My Lady

My Lady
Hari Pernikahan



Hari ini, dimana tepatnya hari pernikahan Edrik bersama Krystal. Mereka semua mengucap syukur kala Edrik berhasil mengucapkan ikrar janji sucinya dengan lancar. Hari yang tidak akan pernah terlupakan, dan hari yang membahagiakan bagi semua orang.


Semua keluarga besar Filberta hadir, menambah suasana ramai di pernikahan yang diadakan di salah satu tempat paling mewah itu. Begitupun dengan teman, sahabat dan perwakilan karyawan kantor yang di undang.


"Akhirnya masa lajangmu berakhir juga keponakan."


Krystal terkekeh mendengar sindiran itu dari Luke. "Tentu saja, bukankah kau juga selalu berdoa agar aku cepat-cepat menikah?"


"Hm dan Tuhan sudah mengabulkannya, bukankah aku Paman yang baik karena selalu mendoakanmu?"


"Tidak."


"Ck dasar ponakan kejam."


Luke lalu mengalihkan pandangannya pada seseorang yang duduk disamping Krystal, alisnya terangkat sebelah saat melihat pria itu yang terus menatap keponakannya. Seulas senyuman terbit, mereka terlihat lucu, mengingatkannya saat menikah dulu.


"Hei Edrik, jangan menatap keponakanku seperti itu. Kau tidak wajah Krystal memerah seperti kepiting rebus?"


Krystal menatap tajam Luke, lalu segera menutup kedua pipinya dengan tangan. "Aku tidak merona!" Ketusnya.


"Hahaha." Edrik tertawa pelan, lalu mengecup puncak kepala wanita yang sekarang sudah resmi menjadi istrinya. "Aku begitu terpesona, sampai tidak bisa mengalihkan pandandangan darinya."


"Dasar raja gombal."


"Aku serius, hari ini kau sangat cantik, seperti ratu di kerajaan peri."


Krystal langsung menyembunyikan wajahnya di dada Edrik, Ia malu dan baper sendiri mendengar gombalan romantis itu. Astaga, padahal dulu Edrik adalah pria dingin dan kaku, tapi sekarang pria itu banyak berubah. Tapi jujur, Krystal lebih menyukai Edrik yang sekarang.


"Maaf tadi aku habis menidurkan Gisela."


"Tidak apa-apa sayang, sekarang makanlah, kau pasti lapar."


Edrik menatap wanita itu dalam diam, Camelia tidak banyak berubah. Masih terlihat cantik walau sekarang sudah memiliki putri dan hamil besar. Jika dulu, Edrik selalu merasakan detak jantung cepat saat bersama wanita itu, tapi sekarang tidak Ia rasakan lagi.


"Bagaimana kabarmu Camelia?"


Ketiga orang itu langsung menatap Edrik, terkejut sekaligus tidak percaya mendengar pertanyaan Edrik. Terlebih Krystal, wanita itu bahkan sampai duduk dengan tegak dan melepaskan pelukan mereka.


"Baik, kau sendiri?" Tanya Camelia.


"Aku baik."


Camelia tersenyum kikuk pada Edrik, tentu saja karena suasana ini sangat canggung. Apalagi Ia sempat melirik tatapan dari Krystal dan suaminya. "Selamat untuk pernikahanmu."


"Terima kasih, aku ucapkan selamat juga untuk anak keduamu yang sebentar lagi akan lahir."


"Iya."


Krystal mengalihkan pandangan ke arah lain, merasa moodnya langsung buruk seketika. Dadanya naik turun, mencoba mengurangi sesak di sana. Lalu tatapannya tertuju pada satu pria yang melambaikan tangan padanya dari kejauhan, saat sudah jelas, wanita itu langsung berdiri untuk menghampiri. Belum dua langkah Krystal pergi, tangannya tiba-tiba ditahan membuat Ia menoleh.


"Kau mau kemana?" Tanya Edrik.


Tidak ada senyuman yang Krystal berikan, Ia bahkan menurunkan tangan Edrik yang menahannya. "Ada tamu spesial yang harus aku temui." Tekannya lalu melenggang pergi.


Edrik mengernyitkan keningnya merasa aneh melihat sikap Krystal, perasaan wanita itu tadi terlihat ceria, tapi sekarang malah dingin.


"Dia cemburu Edrik."


Langsung saja Edrik menatap Luke. "Cemburu kenapa?"


Luke berdecak lalu memeluk bahu Cemelia. "Dia cemburu melihatmu mengobrol dengan Camelia, kau memangnya sudah lupa? Kalian itukan mantan kekasih."


"Tapi aku hanya mengobrol biasa saja."


"Ck dasar tidak peka, ayolah Edrik walau begitu mungkin Krystal tidak suka. Apalagi ini hari pernikahan kalian, dan kau malah menghancurkan moodnya."


"Ya sudah aku pergi dulu."


