan.


"Kau tadi.. Bilang apa?" Tanya Krystal lirih.


"Aku mencintaimu."


"Aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas."


"Aku mencintaimu Krystal."


"Hm?"


Edrik menyatukan kening mereka, air mata wanita itu kembali jatuh. Ia berbisik pelan namun mampu membuat Krystal menangis bahagia.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu Krystal Geraldine Filberta."


"Hiks aku juga!"