Segera saja Edrik mencari Krystal, sayangnya cukup kesulitan karena banyaknya tamu yang hadir. Bahkan mereka mengucapkan selamat, lalu belum lagi kolega bisnisnya yang meminta untuk berbincang sebentar dan terpaksalah Ia harus melayani.


Hampir sepuluh menitan, akhirnya Edrik menemukan Krystal. Terlihat wanita itu yang sedang menggendong seorang bayi, bahkan tidak sengan sesekali menciumnya. Perlahan Edrik berjalan mendekat, dan memeluk pinggang wanita itu dari samping. Tentu saja Krystal terkejut, tapi tidak lama setelah tahu Ialah yang memeluknya. Wanita itu hanya menatapnya sekilas dan kembali fokus pada bayi perempuan itu.


"Nanti kau ingin memiliki berapa banyak anak?"


Rasanya Edrik ingin tertawa melihat keacuhan Krystal, mungkin karena marah padanya.


"Aku ingin banyak, kalau bisa sepuluh." Bisik Edrik sensual ditelinga wanita itu.


Krystal langsung menatapnya tajam, tapi sebelum memprotes, tiba-tiba datang dua orang menghampiri mereka.


"Ya ampun kenapa dia sangat nyaman berada di pangkuanmu?"


Wanita yang memiliki rambut merah itu tersenyum lebar, Ia lalu membawa bayinya yang berada di pangkuan Krystal. "Kau ini pemaksa sekali, bagaimana kalau popok Bella bocor dan mengotori gaun pernikahanmu?"


"Haha tidak apa-apa, salah Bella sendiri, kenapa dia sangat lucu sampai aku ingin memakannya." Ucap Krystal dengan lucunya.


Wanita itu lalu menatap Edrik, dengan susah payah tangannya terulur untuk menyalami. "Selamat untuk pernikahan kalian, aku do'akan yang terbaik dan cepat-cepat memiliki momongan."


"Terima kasih, benar sepertinya istriku ini tidak sabar ingin memiliki anak."


"Iya malam ini berusahalah, biar cepat memiliki bayi."


Edrik dan wanita itu tertawa bersamaan, sedangkan Krystal hanya memutar bola matanya malas.


"Hei Krystal, selamat untuk pernikahanmu, hari ini kau sangat cantik."


Edrik terkejut melihat pria itu yang sedang berpelukan bersama Krystal, benar tidak salah kalau itu adalah Kevin. Mereka terlihat akrab, bahkan Krystal tidak sungkan dipeluk. Ada suatu perasaan aneh yang Edrik rasakan, apalagi kalau bukan cemburu.


"Kau terlambat Kevin."


"Maafkan aku, kau tahu? Penerbangan ke New York dibatalkan karena musim yang sedang ekstrim, kami baru bisa berangkat tadi malam."


"Hm baiklah aku maafkan, itu karena kau hadir sekarang."


Kevin tersenyum lembut lalu beralih menatap Edrik, mereka bertatapan cukup lama dengan pikiran berbeda. Masih teringat jelas jika hubungan mereka dulu sangat buruk, anggap saja mereka adalah musuh bubuyutan. Kevin berpikir mungkin Edrik belum tahu kalau Ia sudah berubah, pria itu masih terlihat tidak menyukainya.


"Sudah lama tidak bertemu, selamat akhirnya kau berhasil mendapatkan Krystal seutuhnya."


Edrik membalas jabatan tangan itu. "Hm terima kasih juga sudah hadir." Ucapnya dingin.


"Aku peringatkan kau untuk menjaganya dengan baik, jangan menyakitinya dan membuatnya menangis. Kalau kau tidak bisa menjaganya dengan baik, maka aku akan merebutnya darimu."


Edrik menatap tajam Kevin, Ia mengeratkan jabatan tangan mereka merasa tidak suka mendengar ucapan itu. Tapi tidak lama terdengar tawa dari ketiga orang di sana yang menyadarkannya, Edrik menatap mereka bingung.


"Astaga santai saja Edrik, aduh tanganku sampai sakit." Ucap Kevin sambil mengusap tangannya yang lumayan sakit akibat cengkraman Edrik.


"Kenapa kalian tertawa?"


"Kau tidak tahu? Kevin tidak akan melakukannya, dia sudah menikah."


"Apa?"


Krystal menyeringai melihat wajah bingung Edrik, sangat menggemaskan. "Wanita di depanmu itu istri Kevin, dan bayi perempuan itu putri mereka."


Edrik langsung meringis mendengar itu, Ia jadi malu. Padahal tadi Ia ingin sekali memukul Kevin karena telah berani bicara seperti itu padanya, ayolah Ia dan Krystal baru menikah. Tapi syukurlah kalau Kevin sudah menikah, otomatis pikiran-pikiran buruk itu tidak akan terjadi.


"Kau tenang saja, aku sudah tobat." Kevin lalu memeluk bahu Istrinya. "Lagi pula aku juga tidak akan mungkin menyakiti istri cantikku ini."


"Ck hampir saja aku memukulmu."